{"id":46614,"date":"2020-07-16T08:04:29","date_gmt":"2020-07-16T01:04:29","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46614"},"modified":"2020-07-10T13:24:52","modified_gmt":"2020-07-10T06:24:52","slug":"hidup-kudus-dan-bahagia-mustahilkah-mendapat-keduanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/hidup-kudus-dan-bahagia-mustahilkah-mendapat-keduanya\/","title":{"rendered":"Hidup Kudus dan Bahagia: Mustahilkah Mendapat Keduanya?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Banyak orang mengira kalau ingin hidup bahagia, pasti sulit untuk hidup kudus. Kenyataannya, kebahagiaan adalah bagian dari kekudusan. Dengan kata lain, kita tidak mungkin menjauhkan kekudusan dengan kebahagiaan. Jika demikian, apakah kaitan antara hidup kudus dengan kebahagiaan? Dan, kebahagiaan seperti apa yang sesuai kehendak Tuhan? Membangun Hidup Bahagia Kebanyakan orang Kristen percaya bahwa Tuhan ingin hidup mereka bahagia. Kata-kata motivasi umum juga sering mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang membuat diri sendiri bahagia. Namun, bagaimana cara membangun hidup bahagia yang berkenan bagi Allah? Petrus menggambarkan bahwa kebahagiaan yang bukan kehendak Tuhan bersumber dari hawa nafsu: Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang. \u2013 1 Petrus 4:3 Dunia di luar Kristus dipenuhi oleh kesenangan sesaat dari dosa. Contohnya, menonton video porno, merokok, menggunakan obat-obatan terlarang, dan minum minuman keras. Tak hanya menjerumuskan kita dalam ketagihan berbahaya, kesenangan semacam ini juga tidak memuliakan Tuhan karena tidak mencerminkan karakter dan kekudusan-Nya. Kita belum hidup kudus jika masih menemukan banyak kesenangan di luar Tuhan. Kehidupan manusia yang terpisah dari Kristus tidak memiliki keselamatan, sehingga tidak mendatangkan kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan sejati didahului kenyataan bahwa dosa-dosa kita telah dihapus di hadapan Allah yang kudus. Artinya, untuk memulai hidup bahagia, kita harus dikuduskan terlebih dahulu. Tuhan ingin kita bertobat dari dosa-dosa kita dan tetap tinggal di dalam firman-Nya. Disiplin Allah dan Hati yang Kudus \u00a0 \u00a0 Kekudusan adalah kondisi hati saat Tuhan menjadi kebahagiaan terbesar kita. Menjadi kudus tidak bertolak belakang dengan kebahagiaan. Akan tetapi, kekudusan tidak begitu saja muncul dalam diri kita. Sebagai anak Allah, terkadang kita didisiplinkan oleh Tuhan supaya hidup kita menjadi kudus. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. \u2013\u00a0 Ibrani 12:11 Disiplin memang tak selalu enak rasanya. Namun, Tuhan bukan tidak ingin anak-anak-Nya bahagia. Justru, melalui disiplin-Nya, kita memperoleh buah-buah kekudusan yang mendatangkan damai sejahtera. Beberapa orang paling bahagia yang pernah saya temui adalah murid-murid Yesus yang memahami kasih Allah\u2014terlepas dari bagaimana pun kondisi hidup mereka. Apa pun yang terjadi, mereka tidak akan menukar kekudusan mereka dengan kebahagiaan fana, meski mereka bisa melakukannya. Pengudusan adalah proses yang dikerjakan Allah agar kita bertumbuh, untuk menolak kesenangan duniawi dan memilih sukacita ilahi. Sebagai contoh, sebelum mengenal Tuhan, saya sering tidur sampai siang. Setelah tahu Tuhan suka jika kita mengutamakan diri-Nya, saya memilih bangun pagi supaya bisa melakukan saat teduh dan menikmati waktu pribadi dengan Allah. Hati yang tidak kudus cenderung menganggap Tuhan membosankan dan memandang firman-Nya sebagai hukum yang membatasi kebahagiaan. Sebaliknya, hati yang kudus melihat Tuhan sebagai harta paling berharga dan firman-Nya sebagai sumber kebahagiaan. Bahagia dalam Kekudusan Kita tidak harus memilih antara hidup bahagia atau hidup kudus, tetapi antara dua macam kebahagiaan: Kebahagiaan sesaat yang dijanjikan oleh berhala-berhala dunia, yang berujung pada kesedihan dan maut Kebahagiaan sejati yang diperoleh di dalam Tuhan, yang mengaruniakan kita bagian dalam kemuliaan dan kekudusan-Nya Kita bisa mendapatkan kebahagiaan sejati dengan: 1. Pengenalan akan Firman Tuhan Hal ini akan membantu kita membedakan mana kesenangan sementara dan mana yang mengarah pada kekekalan. Yang sementara kita tinggalkan, sedangkan yang untuk hidup kekal harus diperjuangkan. 2. Membantu Hidup Orang Lain Terlibat dalam hidup orang lain dan melihat bagaimana mereka berubah menjadi pribadi yang lebih baik akan memberi kita kebahagiaan. Intinya, kita tidak bisa menghindari kekudusan untuk mengejar kebahagiaan, dan demikian pula sebaliknya, karena keduanya bukan hal yang terpisah. Dan, perjuangan untuk mendapatkan keduanya adalah pertempuran rohani setiap hari bagi kita yang memilih kebahagiaan yang kudus. Amin.(gkdi.org)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Banyak orang mengira kalau ingin hidup bahagia, pasti sulit untuk hidup kudus. Kenyataannya, kebahagiaan adalah bagian dari kekudusan. Dengan kata lain, kita tidak mungkin menjauhkan kekudusan dengan kebahagiaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika demikian, apakah kaitan antara hidup kudus dengan kebahagiaan? Dan, kebahagiaan seperti apa yang sesuai kehendak Tuhan?<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>Membangun Hidup Bahagia<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6927 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-1-2-300x200.jpg?resize=709%2C473&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 709px) 100vw, 709px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-1-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-1-2.jpg 600w\" alt=\"kudus - gkdi 1\" width=\"709\" height=\"473\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebanyakan orang Kristen percaya bahwa Tuhan ingin hidup mereka bahagia. Kata-kata motivasi umum juga sering mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang membuat diri sendiri bahagia. Namun, bagaimana cara membangun hidup bahagia yang berkenan bagi Allah?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Petrus menggambarkan bahwa kebahagiaan yang bukan kehendak Tuhan bersumber dari hawa nafsu:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang. \u2013 1 Petrus 4:3<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dunia di luar Kristus dipenuhi oleh kesenangan sesaat dari dosa. Contohnya, menonton video porno, merokok, menggunakan obat-obatan terlarang, dan minum minuman keras. Tak hanya menjerumuskan kita dalam ketagihan berbahaya, kesenangan semacam ini juga tidak memuliakan Tuhan karena tidak mencerminkan karakter dan kekudusan-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita belum hidup kudus jika masih menemukan banyak kesenangan di luar Tuhan. Kehidupan manusia yang terpisah dari Kristus tidak memiliki keselamatan, sehingga tidak mendatangkan kebahagiaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah kebahagiaan sejati didahului kenyataan bahwa dosa-dosa kita telah dihapus di hadapan Allah yang kudus. Artinya, untuk memulai hidup bahagia, kita harus dikuduskan terlebih dahulu. Tuhan ingin kita bertobat dari dosa-dosa kita dan tetap tinggal di dalam firman-Nya.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>Disiplin Allah dan Hati yang Kudus<\/b><\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6928 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-2-1-200x300.jpg?resize=305%2C457&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 411px) 100vw, 411px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-2-1-200x300.jpg 200w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-2-1-280x420.jpg 280w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-2-1.jpg 600w\" alt=\"kudus - gkdi 2\" width=\"305\" height=\"457\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kekudusan adalah kondisi hati saat Tuhan menjadi kebahagiaan terbesar kita. Menjadi kudus tidak bertolak belakang dengan kebahagiaan. Akan tetapi, kekudusan tidak begitu saja muncul dalam diri kita. Sebagai anak Allah, terkadang kita didisiplinkan oleh Tuhan supaya hidup kita menjadi kudus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. \u2013\u00a0 Ibrani 12:11<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Disiplin memang tak selalu enak rasanya. Namun, Tuhan bukan tidak ingin anak-anak-Nya bahagia. Justru, melalui disiplin-Nya, kita memperoleh buah-buah kekudusan yang mendatangkan damai sejahtera.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa orang paling bahagia yang pernah saya temui adalah murid-murid Yesus yang memahami kasih Allah\u2014terlepas dari bagaimana pun kondisi hidup mereka. Apa pun yang terjadi, mereka tidak akan menukar kekudusan mereka dengan kebahagiaan fana, meski mereka bisa melakukannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengudusan adalah proses yang dikerjakan Allah agar kita bertumbuh, untuk menolak kesenangan duniawi dan memilih sukacita ilahi. Sebagai contoh, sebelum mengenal Tuhan, saya sering tidur sampai siang. Setelah tahu Tuhan suka jika kita mengutamakan diri-Nya, saya memilih bangun pagi supaya bisa melakukan saat teduh dan menikmati waktu pribadi dengan Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hati yang tidak kudus cenderung menganggap Tuhan membosankan dan memandang firman-Nya sebagai hukum yang membatasi kebahagiaan. Sebaliknya, hati yang kudus melihat Tuhan sebagai harta paling berharga dan firman-Nya sebagai sumber kebahagiaan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>Bahagia dalam Kekudusan<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6929 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-3-300x200.jpg?resize=417%2C278&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 701px) 100vw, 701px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-3-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/kudus-gkdi-3.jpg 600w\" alt=\"kudus - gkdi 3\" width=\"417\" height=\"278\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita tidak harus memilih antara hidup bahagia atau hidup kudus, tetapi antara dua macam kebahagiaan:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><b>Kebahagiaan sesaat <\/b>yang dijanjikan oleh berhala-berhala dunia, yang berujung pada kesedihan dan maut<\/li>\n<li><b>Kebahagiaan sejati <\/b>yang diperoleh di dalam Tuhan, yang mengaruniakan kita bagian dalam kemuliaan dan kekudusan-Nya<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita bisa mendapatkan kebahagiaan sejati dengan:<\/p>\n<div class=\"indent\" style=\"text-align: justify;\">\n<h4><strong>1. Pengenalan akan Firman Tuhan<\/strong><\/h4>\n<p>Hal ini akan membantu kita membedakan mana kesenangan sementara dan mana yang mengarah pada kekekalan. Yang sementara kita tinggalkan, sedangkan yang untuk hidup kekal harus diperjuangkan.<\/p>\n<h4><strong>2. Membantu Hidup Orang Lain<\/strong><\/h4>\n<p>Terlibat dalam hidup orang lain dan melihat bagaimana mereka berubah menjadi pribadi yang lebih baik akan memberi kita kebahagiaan.<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Intinya, kita tidak bisa menghindari kekudusan untuk mengejar kebahagiaan, dan demikian pula sebaliknya, karena keduanya bukan hal yang terpisah. Dan, perjuangan untuk mendapatkan keduanya adalah pertempuran rohani setiap hari bagi kita yang memilih <i>kebahagiaan yang kudus<\/i>. Amin.(gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Banyak orang mengira kalau ingin hidup bahagia, pasti sulit untuk hidup kudus. Kenyataannya, kebahagiaan adalah bagian dari kekudusan. Dengan kata lain, kita tidak mungkin menjauhkan kekudusan dengan kebahagiaan. Jika demikian, apakah kaitan antara hidup kudus dengan kebahagiaan? Dan, kebahagiaan seperti apa yang sesuai kehendak Tuhan? Membangun Hidup Bahagia Kebanyakan orang Kristen percaya bahwa Tuhan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46470,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46614","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46470,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/berdoa.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/berdoa.jpg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/berdoa.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/berdoa.jpg?fit=1000%2C563&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1070","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46614","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46614"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46614\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46470"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}