{"id":46378,"date":"2020-08-25T09:16:14","date_gmt":"2020-08-25T02:16:14","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46378"},"modified":"2020-08-25T09:16:14","modified_gmt":"2020-08-25T02:16:14","slug":"gereja-dan-kerja-kerja-kebudayaan-progresif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/gereja-dan-kerja-kerja-kebudayaan-progresif\/","title":{"rendered":"Gereja dan Kerja-Kerja Kebudayaan Progresif"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -BAGAIMANA gereja melibatkan diri dalam pergumulan sosial menyoal kemiskinan dan ketimpangan? Sebagian gereja, saya kira, akan langsung menjawab pertanyaan ini dengan melakukan kegiatan amal seperti bakti sosial (baksos). Dalam pengamatan saya, baksos kerap kali dianggap sebagai tanda bahwa gereja telah mewujudkan tanggung jawab sosialnya di tengah masyarakat. Kegiatan sosial seperti\u00a0baksos tentu saja memiliki manfaat, apalagi di tengah pandemi Covid-19 di manakelas pekerja yang menjadi korban utamanya. Bantuan-bantuan berupa baksos sedikit\u00a0banyak dapat membuat asap dapur mereka yang kekurangan tetap mengepul selamabeberapa waktu. Namun, gereja perlu\u00a0menyadari bahwa program-program karitatif seperti baksos tidak akan mengubah struktur sosial\u00a0kapitalistik yang penuh dengan ketimpangan. Jurang kaya-miskin tetap akan\u00a0menganga lebar, perampasan ruang hidup akan terus terjadi, dan penghisapantenaga kerja akan terus berjalan. Kemiskinan yang\u00a0coba ditambal secara insidental melalui kegiatan baksos tidak akan menyudahi\u00a0kapitalisme yang secara terus menerus mereproduksi kemiskinan dan ketimpangan sosial.\u00a0Oleh karena itu, upaya untuk menggumuli problematika sosial seperti kemiskinan\u00a0dan ketimpangan mesti dilengkapi dengan pemahaman atas kapitalisme. Terkait\u00a0itu, gereja bisa mengambil bagian dalam perjuangan melawan kapitalisme melalui kerja-kerja\u00a0kebudayaan yang progresif yang berpihak kepada kelas pekerja dalam\u00a0perjuangannya untuk menyudahi kapitalisme. Selama ini,\u00a0gereja sebenarnya telah melakukan kerja-kerja kebudayaan\u2013yang kebanyakan\u00a0diekspresikan melalui seni musik dan seni tarik suara. Ini menunjukkan bahwa gereja\u00a0memiliki sumber daya untuk merealisasikan kerja kebudayaan yang progresif.\u00a0Namun, gereja perlu menyadari fungsi ideologis dari ekspresi-ekspresi kebudayaan\u00a0yang ada terlebih dahulu. Dalam hal ini, kebudayaan bukanlah sekadar wadah\u00a0untuk mengembangkan potensi, ruang berekspresi, atau sarana hiburan semata,\u00a0melainkan arena pertentangan ideologis yang amat krusial dalam pertarungan politik. Agar klaim ini\u00a0semakin jelas, saya ingin mengajak pembaca untuk menilik kembali sejarah perang\u00a0kebudayaan antara Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Manifes Kebudayaan\u00a0(Manikebu) pada tahun 1960-an.[i] Yang\u00a0pertama dikenal berpedoman pada garis realisme sosialis dan menganggap semangat\u00a0humanisme universal[ii] tidak cocok bagi rakyat Indonesia yang masih berjuang untuk melawan imperialisme dan\u00a0feodalisme sebagai bagian dari usaha penuntasan Revolusi Agustus 1945.\u00a0Sedangkan yang kedua berusaha menyebarkan paham humanisme universal dan\u00a0memandang realisme sosialis sebagai model kebudayaan yang mengekang kebebasan\u00a0berekspresi. Pertikaian ini berakhir\u00a0pada tahun 1965 sejak organisasi-organisasi progresif\u2014termasuk Lekra\u2014dibubarkan\u00a0pemerintah, lalu sebagian besar anggotanya ditangkap, dipenjarakan, dibuang ke\u00a0kamp kerja paksa dan tidak sedikit yang dibunuh.[iii] Alhasil, semangat kebudayaan yang berpihak pada kelas pekerja sebagaimana dipromosikan Lekra meredup dalam wajah kebudayaan Indonesia pasca 1965. Dalam studinya, Wijaya Herlambang menunjukkan bahwa\u00a0proses ini merupakan bagian dari manuver politik Amerika Serikat dan sekutunya\u00a0untuk menaklukkan perjuangan rakyat Indonesia yang tengah melawan imperialisme.[iv] Menurut saya, gereja\u00a0dapat belajar dari perjuangan Lekra, yang memiliki komitmen politik tinggi\u00a0dalam kerja kebudayaan. Meski keduanya adalah institusi yang jauh berbeda, setidaknya\u00a0gereja dapat meneruskan atau mengobarkan kembali semangat pembebasan kelas\u00a0pekerja melalui kerja kebudayaan. Penekanan saya tertuju pada Lekra yang\u00a0memosisikan kebudayaan sebagai lapangan perjuangan untuk membebaskan rakyat\u00a0pekerja dari belenggu kapitalisme. Rentang kerja\u00a0kebudayaan Lekra sangat luas, mulai dari kesusastraan, perfilman, seni rupa,\u00a0seni pertunjukan, seni tari, hingga seni musik. Beberapa contoh hasil kerja\u00a0kebudayaan Lekra: di bidang kesusastraan, kita tentu tidak asing lagi dengan\u00a0nama Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Lekra yang melahirkan Tetralogi Buru; dibagian perfilman, ada Bachtiar Siagian, sutradara Lekra yang menyutradarai\u00a0beberapa film, salah satunya berjudul Violetta;\u00a0di atas seni panggung, Lekra pernah mementaskan kisah tentang rakyat miskin di\u00a0tengah perayaan Jumat Agung dan Paskah berjudul Matine Gusti Allah, sebuah lakon tentang penyaliban Yesus. Gereja sendiri\u00a0sebenarnya memiliki materi yang potensial untuk kerja-kerja kebudayaan seperti\u00a0ini. Dalam Alkitab kita menemukan narasi eksodus\u2014keluarnya Israel dari tanah\u00a0perbudakan Mesir\u2014yang berperan penting dalam tatanan masyarakat Israel baru\u00a0pasca-eksodus. Kuncinya terletak pada Keluaran 20:2 yang berbunyi: \u201cAkulah\u00a0TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.\u201d Kisah pembebasan tersebut diingat dan terus direlevansikan dalam\u00a0konteks-konteks baru yang dihadapi Israel dalam bentuk puji-pujian yang\u00a0tercatat di dalam Mazmur (misalnya: Mzm. 78, 114, 136). Di Alkitab yang\u00a0sama pula, kritik para nabi terhadap ketidakadilan sosial di masanya yang\u00a0tersebar luas di banyak bagian juga bisa kita pertimbangkan. Berikut beberapa\u00a0kutipannya: Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! (Yesaya 1:16-17) Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yesaya 58:6-7) Sangkamu rajakah engkau, jika engkau bertanding dalam hal pemakaian kayu aras? Tidakkah ayahmu makan minum juga dan beroleh kenikmatan? Tetapi ia melakukan keadilan dan kebenaran, serta mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku? Demikianlah firman TUHAN. (Yeremia 22:15-16) Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang. (Amos 5:11-12) Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: \u201cPenindasan!\u201d tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. (Habakuk 1:2-4) Beberapa nukilan di atas memang tidak cukup memetakan\u00a0keseluruhan kritik para nabi, akan tetapi, kita dapat memperoleh sedikit\u00a0gambaran bahwa melalui tradisi profetik, para nabi jelas berpihak kepada kaum\u00a0tertindas pada zamannya. Selain narasi eksodus dan tradisi profetik para nabi, kita\u00a0juga bisa melihat bagaimana Yesus sendiri mengawali pelayanannya dengan sebuah\u00a0deklarasi tentang pembebasan orang-orang tertindas. Injil Lukas 4:18-19\u00a0mencatat perkataan Yesus yang berbunyi: Roh Tuhan ada\u00a0pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik\u00a0kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan\u00a0pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta,\u00a0untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan\u00a0telah datang. Bahkan sebelum deklarasi \u2018Manifesto\u00a0Nazaret\u2019, Injil Lukas 1:52-53 menulis nyanyian Maria, Bunda Yesus, yang kemungkinan\u00a0besar memengaruhi Yesus: Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa. (Lukas 1:52-53) Yesus dan Maria\u00a0berani mengekspresikan keberpihakan dan rindu akan pembebasan kaum tertindas. Namun,\u00a0ekspresi mereka ini acap kali luput dari perhatian gereja. Dengan melimpahnya\u00a0bahan-bahan yang \u2018siap olah\u2019 seperti ini, tidak sulit bagi gereja untuk mengembangkan\u00a0kerja-kerja kebudayaan yang progresif. Sebagai ilustrasi, gereja dapat menciptakan\u00a0atau mengaransemen lirik lagu solidaritas rakyat pekerja dengan semangat kritik\u00a0sosial para nabi. Gereja juga dapat mementaskan kisah Marsinah dalam bentuk\u00a0drama musikal untuk mendemonstrasikan kenyataan pertentangan kelas. Selain itu,\u00a0seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi dan kreativitas serta kemampuan\u00a0kaum muda yang mumpuni, gereja juga memiliki potensi besar untuk memproduksi\u00a0film-film indie dengan pesan yang\u00a0sama. Sementara itu, di bidang seni lukis, gereja dapat memajang hasil-hasil\u00a0karya seniman gereja\u2014yang mengadaptasi gaya realisme sosialis\u2014di dinding-dinding\u00a0gereja. Gereja juga dapat memimpin pembuatan puisi dan prosa yang menyuarakan\u00a0kritik sosial dan bertujuan untuk pembebasan kelas pekerja. Gereja perlu\u00a0memikirkan lebih jauh agar kerja-kerja kebudayaan progresif ini dapat terwujud\u00a0dengan cara yang terorganisir. Pembentukan jejaring antar gereja untuk\u00a0melakukan berbagai upaya kolaborasi sangat penting dilakukan. Meski demikian,\u00a0saya melihat bahwa terdapat tantangan untuk merealisasikan kerja-kerja\u00a0kebudayaan progresif ini. Dalam hal ini, gereja terdiri atas berbagai lapis\u00a0kelas masyarakat yang memiliki kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan.\u00a0Artinya, gereja berhadapan dengan situasi dilematis yang menguji komitmen keberpihakan\u00a0gereja kepada kelas tertindas. Di sinilah,\u00a0kerja-kerja kebudayaan menjadi panggung penting bagi kita untuk menyaksikan\u00a0kepentingan kelas mana yang direpresentasikan dan diperjuangkan oleh gereja.*** Yasuo Huang adalah mahasiswa Sarjana Teologi di STT Amanat Agung, Jakarta; anggota Kristen Hijau Kepustakaan [i] Andreas Supartono, \u201cLekra vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965,\u201d Skripsi (Jakarta: STF Driyarkara, 2000). [i] Andreas Supartono, \u201cLekra vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965,\u201d Skripsi (Jakarta: STF Driyarkara, 2000). [ii] H. B. Jassin, tulis Wijaya Herlambang, mengatakan bahwa kebudayaan aliran humanisme universal menekankan nilai-nilai kemanusiaan absolut, lihat Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme melalui Sastra dan Film (Serpong: Marjin Kiri, 2019), 86. Penekanan pada absolutisme itulah yang pada akhirnya berpandangan bahwa kerja kebudayan tidak bisa disetir oleh kepentingan politik. [iii] Geoffrey B. Robinson, The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965-66 (Princeton & Oxford: Princeton University Press, 2018). [iv] Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, 58-101. (Indoprogress)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diakonia.id<\/strong> -BAGAIMANA gereja melibatkan diri dalam pergumulan sosial menyoal kemiskinan dan ketimpangan? Sebagian gereja, saya kira, akan langsung menjawab pertanyaan ini dengan melakukan kegiatan amal seperti bakti sosial (baksos). Dalam pengamatan saya, baksos kerap kali dianggap sebagai tanda bahwa gereja telah mewujudkan tanggung jawab sosialnya di tengah masyarakat.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Kegiatan sosial seperti\u00a0baksos tentu saja memiliki manfaat, apalagi di tengah pandemi Covid-19 di manakelas pekerja yang menjadi korban utamanya. Bantuan-bantuan berupa baksos sedikit\u00a0banyak dapat membuat asap dapur mereka yang kekurangan tetap mengepul selamabeberapa waktu.<\/p>\n<p>Namun, gereja perlu\u00a0menyadari bahwa program-program karitatif seperti baksos tidak akan mengubah struktur sosial\u00a0kapitalistik yang penuh dengan ketimpangan. Jurang kaya-miskin tetap akan\u00a0menganga lebar, perampasan ruang hidup akan terus terjadi, dan penghisapantenaga kerja akan terus berjalan.<\/p>\n<p>Kemiskinan yang\u00a0coba ditambal secara insidental melalui kegiatan baksos tidak akan menyudahi\u00a0kapitalisme yang secara terus menerus mereproduksi kemiskinan dan ketimpangan sosial.\u00a0Oleh karena itu, upaya untuk menggumuli problematika sosial seperti kemiskinan\u00a0dan ketimpangan mesti dilengkapi dengan pemahaman atas kapitalisme. Terkait\u00a0itu, gereja bisa mengambil bagian dalam perjuangan melawan kapitalisme melalui kerja-kerja\u00a0kebudayaan yang progresif yang berpihak kepada kelas pekerja dalam\u00a0perjuangannya untuk menyudahi kapitalisme.<\/p>\n<p>Selama ini,\u00a0gereja sebenarnya telah melakukan kerja-kerja kebudayaan\u2013yang kebanyakan\u00a0diekspresikan melalui seni musik dan seni tarik suara. Ini menunjukkan bahwa gereja\u00a0memiliki sumber daya untuk merealisasikan kerja kebudayaan yang progresif.\u00a0Namun, gereja perlu menyadari fungsi ideologis dari ekspresi-ekspresi kebudayaan\u00a0yang ada terlebih dahulu. Dalam hal ini, kebudayaan bukanlah sekadar wadah\u00a0untuk mengembangkan potensi, ruang berekspresi, atau sarana hiburan semata,\u00a0melainkan arena pertentangan ideologis yang amat krusial dalam pertarungan<br \/>\npolitik.<\/p>\n<p>Agar klaim ini\u00a0semakin jelas, saya ingin mengajak pembaca untuk menilik kembali sejarah perang\u00a0kebudayaan antara Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Manifes Kebudayaan\u00a0(Manikebu) pada tahun 1960-an.[i] Yang\u00a0pertama dikenal berpedoman pada garis realisme sosialis dan menganggap semangat\u00a0humanisme universal[ii] tidak<br \/>\ncocok bagi rakyat Indonesia yang masih berjuang untuk melawan imperialisme dan\u00a0feodalisme sebagai bagian dari usaha penuntasan Revolusi Agustus 1945.\u00a0Sedangkan yang kedua berusaha menyebarkan paham humanisme universal dan\u00a0memandang realisme sosialis sebagai model kebudayaan yang mengekang kebebasan\u00a0berekspresi.<\/p>\n<p>Pertikaian ini berakhir\u00a0pada tahun 1965 sejak organisasi-organisasi progresif\u2014termasuk Lekra\u2014dibubarkan\u00a0pemerintah, lalu sebagian besar anggotanya ditangkap, dipenjarakan, dibuang ke\u00a0kamp kerja paksa dan tidak sedikit yang dibunuh.[iii] Alhasil,<br \/>\nsemangat kebudayaan yang berpihak pada kelas pekerja sebagaimana dipromosikan<br \/>\nLekra meredup dalam wajah kebudayaan Indonesia pasca 1965. Dalam studinya, Wijaya Herlambang menunjukkan bahwa\u00a0proses ini merupakan bagian dari manuver politik Amerika Serikat dan sekutunya\u00a0untuk menaklukkan perjuangan rakyat Indonesia yang tengah melawan imperialisme.<sup>[iv]<\/sup><\/p>\n<p>Menurut saya, gereja\u00a0dapat belajar dari perjuangan Lekra, yang memiliki komitmen politik tinggi\u00a0dalam kerja kebudayaan. Meski keduanya adalah institusi yang jauh berbeda, setidaknya\u00a0gereja dapat meneruskan atau mengobarkan kembali semangat pembebasan kelas\u00a0pekerja melalui kerja kebudayaan. Penekanan saya tertuju pada Lekra yang\u00a0memosisikan kebudayaan sebagai lapangan perjuangan untuk membebaskan rakyat\u00a0pekerja dari belenggu kapitalisme.<\/p>\n<p>Rentang kerja\u00a0kebudayaan Lekra sangat luas, mulai dari kesusastraan, perfilman, seni rupa,\u00a0seni pertunjukan, seni tari, hingga seni musik. Beberapa contoh hasil kerja\u00a0kebudayaan Lekra: di bidang kesusastraan, kita tentu tidak asing lagi dengan\u00a0nama Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Lekra yang melahirkan Tetralogi Buru; dibagian perfilman, ada Bachtiar Siagian, sutradara Lekra yang menyutradarai\u00a0beberapa film, salah satunya berjudul <em>Violetta<\/em>;\u00a0di atas seni panggung, Lekra pernah mementaskan kisah tentang rakyat miskin di\u00a0tengah perayaan Jumat Agung dan Paskah berjudul <em>Matine Gusti Allah<\/em>, sebuah lakon tentang penyaliban Yesus.<\/p>\n<p>Gereja sendiri\u00a0sebenarnya memiliki materi yang potensial untuk kerja-kerja kebudayaan seperti\u00a0ini. Dalam Alkitab kita menemukan narasi eksodus\u2014keluarnya Israel dari tanah\u00a0perbudakan Mesir\u2014yang berperan penting dalam tatanan masyarakat Israel baru\u00a0pasca-eksodus. Kuncinya terletak pada Keluaran 20:2 yang berbunyi: \u201cAkulah\u00a0TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat<br \/>\nperbudakan.\u201d Kisah pembebasan tersebut diingat dan terus direlevansikan dalam\u00a0konteks-konteks baru yang dihadapi Israel dalam bentuk puji-pujian yang\u00a0tercatat di dalam Mazmur (misalnya: Mzm. 78, 114, 136).<\/p>\n<p>Di Alkitab yang\u00a0sama pula, kritik para nabi terhadap ketidakadilan sosial di masanya yang\u00a0tersebar luas di banyak bagian juga bisa kita pertimbangkan. Berikut beberapa\u00a0kutipannya:<\/p>\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p>Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! (Yesaya 1:16-17)<\/p><\/blockquote>\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p>Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yesaya 58:6-7)<\/p><\/blockquote>\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p>Sangkamu rajakah engkau, jika engkau bertanding dalam hal pemakaian kayu aras? Tidakkah ayahmu makan minum juga dan beroleh kenikmatan? Tetapi ia melakukan keadilan dan kebenaran, serta mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku? Demikianlah firman TUHAN. (Yeremia 22:15-16)<\/p><\/blockquote>\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p>Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang. (Amos 5:11-12)<\/p><\/blockquote>\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p>Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: \u201cPenindasan!\u201d tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. (Habakuk 1:2-4)<\/p><\/blockquote>\n<p>Beberapa nukilan di atas memang tidak cukup memetakan\u00a0keseluruhan kritik para nabi, akan tetapi, kita dapat memperoleh sedikit\u00a0gambaran bahwa melalui tradisi profetik, para nabi jelas berpihak kepada kaum\u00a0tertindas pada zamannya.<\/p>\n<p>Selain narasi eksodus dan tradisi profetik para nabi, kita\u00a0juga bisa melihat bagaimana Yesus sendiri mengawali pelayanannya dengan sebuah\u00a0deklarasi tentang pembebasan orang-orang tertindas. Injil Lukas 4:18-19\u00a0mencatat perkataan Yesus yang berbunyi:<\/p>\n<p>Roh Tuhan ada\u00a0pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik\u00a0kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan\u00a0pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta,\u00a0untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan\u00a0telah datang.<\/p>\n<p>Bahkan sebelum deklarasi \u2018Manifesto\u00a0Nazaret\u2019, Injil Lukas 1:52-53 menulis nyanyian Maria, Bunda Yesus, yang kemungkinan\u00a0besar memengaruhi Yesus:<\/p>\n<p>Ia menurunkan<br \/>\norang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang<br \/>\nrendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh<br \/>\norang yang kaya pergi dengan tangan hampa. (Lukas 1:52-53)<\/p>\n<p>Yesus dan Maria\u00a0berani mengekspresikan keberpihakan dan rindu akan pembebasan kaum tertindas. Namun,\u00a0ekspresi mereka ini acap kali luput dari perhatian gereja.<\/p>\n<p>Dengan melimpahnya\u00a0bahan-bahan yang \u2018siap olah\u2019 seperti ini, tidak sulit bagi gereja untuk mengembangkan\u00a0kerja-kerja kebudayaan yang progresif. Sebagai ilustrasi, gereja dapat menciptakan\u00a0atau mengaransemen lirik lagu solidaritas rakyat pekerja dengan semangat kritik\u00a0sosial para nabi. Gereja juga dapat mementaskan kisah Marsinah dalam bentuk\u00a0drama musikal untuk mendemonstrasikan kenyataan pertentangan kelas. Selain itu,\u00a0seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi dan kreativitas serta kemampuan\u00a0kaum muda yang mumpuni, gereja juga memiliki potensi besar untuk memproduksi\u00a0film-film <em>indie<\/em> dengan pesan yang\u00a0sama. Sementara itu, di bidang seni lukis, gereja dapat memajang hasil-hasil\u00a0karya seniman gereja\u2014yang mengadaptasi gaya realisme sosialis\u2014di dinding-dinding\u00a0gereja. Gereja juga dapat memimpin pembuatan puisi dan prosa yang menyuarakan\u00a0kritik sosial dan bertujuan untuk pembebasan kelas pekerja. Gereja perlu\u00a0memikirkan lebih jauh agar kerja-kerja kebudayaan progresif ini dapat terwujud\u00a0dengan cara yang terorganisir. Pembentukan jejaring antar gereja untuk\u00a0melakukan berbagai upaya kolaborasi sangat penting dilakukan.<\/p>\n<p>Meski demikian,\u00a0saya melihat bahwa terdapat tantangan untuk merealisasikan kerja-kerja\u00a0kebudayaan progresif ini. Dalam hal ini, gereja terdiri atas berbagai lapis\u00a0kelas masyarakat yang memiliki kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan.\u00a0Artinya, gereja berhadapan dengan situasi dilematis yang menguji komitmen keberpihakan\u00a0gereja kepada kelas tertindas.<\/p>\n<p>Di sinilah,\u00a0kerja-kerja kebudayaan menjadi panggung penting bagi kita untuk menyaksikan\u00a0kepentingan kelas mana yang direpresentasikan dan diperjuangkan oleh gereja.***<\/p>\n<hr class=\"wp-block-separator\" \/>\n<p><strong><em>Yasuo Huang<\/em><\/strong><em> adalah mahasiswa Sarjana Teologi di STT<br \/>\nAmanat Agung, Jakarta; anggota Kristen Hijau<\/em><\/p>\n<hr class=\"wp-block-separator\" \/>\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Kepustakaan<\/strong><\/p>\n<p>[i] Andreas Supartono, \u201cLekra vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965,\u201d Skripsi (Jakarta: STF Driyarkara, 2000).<\/p>\n<p>[i] Andreas Supartono, \u201cLekra vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965,\u201d Skripsi (Jakarta: STF Driyarkara, 2000).<\/p>\n<p>[ii] H. B.<br \/>\nJassin, tulis Wijaya Herlambang, mengatakan bahwa kebudayaan aliran humanisme<br \/>\nuniversal menekankan nilai-nilai kemanusiaan absolut, lihat Wijaya Herlambang,<em> Kekerasan Budaya<br \/>\nPasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme melalui Sastra dan<br \/>\nFilm<\/em> (Serpong: Marjin Kiri, 2019), 86.<br \/>\nPenekanan pada absolutisme itulah yang pada akhirnya berpandangan bahwa kerja<br \/>\nkebudayan tidak bisa disetir oleh kepentingan politik.<\/p>\n<p>[iii] Geoffrey<br \/>\nB. Robinson, <em>The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres,<br \/>\n1965-66<\/em> (Princeton &amp; Oxford: Princeton University Press, 2018).<\/p>\n<p><sup>[iv]<\/sup> Herlambang, <em>Kekerasan<br \/>\nBudaya Pasca 1965<\/em>, 58-101. (Indoprogress)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -BAGAIMANA gereja melibatkan diri dalam pergumulan sosial menyoal kemiskinan dan ketimpangan? Sebagian gereja, saya kira, akan langsung menjawab pertanyaan ini dengan melakukan kegiatan amal seperti bakti sosial (baksos). Dalam pengamatan saya, baksos kerap kali dianggap sebagai tanda bahwa gereja telah mewujudkan tanggung jawab sosialnya di tengah masyarakat. Kegiatan sosial seperti\u00a0baksos tentu saja memiliki manfaat, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46379,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[26],"class_list":["post-46378","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-harian-indoprogress"],"better_featured_image":{"id":46379,"alt_text":"","caption":"","description":"0f67b9d022871f7de2631b60b14c6f60","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/gereja-dan-kerja-kerja-kebudayaan-progresif_5eeb9db3dc4cd.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/gereja-dan-kerja-kerja-kebudayaan-progresif_5eeb9db3dc4cd.jpeg?fit=768%2C576&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/gereja-dan-kerja-kerja-kebudayaan-progresif_5eeb9db3dc4cd.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/gereja-dan-kerja-kerja-kebudayaan-progresif_5eeb9db3dc4cd.jpeg?fit=1024%2C768&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1391","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46378","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46378"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46378\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46378"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46378"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46378"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}