{"id":46482,"date":"2020-07-02T11:30:04","date_gmt":"2020-07-02T04:30:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46482"},"modified":"2020-06-29T14:43:27","modified_gmt":"2020-06-29T07:43:27","slug":"pria-ubahlah-dunia-dengan-karaktermu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/pria-ubahlah-dunia-dengan-karaktermu\/","title":{"rendered":"Pria, Ubahlah Dunia dengan Karaktermu!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Sebagai seorang pria, saya setuju dengan kutipan dari Mahatma Gandhi, tokoh bijak yang menjadi inspirasi para pemimpin dunia, \u201cYou must be the change you wish to see in the world.\u201d Seorang pria perlu memiliki karakter yang benar agar dapat memimpin dirinya sendiri dan orang lain menuju perubahan yang positif. Untuk itu, Anda perlu memiliki karakter berdasarkan standar yang benar, yaitu firman Tuhan, bukan standar dunia. Paulus mengatakan, \u201dJanganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2).\u201d Melalui tiga tokoh Alkitab berikut, saya mengajak Anda untuk mengenali apa saja karakter-karakter seorang pria hebat. 1. Daud \u2013 Bergantung kepada Tuhan\u00a0 Apakah Anda merasa harus menyelesaikan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain? Dulu saya selalu berpikir demikian, dan saya sadar kebanyakan pria memiliki pola pikir seperti ini. Alasannya, mungkin karena takut merepotkan orang, malu meminta bantuan, terlalu keras terhadap diri sendiri, atau karena kesombongan pribadi.\u00a0 Apakah ini menjadikan saya kuat? Tidak, justru sebaliknya. Saya menjadi orang yang sulit bersukacita dan mudah tertekan. Mengandalkan kekuatan sendiri untuk hal-hal yang berada di luar kendali kita adalah sia-sia, tapi takut akan Tuhan menjadikan pekerjaan kita berhasil. Daud adalah seorang pria yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Kita tahu betapa luar biasanya Tuhan bekerja melalui dirinya sewaktu ia mengalahkan Goliat hanya dengan lemparan batu. Kerajaan Israel pun berjaya di masa kepemimpinannya. Semua itu berkat ketulusan hati Daud untuk bergantung kepada Tuhan. Daud pernah jatuh ke dalam dosa, juga pernah menghadapi berbagai situasi yang tidak ideal dan berbahaya. Namun, kitab Mazmur menjadi bukti bahwa ia tetap mengandalkan Tuhan sekalipun dirinya sedang ditempatkan dalam pencobaan. Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku; banyak orang yang berkata tentang aku: \u201cBaginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.\u201d Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.\u201d \u2013\u00a0 Mazmur 3:2-5 Jika Anda yang membaca artikel ini adalah seorang pria, Anda tentu tahu seorang pria sering dituntut bertanggung jawab terhadap banyak hal. Tak jarang, hal-hal tersebut amat sulit atau berat. Apa pun tanggung jawab dan tantangan yang Anda jalani saat ini, belajarlah untuk mengandalkan Tuhan. Artinya, Anda mengembangkan sikap hati yang mau tetap bersukacita walaupun keadaan terasa sulit. Anda melatih diri untuk percaya bahwa Tuhan lebih besar daripada masalah-masalah Anda. Bergantung kepada Tuhan dimulai dengan keputusan untuk berdoa. Menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Tak lupa, bagikan juga pergumulan Anda kepada orang-orang yang mau mendengarkan, membantu, dan membawa Anda kepada Tuhan. Jangan berharap masalah akan cepat selesai, tetapi percayalah bahwa Tuhan menjaga Anda, bahkan dalam momen-momen terburuk hidup Anda. 2. Yusuf \u2013 Tidak Kompromi dengan Dosa\u00a0 Dosa dan godaan ketidakmurnian, kemalasan, dan kesombongan kerap kali menjadi tantangan besar bagi para pria. Bahkan, saya sering mendengar ungkapan, \u201cCowok kalau enggak ada dosanya, berarti enggak gaul!\u201d Ini lantas dijadikan alasan oleh banyak pria untuk bersikap \u201cnakal.\u201d Tentunya, ungkapan di atas tidaklah benar. Pria yang hebat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya sendiri, termasuk dalam hal dosa. Dosa bukanlah sesuatu yang bisa dicoba-coba, lalu dilenyapkan dengan bertobat kemudian. Justru, kita perlu menjaga diri sejak awal dari godaan yang terkecil sekalipun. Ketika Yusuf menjadi kepala rumah Potifar dan digoda oleh istri majikannya itu untuk tidur bersama, Yusuf menolak (Kejadian 39:4-12). Sebenarnya peluang Yusuf untuk melakukannya tanpa ketahuan itu besar, karena ia sangat dipercaya oleh Potifar. Namun, inilah yang menarik dari karakter Yusuf: ia tidak menjual dirinya kepada dosa. Sikap tegas terhadap dosa adalah karakter yang wajib dimiliki seorang pria hebat. Kita harus dapat memimpin diri sendiri, dalam hal ini, untuk menghindari jerat dosa. Dalam berbagai kesempatan, kita sering dihadapkan pada pilihan untuk melakukan kebenaran atau dosa. Kunci pengendalian diri adalah dengan memandang bahwa hubungan kita dengan Tuhan lebih berharga daripada apa pun. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. \u2013 Roma 6:6 Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib bukan hanya untuk menebus dosa-dosa kita, melainkan juga untuk memperbaiki hubungan kita dengan Bapa. Dimulai dengan sebuah keputusan untuk tidak berkompromi dengan dosa, sekecil apa pun itu, sesungguhnya Anda tengah berjuang membangun hubungan dengan Allah. Firman Tuhan dapat menuntun Anda sehingga Anda dapat merdeka dari dosa. Jika Anda kesulitan mengendalikan diri terhadap godaan dan dosa, mintalah bantuan dari orang-orang yang Anda percaya dapat membantu Anda di dalam Tuhan. 3. Paulus \u2013 Mengejar Karakter Kristus\u00a0 Kaum pria identik dengan ambisi, meskipun pernyataan ini bias karena ambisi tidak mengenal gender. Saya termasuk orang yang berambisi, misalnya untuk mendapatkan nilai bagus semasa kuliah, menjadi pemenang dalam lomba, dan lain-lain. Tentunya Anda pun pernah berambisi mengejar sesuatu. Namun ketahuilah: seorang pria yang hebat perlu berambisi mengejar karakter Kristus. Mengapa kita harus berjuang untuk mendapatkannya? Karena, kebenaranlah yang kelak menyelamatkan kita di kemudian hari. Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. \u2013 2 Timotius 2:22 Sepanjang hidupnya, Rasul Paulus terus mengejar karakter-karakter yang dimiliki Kristus. Ucapannya dalam ayat di atas mengajarkan saya untuk mengejar perkara ilahi di atas perkara duniawi. Saya akui, daya tarik dunia memang menggiurkan karena hasilnya bisa langsung kelihatan. Namun, itu semua akan habis, layu, atau rusak, sementara karakter Kristus tetap melekat dalam diri Anda selama-lamanya. Kita bisa mempelajari berbagai karakter Kristus di dalam Alkitab. Misalnya, untuk belajar tentang iman, bacalah kisah Abraham. Jika Anda kesulitan menanamkan tekad untuk mendalami firman Tuhan, bacalah kisah Ezra. Belajarlah tentang kebijaksanaan dari Salomo. Mengadopsi sifat-sifat Kristus tentunya membutuhkan waktu dan komitmen, karena karakter perlu ditumbuhkan seumur hidup. Namun, percayalah bahwa semua itu akan membangun hidup Anda. Pria yang hebat adalah pria yang bisa memimpin dirinya sendiri untuk hidup benar di hadapan Allah. Jadilah kuat, wahai kaum Adam, dan jadilah representasi Kristus dalam hidup Anda! (gkdi.org)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Sebagai seorang pria, saya setuju dengan kutipan dari Mahatma Gandhi, tokoh bijak yang menjadi inspirasi para pemimpin dunia, <em>\u201cYou must be the change you wish to see in the world.\u201d <\/em>Seorang pria perlu memiliki karakter yang benar agar dapat memimpin dirinya sendiri dan orang lain menuju perubahan yang positif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk itu, Anda perlu memiliki karakter berdasarkan standar yang benar, yaitu firman Tuhan, bukan standar dunia. Paulus mengatakan, <em>\u201dJanganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2).\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui tiga tokoh Alkitab berikut, saya mengajak Anda untuk mengenali apa saja karakter-karakter seorang pria hebat.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Daud \u2013 Bergantung kepada Tuhan\u00a0<\/strong><\/h4>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"text-align: justify;\">Apakah Anda merasa harus menyelesaikan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain? Dulu saya selalu berpikir demikian, dan saya sadar kebanyakan pria memiliki pola pikir seperti ini. Alasannya, mungkin karena takut merepotkan orang, malu meminta bantuan, terlalu keras terhadap diri sendiri, atau karena kesombongan pribadi.\u00a0<\/span><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah ini menjadikan saya kuat? Tidak, justru sebaliknya. Saya menjadi orang yang sulit bersukacita dan mudah tertekan. Mengandalkan kekuatan sendiri untuk hal-hal yang berada di luar kendali kita adalah sia-sia, tapi takut akan Tuhan menjadikan pekerjaan kita berhasil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Daud adalah seorang pria yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Kita tahu betapa luar biasanya Tuhan bekerja melalui dirinya sewaktu ia mengalahkan Goliat hanya dengan lemparan batu. Kerajaan Israel pun berjaya di masa kepemimpinannya. Semua itu berkat ketulusan hati Daud untuk bergantung kepada Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Daud pernah jatuh ke dalam dosa, juga pernah menghadapi berbagai situasi yang tidak ideal dan berbahaya. Namun, kitab Mazmur menjadi bukti bahwa ia tetap mengandalkan Tuhan sekalipun dirinya sedang ditempatkan dalam pencobaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku; banyak orang yang berkata tentang aku: \u201cBaginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.\u201d Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.\u201d \u2013\u00a0 Mazmur 3:2-5<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika Anda yang membaca artikel ini adalah seorang pria, Anda tentu tahu seorang pria sering dituntut bertanggung jawab terhadap banyak hal. Tak jarang, hal-hal tersebut amat sulit atau berat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa pun tanggung jawab dan tantangan yang Anda jalani saat ini, belajarlah untuk mengandalkan Tuhan. Artinya, Anda mengembangkan sikap hati yang mau tetap bersukacita walaupun keadaan terasa sulit. Anda melatih diri untuk percaya bahwa Tuhan lebih besar daripada masalah-masalah Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bergantung kepada Tuhan dimulai dengan keputusan untuk berdoa. Menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Tak lupa, bagikan juga pergumulan Anda kepada orang-orang yang mau mendengarkan, membantu, dan membawa Anda kepada Tuhan. Jangan berharap masalah akan cepat selesai, tetapi percayalah bahwa Tuhan menjaga Anda, bahkan dalam momen-momen terburuk hidup Anda.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Yusuf \u2013 Tidak Kompromi dengan Dosa\u00a0<\/strong><\/h4>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9052 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-2-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-2-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-2-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-2-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-2-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-2-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dosa dan godaan ketidakmurnian, kemalasan, dan kesombongan kerap kali menjadi tantangan besar bagi para pria. Bahkan, saya sering mendengar ungkapan, \u201cCowok kalau enggak ada dosanya, berarti enggak gaul!\u201d Ini lantas dijadikan alasan oleh banyak pria untuk bersikap \u201cnakal.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentunya, ungkapan di atas tidaklah benar. Pria yang hebat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya sendiri, termasuk dalam hal dosa. Dosa bukanlah sesuatu yang bisa dicoba-coba, lalu dilenyapkan dengan bertobat kemudian. Justru, kita perlu menjaga diri sejak awal dari godaan yang terkecil sekalipun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Yusuf menjadi kepala rumah Potifar dan digoda oleh istri majikannya itu untuk tidur bersama, Yusuf menolak <em>(Kejadian 39:4-12)<\/em>. Sebenarnya peluang Yusuf untuk melakukannya tanpa ketahuan itu besar, karena ia sangat dipercaya oleh Potifar. Namun, inilah yang menarik dari karakter Yusuf: ia tidak menjual dirinya kepada dosa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sikap tegas terhadap dosa adalah karakter yang wajib dimiliki seorang pria hebat. Kita harus dapat memimpin diri sendiri, dalam hal ini, untuk menghindari jerat dosa. Dalam berbagai kesempatan, kita sering dihadapkan pada pilihan untuk melakukan kebenaran atau dosa. Kunci pengendalian diri adalah dengan memandang bahwa hubungan kita dengan Tuhan lebih berharga daripada apa pun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. \u2013 Roma 6:6<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib bukan hanya untuk menebus dosa-dosa kita, melainkan juga untuk memperbaiki hubungan kita dengan Bapa. Dimulai dengan sebuah keputusan untuk tidak berkompromi dengan dosa, sekecil apa pun itu, sesungguhnya Anda tengah berjuang membangun hubungan dengan Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Firman Tuhan dapat menuntun Anda sehingga Anda dapat merdeka dari dosa. Jika Anda kesulitan mengendalikan diri terhadap godaan dan dosa, mintalah bantuan dari orang-orang yang Anda percaya dapat membantu Anda di dalam Tuhan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Paulus \u2013 Mengejar Karakter Kristus\u00a0<\/strong><\/h4>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" height=\"1024\" width=\"820\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9050 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-3-FS-min-820x1024.jpg?resize=820%2C1024&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 820px) 100vw, 820px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-3-FS-min-820x1024.jpg 820w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-3-FS-min-240x300.jpg 240w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-3-FS-min-768x959.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-3-FS-min-696x869.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-3-FS-min-336x420.jpg 336w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Pria-3-FS-min.jpg 1000w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kaum pria identik dengan ambisi, meskipun pernyataan ini bias karena ambisi tidak mengenal gender. Saya termasuk orang yang berambisi, misalnya untuk mendapatkan nilai bagus semasa kuliah, menjadi pemenang dalam lomba, dan lain-lain. Tentunya Anda pun pernah berambisi mengejar sesuatu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun ketahuilah: seorang pria yang hebat perlu berambisi mengejar karakter Kristus. Mengapa kita harus berjuang untuk mendapatkannya? Karena, kebenaranlah yang kelak menyelamatkan kita di kemudian hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. \u2013 2 Timotius 2:22<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sepanjang hidupnya, Rasul Paulus terus mengejar karakter-karakter yang dimiliki Kristus. Ucapannya dalam ayat di atas mengajarkan saya untuk mengejar perkara ilahi di atas perkara duniawi. Saya akui, daya tarik dunia memang menggiurkan karena hasilnya bisa langsung kelihatan. Namun, itu semua akan habis, layu, atau rusak, sementara karakter Kristus tetap melekat dalam diri Anda selama-lamanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita bisa mempelajari berbagai karakter Kristus di dalam Alkitab. Misalnya, untuk belajar tentang iman, bacalah kisah Abraham. Jika Anda kesulitan menanamkan tekad untuk mendalami firman Tuhan, bacalah kisah Ezra. Belajarlah tentang kebijaksanaan dari Salomo. Mengadopsi sifat-sifat Kristus tentunya membutuhkan waktu dan komitmen, karena karakter perlu ditumbuhkan seumur hidup. Namun, percayalah bahwa semua itu akan membangun hidup Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pria yang hebat adalah pria yang bisa memimpin dirinya sendiri untuk hidup benar di hadapan Allah. Jadilah kuat, wahai kaum Adam, dan jadilah representasi Kristus dalam hidup Anda! (gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Sebagai seorang pria, saya setuju dengan kutipan dari Mahatma Gandhi, tokoh bijak yang menjadi inspirasi para pemimpin dunia, \u201cYou must be the change you wish to see in the world.\u201d Seorang pria perlu memiliki karakter yang benar agar dapat memimpin dirinya sendiri dan orang lain menuju perubahan yang positif. Untuk itu, Anda perlu memiliki [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46485,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-46482","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab"],"better_featured_image":{"id":46485,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/laki.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/laki.jpg?fit=768%2C513&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/laki.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/laki.jpg?fit=1000%2C668&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1360","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46482","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46482"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46482\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46485"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}