{"id":46464,"date":"2020-07-02T10:06:28","date_gmt":"2020-07-02T03:06:28","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46464"},"modified":"2020-07-01T21:59:19","modified_gmt":"2020-07-01T14:59:19","slug":"tuhan-saya-punya-masalah-besar-ketika-putus-asa-melanda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tuhan-saya-punya-masalah-besar-ketika-putus-asa-melanda\/","title":{"rendered":"\u201cTuhan, Saya Punya Masalah Besar!\u201d \u2013 Ketika Putus Asa Melanda"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Ada banyak hal dalam hidup yang bisa membuat kita putus asa. Sudah belajar mati-matian, tetap saja nilai pas-pasan. Siang-malam berjuang dalam pekerjaan, hasil belum juga kelihatan. Segala cara dilakukan untuk mencari pasangan, tetapi batang hidung si jodoh tak kunjung tampak. Waktu kita ceritakan kepada teman, tanggapan yang sering diberikan adalah: \u201cSemangat, ya! Jangan putus asa!\u201d Sayangnya, hal yang gampang diucapkan itu sangat susah dipraktikkan. Kalau begitu, apa kata Alkitab tentang keputusasaan dan bagaimana cara mengatasinya? 1. Pertahankan Harapan Putus asa adalah hal yang terjadi dalam pikiran kita, tetapi belum dilakukan atau direalisasikan. Dari pikiran, akan lahir tindakan yang dipicu oleh keputusasaan tersebut. Misalnya, ketika kita berpikir tidak akan dapat nilai bagus meski sudah belajar, kita jadi malas untuk berjuang. Tanpa sadar, kita mencari dalih atau situasi yang membuat niat belajar itu batal. Oleh karenanya, hal pertama yang harus kita ubah adalah pikiran\u2014atau lebih tepatnya, cara pikir kita. Tanamkan dalam benak Anda bahwa masih ada harapan. Semuanya belum berakhir di sini. Seseorang berhenti melakukan sesuatu karena ia kehilangan harapan. Ia percaya bahwa meskipun sudah berusaha, hasilnya akan sama saja. Jangan pernah kehilangan harapan. If you lose hope, you lose life. Tanpa harapan, selesailah sudah semuanya (Ortberg, 2016). Mengapa Anda terus mengerjakan skripsi meskipun sudah mumet dan ingin menyerah? Karena Anda punya harapan bahwa Anda kelak pasti lulus. Mengapa Anda mau bekerja sebaik-baiknya? Karena Anda yakin suatu hari nanti yang Anda kerjakan bakal berbuah manis. Mengapa Anda tekun berdoa meminta pasangan dari Tuhan? Karena ada harapan bahwa Tuhan akan memberikan Anda pasangan terbaik pada waktu yang tepat. Don\u2019t lose hope. When the sun goes down, the stars come out. Pepatah mengatakan, ketika matahari terbenam, bintang-bintang akan muncul. Jadi, jangan kehilangan harapan dan tetaplah menantikan yang terbaik. Dengan berpikir positif, sebenarnya kita sedang memampukan diri untuk mencari solusi dan mengerjakan hal-hal yang mengarah pada kesuksesan. \u201cKarena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.\u201d \u2013 Amsal 23:18 2. Aktif Mencari Solusi Setelah Anda kembali memiliki pengharapan, Anda perlu aktif mencari solusi. Iman tanpa perbuatan adalah kosong (Yakobus 2:17), dan harapan yang tidak disertai tindakan sama dengan sia-sia. Ada dua tipe solusi yang bisa diterapkan: \u2013 Lanjutkan Apa yang Selama Ini Anda Lakukan Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: \u201cYesus, Anak Daud, kasihanilah aku!\u201d Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: \u201cAnak Daud, kasihanilah aku!\u201d Lalu Yesus berhenti dan berkata: \u201cPanggillah dia!\u201d Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: \u201cKuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.\u201d \u2013 Markus 10:47-49 Jika Anda yakin bahwa Anda berada di jalur yang benar atau menerapkan cara yang tepat, tetaplah lakukan itu. Lakukan lebih sering dan lebih konsisten lagi. Bartimeus sudah menemukan jalan yang benar. Ia menginginkan kesembuhan, dan ia berseru kepada orang yang tepat, yaitu Yesus. Ia tahu Yesus sanggup menyembuhkannya, jadi ia terus berteriak memohon belas kasih-Nya. Meskipun orang lain menyuruhnya diam, Bartimeus tidak putus asa, bahkan ia berseru lebih keras lagi. Ketika Anda sudah melakukan apa yang tepat, tetapi hasilnya belum kelihatan, tetaplah lakukan bagian Anda. Suatu hari Anda pasti akan menuai hasilnya. Anda takkan tahu seberapa dekat hasil itu kalau Anda menyerah. Cobalah sekali lagi, dan sekali lagi, dan sekali lagi! \u2013 Ubah Strategi, Bukan Tujuannya Terkadang, untuk keluar dari suatu masalah, melakukan hal yang sama terus-menerus tidaklah cukup. Ada pepatah mengatakan, \u201cJika Anda melakukan hal yang sama tetapi mengharapkan hasil yang berbeda, Anda gila\u201d (McKean, 2016). Untuk keluar dari keputusasaan, Anda mungkin membutuhkan cara atau strategi yang berbeda. Jika Anda merasa buntu, bertukar pikiranlah dengan mentor, leader, pembimbing rohani, atau orang yang Anda percayai. Mintalah bantuan mereka agar Anda dapat melihat dari perspektif berbeda atau menemukan jalan keluar lain. Misalnya, Anda mencoba saat teduh pada malam hari, tetapi selalu ketiduran atau tidak fokus. Goal Anda tetaplah sama: \u201cSaya harus saat teduh.\u201d Lalu, bagaimana caranya supaya tidak ketiduran? Ubah waktunya menjadi pagi hari. Kalau masih ketiduran juga, cobalah mandi sebelum saat teduh agar Anda lebih segar. Change the strategy, but never the goal. 3. Tetaplah Berdoa Jika Anda sudah melakukan poin pertama dan kedua, jangan lupa poin yang ketiga ini. Ingatlah bahwa manusia hanya bisa berencana, tetapi Tuhanlah yang memberikan hasil (Amsal 16:9). Sertakan Tuhan dalam setiap perencanaan Anda. Percayalah bahwa doa dapat mengubah banyak hal, baik keadaan maupun hati kita. \u201cSerahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.\u201d \u2013 Amsal 16:3 Bicara tentang putus asa, Rasul Paulus adalah orang yang sangat berisiko ditimpa putus asa. Dipenjara, dihina, dirantai, bahkan ditimpuki batu\u2014semuanya sudah ia lalui dalam perjalanannya sebagai pengikut Kristus dan penginjil. Apakah ia putus asa? Tidak. Yang membuat Paulus bertahan sampai akhir adalah karena ia percaya bahwa Tuhanlah sumber kekuatannya. Tanpa hubungan yang baik dengan Tuhan, mungkin Paulus sudah menyerah di tengah jalan. \u201cTetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.\u201d \u2013 2 Korintus 4:7-9 Siapakah sumber kekuatan Anda? Masihkah Anda berdoa kepada Tuhan dalam suka maupun duka? Kalau belum, segeralah datang kepada-Nya untuk meminta pertolongan dan kekuatan. Ketika Anda putus asa, pertahankan harapan Anda, teruslah mencari solusi, dan tetaplah berdoa! Jangan berkubang lama-lama dalam keputusasaan. Mengapa? Karena kita punya Allah yang luar biasa, yang jauh lebih besar daripada semua masalah kita. Jadi, jangan katakan, \u201cTuhan, saya punya masalah besar.\u201d Namun, katakanlah, \u201cHei, Masalah, saya punya Tuhan yang Mahabesar!\u201d(gkdi.org)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Ada banyak hal dalam hidup yang bisa membuat kita putus asa. Sudah belajar mati-matian, tetap saja nilai pas-pasan. Siang-malam berjuang dalam pekerjaan, hasil belum juga kelihatan. Segala cara dilakukan untuk mencari pasangan, tetapi batang hidung si jodoh tak kunjung tampak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Waktu kita ceritakan kepada teman, tanggapan yang sering diberikan adalah: \u201cSemangat, ya! Jangan putus asa!\u201d Sayangnya, hal yang gampang diucapkan itu sangat susah dipraktikkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalau begitu, apa kata Alkitab tentang keputusasaan dan bagaimana cara mengatasinya?<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>1. Pertahankan Harapan<\/b><\/h4>\n<div class=\"indent\" style=\"text-align: justify;\">\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4769 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-1-300x172.jpg?resize=489%2C280&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-1-300x172.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-1.jpg 600w\" alt=\"putus asa - gkdi 1\" width=\"489\" height=\"280\" \/>Putus asa adalah hal yang terjadi dalam pikiran kita, tetapi belum dilakukan atau direalisasikan. Dari pikiran, akan lahir tindakan yang dipicu oleh keputusasaan tersebut. Misalnya, ketika kita berpikir tidak akan dapat nilai bagus meski sudah belajar, kita jadi malas untuk berjuang. Tanpa sadar, kita mencari dalih atau situasi yang membuat niat belajar itu batal.<\/p>\n<p>Oleh karenanya, hal pertama yang harus kita ubah adalah pikiran\u2014atau lebih tepatnya, cara pikir kita.<\/p>\n<p>Tanamkan dalam benak Anda bahwa masih ada harapan. Semuanya belum berakhir di sini. Seseorang berhenti melakukan sesuatu karena ia kehilangan harapan. Ia percaya bahwa meskipun sudah berusaha, hasilnya akan sama saja. Jangan pernah kehilangan harapan. <i>If you lose hope, you lose life. <\/i>Tanpa harapan, selesailah sudah semuanya (Ortberg, 2016).<\/p>\n<p>Mengapa Anda terus mengerjakan skripsi meskipun sudah mumet dan ingin menyerah? Karena Anda punya harapan bahwa Anda kelak pasti lulus. Mengapa Anda mau bekerja sebaik-baiknya? Karena Anda yakin suatu hari nanti yang Anda kerjakan bakal berbuah manis. Mengapa Anda tekun berdoa meminta pasangan dari Tuhan? Karena ada harapan bahwa Tuhan akan memberikan Anda pasangan terbaik pada waktu yang tepat.<\/p>\n<p><i>Don\u2019t lose hope. When the sun goes down, the stars come out. <\/i>Pepatah mengatakan, ketika matahari terbenam, bintang-bintang akan muncul. Jadi, jangan kehilangan harapan dan tetaplah menantikan yang terbaik. Dengan berpikir positif, sebenarnya kita sedang memampukan diri untuk mencari solusi dan mengerjakan hal-hal yang mengarah pada kesuksesan.<\/p>\n<p><i>\u201cKarena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.\u201d \u2013 Amsal 23:18<\/i><\/p>\n<h4><b>2. Aktif Mencari Solusi<\/b><\/h4>\n<p>Setelah Anda kembali memiliki pengharapan, Anda perlu aktif mencari solusi. Iman tanpa perbuatan adalah kosong (Yakobus 2:17), dan harapan yang tidak disertai tindakan sama dengan sia-sia.<\/p>\n<p>Ada dua tipe solusi yang bisa diterapkan:<\/p>\n<h5><strong>\u2013 Lanjutkan Apa yang Selama Ini Anda Lakukan<\/strong><\/h5>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4770 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-2-300x200.jpg?resize=441%2C294&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-2.jpg 600w\" alt=\"putus asa - gkdi 2\" width=\"441\" height=\"294\" \/><\/p>\n<p><i>Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: \u201cYesus, Anak Daud, kasihanilah aku!\u201d Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: \u201cAnak Daud, kasihanilah aku!\u201d Lalu Yesus berhenti dan berkata: \u201cPanggillah dia!\u201d Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: \u201cKuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.\u201d \u2013 Markus 10:47-49<\/i><\/p>\n<p>Jika Anda yakin bahwa Anda berada di jalur yang benar atau menerapkan cara yang tepat, tetaplah lakukan itu. Lakukan lebih sering dan lebih konsisten lagi.<\/p>\n<p>Bartimeus sudah menemukan jalan yang benar. Ia menginginkan kesembuhan, dan ia berseru kepada orang yang tepat, yaitu Yesus. Ia tahu Yesus sanggup menyembuhkannya, jadi ia terus berteriak memohon belas kasih-Nya. Meskipun orang lain menyuruhnya diam, Bartimeus tidak putus asa, bahkan ia berseru lebih keras lagi.<\/p>\n<p>Ketika Anda sudah melakukan apa yang tepat, tetapi hasilnya belum kelihatan, tetaplah lakukan bagian Anda. Suatu hari Anda pasti akan menuai hasilnya. Anda takkan tahu seberapa dekat hasil itu kalau Anda menyerah. Cobalah sekali lagi, dan sekali lagi, dan sekali lagi!<\/p>\n<h5><strong>\u2013 Ubah Strategi, Bukan Tujuannya<\/strong><\/h5>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4771 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-3-300x200.jpg?resize=492%2C328&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-3-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-3.jpg 600w\" alt=\"putus asa - gkdi 3\" width=\"492\" height=\"328\" \/><\/p>\n<p>Terkadang, untuk keluar dari suatu masalah, melakukan hal yang sama terus-menerus tidaklah cukup. Ada pepatah mengatakan, \u201cJika Anda melakukan hal yang sama tetapi mengharapkan hasil yang berbeda, Anda gila\u201d (McKean, 2016). Untuk keluar dari keputusasaan, Anda mungkin membutuhkan cara atau strategi yang berbeda.<\/p>\n<p>Jika Anda merasa buntu, bertukar pikiranlah dengan mentor, <i>leader<\/i>, pembimbing rohani, atau orang yang Anda percayai. Mintalah bantuan mereka agar Anda dapat melihat dari perspektif berbeda atau menemukan jalan keluar lain.<\/p>\n<p>Misalnya, Anda mencoba saat teduh pada malam hari, tetapi selalu ketiduran atau tidak fokus. <i>Goal<\/i> Anda tetaplah sama: \u201cSaya harus saat teduh.\u201d Lalu, bagaimana caranya supaya tidak ketiduran? Ubah waktunya menjadi pagi hari. Kalau masih ketiduran juga, cobalah mandi sebelum saat teduh agar Anda lebih segar. <i>Change the strategy, but never the goal.<\/i><\/p>\n<h4><b>3. Tetaplah Berdoa<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4772 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-4-300x200.jpg?resize=424%2C283&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-4-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/putus-asa-gkdi-4.jpg 600w\" alt=\"putus asa - gkdi 4\" width=\"424\" height=\"283\" \/><\/p>\n<p>Jika Anda sudah melakukan poin pertama dan kedua, jangan lupa poin yang ketiga ini. Ingatlah bahwa manusia hanya bisa berencana, tetapi Tuhanlah yang memberikan hasil (Amsal 16:9). Sertakan Tuhan dalam setiap perencanaan Anda. Percayalah bahwa doa dapat mengubah banyak hal, baik keadaan maupun hati kita.<\/p>\n<p><i>\u201cSerahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.\u201d \u2013 Amsal 16:3<\/i><\/p>\n<p>Bicara tentang putus asa, Rasul Paulus adalah orang yang sangat berisiko ditimpa putus asa. Dipenjara, dihina, dirantai, bahkan ditimpuki batu\u2014semuanya sudah ia lalui dalam perjalanannya sebagai pengikut Kristus dan penginjil.<\/p>\n<p>Apakah ia putus asa? Tidak. Yang membuat Paulus bertahan sampai akhir adalah karena ia percaya bahwa Tuhanlah sumber kekuatannya. Tanpa hubungan yang baik dengan Tuhan, mungkin Paulus sudah menyerah di tengah jalan.<\/p>\n<p><i>\u201cTetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.\u201d \u2013 2 Korintus 4:7-9<\/i><\/p>\n<p>Siapakah sumber kekuatan Anda? Masihkah Anda berdoa kepada Tuhan dalam suka maupun duka? Kalau belum, segeralah datang kepada-Nya untuk meminta pertolongan dan kekuatan.<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Anda putus asa, <b>pertahankan harapan<\/b> <b>Anda,<\/b> <b>teruslah mencari solusi<\/b>, <b>dan<\/b> <b>tetaplah berdoa!<\/b> Jangan berkubang lama-lama dalam keputusasaan. Mengapa? Karena kita punya Allah yang luar biasa, yang jauh lebih besar daripada semua masalah kita. Jadi, jangan katakan, \u201cTuhan, saya punya masalah besar.\u201d Namun, katakanlah, \u201cHei, Masalah, saya punya Tuhan yang Mahabesar!\u201d(gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Ada banyak hal dalam hidup yang bisa membuat kita putus asa. Sudah belajar mati-matian, tetap saja nilai pas-pasan. Siang-malam berjuang dalam pekerjaan, hasil belum juga kelihatan. Segala cara dilakukan untuk mencari pasangan, tetapi batang hidung si jodoh tak kunjung tampak. Waktu kita ceritakan kepada teman, tanggapan yang sering diberikan adalah: \u201cSemangat, ya! Jangan putus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46467,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1,78,3],"tags":[],"class_list":["post-46464","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-renungan","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46467,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/hopeless.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/hopeless.jpg?fit=198%2C123&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/hopeless.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/hopeless.jpg?fit=198%2C123&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1423","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46464"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46464\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46467"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}