{"id":46476,"date":"2020-07-03T08:00:57","date_gmt":"2020-07-03T01:00:57","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46476"},"modified":"2020-07-01T21:55:38","modified_gmt":"2020-07-01T14:55:38","slug":"bagaimana-caranya-dekat-dengan-tuhan-bagian-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-caranya-dekat-dengan-tuhan-bagian-1\/","title":{"rendered":"Bagaimana Caranya Dekat dengan Tuhan? (Bagian 1)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Banyak orang ingin memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, dan ini adalah cita-cita yang mulia. Namun, tentunya ada pula yang bertanya-tanya: mengapa kita perlu mendekatkan diri dengan Tuhan? Dan, langkah-langkah apa yang bisa kita ambil untuk melakukannya? Alkitab sudah mencantumkan apa alasannya dan bagaimana cara meningkatkan level hubungan kita dengan Tuhan: Mengapa Dekat dengan Tuhan Itu Penting? Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya. \u2013 Mazmur 115:4-8 Mazmur mengatakan bahwa kita akan menjadi seperti apa yang kita sembah. Jika kita menyembah berhala, kita akan menjadi seperti berhala itu. Jika kita menyembah Tuhan, kita pun akan berusaha semakin mirip dengan Tuhan. Jadi, dekat dengan Tuhan itu penting agar karakter kita semakin mendekati karakter Tuhan. Menjadi serupa dengan Kristus adalah panggilan setiap orang yang percaya kepada Allah, yang dapat kita teladani lewat cara hidup Yesus. Memiliki karakter Kristus akan menjadikan hidup kita berkat bagi banyak orang. Dan, seseorang bisa dikatakan dekat dengan Tuhan jika karakternya makin serupa dengan Yesus. Tentunya, ini diperoleh melalui berbagai proses pembentukan karakter secara terus-menerus. Untuk mengenal lebih dalam karakter Yesus, kita perlu membangun hubungan dengan-Nya, yaitu dengan mempraktikkan apa yang kita pelajari dari Alkitab. Dengan cara itulah, Tuhan membentuk karakter kita agar semakin mendekati karakter-Nya. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. \u2013 Filipi 3:10 Dengan kata lain, pengertian menjadi mirip dengan Yesus adalah tentang hubungan kita dengan-Nya. Memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan akan memengaruhi semua aspek kehidupan kita. Sebelum mengenal Yesus, memaafkan adalah perbuatan yang sangat sulit saya lakukan. Namun, setelah melihat bagaimana Yesus mengampuni orang-orang yang menyalibkan Dia, cara pandang saya tentang pengampunan berubah. Terlebih lagi, Tuhan sendiri telah mengampuni dosa-dosa saya. Berikut tiga pertama hal yang bisa kita praktikkan dalam upaya memiliki hubungan dekat dengan Tuhan: 1. Siapkan Hati dan Pikiran Jawab Yesus kepadanya: \u201cKasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. \u2013 Matius 22:37 Hal paling awal dan utama dalam membangun hubungan dengan Tuhan adalah mempersiapkan hati dan pikiran kita. Tuhan ingin menjadi prioritas dalam segala bidang kehidupan kita, di atas pekerjaan, pasangan hidup, anak, hobi, dan materi. Pernahkah hati dan pikiran Anda tidak sinkron dengan tindakan Anda saat bersama Tuhan? Contoh, selama pandemi COVID-19, pemerintah menghimbau masyarakat untuk menerapkan physical distancing, sehingga kita melakukan ibadah online. Saat ibadah, apakah Anda datang dengan hati dan pikiran yang tertuju kepada Tuhan? Atau, Anda bersikap seenaknya sepanjang ibadah, misalnya sambil mengecek akun medsos atau chatting? Mempersiapkan hati dan pikiran berarti mencurahkan segenap hati, jiwa, raga, dan pikiran kita untuk membangun hubungan dengan Tuhan. Misalkan, sebelum ibadah, kita matikan ponsel dan cari ruangan yang tenang. Atau, untuk saat teduh, kita pilih waktu spesial, tempat yang private, berdoa dulu, lalu mencatat hasil renungan dan pelajaran kita. 2. Pelajari Firman-Nya Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. \u2013 2 Petrus 1:19 Di Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana Tuhan suka berbicara dengan orang-orang yang dekat dengan-Nya. Di era modern, sebenarnya Tuhan pun masih berbicara kepada kita lewat firman-Nya, yaitu Alkitab. Firman Tuhan memuat pemikiran-pemikiran-Nya. Jika ingin hubungan kita dengan Tuhan bertumbuh, kita perlu membaca dan mempelajari firman-Nya setiap hari. Dengan demikian, kita semakin memahami apa yang menyenangkan Tuhan dan apa yang membuat Dia murka atau sedih. 3. Pray Deeply Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. \u2013 Mazmur 34:2 Berdoa \u201cdengan dalam\u201d berarti berdoa sungguh-sungguh, dengan terbuka dan tulus ingin membangun komunikasi dengan Tuhan\u2014bukan asal-asalan atau dengan terburu-buru. Jika membaca Alkitab adalah cara kita mendengarkan suara Tuhan, berdoa adalah cara kita berbicara kepada-Nya. Dan, Tuhan senang mendengar anak-anak-Nya memuji dan bersyukur kepada-Nya. Untuk itu, kita bisa meniru struktur Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Praying deeply merujuk pada hubungan Anak dengan Bapa; artinya, kita menghormati Tuhan layaknya sikap seorang anak kepada ayahnya: tidak kaku atau formal. Kita awali doa dengan memuji Tuhan, mengaku dosa, baru meminta kepada-Nya. Anda bisa pelajari pola Doa Bapa Kami lebih jelas di sini. Daud adalah orang yang punya hubungan dekat dengan Tuhan. Lewat doa-doanya yang dimuat di Mazmur, ia memuji Tuhan, mengakui dosanya, dan menyampaikan kebutuhannya kepada Tuhan. Ketika anak pertamanya dengan Batsyeba sakit, Daud berdoa sungguh-sungguh, memohon kepada Tuhan dengan berpuasa dan merebahkan diri di lantai. Praying deeply menunjukkan kesungguhan hati kita untuk percaya Tuhan akan memberikan jawaban terbaik seturut kehendak-Nya. Adalah sukacita luar biasa ketika kita dapat memahami pentingnya hubungan yang dekat dengan Tuhan. Untuk mencapai hal tersebut, kita memerlukan tindakan berkesinambungan. Awali dengan menyiapkan hati dan pikiran kita, dilanjutkan dengan berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa dan perenungan firman. (gkdi.org)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Banyak orang ingin memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, dan ini adalah cita-cita yang mulia. Namun, tentunya ada pula yang bertanya-tanya: mengapa kita perlu mendekatkan diri dengan Tuhan? Dan, langkah-langkah apa yang bisa kita ambil untuk melakukannya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alkitab sudah mencantumkan apa alasannya dan bagaimana cara meningkatkan level hubungan kita dengan Tuhan:<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>Mengapa Dekat dengan Tuhan Itu Penting?<\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, <\/em><em><br \/>\n<\/em><em>mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, <\/em><em><br \/>\n<\/em><em>mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, <\/em><em><br \/>\n<\/em><em>mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. <\/em><em><br \/>\n<\/em><em>Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u2013 Mazmur 115:4-8<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mazmur mengatakan bahwa kita akan menjadi seperti apa yang kita sembah. Jika kita menyembah berhala, kita akan menjadi seperti berhala itu. Jika kita menyembah Tuhan, kita pun akan berusaha semakin mirip dengan Tuhan. Jadi, dekat dengan Tuhan itu penting agar karakter kita semakin mendekati karakter Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menjadi serupa dengan Kristus adalah panggilan setiap orang yang percaya kepada Allah, yang dapat kita teladani lewat cara hidup Yesus. Memiliki karakter Kristus akan menjadikan hidup kita berkat bagi banyak orang. Dan, seseorang bisa dikatakan dekat dengan Tuhan jika karakternya makin serupa dengan Yesus. Tentunya, ini diperoleh melalui berbagai proses pembentukan karakter secara terus-menerus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mengenal lebih dalam karakter Yesus, kita perlu membangun hubungan dengan-Nya, yaitu dengan mempraktikkan apa yang kita pelajari dari Alkitab. Dengan cara itulah, Tuhan membentuk karakter kita agar semakin mendekati karakter-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. \u2013 Filipi 3:10<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan kata lain, pengertian menjadi mirip dengan Yesus adalah tentang hubungan kita dengan-Nya. Memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan akan memengaruhi semua aspek kehidupan kita. Sebelum mengenal Yesus, memaafkan adalah perbuatan yang sangat sulit saya lakukan. Namun, setelah melihat bagaimana Yesus mengampuni orang-orang yang menyalibkan Dia, cara pandang saya tentang pengampunan berubah. Terlebih lagi, Tuhan sendiri telah mengampuni dosa-dosa saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berikut tiga pertama hal yang bisa kita praktikkan dalam upaya memiliki hubungan dekat dengan Tuhan:<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Siapkan Hati dan Pikiran<\/strong><\/h4>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9124 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-1-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-1-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-1-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-1-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-1-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-1-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Jawab Yesus kepadanya: \u201cKasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. \u2013 Matius 22:37<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal paling awal dan utama dalam membangun hubungan dengan Tuhan adalah mempersiapkan hati dan pikiran kita. Tuhan ingin menjadi prioritas dalam segala bidang kehidupan kita, di atas pekerjaan, pasangan hidup, anak, hobi, dan materi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pernahkah hati dan pikiran Anda tidak sinkron dengan tindakan Anda saat bersama Tuhan? Contoh, selama pandemi COVID-19, pemerintah menghimbau masyarakat untuk menerapkan <em>physical distancing<\/em>, sehingga kita melakukan ibadah <em>online<\/em>. Saat ibadah, apakah Anda datang dengan hati dan pikiran yang tertuju kepada Tuhan? Atau, Anda bersikap seenaknya sepanjang ibadah, misalnya sambil mengecek akun medsos atau <em>chatting<\/em>?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mempersiapkan hati dan pikiran berarti mencurahkan segenap hati, jiwa, raga, dan pikiran kita untuk membangun hubungan dengan Tuhan. Misalkan, sebelum ibadah, kita matikan ponsel dan cari ruangan yang tenang. Atau, untuk saat teduh, kita pilih waktu spesial, tempat yang <em>private<\/em>, berdoa dulu, lalu mencatat hasil renungan dan pelajaran kita.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Pelajari Firman-Nya<\/strong><\/h4>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9125 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-2-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-2-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-2-FS-min-300x158.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-2-FS-min-768x406.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-2-FS-min-696x367.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-2-FS-min-795x420.jpg 795w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. \u2013 2 Petrus 1:19<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana Tuhan suka berbicara dengan orang-orang yang dekat dengan-Nya. Di era modern, sebenarnya Tuhan pun masih berbicara kepada kita lewat firman-Nya, yaitu Alkitab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Firman Tuhan memuat pemikiran-pemikiran-Nya. Jika ingin hubungan kita dengan Tuhan bertumbuh, kita perlu membaca dan mempelajari firman-Nya setiap hari. Dengan demikian, kita semakin memahami apa yang menyenangkan Tuhan dan apa yang membuat Dia murka atau sedih.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>3. <em>Pray Deeply<\/em><\/strong><\/h4>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9126 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-3-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-3-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-3-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-3-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-3-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Dekat-3-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. \u2013 Mazmur 34:2<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdoa \u201cdengan dalam\u201d berarti berdoa sungguh-sungguh, dengan terbuka dan tulus ingin membangun komunikasi dengan Tuhan\u2014bukan asal-asalan atau dengan terburu-buru. Jika membaca Alkitab adalah cara kita mendengarkan suara Tuhan, berdoa adalah cara kita berbicara kepada-Nya. Dan, Tuhan senang mendengar anak-anak-Nya memuji dan bersyukur kepada-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk itu, kita bisa meniru struktur Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya. <em>Praying deeply <\/em>merujuk pada hubungan Anak dengan Bapa; artinya, kita menghormati Tuhan layaknya sikap seorang anak kepada ayahnya: tidak kaku atau formal. Kita awali doa dengan memuji Tuhan, mengaku dosa, baru meminta kepada-Nya. Anda bisa pelajari pola Doa Bapa Kami lebih jelas di sini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Daud adalah orang yang punya hubungan dekat dengan Tuhan. Lewat doa-doanya yang dimuat di Mazmur, ia memuji Tuhan, mengakui dosanya, dan menyampaikan kebutuhannya kepada Tuhan. Ketika anak pertamanya dengan Batsyeba sakit, Daud berdoa sungguh-sungguh, memohon kepada Tuhan dengan berpuasa dan merebahkan diri di lantai. <em>Praying deeply<\/em> menunjukkan kesungguhan hati kita untuk percaya Tuhan akan memberikan jawaban terbaik seturut kehendak-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adalah sukacita luar biasa ketika kita dapat memahami pentingnya hubungan yang dekat dengan Tuhan. Untuk mencapai hal tersebut, kita memerlukan tindakan berkesinambungan. Awali dengan menyiapkan hati dan pikiran kita, dilanjutkan dengan berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa dan perenungan firman. (gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Banyak orang ingin memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, dan ini adalah cita-cita yang mulia. Namun, tentunya ada pula yang bertanya-tanya: mengapa kita perlu mendekatkan diri dengan Tuhan? Dan, langkah-langkah apa yang bisa kita ambil untuk melakukannya? Alkitab sudah mencantumkan apa alasannya dan bagaimana cara meningkatkan level hubungan kita dengan Tuhan: Mengapa Dekat dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46474,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,78,3],"tags":[],"class_list":["post-46476","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-renungan","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46474,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/baca-alkitab.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/awan.jpg?fit=768%2C512&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/awan.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/baca-alkitab.jpg?fit=592%2C420&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1018","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46476","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46476"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46476\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46474"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46476"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46476"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46476"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}