{"id":46592,"date":"2020-07-11T08:04:41","date_gmt":"2020-07-11T01:04:41","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46592"},"modified":"2020-07-10T12:25:32","modified_gmt":"2020-07-10T05:25:32","slug":"gosip-salah-atau-lumrah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/gosip-salah-atau-lumrah\/","title":{"rendered":"Gosip: Salah atau Lumrah?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Jika Anda pembaca pria, jangan terburu-buru menutup artikel ini karena merasa bertukar gosip bukanlah kebiasaan laki-laki. Kenyataannya, menurut studi Social Issues Research Centre (SIRC), kaum pria bergosip sama banyaknya dengan kaum wanita. Memang, ada perbedaan di bagian dengan siapa mereka bergosip. Namun, topik-topik gosipnya mirip, dan para pria cenderung lebih banyak membicarakan diri sendiri. Dulu, saya menganggap bergosip itu hal biasa. Saya dan teman-teman kuliah suka melakukannya. Kami menggunjingkan kekurangan dosen, mahasiswa lain, dan orang-orang yang kami kenal, hingga kadang lupa waktu, bahkan lupa belajar. Jadi, apakah gosip itu dosa? Apa kata Tuhan tentang gosip? Dan, bagaimana cara mengubah kebiasaan bergosip? Mengapa Bergosip? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gosip adalah obrolan tentang orang lain, cerita negatif tentang seseorang, atau pergunjingan. Sedemikian lumrahnya hal ini, sampai-sampai banyak bermunculan akun media sosial dan acara hiburan yang khusus membahas gosip selebriti. Sering kali, motivasi bergosip bersumber dari sikap memandang rendah orang lain dan menganggap diri lebih baik dan benar. Padahal, belum tentu demikian adanya. Keinginan menggosipkan orang juga lahir dari rasa rendah diri atau dengki. Dengan menggunjingkan kekurangan orang lain, Anda merasa lebih baik daripada mereka yang Anda gosipkan. Entah kita bergosip dengan alasan sekadar bercanda, demi hiburan, ingin diterima dalam kelompok, atau untuk melampiaskan kekesalan, kebiasaan ini punya dampak berbahaya dalam jangka panjang. Gosip yang sudah terlalu jauh berisiko menjadi bahan bullying (perisakan), bahkan menimbulkan depresi dan trauma. Dengan bergosip, sadar atau tidak, langsung atau tidak langsung, ada kemungkinan Anda menyakiti orang lain. Tentunya ini bukan hal yang Tuhan kehendaki. 3 Kiat Hilangkan Kebiasaan Gosip\u00a0 Atasi kebiasaan bergunjing dengan menerapkan tiga hal ini: 1. Pikir Sebelum Bicara Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tetapi orang bebal membeberkan kebodohan. \u2013 Amsal 3:16 Tuhan menciptakan kita dengan akal budi. Jadi, alangkah baiknya kita berpikir sebelum berbicara. Gosip tidak hanya berpotensi merusak reputasi serta kondisi mental dan fisik orang yang Anda gosipkan, tetapi juga merusak hubungan. Bayangkan diri Anda berada di posisi orang yang digosipkan. Apakah Anda senang fakta tentang hidup Anda diputar-balikkan, keburukan Anda dibicarakan, atau nama Anda dijelek-jelekkan? Sebelum Anda tergoda untuk bergosip, ingatlah: \u201cTHINK before you speak.\u201d T \u2013 Is it True? (Apakah itu benar?) H \u2013 Is it Helpful? (Apakah itu membantu?) I \u2013 Is it Inspiring? (Apakah itu mengispirasi?) N \u2013 Is it Necessary? (Apakah itu perlu?) K \u2013 Is it Kind? (Apakah itu baik?) Tinggalkan kebiasaan bergosip sebelum terlambat. Bukan mustahil, di kemudian hari Anda akan dimusuhi atau dibenci karena menyebarkan aib atau kabar tak benar tentang seseorang. Saat itu terjadi, reputasi Andalah yang bakal rusak. Anda akan dicap tukang gosip atau orang yang tak bisa dipercaya. Dan, kalau Anda senang berkumpul dengan orang-orang yang gemar bergosip, hanya masalah waktu sampai Anda sendiri juga digosipkan. 2. Bicarakan Hal-Hal yang Membangun Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. \u2013 Efesus 4 : 29 Kalau Anda berpikir sebelum berucap, tentulah perkataan yang keluar dari mulut Anda adalah sesuatu yang membangun. Beranikan diri untuk mengubah topik pembicaraan ketika seseorang mulai menggosipkan keburukan orang lain dengan Anda. Alih-alih, bicarakan tentang prestasi, kebaikan, ketekunan, atau hal inspiratif dan positif dari orang lain. Niscaya, obrolan Anda akan menjadi diskusi yang berkualitas dan menyenangkan hati Tuhan. Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal. Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. \u2013 Amsal 10:18-19 Ketika Anda tergoda untuk bergosip, ingatlah bahwa Tuhan tidak menyukai orang-orang yang suka bergunjing. Sebaliknya, tetapkan hati Anda untuk membicarakan hal-hal yang membawa berkat dan kasih untuk sesama. Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan. \u2013 Amsal 13:3\u00a0 3. Cari Lingkungan Pergaulan yang Baik Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. \u2013 Mazmur 1:1-2 Anda akan menjadi mirip dengan siapa Anda banyak menghabiskan waktu. temukanlah komunitas yang dapat membantu Anda meninggalkan kebiasaan-kebiasaan negatif, termasuk di antaranya, bergosip. Komunitas yang benar akan membantu Anda mengalami perubahan pola pikir dan gaya hidup ke arah yang positif. Seperti kata firman Tuhan, \u201cPergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (1 Korintus 15:33).\u201d Kebiasaan bergosip akan menyimpangkan Anda dari tujuan hidup Anda. Hidup Anda terasa hampa, kosong, dan tanpa sukacita, karena Anda sibuk membicarakan hidup orang lain alih-alih fokus pada pertumbuhan diri sendiri. Lakukan evaluasi terhadap lingkungan pergaulan Anda, dan tempatkan diri Anda dalam komunitas yang benar. Stop kebiasaan bergosip dengan berpikir sebelum berucap, membicarakan hal-hal yang membangun, serta memilih komunitas yang benar. Selamat mencoba! (gkdi.org)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Jika Anda pembaca pria, jangan terburu-buru menutup artikel ini karena merasa bertukar gosip bukanlah kebiasaan laki-laki. Kenyataannya, menurut studi <em>Social Issues Research Centre (SIRC), <\/em>kaum pria bergosip sama banyaknya dengan kaum wanita. Memang, ada perbedaan di bagian dengan siapa mereka bergosip. Namun, topik-topik gosipnya mirip, dan para pria cenderung lebih banyak membicarakan diri sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dulu, saya menganggap bergosip itu hal biasa. Saya dan teman-teman kuliah suka melakukannya. Kami menggunjingkan kekurangan dosen, mahasiswa lain, dan orang-orang yang kami kenal, hingga kadang lupa waktu, bahkan lupa belajar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi, apakah gosip itu dosa? Apa kata Tuhan tentang gosip? Dan, bagaimana cara mengubah kebiasaan bergosip?<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>Mengapa Bergosip?<\/strong><\/h4>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8265 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-6-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 626px) 100vw, 626px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-6-min.jpg 626w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-6-min-300x225.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-6-min-80x60.jpg 80w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-6-min-265x198.jpg 265w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-6-min-561x420.jpg 561w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gosip adalah obrolan tentang orang lain, cerita <em>negatif<\/em> tentang seseorang, atau pergunjingan. Sedemikian lumrahnya hal ini, sampai-sampai banyak bermunculan akun media sosial dan acara hiburan yang khusus membahas gosip selebriti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sering kali, motivasi bergosip bersumber dari sikap memandang rendah orang lain dan menganggap diri lebih baik dan benar. Padahal, belum tentu demikian adanya. Keinginan menggosipkan orang juga lahir dari rasa rendah diri atau dengki. Dengan menggunjingkan kekurangan orang lain, Anda merasa lebih baik daripada mereka yang Anda gosipkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Entah kita bergosip dengan alasan sekadar bercanda, demi hiburan, ingin diterima dalam kelompok, atau untuk melampiaskan kekesalan, kebiasaan ini punya dampak berbahaya dalam jangka panjang. Gosip yang sudah terlalu jauh berisiko menjadi bahan <em>bullying<\/em> (perisakan), bahkan menimbulkan depresi dan trauma. Dengan bergosip, sadar atau tidak, langsung atau tidak langsung, ada kemungkinan Anda menyakiti orang lain. Tentunya ini bukan hal yang Tuhan kehendaki.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>3 Kiat Hilangkan Kebiasaan Gosip\u00a0<\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Atasi kebiasaan bergunjing dengan menerapkan tiga hal ini:<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Pikir Sebelum Bicara<\/strong><\/h3>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8263 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-3-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 626px) 100vw, 626px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-3-min.jpg 626w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-3-min-300x200.jpg 300w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tetapi orang bebal membeberkan kebodohan. \u2013 Amsal 3:16<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tuhan menciptakan kita dengan akal budi. Jadi, alangkah baiknya kita berpikir sebelum berbicara. Gosip tidak hanya berpotensi merusak reputasi serta kondisi mental dan fisik orang yang Anda gosipkan, tetapi juga merusak hubungan. Bayangkan diri Anda berada di posisi orang yang digosipkan. Apakah Anda senang fakta tentang hidup Anda diputar-balikkan, keburukan Anda dibicarakan, atau nama Anda dijelek-jelekkan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum Anda tergoda untuk bergosip, ingatlah: <em>\u201c<\/em><strong><em>THINK<\/em><\/strong><em> before you speak.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>T <\/strong>\u2013 <em>Is it <\/em><strong><em>True<\/em><\/strong><em>? <\/em>(Apakah itu benar?)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>H<\/strong> \u2013 <em>Is it <\/em><strong><em>Helpful<\/em><\/strong><em>?<\/em> (Apakah itu membantu?)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>I <\/strong>\u2013 <em>Is it <\/em><strong><em>Inspiring<\/em><\/strong><em>?<\/em> (Apakah itu mengispirasi?)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>N<\/strong> \u2013 <em>Is it <\/em><strong><em>Necessary<\/em><\/strong><em>?<\/em> (Apakah itu perlu?)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>K<\/strong> \u2013 <em>Is it <\/em><strong><em>Kind<\/em><\/strong><em>?<\/em> (Apakah itu baik?)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tinggalkan kebiasaan bergosip sebelum terlambat. Bukan mustahil, di kemudian hari Anda akan dimusuhi atau dibenci karena menyebarkan aib atau kabar tak benar tentang seseorang. Saat itu terjadi, reputasi Andalah yang bakal rusak. Anda akan dicap tukang gosip atau orang yang tak bisa dipercaya. Dan, kalau Anda senang berkumpul dengan orang-orang yang gemar bergosip, hanya masalah waktu sampai Anda sendiri juga digosipkan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Bicarakan Hal-Hal yang Membangun<\/strong><\/h3>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8262 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-4-min.jpg?resize=409%2C272&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 626px) 100vw, 626px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-4-min.jpg 626w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-4-min-300x200.jpg 300w\" alt=\"\" width=\"409\" height=\"272\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. \u2013 Efesus 4 : 29<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalau Anda berpikir sebelum berucap, tentulah perkataan yang keluar dari mulut Anda adalah sesuatu yang membangun. Beranikan diri untuk mengubah topik pembicaraan ketika seseorang mulai menggosipkan keburukan orang lain dengan Anda. Alih-alih, bicarakan tentang prestasi, kebaikan, ketekunan, atau hal inspiratif dan positif dari orang lain. Niscaya, obrolan Anda akan menjadi diskusi yang berkualitas dan menyenangkan hati Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal. Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. <\/em><em>\u2013 Amsal 10:18-19<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Anda tergoda untuk bergosip, ingatlah bahwa Tuhan tidak menyukai orang-orang yang suka bergunjing. Sebaliknya, tetapkan hati Anda untuk membicarakan hal-hal yang membawa berkat dan kasih untuk sesama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan. \u2013 Amsal 13:3\u00a0<\/em><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Cari Lingkungan Pergaulan yang Baik<\/strong><\/h3>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8264 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-5-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 626px) 100vw, 626px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-5-min.jpg 626w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gosip-5-min-300x136.jpg 300w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. \u2013 Mazmur 1:1-2<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anda akan menjadi mirip dengan siapa Anda banyak menghabiskan waktu. temukanlah komunitas yang dapat membantu Anda meninggalkan kebiasaan-kebiasaan negatif, termasuk di antaranya, bergosip. Komunitas yang benar akan membantu Anda mengalami perubahan pola pikir dan gaya hidup ke arah yang positif. Seperti kata firman Tuhan, \u201cPergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik <em>(1 Korintus 15:33).<\/em>\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebiasaan bergosip akan menyimpangkan Anda dari tujuan hidup Anda. Hidup Anda terasa hampa, kosong, dan tanpa sukacita, karena Anda sibuk membicarakan hidup orang lain alih-alih fokus pada pertumbuhan diri sendiri. Lakukan evaluasi terhadap lingkungan pergaulan Anda, dan tempatkan diri Anda dalam komunitas yang benar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Stop kebiasaan bergosip dengan berpikir sebelum berucap, membicarakan hal-hal yang membangun, serta memilih komunitas yang benar. Selamat mencoba! (gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Jika Anda pembaca pria, jangan terburu-buru menutup artikel ini karena merasa bertukar gosip bukanlah kebiasaan laki-laki. Kenyataannya, menurut studi Social Issues Research Centre (SIRC), kaum pria bergosip sama banyaknya dengan kaum wanita. Memang, ada perbedaan di bagian dengan siapa mereka bergosip. Namun, topik-topik gosipnya mirip, dan para pria cenderung lebih banyak membicarakan diri sendiri. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46595,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46592","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46595,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/gossip.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/gossip.jpg?fit=290%2C174&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/gossip.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/gossip.jpg?fit=290%2C174&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1122","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46592","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46592"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46592\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46595"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46592"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46592"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46592"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}