{"id":46373,"date":"2020-06-21T08:02:51","date_gmt":"2020-06-21T01:02:51","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46373"},"modified":"2020-06-18T13:00:45","modified_gmt":"2020-06-18T06:00:45","slug":"belajar-memahami-roma-21-11","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/belajar-memahami-roma-21-11\/","title":{"rendered":"Belajar Memahami (Roma 2:1-11)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Saat bertamu ke rumah seorang kawan, saya terkejut melihat cara ibunya berbicara dengan seorang tetangga. Ibunya berbicara dengan suara keras dan terkesan membentak-bentak. Wah, kasar betul ibu ini, pikir saya. Saya pun bertanya pada kawan saya, apakah gaya bicara ibunya memang seperti itu. Ia menjelaskan, ibu berbicara seperti itu karena pendengaran tetangganya itu terganggu. Saat ada seseorang melakukan satu hal yang tidak kita sukai, menurut kita kurang pantas, atau kesannya jahat, alangkah baiknya kita mencoba memahami dulu kenapa ia berlaku seperti itu. Belajarlah memahami, bukan buru-buru menghakimi. Penghakiman adalah bagian Tuhan, bukan bagian kita. Alih-alih menghakimi orang lain, patutlah kita mengoreksi diri sendiri. Bisa saja karakter atau kedewasaan rohani kita malah jauh lebih buruk daripada orang yang kita pikir berlaku buruk. Kita tidak bebas dari salah. Hanya karena kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya, kita mendapatkan pengampunan. Kalau kita selalu berharap Tuhan dan sesama mau memahami kita, kita pun harus mau memahami orang lain. Setiap kali kita mau menuding orang lain begini dan begitu, kendalikanlah diri kita dan bertanyalah pada diri sendiri, \u201cKalau saya berada di posisinya, apa yang saya perbuat?\u201d Jangan hanya menilai dari apa yang nampak, tetapi cobalah mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi. Kita pun akan bisa memberikan penilaian yang tepat dan merespons dengan cara yang benar. Jangan Buru-Buru Menghakimi, Tetapi Belajarlah Memahami. (skkksurakarta)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Saat bertamu ke rumah seorang kawan, saya terkejut melihat cara ibunya berbicara dengan seorang tetangga. Ibunya berbicara dengan suara keras dan terkesan membentak-bentak. Wah, kasar betul ibu ini, pikir saya. Saya pun bertanya pada kawan saya, apakah gaya bicara ibunya memang seperti itu. Ia menjelaskan, ibu berbicara seperti itu karena pendengaran tetangganya itu terganggu.<\/p>\n<div id=\"post28242211087979085879\">\n<div style=\"text-align: justify;\">Saat ada seseorang melakukan satu hal yang tidak kita sukai, menurut kita kurang pantas, atau kesannya jahat, alangkah baiknya kita mencoba memahami dulu kenapa ia berlaku seperti itu. Belajarlah memahami, bukan buru-buru menghakimi. Penghakiman adalah bagian Tuhan, bukan bagian kita. Alih-alih menghakimi orang lain, patutlah kita mengoreksi diri sendiri. Bisa saja karakter atau kedewasaan rohani kita malah jauh lebih buruk daripada orang yang kita pikir berlaku buruk. Kita tidak bebas dari salah. Hanya karena kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya, kita mendapatkan pengampunan. Kalau kita selalu berharap Tuhan dan sesama mau memahami kita, kita pun harus mau memahami orang lain.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Setiap kali kita mau menuding orang lain begini dan begitu, kendalikanlah diri kita dan bertanyalah pada diri sendiri, \u201cKalau saya berada di posisinya, apa yang saya perbuat?\u201d Jangan hanya menilai dari apa yang nampak, tetapi cobalah mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi. Kita pun akan bisa memberikan penilaian yang tepat dan merespons dengan cara yang benar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b><i>Jangan Buru-Buru Menghakimi, Tetapi Belajarlah Memahami.<\/i><\/b><\/div>\n<div>(skkksurakarta)<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Saat bertamu ke rumah seorang kawan, saya terkejut melihat cara ibunya berbicara dengan seorang tetangga. Ibunya berbicara dengan suara keras dan terkesan membentak-bentak. Wah, kasar betul ibu ini, pikir saya. Saya pun bertanya pada kawan saya, apakah gaya bicara ibunya memang seperti itu. Ia menjelaskan, ibu berbicara seperti itu karena pendengaran tetangganya itu terganggu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46374,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"single_blog_custom":"","parallax":"0","fullscreen":"0","sidebar":"","second_sidebar":"","sticky_sidebar":"0","share_position":"","share_float_style":"","show_share_counter":"0","show_view_counter":"0","show_featured":"0","show_post_meta":"0","show_post_author":"0","show_post_author_image":"0","show_post_date":"0","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"0","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post":"0","trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"78"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[78,3],"tags":[],"class_list":["post-46373","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46374,"alt_text":"","caption":"Three caucasian women in their thirties have a friendly chat in a neighborhood outdoors.","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg?fit=640%2C360&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg?fit=640%2C360&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1199","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46373","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46373"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46373\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}