{"id":46478,"date":"2020-07-03T11:25:47","date_gmt":"2020-07-03T04:25:47","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46478"},"modified":"2020-07-01T21:55:19","modified_gmt":"2020-07-01T14:55:19","slug":"bagaimana-caranya-dekat-dengan-tuhan-bagian-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-caranya-dekat-dengan-tuhan-bagian-2\/","title":{"rendered":"Bagaimana Caranya Dekat dengan Tuhan? (Bagian 2)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Kita telah memahami pentingnya menjadi dekat dengan Tuhan, serta tiga langkah pertama untuk melakukannya di bagian 1. Inilah tiga langkah selanjutnya yang dapat kita terapkan: 4. Pilih Waktu yang Spesifik Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. \u2013 Pengkhotbah 3:1 Segala yang ada dan terjadi di dunia punya waktunya masing-masing, dan tantangan kita adalah bagaimana mengetahui waktu yang tepat untuk setiap hal. Di zaman serbacepat ini, kita cenderung disibukkan berbagai aktivitas. Akibatnya, kita sering kehilangan waktu berkualitas bersama orang-orang tercinta. Bayangkan, Anda ingin dekat dengan pasangan dan anak, tetapi hanya makan bersama sekali sebulan. Tentunya hal ini akan sulit direalisasikan, bukan? Konsep waktu berkualitas ini juga berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan. Cobalah temukan waktu yang khusus dan rutin untuk mendekatkan diri kepada Tuhan setiap hari. Misalnya, lewat saat teduh tiap pukul 5 pagi. Kapan pun waktunya, niscaya dapat membantu Anda lebih dekat dengan Tuhan. 5. Cari Tempat yang Tenang Lalu Ia berkata kepada mereka: \u201cMarilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!\u201d Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. \u2013 Markus 6:31 Suara apa yang paling banyak Anda dengar setiap hari? Obrolan orang? Diskusi pekerjaan? Di tengah kebisingan dunia, kita akan sulit memfokuskan diri pada suara Tuhan. Karena itulah, amat penting bagi kita untuk berada di tempat yang tenang agar bisa membangun waktu pribadi dengan Tuhan. Pada ayat di atas, kita melihat bahwa Yesus ingin memiliki waktu khusus bersama murid-murid-Nya setelah seharian menolong dan mengajar banyak orang. Dia mengajak mereka pergi ke tempat yang sunyi agar tidak terganggu hiruk-pikuk dunia. Di lain waktu, Yesus berdoa di tempat yang sunyi pagi-pagi sekali (Markus 1:35) atau pergi ke bukit seorang diri di malam hari (Matius 14:23). Berada di tempat tenang tidak berarti Anda harus pergi mencari tempat yang sunyi. Sebuah ruangan di waktu berbeda bisa menjadi lokasi yang hening, misalnya kamar tidur atau taman rumah di kala fajar. Yang penting adalah di lokasi tersebut Anda bisa merasakan kedamaian dan kehadiran Tuhan. 6. Disiplin Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. \u2013 1 Korintus 9:26-27 Sikap disiplin mutlak diperlukan untuk mencapai sebuah tujuan. Interaksi yang tidak teratur akan sulit menumbuhkan hubungan apa pun. Mungkinkah kita dapat meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan secara suka-suka? Misalnya, dengan membaca firman seminggu sekali, atau berdoa seminggu tiga kali? Tanpa disiplin, akan sulit bagi kita menjalin hubungan dekat dengan Tuhan. Seperti halnya dalam pekerjaan atau studi, kita perlu disiplin dengan waktu dan upaya mendekatkan diri dengan Tuhan. Selain menaati jadwal membaca firman (poin 2) dan berdoa setiap hari (poin 3), kita juga membutuhkan disiplin terkait hal-hal di luar jadwal. Maksudnya bagaimana? Bangunlah disiplin rohani untuk selalu mengutamakan Tuhan setiap saat. Contohnya, dengan menolak godaan, atau berbuat baik kepada sesama. Sebuah disiplin rohani, dengan melatih diri melakukan perbuatan yang menyenangkan Tuhan, akan membawa hubungan kita dengan Tuhan ke level yang lebih tinggi. Kehidupan kerohanian akan jadi membosankan ketika kita tidak mengenal Tuhan secara dalam. Untuk itu, kita harus terus mendekatkan diri kepada-Nya. Pada akhirnya, orang yang dikenal Tuhan adalah orang yang dekat dengan-Nya. Kejarlah hubungan ini dengan konsisten menerapkan kebiasaan rohani yang telah Anda lakukan selama ini dengan benar. Anda juga dapat menyertakan langkah-langkah di atas yang saya percaya dapat membantu Anda membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan. Selamat mencoba!(gkdi.org)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Kita telah memahami pentingnya menjadi dekat dengan Tuhan, serta tiga langkah pertama untuk melakukannya di bagian 1. Inilah tiga langkah selanjutnya yang dapat kita terapkan:<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Pilih Waktu yang Spesifik<\/strong><\/h4>\n<figure class=\"wp-block-image size-large\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9120 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-4-FS-min.jpg?resize=464%2C310&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-4-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-4-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-4-FS-min-768x513.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-4-FS-min-696x465.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-4-FS-min-629x420.jpg 629w\" alt=\"\" width=\"464\" height=\"310\" \/><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. \u2013 Pengkhotbah 3:1<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Segala yang ada dan terjadi di dunia punya waktunya masing-masing, dan tantangan kita adalah bagaimana mengetahui waktu yang tepat untuk setiap hal. Di zaman serbacepat ini, kita cenderung disibukkan berbagai aktivitas. Akibatnya, kita sering kehilangan waktu berkualitas bersama orang-orang tercinta. Bayangkan, Anda ingin dekat dengan pasangan dan anak, tetapi hanya makan bersama sekali sebulan. Tentunya hal ini akan sulit direalisasikan, bukan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsep waktu berkualitas ini juga berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan. Cobalah temukan waktu yang khusus dan rutin untuk mendekatkan diri kepada Tuhan setiap hari. Misalnya, lewat saat teduh tiap pukul 5 pagi. Kapan pun waktunya, niscaya dapat membantu Anda lebih dekat dengan Tuhan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Cari Tempat yang Tenang<\/strong><\/h4>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9119 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-5-FS-min.jpg?resize=456%2C257&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-5-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-5-FS-min-300x169.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-5-FS-min-768x432.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-5-FS-min-696x392.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-5-FS-min-746x420.jpg 746w\" alt=\"\" width=\"456\" height=\"257\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Lalu Ia berkata kepada mereka: \u201cMarilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!\u201d Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. \u2013 Markus 6:31<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suara apa yang paling banyak Anda dengar setiap hari? Obrolan orang? Diskusi pekerjaan? Di tengah kebisingan dunia, kita akan sulit memfokuskan diri pada suara Tuhan. Karena itulah, amat penting bagi kita untuk berada di tempat yang tenang agar bisa membangun waktu pribadi dengan Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada ayat di atas, kita melihat bahwa Yesus ingin memiliki waktu khusus bersama murid-murid-Nya setelah seharian menolong dan mengajar banyak orang. Dia mengajak mereka pergi ke tempat yang sunyi agar tidak terganggu hiruk-pikuk dunia. Di lain waktu, Yesus berdoa di tempat yang sunyi pagi-pagi sekali <em>(Markus 1:35) <\/em>atau pergi ke bukit seorang diri di malam hari <em>(Matius 14:23)<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berada di tempat tenang tidak berarti Anda harus pergi mencari tempat yang sunyi. Sebuah ruangan di waktu berbeda bisa menjadi lokasi yang hening, misalnya kamar tidur atau taman rumah di kala fajar. Yang penting adalah di lokasi tersebut Anda bisa merasakan kedamaian dan kehadiran Tuhan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>6. Disiplin<\/strong><\/h4>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9121 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-6-FS-min-1.jpg?resize=439%2C275&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-6-FS-min-1.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-6-FS-min-1-300x188.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-6-FS-min-1-768x480.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-6-FS-min-1-696x435.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/dekat-6-FS-min-1-672x420.jpg 672w\" alt=\"\" width=\"439\" height=\"275\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. \u2013 1 Korintus 9:26-27<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sikap disiplin mutlak diperlukan untuk mencapai sebuah tujuan. Interaksi yang tidak teratur akan sulit menumbuhkan hubungan apa pun. Mungkinkah kita dapat meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan secara suka-suka? Misalnya, dengan membaca firman seminggu sekali, atau berdoa seminggu tiga kali? Tanpa disiplin, akan sulit bagi kita menjalin hubungan dekat dengan Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti halnya dalam pekerjaan atau studi, kita perlu disiplin dengan waktu dan upaya mendekatkan diri dengan Tuhan. Selain menaati jadwal membaca firman (poin 2) dan berdoa setiap hari (poin 3), kita juga membutuhkan disiplin terkait hal-hal di luar jadwal. Maksudnya bagaimana?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangunlah disiplin rohani untuk selalu mengutamakan Tuhan setiap saat. Contohnya, dengan menolak godaan, atau berbuat baik kepada sesama. Sebuah disiplin rohani, dengan melatih diri melakukan perbuatan yang menyenangkan Tuhan, akan membawa hubungan kita dengan Tuhan ke level yang lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kehidupan kerohanian akan jadi membosankan ketika kita tidak mengenal Tuhan secara dalam. Untuk itu, kita harus terus mendekatkan diri kepada-Nya. Pada akhirnya, orang yang dikenal Tuhan adalah orang yang dekat dengan-Nya. Kejarlah hubungan ini dengan konsisten menerapkan kebiasaan rohani yang telah Anda lakukan selama ini dengan benar. Anda juga dapat menyertakan langkah-langkah di atas yang saya percaya dapat membantu Anda membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan. Selamat mencoba!(gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Kita telah memahami pentingnya menjadi dekat dengan Tuhan, serta tiga langkah pertama untuk melakukannya di bagian 1. Inilah tiga langkah selanjutnya yang dapat kita terapkan: 4. Pilih Waktu yang Spesifik Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. \u2013 Pengkhotbah 3:1 Segala yang ada dan terjadi di dunia punya waktunya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46474,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1,78,3],"tags":[],"class_list":["post-46478","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-renungan","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46474,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/baca-alkitab.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/awan.jpg?fit=768%2C512&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/awan.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/baca-alkitab.jpg?fit=592%2C420&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1109","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46478","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46478"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46478\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46474"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46478"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46478"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46478"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}