{"id":46558,"date":"2020-07-10T11:52:13","date_gmt":"2020-07-10T04:52:13","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46558"},"modified":"2020-07-06T11:59:35","modified_gmt":"2020-07-06T04:59:35","slug":"kepahitan-dan-kelicikan-dua-bahaya-yang-mengintai-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kepahitan-dan-kelicikan-dua-bahaya-yang-mengintai-hati\/","title":{"rendered":"Kepahitan dan Kelicikan: Dua Bahaya yang Mengintai Hati"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Hati adalah bagian terdalam diri kita. Hati ibarat sungai besar yang mengelilingi sebuah kota dan menjadi sumber kehidupan penduduknya. Apabila aliran airnya tercemar, cepat atau lambat, dampak buruknya akan dirasakan oleh warga kota tersebut. Demikian pula dengan manusia: hati merupakan pusat kehidupannya. Apa yang ada di dalam hati akan tampak dalam ucapan, pikiran, dan perbuatan kita. Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. \u2013 Amsal 4:23 Alkitab mengatakan bahwa kita harus menjaga hati dengan penuh kewaspadaan. Oleh karena itu, mari lindungi hati kita dari dua hal berbahaya ini. Bahaya 1: Kelicikan Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? \u2013 Yeremia 17:9\u00a0 Hati manusia itu licik dan bisa mengeras sebelum kita menyadarinya. Bahkan, ular, yang disebut sebagai makhluk paling licik pun (2 Korintus 11:3), tak bisa mengalahkan kelicikan hati! Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: \u201cDan siapakah sesamaku manusia?\u201d \u2013 Lukas 10:29\u00a0 Suatu ketika, seorang ahli Taurat bermaksud mencobai Yesus (Lukas 10:25-29). Ia bertanya bagaimana caranya memperoleh hidup kekal. Ketika Yesus bertanya balik apa yang tertulis dalam hukum Taurat, ia bisa menyebutkannya. Namun, ketika Yesus memberitahu bahwa itulah yang harus ia lakukan, ahli Taurat ini berusaha membenarkan diri dengan berkata, \u201cSiapakah sesamaku manusia?\u201d Apakah si ahli Taurat tidak mengerti makna \u201csesamamu manusia\u201d? Ia adalah seorang pakar yang hafal isi hukum Taurat di luar kepala; mustahil ia tidak paham konsep sesederhana itu. Namun, ia bersilat kata karena tidak mau mengakui kebenaran. Ketika Anda tahu mana yang benar dan salah, tetapi berusaha membenarkan tindakan Anda atau menghindar dari apa yang benar, berarti pada dasarnya Anda tidak mau bertobat\u2014itulah kelicikan. Hati manusia itu cerdik tetapi penuh tipu daya. Anda biasanya tidak sadar sampai kelicikan itu membuat Anda tergelincir, dan entah sejak kapan, hati Anda mengeras. Jangan sampai kita diperdaya oleh hati kita sendiri. Tidak seorang pun yang kebal terhadap dosa, termasuk di dalamnya, kelicikan. Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! \u2013 1 Korintus 10:12 Biasakan Selidiki Hati Cek hati Anda dengan menggunakan daftar periksa (checklist) di bawah ini. Gejala kelicikan antara lain: selalu ingin kelihatan baik, hanya menceritakan yang baik-baik saja tentang diri sendiri sulit mengakui kesalahan, dan sebaliknya, berusaha menutupinya dengan dalil-dalil buatan sendiri selalu membenarkan pikiran dan tindakan yang jelas-jelas salah dan bertentangan dengan firman Tuhan bermuka dua, di gereja kelihatan saleh, di luar bermain-main dengan dosa Jangan anggap remeh gejala-gejala di atas. Segera tuntaskan semua hal yang berisiko mencemari hati Anda. Kelicikan akan membuat Anda buta dan kalap, tidak bisa lagi melihat kebenaran yang sesungguhnya. Atasi kelicikan hati dengan: Jadilah diri sendiri, apa adanya, bagaimana pun baik-buruknya Anda Tujuannya agar hal-hal buruk dalam diri Anda bisa dikoreksi dengan cepat, sehingga Anda dapat menjadi pribadi yang lebih baik (Amsal 28:13). Akui jika Anda salah, dan belajarlah dari kesalahan tersebut Jika ada hal yang lebih baik, kenapa tidak diterima dan dilakukan saja? Toh, Andalah yang akan menikmati keuntungannya (Imamat 5:5). Periksa silang (crosscheck) pikiran dan tindakan Anda Singkirkan apa yang bertentangan dengan ajaran Tuhan, dan lakukan hal yang baik dan benar. Dengan demikian, Anda tidak dikejar-kejar rasa bersalah dan hidup Anda lebih tenang (Amsal 3:17)\u00a0 Bertobatlah dari dosa-dosa Anda, dan bertekunlah dalam iman dan perbuatan (Yesaya 1:18) Kelicikan Anda mungkin bisa menipu orang lain, tapi Anda tidak akan bisa menipu Tuhan. Masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati! \u2013 Mazmur 44:21\u00a0 Buang jauh-jauh tipu daya dari diri Anda. Miliki hati yang murni di dalam Tuhan\u2014hati yang mau mengasihi firman-Nya, serta tunduk dan taat pada kehendak-Nya. Dijamin, Anda akan lebih berbahagia! Bahaya 2: Kepahitan Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya. \u2013 Amsal 14:10\u00a0 Salah satu penyebab terbesar orang-orang Kristen meninggalkan Tuhan adalah kepahitan. Anda merasa pahit terhadap mereka yang mengaku Kristen, tapi merendahkan dan menyepelekan Anda. Pahit terhadap Tuhan karena semua teman dan sanak-saudara sudah menikah, sementara Anda masih sendiri. Pahit dengan orang tua yang memperlakukan Anda secara tidak semestinya, dengan umpatan dan cacian, alih-alih penuh kasih. Atau, pahit karena perkataan tajam seseorang telah melukai perasaan dan menyinggung harga diri Anda. \u201c\u2026 sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.\u201d Kisah Para Rasul 8:23 Apa pun bentuknya, kepahitan tidak dapat memberi Anda jalan keluar dari masalah. Ketika hati Anda pahit, Anda pasti penuh kemarahan dan kebencian. Tidur Anda tak lagi nyenyak; ranjang empuk pun terasa seperti tempat tidur berduri. Anda akan marah, terus-menerus dibayangi rasa sakit hati, dan tidak bisa menerima keadaan. . Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. \u2013 Efesus 4:30-31\u00a0 Kepahitan dalam diri Anda adalah salah satu hal yang mendukakan Roh Kudus. Jangan pelihara akar kepahitan, tetapi mintalah bantuan untuk memperbaiki sikap hati Anda, dan terbukalah dengan orang yang bisa menolong Anda. Untuk menyingkirkan pahit di hati, terapkan langkah-langkah ini. Anggap saja orang-orang yang menyakiti Anda tidak tahu apa yang mereka lakukan (Lukas 23:34) Ampuni mereka\u2014bukan demi mereka atau diri sendiri, tetapi demi Kristus (2 Korintus 2:10) Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan (Roma 12:17). Itu tidak ada akhirnya, dan Anda bakal capek sendiri. Balaslah kejahatan dengan kebaikan. Dengan melakukannya, Anda bukan pecundang, melainkan justru orang yang paling hebat di dunia, karena bisa mengampuni orang yang bersalah kepada Anda. Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai. \u2013 Mazmur 5:12\u00a0 Hindari tabiat licik dan buang kepahitan dari hati Anda. Tuhan akan memberkati hidup Anda, dan Dia akan memagari Anda dengan anugerah-Nya laksana perisai! (gkdi.org)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Hati adalah bagian terdalam diri kita. Hati ibarat sungai besar yang mengelilingi sebuah kota dan menjadi sumber kehidupan penduduknya. Apabila aliran airnya tercemar, cepat atau lambat, dampak buruknya akan dirasakan oleh warga kota tersebut. Demikian pula dengan manusia: hati merupakan pusat kehidupannya. Apa yang ada di dalam hati akan tampak dalam ucapan, pikiran, dan perbuatan kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. \u2013 Amsal 4:23<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alkitab mengatakan bahwa kita harus menjaga hati dengan penuh kewaspadaan. Oleh karena itu, mari lindungi hati kita dari dua hal berbahaya ini.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>Bahaya 1: Kelicikan<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6620 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/hati-gkdi-1-300x201.jpg?resize=705%2C473&#038;ssl=1\" alt=\"hati - gkdi 1\" width=\"705\" height=\"473\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? \u2013 Yeremia 17:9\u00a0<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hati manusia itu licik dan bisa mengeras sebelum kita menyadarinya. Bahkan, ular, yang disebut sebagai makhluk paling licik pun <i>(<\/i><i>2 Korintus 11:3<\/i><i>),<\/i> tak bisa mengalahkan kelicikan hati!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: \u201cDan siapakah sesamaku manusia?\u201d \u2013 Lukas 10:29\u00a0<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suatu ketika, seorang ahli Taurat bermaksud mencobai Yesus <i>(<\/i><i>Lukas 10:25-29<\/i><i>).<\/i> Ia bertanya bagaimana caranya memperoleh hidup kekal. Ketika Yesus bertanya balik apa yang tertulis dalam hukum Taurat, ia bisa menyebutkannya. Namun, ketika Yesus memberitahu bahwa itulah yang harus ia lakukan, ahli Taurat ini berusaha membenarkan diri dengan berkata, \u201cSiapakah sesamaku manusia?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah si ahli Taurat tidak mengerti makna \u201csesamamu manusia\u201d? Ia adalah seorang pakar yang hafal isi hukum Taurat di luar kepala; mustahil ia tidak paham konsep sesederhana itu. Namun, ia bersilat kata karena tidak mau mengakui kebenaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Anda <i>tahu<\/i> mana yang benar dan salah, tetapi berusaha membenarkan tindakan Anda atau <i>menghindar dari apa yang benar<\/i>, berarti pada dasarnya Anda tidak mau bertobat\u2014itulah kelicikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hati manusia itu cerdik tetapi penuh tipu daya. Anda biasanya tidak sadar sampai kelicikan itu membuat Anda tergelincir, dan entah sejak kapan, hati Anda mengeras.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jangan sampai kita diperdaya oleh hati kita sendiri. Tidak seorang pun yang kebal terhadap dosa, termasuk di dalamnya, kelicikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! \u2013 1 Korintus 10:12<\/i><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>Biasakan Selidiki Hati<\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cek hati Anda dengan menggunakan daftar periksa (<i>checklist<\/i>) di bawah ini. Gejala kelicikan antara lain:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>selalu ingin kelihatan baik, hanya menceritakan yang baik-baik saja tentang diri sendiri<\/li>\n<li>sulit mengakui kesalahan, dan sebaliknya, berusaha menutupinya dengan dalil-dalil buatan sendiri<\/li>\n<li>selalu membenarkan pikiran dan tindakan yang jelas-jelas salah dan bertentangan dengan firman Tuhan<\/li>\n<li>bermuka dua, di gereja kelihatan saleh, di luar bermain-main dengan dosa<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jangan anggap remeh gejala-gejala di atas. Segera tuntaskan semua hal yang berisiko mencemari hati Anda. Kelicikan akan membuat Anda buta dan kalap, tidak bisa lagi melihat kebenaran yang sesungguhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Atasi kelicikan hati dengan:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><i><b>Jadilah diri sendiri, apa adanya, bagaimana pun baik-buruknya Anda<\/b><b><br \/>\n<\/b>Tujuannya agar hal-hal buruk dalam diri Anda bisa dikoreksi dengan cepat, sehingga Anda dapat menjadi pribadi yang lebih baik (Amsal 28:13).<\/i><\/li>\n<li><b>Akui jika Anda salah, dan belajarlah dari kesalahan tersebut<\/b><br \/>\nJika ada hal yang lebih baik, kenapa tidak diterima dan dilakukan saja? Toh, Andalah yang akan menikmati keuntungannya <i>(<\/i><i>Imamat 5:5<\/i><i>).<\/i><\/li>\n<li><b>Periksa silang <\/b><b><i>(crosscheck)<\/i><\/b><b> pikiran dan tindakan Anda<\/b><br \/>\nSingkirkan apa yang bertentangan dengan ajaran Tuhan, dan lakukan hal yang baik dan benar. Dengan demikian, Anda tidak dikejar-kejar rasa bersalah dan hidup Anda lebih tenang <i>(<\/i><i>Amsal 3:17<\/i><i>)\u00a0<\/i><\/li>\n<li><b>Bertobatlah dari dosa-dosa Anda, dan bertekunlah dalam iman dan perbuatan <\/b><i>(<\/i><i>Yesaya 1:18<\/i><i>)<\/i><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kelicikan Anda mungkin bisa menipu orang lain, tapi Anda tidak akan bisa menipu Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati! \u2013 Mazmur 44:21\u00a0<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buang jauh-jauh tipu daya dari diri Anda. Miliki hati yang murni di dalam Tuhan\u2014hati yang mau mengasihi firman-Nya, serta tunduk dan taat pada kehendak-Nya. Dijamin, Anda akan lebih berbahagia!<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>Bahaya 2: Kepahitan<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6621 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/hati-gkdi-2-300x200.jpg?resize=701%2C468&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 701px) 100vw, 701px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/hati-gkdi-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/hati-gkdi-2.jpg 600w\" alt=\"hati - gkdi 2\" width=\"701\" height=\"468\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya. \u2013 Amsal 14:10\u00a0<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu penyebab terbesar orang-orang Kristen meninggalkan Tuhan adalah kepahitan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anda merasa pahit terhadap mereka yang mengaku Kristen, tapi merendahkan dan menyepelekan Anda. Pahit terhadap Tuhan karena semua teman dan sanak-saudara sudah menikah, sementara Anda masih sendiri. Pahit dengan orang tua yang memperlakukan Anda secara tidak semestinya, dengan umpatan dan cacian, alih-alih penuh kasih. Atau, pahit karena perkataan tajam seseorang telah melukai perasaan dan menyinggung harga diri Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>\u201c\u2026 sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.\u201d Kisah Para Rasul 8:23<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa pun bentuknya, kepahitan tidak dapat memberi Anda jalan keluar dari masalah. Ketika hati Anda pahit, Anda pasti penuh kemarahan dan kebencian. Tidur Anda tak lagi nyenyak; ranjang empuk pun terasa seperti tempat tidur berduri. Anda akan marah, terus-menerus dibayangi rasa sakit hati, dan tidak bisa menerima keadaan.<\/p>\n<h6 style=\"text-align: justify;\">.<\/h6>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. \u2013 Efesus 4:30-31\u00a0<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepahitan dalam diri Anda adalah salah satu hal yang mendukakan Roh Kudus. Jangan pelihara akar kepahitan, tetapi mintalah bantuan untuk memperbaiki sikap hati Anda, dan terbukalah dengan orang yang bisa menolong Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menyingkirkan pahit di hati, terapkan langkah-langkah ini.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><b>Anggap saja orang-orang yang menyakiti Anda tidak tahu apa yang mereka lakukan<\/b> <i>(<\/i><i>Lukas 23:34<\/i><i>)<\/i><\/li>\n<li><b>Ampuni mereka<\/b>\u2014bukan demi mereka atau diri sendiri, tetapi demi Kristus <i>(<\/i><i>2 Korintus 2:10<\/i><i>)<\/i><\/li>\n<li><b>Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan<\/b> <i>(<\/i><i>Roma 12:17<\/i><i>).<\/i> Itu tidak ada akhirnya, dan Anda bakal capek sendiri. Balaslah kejahatan dengan kebaikan. Dengan melakukannya, Anda bukan pecundang, melainkan justru orang yang paling hebat di dunia, karena bisa mengampuni orang yang bersalah kepada Anda.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai. \u2013 Mazmur 5:12\u00a0<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hindari tabiat licik dan buang kepahitan dari hati Anda. Tuhan akan memberkati hidup Anda, dan Dia akan memagari Anda dengan anugerah-Nya laksana perisai! (gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Hati adalah bagian terdalam diri kita. Hati ibarat sungai besar yang mengelilingi sebuah kota dan menjadi sumber kehidupan penduduknya. Apabila aliran airnya tercemar, cepat atau lambat, dampak buruknya akan dirasakan oleh warga kota tersebut. Demikian pula dengan manusia: hati merupakan pusat kehidupannya. Apa yang ada di dalam hati akan tampak dalam ucapan, pikiran, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46374,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-46558","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab"],"better_featured_image":{"id":46374,"alt_text":"","caption":"Three caucasian women in their thirties have a friendly chat in a neighborhood outdoors.","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg?fit=640%2C360&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg?fit=640%2C360&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"923","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46558","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46558"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46558\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46558"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46558"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46558"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}