{"id":46542,"date":"2020-07-07T08:02:58","date_gmt":"2020-07-07T01:02:58","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46542"},"modified":"2020-07-06T10:58:04","modified_gmt":"2020-07-06T03:58:04","slug":"hai-anak-muda-ingatlah-ini-jika-mengalami-kegagalan-dalam-hidupmu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/hai-anak-muda-ingatlah-ini-jika-mengalami-kegagalan-dalam-hidupmu\/","title":{"rendered":"Hai anak muda, ingatlah ini jika mengalami kegagalan dalam hidupmu!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Jarang anak muda melihat kegagalan adalah sebagai batu pijakan mereka untuk sukses dan meraih tujuan atau mimpi mereka. Tetapi tak jarang juga kebanyakan diantaranya melihat kegagalan adalah akhir dari segalanya. Kegagalan yang baru sekali mereka rasakan seperti menjadi ketakutan atau kelemahan untuk kembali lagi bangkit. Kegagalan tidak bisa kita hindari. Tetapi dari kegagalan kita belajar sesuatu darinya. Ketika \u00a0kalian mengalami kegagalan dalam hal apapun, bidang apapun baik dalam hubungan asmara atau pekerjaan, sebaiknya sebagai anak Tuhan perlu mengingat apa yang telah Alkitab ajarkan, sebagai berikut; 1. Hal ini terjadi pada kita semua Amsal 24: 16a mengatakan, \u201cSebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali,\u201d Kesempurnaan akan menjadi kesenangan, tapi itu tidak akan terjadi di bagian sorga. Perjalanan iman. Setiap orang tidak pernah tidak mengalami kegagalan. Sekalipun kalian tersandung 7 kali atau 77 kali, semangatlah dan bangkit lagi. 2. Tuhan memegang tangan kalian Mazmur 37: 23-24 mengatakan, \u201cTUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.\u201d Saat berada di dalam kegagalan dan membenci diri sendiri, akan cukup sulit untuk memahami hati Tuhan. Mengapa DIA akan mengasihi saya ketika saya begitu sangat kacau? Ketika kalian gagal, tidak hanya Allah mencintai kalian semua, tapi DIA mengasihi cukup dengan memegang tangan kalian saja. Orang lain mungkin meninggalkan dan menyangkalnya, tetapi Yesus selalu di sisi dan memegang tangan kalian. DIA tidak malu dengan kekacauan yang kalian alami. 3. Jawabannya adalah Yesus Roma 7:15, 24-25a menyebutkan, \u201cSebab apa yang aku prbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.\u201d Roma 7:24-25a menambahkan, \u201cAku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,\u201d Sebaiknya kalian berjanji pada diri sendiri untuk selalu dalam kesabaran. \u00a0Siapa yang akan membebaskan mu dari dosa dan kegagalan? Yesus! Kekuatan siapa kah yang dapat mengatasimu?? Yesus! Tidak peduli seberapa hebat kegagalan itu, jawabannya adalah dalam Yesus. 4. Kita diampuni 1 Yohanes 1: 9 mengatakan, \u201cJika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.\u201d Semua kegagalan telah diampuni, dibayar oleh Darah Anak Domba. Kalian semua adalah kebenaran Allah di dalam Kristus Yesus. Sisanya yang perlu dilakukan adalah memaafkan diri sendiri. 5. Tidak ada penghukuman Roma 8: 1-2 tertu;is, \u201cDemikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.\u201d Di mana terlintas kegagalan dalam pikiran anda, penghukuman tidak jauh di belakang. Kalian tidak kena hukuman karena kalian adalah milik Kristus. Berhentilah menganalisa dan tinggal dalam kelemahan kalian. Roh, yang memberi kehidupan telah membebaskan kalian dari pikiran kekalahan. 6. Lupakan masa lalu Filipi 3: 13-14 jelas mengatakan, \u201cSaudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku merupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.\u201d Baiknya kita semua bisa melupakan kegagalan di masa lalu dan mengarahkan diri kita untuk melihat masa depan yang lebih cerah. Lupakan masa lalu dan jalani hari-hari dengan Kebenaran Yesus didalam pikiran dan hati kalian. Janganlah jadikan kegagalan sebagai akhir segalanya, tetapi sebagai pelajaran menjadi lebih baik lagi, karena Yesus selalu besertamu.(jawaban.com)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Jarang anak muda melihat kegagalan adalah sebagai batu pijakan mereka untuk sukses dan meraih tujuan atau mimpi mereka. Tetapi tak jarang juga kebanyakan diantaranya melihat kegagalan adalah akhir dari segalanya. Kegagalan yang baru sekali mereka rasakan seperti menjadi ketakutan atau kelemahan untuk kembali lagi bangkit. Kegagalan tidak bisa kita hindari. Tetapi dari kegagalan kita belajar sesuatu darinya. Ketika \u00a0kalian mengalami kegagalan dalam hal apapun, bidang apapun baik dalam hubungan asmara atau pekerjaan, sebaiknya sebagai anak Tuhan perlu mengingat apa yang telah Alkitab ajarkan, sebagai berikut;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Hal ini terjadi pada kita semua<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Amsal 24: 16a mengatakan, \u201cSebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali,\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesempurnaan akan menjadi kesenangan, tapi itu tidak akan terjadi di bagian sorga. Perjalanan iman. Setiap orang tidak pernah tidak mengalami kegagalan. Sekalipun kalian tersandung 7 kali atau 77 kali, semangatlah dan bangkit lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Tuhan memegang tangan kalian<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mazmur 37: 23-24 mengatakan, \u201cTUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat berada di dalam kegagalan dan membenci diri sendiri, akan cukup sulit untuk memahami hati Tuhan. Mengapa DIA akan mengasihi saya ketika saya begitu sangat kacau? Ketika kalian gagal, tidak hanya Allah mencintai kalian semua, tapi DIA mengasihi cukup dengan memegang tangan kalian saja. Orang lain mungkin meninggalkan dan menyangkalnya, tetapi Yesus selalu di sisi dan memegang tangan kalian. DIA tidak malu dengan kekacauan yang kalian alami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Jawabannya adalah Yesus<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Roma 7:15, 24-25a menyebutkan, \u201cSebab apa yang aku prbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Roma 7:24-25a menambahkan, \u201cAku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebaiknya kalian berjanji pada diri sendiri untuk selalu dalam kesabaran. \u00a0Siapa yang akan membebaskan mu dari dosa dan kegagalan? Yesus! Kekuatan siapa kah yang dapat mengatasimu?? Yesus! Tidak peduli seberapa hebat kegagalan itu, jawabannya adalah dalam Yesus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Kita diampuni<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1 Yohanes 1: 9 mengatakan, \u201cJika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua kegagalan telah diampuni, dibayar oleh Darah Anak Domba. Kalian semua adalah kebenaran Allah di dalam Kristus Yesus. Sisanya yang perlu dilakukan adalah memaafkan diri sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Tidak ada penghukuman<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Roma 8: 1-2 tertu;is, \u201cDemikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.\u201d Di mana terlintas kegagalan dalam pikiran anda, penghukuman tidak jauh di belakang. Kalian tidak kena hukuman karena kalian adalah milik Kristus. Berhentilah menganalisa dan tinggal dalam kelemahan kalian. Roh, yang memberi kehidupan telah membebaskan kalian dari pikiran kekalahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>6. Lupakan masa lalu<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Filipi 3: 13-14 jelas mengatakan, \u201cSaudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku merupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baiknya kita semua bisa melupakan kegagalan di masa lalu dan mengarahkan diri kita untuk melihat masa depan yang lebih cerah. Lupakan masa lalu dan jalani hari-hari dengan Kebenaran Yesus didalam pikiran dan hati kalian. Janganlah jadikan kegagalan sebagai akhir segalanya, tetapi sebagai pelajaran menjadi lebih baik lagi, karena Yesus selalu besertamu.(jawaban.com)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Jarang anak muda melihat kegagalan adalah sebagai batu pijakan mereka untuk sukses dan meraih tujuan atau mimpi mereka. Tetapi tak jarang juga kebanyakan diantaranya melihat kegagalan adalah akhir dari segalanya. Kegagalan yang baru sekali mereka rasakan seperti menjadi ketakutan atau kelemahan untuk kembali lagi bangkit. Kegagalan tidak bisa kita hindari. Tetapi dari kegagalan kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46471,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46542","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46471,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/pusing.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/berdoa.jpg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/berdoa.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/pusing.jpg?fit=1000%2C667&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"847","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46542","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46542"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46542\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46471"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46542"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46542"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46542"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}