{"id":46529,"date":"2020-07-06T12:03:55","date_gmt":"2020-07-06T05:03:55","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46529"},"modified":"2020-07-04T12:26:33","modified_gmt":"2020-07-04T05:26:33","slug":"cinta-oh-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/cinta-oh-cinta\/","title":{"rendered":"Cinta Oh Cinta"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -CINTA, kini bagaikan dewa baru di abad ini. Dia dinamakan dewa baru, karena atas nama CINTA, sepasang homoseks (gay) merasa bahwa perilakunya yang abnormal itu benar, dan berhak menjalin hubungan sebagaimana layaknya antara pria dan wanita. Bahkan, pasangan yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki ini dapat menikah. Argumentasinya sederhana saja: Daripada pria dan wanita menikah namun tidak ada CINTA, lebih baik sepasang pria (gay) menikah dengan dilandasi CINTA. Padahal, perilaku homoseks meski dengan alasan CINTA adalah perbuatan dosa dan secara jelas dilarang dalam Alkitab (Imamat 18:22, Roma 1:27) Dengan alasan CINTA pula, sepasang pria dan wanita menikah, diberkati di gereja, dan terikat secara sah sebagai suami-istri. Kemudian tidak jarang, dengan alasan sudah tidak saling CINTA lagi, pasangan ini merasa benar dan sah untuk bercerai. Sebaliknya, karena saling CINTA pula, pasangan yang sudah bercerai dengan alasan sudah tidak lagi saling CINTA, merasa benar dan sah untuk menikah lagi untuk kedua atau kesekian kalinya dengan pasangan yang berbeda. CINTA, oh CINTA, kau sungguh dewa yang mampu meggelapkan mata dan memutar-balikkan kebenaran. Tren DEMI CINTA kini semakin mengemuka dan menjadi berita di berbagai media, menjadi jiwa lagu, bahkan nafas utama yang mudah dan nikmat untuk dicerna anak manusia. Lalu apa kata Alkitab tentang CINTA? CINTA, sama tuanya dengan sejarah manusia. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Adam dan Hawa, mereka terdiri dari laki laki dan perempuan (Kejadian 1:26). Manusia diciptakan dengan kemampuan saling mencintai, bersatu dalam perbedaan (Kejadian 2:24). CINTA adalah kekuatan yang mempersatukan manusia dalam perbedaan dan keunikannya sebagai laki-laki dan perempuan. CINTA, tidak dirancang Tuhan untuk memisahkan sepasang suami-istri meskipun ada perbedaan di antara mereka. CINTA ada pada semua manusia dan semua manusia memiliki kemampuan untuk saling mencintai, bukan mengobralnya. Namun setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, muncullah berbagai persoalan di sekitar CINTA. Paling tidak, CINTA antara laki-laki dan perempuan harus dibedakan antara romantic love dengan true love. Pasalnya, romantic love bersifat subjektif dan manipulatif, berorientasi pada diri dan pemenuhan kebutuhan rasa, sangat kondisional karena bergantung pada kalimat singkat: I love you. Sementara true love adalah kebalikannya. Dia bersifat objektif dan bertanggungjawab. Semangatnya berbagi diri dan tidak kondisional. Nah, romantic love inilah CINTA yang menjadi dewa baru itu. Atas nama romantic love, manusia berkajang dalam dosa. Sementara true love tidak menyakiti, bahkan sebaliknya memiliki kemampuan mengampuni, tidak menuntut tetapi memberi, bukan memisahkan diri melainkan menyatukan diri. Jadi, jika semangat true love hidup dalam setiap pasangan suami-istri, maka sulit membayangkan terjadinya perceraiaan. Apalagi jika itu menimbulkan luka yang menyakitkan. Di sisi lain, romantic love memang penuh dengan asesoris manis yang tampak menggairahkan, seakan-akan pasangan itu saling mengisi dan menyatu. Namun jangan cepat puas, karena cepat bersatunya, cepat pula berpisahnya. Asesoris, seperti ucapan-ucapan mesra dan manja: aku sangat cinta dia, tanpa dia aku tidak mungkin bisa hidup, apa pun yang terjadi kami tetap bersama, dan ah masih banyak lagi. Juga simbol simbol seperti hadiah ini dan itu yang bernuansa romantis termasuk tempat bulan madu. CINTA, oh CINTA, entah berapa panjang lagi korbanmu, yang menjadi gelap mata dan menganggap benar dan sah setiap tindakannya, dan mengabaikan kebenaran yang hakiki. Bagi mereka yang masih menghormati CINTA, semoga terpacu untuk mendemonstrasikan true love dengan semangat dan pengalaman dikasihi Tuhan, sumber CINTA yang sejati. CINTA sejati ibarat proyek berkesinambungan yang tidak pernah usai hingga maut merenggut hidup, namun penuh makna, indah dan luar biasa.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-CINTA, kini bagaikan dewa baru di abad ini. Dia dinamakan dewa baru, karena atas nama CINTA, sepasang homoseks (gay) merasa bahwa perilakunya yang abnormal itu benar, dan berhak menjalin hubungan sebagaimana layaknya antara pria dan wanita. Bahkan, pasangan yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki ini dapat menikah. Argumentasinya sederhana saja: Daripada pria dan wanita menikah namun tidak ada CINTA, lebih baik sepasang pria (gay) menikah dengan dilandasi CINTA. Padahal, perilaku homoseks meski dengan alasan CINTA adalah perbuatan dosa dan secara jelas dilarang dalam Alkitab (Imamat 18:22, Roma 1:27)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-adtags-visited=\"true\">Dengan alasan CINTA pula, sepasang pria dan wanita menikah, diberkati di gereja, dan terikat secara sah sebagai suami-istri. Kemudian tidak jarang, dengan alasan sudah tidak saling CINTA lagi, pasangan ini merasa benar dan sah untuk bercerai. Sebaliknya, karena saling CINTA pula, pasangan yang sudah bercerai dengan alasan sudah tidak lagi saling CINTA, merasa benar dan sah untuk menikah lagi untuk kedua atau kesekian kalinya dengan pasangan yang berbeda. CINTA, oh CINTA, kau sungguh dewa yang mampu meggelapkan mata dan memutar-balikkan kebenaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-adtags-visited=\"true\">Tren DEMI CINTA kini semakin mengemuka dan menjadi berita di berbagai media, menjadi jiwa lagu, bahkan nafas utama yang mudah dan nikmat untuk dicerna anak manusia. Lalu apa kata Alkitab tentang CINTA?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-adtags-visited=\"true\">CINTA, sama tuanya dengan sejarah manusia. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Adam dan Hawa, mereka terdiri dari laki laki dan perempuan (Kejadian 1:26). Manusia diciptakan dengan kemampuan saling mencintai, bersatu dalam perbedaan (Kejadian 2:24). CINTA adalah kekuatan yang mempersatukan manusia dalam perbedaan dan keunikannya sebagai laki-laki dan perempuan. CINTA, tidak dirancang Tuhan untuk memisahkan sepasang suami-istri meskipun ada perbedaan di antara mereka. CINTA ada pada semua manusia dan semua manusia memiliki kemampuan untuk saling mencintai, bukan mengobralnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-adtags-visited=\"true\">Namun setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, muncullah berbagai persoalan di sekitar CINTA. Paling tidak, CINTA antara laki-laki dan perempuan harus dibedakan antara romantic love dengan true love. Pasalnya, romantic love bersifat subjektif dan manipulatif, berorientasi pada diri dan pemenuhan kebutuhan rasa, sangat kondisional karena bergantung pada kalimat singkat: I love you.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-adtags-visited=\"true\">Sementara true love adalah kebalikannya. Dia bersifat objektif dan bertanggungjawab. Semangatnya berbagi diri dan tidak kondisional. Nah, romantic love inilah CINTA yang menjadi dewa baru itu. Atas nama romantic love, manusia berkajang dalam dosa. Sementara true love tidak menyakiti, bahkan sebaliknya memiliki kemampuan mengampuni, tidak menuntut tetapi memberi, bukan memisahkan diri melainkan menyatukan diri. Jadi, jika semangat true love hidup dalam setiap pasangan suami-istri, maka sulit membayangkan terjadinya perceraiaan. Apalagi jika itu menimbulkan luka yang menyakitkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-adtags-visited=\"true\">Di sisi lain, romantic love memang penuh dengan asesoris manis yang tampak menggairahkan, seakan-akan pasangan itu saling mengisi dan menyatu. Namun jangan cepat puas, karena cepat bersatunya, cepat pula berpisahnya. Asesoris, seperti ucapan-ucapan mesra dan manja: aku sangat cinta dia, tanpa dia aku tidak mungkin bisa hidup, apa pun yang terjadi kami tetap bersama, dan ah masih banyak lagi. Juga simbol simbol seperti hadiah ini dan itu yang bernuansa romantis termasuk tempat bulan madu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-adtags-visited=\"true\">CINTA, oh CINTA, entah berapa panjang lagi korbanmu, yang menjadi gelap mata dan menganggap benar dan sah setiap tindakannya, dan mengabaikan kebenaran yang hakiki. Bagi mereka yang masih menghormati CINTA, semoga terpacu untuk mendemonstrasikan true love dengan semangat dan pengalaman dikasihi Tuhan, sumber CINTA yang sejati. CINTA sejati ibarat proyek berkesinambungan yang tidak pernah usai hingga maut merenggut hidup, namun penuh makna, indah dan luar biasa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -CINTA, kini bagaikan dewa baru di abad ini. Dia dinamakan dewa baru, karena atas nama CINTA, sepasang homoseks (gay) merasa bahwa perilakunya yang abnormal itu benar, dan berhak menjalin hubungan sebagaimana layaknya antara pria dan wanita. Bahkan, pasangan yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki ini dapat menikah. Argumentasinya sederhana saja: Daripada pria dan wanita menikah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46532,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46529","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46532,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/luvv.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/luvv.jpg?fit=624%2C351&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/luvv.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/luvv.jpg?fit=624%2C351&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1024","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46529","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46529"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46529\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46529"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46529"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46529"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}