{"id":46559,"date":"2020-07-11T08:02:16","date_gmt":"2020-07-11T01:02:16","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46559"},"modified":"2020-07-06T12:02:58","modified_gmt":"2020-07-06T05:02:58","slug":"berhenti-sesali-masa-lalu-agar-tidak-menjadi-tiang-garam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/berhenti-sesali-masa-lalu-agar-tidak-menjadi-tiang-garam\/","title":{"rendered":"Berhenti Sesali Masa Lalu agar Tidak Menjadi Tiang Garam"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Apakah saat ini Anda masih menyesali sebuah keputusan di masa lalu? Saya pernah mengalaminya, gara-gara salah memilih jurusan studi. Memasuki semester dua, hari-hari perkuliahan terasa berat untuk dijalani, dan saya sempat berpikir untuk berhenti saja. Karena putus asa dan galau, saya lalu berkonsultasi dengan pendeta saya. Saya mengaku menyesal atas keputusan yang telah diambil. Mendengar itu, pendeta saya berkata, \u201cJangan menoleh ke belakang, nanti jadi tiang garam.\u201d \u201cMenoleh ke belakang\u201d dalam konteks ini bukan berarti menengokkan kepala secara harafiah, melainkan meratapi atau membandingkan masa lalu dengan hari ini. Jadi, mengapa kita diharapkan tidak \u201cmenoleh ke belakang\u201d? Mari belajar dari Alkitab tentang orang-orang yang menoleh ke belakang. Apa yang mereka dapatkan dan yang tidak mereka dapatkan dari sikap itu? 1. Bangsa Israel (Bilangan 11:1-23) \u201cOrang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: \u201cSiapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.\u201d \u2013 Bilangan 11:4-6 Peristiwa di atas terjadi setelah bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Mereka adalah keturunan Abraham, orang yang Tuhan janjikan bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Dan, memang, bangsa ini kemudian berkembang sangat besar. Namun, mereka sering bersungut-sungut, mudah mengeluh, dan tidak pernah bersyukur, sehingga membuat pemimpin mereka, Musa, menjadi stres (Bilangan 11:10-15). Saat kekurangan air, mereka mengeluh (Kejadian 15:22-24). Tak ada makanan, mereka komplain. Kali ini, keluhan mereka disebabkan karena mereka tidak bisa makan daging seperti waktu di Mesir. Bangsa Israel menoleh ke belakang, mengingat indahnya masa lalu ketika mereka dapat menyantap beraneka jenis makanan. Mereka mulai membandingkan masa lalu, yang dianggap lebih baik, dengan kondisi sekarang. 2. Lot (Kejadian 19:1-29) Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: \u201cLarilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.\u201d \u2013 Kejadian 19:17 Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. \u2013 Kejadian 19:26 Lot adalah keponakan Abraham. Mereka bersama-sama keluar dari tanah asal mereka Haran ke negeri yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham (Kejadian 12:1-9). Tuhan memberkati Abraham dan Lot dengan banyak ternak, sampai-sampai tanah tempat mereka berdiam tidak cukup untuk menampung semua harta mereka. Abraham lalu menyarankan supaya mereka berpisah dan mengizinkan Lot memilih duluan lokasinya. Lot memilih untuk menetap di Lembah Yordan yang subur, dekat Sodom (Kejadian 13). Sebelum Tuhan menghancurkan kota itu karena kebejatan penduduknya, Lot dan keluarganya dituntun oleh malaikat untuk keluar dari sana. Namun, meski sudah diperingatkan agar tidak menoleh ke belakang, istri Lot tetap melakukannya sehingga menjadi tiang garam. Saya mencoba mencari tahu mengapa istri Lot menoleh ke belakang. Bayangkan Anda tinggal di tanah yang amat subur, dengan harta berlimpah dan ternak yang superbanyak. Lalu, tiba-tiba Anda dipaksa pergi saat itu juga, tanpa persiapan apa pun, karena kota tempat Anda tinggal akan dibakar habis oleh Tuhan. Anda tak punya waktu menyelamatkan harta Anda, kecuali pakaian yang melekat di badan. Bagaimana perasaan Anda? Tidakkah Anda tergiur untuk menoleh ke belakang? Kesedihan karena harus meninggalkan hartanya yang banyak, perasaan tidak rela melepas masa lalu yang harus ditinggalkan, itulah yang membuat istri Lot menjadi tiang garam. Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari dua kisah di atas? Mengapa tidak boleh menoleh ke belakang? 1. It will steal today\u2019s happiness Terus mengingat-ingat atau membandingkan masa lalu dengan masa kini akan mencuri sukacita Anda hari ini. Jika peristiwa itu buruk, Anda akan tertekan dan menyesal, rasanya ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semuanya. Jika peristiwa itu indah, Anda akan senantiasa terbayang-bayang olehnya sehingga jiwa Anda seakan-akan tertinggal di masa lalu. Bangsa Israel kehilangan sukacita karena tak dapat berhenti mengenang makanan enak yang mereka dapatkan dengan mudah di Mesir. Istri Lot menoleh ke belakang karena tak rela kehilangan semua kekayaannya dalam sekejap. Padahal, mereka punya pilihan lain, yaitu bersyukur. Bangsa Israel semestinya bersyukur karena hari itu mereka sudah bebas dari perbudakan yang membuat mereka menderita selama berabad-abad. Istri Lot seharusnya fokus untuk berlari dan bersyukur karena tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang dimusnahkan. Bahkan Tuhan mengutus malaikat-Nya secara khusus untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana. Jadi, ketika Anda menyesali masa lalu, ingatlah bahwa Anda punya pilihan. Untuk menoleh ke belakang dengan penuh sesal dan sedih\u2014atau melangkah ke depan dengan penuh syukur dan sukacita. It\u2019s your choice. 2. You will be stuck in life Karena berat meninggalkan harta, istri Lot selamanya stuck menjadi tiang garam. Kita mungkin tidak terjebak secara harafiah sebagai tiang garam, tetapi menoleh ke masa lalu takkan membawa kita ke mana-mana. Kita tidak dapat maju, bahkan mungkin malah mundur tanpa kita sadari. Tetapi Yesus berkata:\u00a0\u201cSetiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.\u201d \u2013 Lukas 9:62 3. You can\u2019t change the past, but you can always change the future \u201cSaudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.\u201d \u2013 Filipi 3:13-14 Ketika saya mulai menoleh ke masa lalu, menyesali kenapa mengambil jurusan itu, saat itu juga saya berhenti melangkah. Mau maju saya enggan, karena tidak menyukai studinya. Mundur pun tidak bisa, karena siapa yang dapat kembali ke masa lalu? Mau tak mau, saya harus melangkah karena waktu terus berjalan. Saya tidak bisa mengubah masa lalu, tapi saya bisa mengubah masa depan saya. Saya pun berdamai dengan masa lalu dengan cara menerimanya apa adanya, serta memutuskan untuk membayar harga atas kesalahan saya. Dengan berbagai pertimbangan, saya tetap meneruskan kuliah sampai selesai. Saya bersyukur masih punya kesempatan serta biaya untuk belajar, karena dari situ, pintu menuju masa depan saya akan terbuka. Apa yang membuat Anda menoleh ke masa lalu? Kalau ada hal-hal yang belum dirampungkan atau masih mengganjal, selesaikanlah. Jika Anda pernah melakukan kesalahan, terimalah itu, dan lakukan apa yang bisa Anda lakukan hari ini untuk memperbaiki dampaknya. \u201cNobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.\u201d \u2013Maria Robinson So, apakah Anda masih mau menoleh ke belakang dan menjadi \u201ctiang garam\u201d berikutnya? Saya yakin tidak, ya. Di tahun yang baru ini, mari kita berhenti sesali masa lalu dan langkahkan kaki menyambut masa depan yang penuh harapan! \u00a0(gkdi.org)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Apakah saat ini Anda masih menyesali sebuah keputusan di masa lalu?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya pernah mengalaminya, gara-gara salah memilih jurusan studi. Memasuki semester dua, hari-hari perkuliahan terasa berat untuk dijalani, dan saya sempat berpikir untuk berhenti saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena putus asa dan galau, saya lalu berkonsultasi dengan pendeta saya. Saya mengaku menyesal atas keputusan yang telah diambil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mendengar itu, pendeta saya berkata, \u201cJangan menoleh ke belakang, nanti jadi tiang garam.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMenoleh ke belakang\u201d dalam konteks ini bukan berarti menengokkan kepala secara harafiah, melainkan meratapi atau membandingkan masa lalu dengan hari ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi, mengapa kita diharapkan tidak \u201cmenoleh ke belakang\u201d?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mari belajar dari Alkitab tentang orang-orang yang menoleh ke belakang. Apa yang mereka dapatkan dan yang tidak mereka dapatkan dari sikap itu?<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>1. Bangsa Israel (<\/b><b>Bilangan 11:1-23<\/b><b>)<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4814 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-1-300x225.jpg?resize=640%2C480&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-1-300x225.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-1-80x60.jpg 80w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-1-265x198.jpg 265w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-1-560x420.jpg 560w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-1.jpg 600w\" alt=\"masa lalu - gkdi 1\" width=\"640\" height=\"480\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>\u201cOrang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: \u201cSiapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.\u201d \u2013 Bilangan 11:4-6<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peristiwa di atas terjadi setelah bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Mereka adalah keturunan Abraham, orang yang Tuhan janjikan bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Dan, memang, bangsa ini kemudian berkembang sangat besar. Namun, mereka sering bersungut-sungut, mudah mengeluh, dan tidak pernah bersyukur, sehingga membuat pemimpin mereka, Musa, menjadi stres (Bilangan 11:10-15).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat kekurangan air, mereka mengeluh (Kejadian 15:22-24). Tak ada makanan, mereka komplain. Kali ini, keluhan mereka disebabkan karena mereka tidak bisa makan daging seperti waktu di Mesir. Bangsa Israel menoleh ke belakang, mengingat indahnya masa lalu ketika mereka dapat menyantap beraneka jenis makanan. Mereka mulai membandingkan masa lalu, yang dianggap lebih baik, dengan kondisi sekarang.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>2. Lot (Kejadian 19:1-29)<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4815 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-2-300x188.jpg?resize=640%2C401&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-2-300x188.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-2.jpg 600w\" alt=\"masa lalu - gkdi 2\" width=\"640\" height=\"401\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: \u201cLarilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.\u201d \u2013 Kejadian 19:17<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. \u2013 Kejadian 19:26<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lot adalah keponakan Abraham. Mereka bersama-sama keluar dari tanah asal mereka Haran ke negeri yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham (Kejadian 12:1-9). Tuhan memberkati Abraham dan Lot dengan banyak ternak, sampai-sampai tanah tempat mereka berdiam tidak cukup untuk menampung semua harta mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Abraham lalu menyarankan supaya mereka berpisah dan mengizinkan Lot memilih duluan lokasinya. Lot memilih untuk menetap di Lembah Yordan yang subur, dekat Sodom (Kejadian 13). Sebelum Tuhan menghancurkan kota itu karena kebejatan penduduknya, Lot dan keluarganya dituntun oleh malaikat untuk keluar dari sana. Namun, meski sudah diperingatkan agar tidak menoleh ke belakang, istri Lot tetap melakukannya sehingga menjadi tiang garam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya mencoba mencari tahu mengapa istri Lot menoleh ke belakang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bayangkan Anda tinggal di tanah yang amat subur, dengan harta berlimpah dan ternak yang superbanyak. Lalu, tiba-tiba Anda dipaksa pergi saat itu juga, tanpa persiapan apa pun, karena kota tempat Anda tinggal akan dibakar habis oleh Tuhan. Anda tak punya waktu menyelamatkan harta Anda, kecuali pakaian yang melekat di badan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana perasaan Anda? Tidakkah Anda tergiur untuk menoleh ke belakang?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesedihan karena harus meninggalkan hartanya yang banyak, perasaan tidak rela melepas masa lalu yang harus ditinggalkan, itulah yang membuat istri Lot menjadi tiang garam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari dua kisah di atas?<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>Mengapa tidak boleh menoleh ke belakang?<\/b><\/h4>\n<div class=\"indent\" style=\"text-align: justify;\">\n<h4><strong>1.<i> It will steal today\u2019s happiness<\/i><\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4816 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-3-300x200.jpg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-3-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-3.jpg 600w\" alt=\"masa lalu - gkdi 3\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Terus mengingat-ingat atau membandingkan masa lalu dengan masa kini akan mencuri sukacita Anda hari ini. Jika peristiwa itu buruk, Anda akan tertekan dan menyesal, rasanya ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semuanya. Jika peristiwa itu indah, Anda akan senantiasa terbayang-bayang olehnya sehingga jiwa Anda seakan-akan tertinggal di masa lalu.<\/p>\n<p>Bangsa Israel kehilangan sukacita karena tak dapat berhenti mengenang makanan enak yang mereka dapatkan dengan mudah di Mesir. Istri Lot menoleh ke belakang karena tak rela kehilangan semua kekayaannya dalam sekejap.<\/p>\n<p>Padahal, mereka punya pilihan lain, yaitu bersyukur. Bangsa Israel semestinya bersyukur karena hari itu mereka sudah bebas dari perbudakan yang membuat mereka menderita selama berabad-abad. Istri Lot seharusnya fokus untuk berlari dan bersyukur karena tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang dimusnahkan. Bahkan Tuhan mengutus malaikat-Nya <i>secara khusus<\/i> untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana.<\/p>\n<p>Jadi, ketika Anda menyesali masa lalu, ingatlah bahwa Anda punya pilihan. Untuk menoleh ke belakang dengan penuh sesal dan sedih\u2014atau melangkah ke depan dengan penuh syukur dan sukacita. <i>It\u2019s your choice.<\/i><\/p>\n<h4><strong>2. <i>You will be stuck in life<\/i><\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4817 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-4-300x200.jpg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-4-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-4.jpg 600w\" alt=\"masa lalu - gkdi 4\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Karena berat meninggalkan harta, istri Lot selamanya <i>stuck<\/i> menjadi tiang garam. Kita mungkin tidak terjebak secara harafiah sebagai tiang garam, tetapi menoleh ke masa lalu takkan membawa kita ke mana-mana. Kita tidak dapat maju, bahkan mungkin malah mundur tanpa kita sadari.<\/p>\n<p><i>Tetapi Yesus berkata:\u00a0\u201cSetiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.\u201d \u2013 Lukas 9:62<\/i><\/p>\n<h4><strong>3.<i> You can\u2019t change the past, but you can always change the future<\/i><\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4818 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-5-300x187.jpg?resize=640%2C399&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-5-300x187.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/masa-lalu-gkdi-5.jpg 600w\" alt=\"masa lalu - gkdi 5\" width=\"640\" height=\"399\" \/><\/p>\n<p><i>\u201cSaudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.\u201d \u2013 Filipi 3:13-14<\/i><\/p>\n<p>Ketika saya mulai menoleh ke masa lalu, menyesali kenapa mengambil jurusan itu, saat itu juga saya berhenti melangkah. Mau maju saya enggan, karena tidak menyukai studinya. Mundur pun tidak bisa, karena siapa yang dapat kembali ke masa lalu?<\/p>\n<p>Mau tak mau, saya harus melangkah karena waktu terus berjalan. Saya tidak bisa mengubah masa lalu, tapi saya bisa mengubah masa depan saya.<\/p>\n<p>Saya pun berdamai dengan masa lalu dengan cara menerimanya apa adanya, serta memutuskan untuk membayar harga atas kesalahan saya. Dengan berbagai pertimbangan, saya tetap meneruskan kuliah sampai selesai. Saya bersyukur masih punya kesempatan serta biaya untuk belajar, karena dari situ, pintu menuju masa depan saya akan terbuka.<\/p>\n<p>Apa yang membuat Anda menoleh ke masa lalu? Kalau ada hal-hal yang belum dirampungkan atau masih mengganjal, selesaikanlah. Jika Anda pernah melakukan kesalahan, terimalah itu, dan lakukan apa yang bisa Anda lakukan hari ini untuk memperbaiki dampaknya.<\/p>\n<p>\u201c<i>Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.\u201d<\/i> \u2013Maria Robinson<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>So<\/i>, apakah Anda masih mau menoleh ke belakang dan menjadi \u201ctiang garam\u201d berikutnya? Saya yakin tidak, ya. Di tahun yang baru ini, mari kita berhenti sesali masa lalu dan langkahkan kaki menyambut masa depan yang penuh harapan! \u00a0(gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Apakah saat ini Anda masih menyesali sebuah keputusan di masa lalu? Saya pernah mengalaminya, gara-gara salah memilih jurusan studi. Memasuki semester dua, hari-hari perkuliahan terasa berat untuk dijalani, dan saya sempat berpikir untuk berhenti saja. Karena putus asa dan galau, saya lalu berkonsultasi dengan pendeta saya. Saya mengaku menyesal atas keputusan yang telah diambil. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46471,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46559","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46471,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/pusing.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/berdoa.jpg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/berdoa.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/pusing.jpg?fit=1000%2C667&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1149","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46559","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46559"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46559\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46471"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46559"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46559"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46559"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}