{"id":46684,"date":"2020-07-30T08:02:43","date_gmt":"2020-07-30T01:02:43","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46684"},"modified":"2020-07-18T09:44:46","modified_gmt":"2020-07-18T02:44:46","slug":"9-buah-favorit-tuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/9-buah-favorit-tuhan\/","title":{"rendered":"9 Buah Favorit Tuhan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Siapa di antara kita yang tidak suka mencium aroma buah harum? Saat melewati lapak atau toko buah, hidung kita akan menangkap harum aneka buah-buahan matang yang siap disantap. Apalagi saat mengunjungi kebun stroberi, jambu air, mangga \u2026 wah, tangan ini mesti dijaga baik-baik agar tidak asal petik. Keharuman adalah pertanda buah itu ranum, segar, siap panen, dan menjadi nutrisi yang baik bagi kita. Nah, seperti halnya kita suka aroma buah ranum, Tuhan pun memerhatikan buah-buah karakter kita. Jangan bersedih jika Anda merasa belum menjadi buah yang ranum. Tuhan memberi perhatian khusus pada anak-anak-Nya yang rindu menumbuhkan buah-buah karakter baik. Kekristenan dan panen buah Hidup kekristenan sama seperti budidaya buah. Untuk menghasilkan panenan baik, kita harus memiliki kualitas pohon yang baik pula. Tuhan Yesus adalah pohon yang baik itu (Yohanes 15:1-8). Jadi, pastikan Anda sedang bertumbuh di pohon yang tepat. \u201cTetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.\u201d (Roma 8:9) Pohon berkualitas berasal dari bibit yang baik. Dan, bibit terbaik untuk ditanam dalam hati Anda adalah firman Tuhan. Ketika Anda menumbuhkan bibit kebenaran Allah, Roh-Nya akan memampukan Anda mengekspresikan hal-hal yang baik dan benar. Di sisi lain, waspadailah buah-buah busuk dan bau yang berisiko tumbuh di pohon rohani Anda. \u201cPerbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.\u201d (Galatia 5:19-21a) \u00a0\u00a0 Sekilas, panenan di atas tampak menggoda dan diburu banyak orang, karena buahnya yang nikmat secara kedagingan. Namun, bukan itu buah-buah yang Tuhan sukai. Lalu, apa saja buah-buah favorit Tuhan? Galatia 5:22-23 menyatakan, \u201cTetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.\u201d Alangkah indahnya hidup orang yang menghasilkan buah-buah Roh. Kenapa? Karena dari jauh pun, Tuhan bisa mengenali Anda dari harum karakter Anda. 1. Buah Kasih Berdasarkan 1 Korintus 13:4-8, kita tahu bahwa kasih tidak memandang suku, ras, agama, status, dan latar belakang. Kasih itu tidak bersyarat, yang berarti rela memberi (materi, waktu, perasaan, pikiran, dan lain-lain). Bukti nyata kasih adalah Yesus Kristus sendiri, yang mengasihi orang berdosa seperti kita (Roma 5:8). 2. Buah Sukacita Sukacita berbeda dengan senang. Perasaan senang timbul saat keadaan sedang baik saja, sementara sukacita tidak tergantung situasi dan kondisi. Sukacita merupakan ekspresi Roh Kudus yang bekerja sempurna, sekalipun dalam waktu kesusahan.\u00a0Miliki buah ini agar kita mampu bersukacita dalam segala keadaan (2 Korintus 6:10). 3. Buah Damai Sejahtera Buah ini adalah pemberian istimewa Tuhan bagi setiap pengikut-Nya. Dunia bisa memberikan banyak kenikmatan sesaat, tetapi damai sejahtera sejati hanya ada di dalam Tuhan. Dan, inilah rahasianya: Damai sejahtera bukanlah apa yang tampak dari luar, melainkan dari dalam (Yohanes 14:7). 4. Buah Kesabaran Buah kesabaran terlihat dari orang yang mau menanggung dan tahan saat menghadapi penderitaan. Sabar menunggu janji Tuhan yang akan indah pada waktu-Nya. Sabar membantu hidup orang lain untuk berubah. Tuhan sabar menghadapi pelanggaran-pelanggaran kita, jadi kita pun harus sabar kepada sesama (1 Korintus 13:4). 5. Buah Kemurahan Kemurahan hati identik dengan Yesus. Karena kemurahan hati-Nya kita diselamatkan dan dipanggil (Efesus 2:8-9). Karena itulah, kita harus bermurah hati kepada sesama dan memberi hidup kita sepenuhnya sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1). 6. Buah Kebaikan Kebaikan terpancar dari perbuatan kita. Apa yang baik bagi manusia belum tentu baik dan berkenan di mata Tuhan. Namun, apa yang baik di mata Tuhan pasti layak di mata manusia (Matius 5:16). 7. Buah Kesetiaan Sosok yang setia punya tekad untuk tidak menyimpang dari komitmen atau janji yang ia buat. Setia berarti mendedikasikan diri pada sesuatu atau seseorang (hubungan). Standar kesetiaan kita memengaruhi cara pandang kita dalam menghadapi setiap perkara yang datang. Dan, Tuhan melihat kesetiaan kita (Lukas 19:17). Marilah terus setia agar kita dapat mengakhiri pertandingan iman dengan baik di dalam Kristus (2 Timotius 4:7). 8. Buah Kelemahlembutan Orang yang lemah lembut mudah mengampuni kesalahan, tetapi bukan berarti lemah. Ia tidak mudah keliru menilai sesuatu, serta mampu mengendalikan emosi, pikiran, perilaku, dan kekuatan di dalam dirinya. Pribadi lemah lembut biasanya juga rendah hati, mau diarahkan dan dibentuk sesuai ajaran Tuhan (Matius 11:29). 9. Buah Penguasaan Diri Dengan memiliki buah ini, kita dapat menguasai diri saat menghadapi godaan. Dunia menawarkan banyak hal yang dapat mengecewakan hati Tuhan, dan kita perlu pengetahuan yang benar agar mampu menguasai diri (2 Petrus 1:5-7). Memang, tidak ada manusia yang sempurna. Namun, Allah ingin kita berjuang untuk menjadi serupa Kristus, yaitu dengan memanen buah-buah Roh yang keharumannya menyenangkan hati-Nya. Amin.(gkdi.org)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Siapa di antara kita yang tidak suka mencium aroma buah harum? Saat melewati lapak atau toko buah, hidung kita akan menangkap harum aneka buah-buahan matang yang siap disantap. Apalagi saat mengunjungi kebun stroberi, jambu air, mangga \u2026 wah, tangan ini mesti dijaga baik-baik agar tidak asal petik.<\/p>\n<div class=\"td-container\">\n<div class=\"td-pb-row\">\n<div class=\"td-pb-span12 td-main-content\" role=\"main\">\n<div class=\"td-ss-main-content\">\n<div class=\"td-post-content\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Keharuman adalah pertanda buah itu ranum, segar, siap panen, dan menjadi nutrisi yang baik bagi kita. Nah, seperti halnya kita suka aroma buah ranum, Tuhan pun memerhatikan buah-buah karakter kita. Jangan bersedih jika Anda merasa belum menjadi buah yang ranum. Tuhan memberi perhatian khusus pada anak-anak-Nya yang rindu menumbuhkan buah-buah karakter baik.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>Kekristenan dan panen buah<img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3635 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-1.jpg?resize=639%2C425&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 639px) 100vw, 639px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-1.jpg 640w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-1-631x420.jpg 631w\" alt=\"buah - gkdi 1\" width=\"639\" height=\"425\" \/><\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hidup kekristenan sama seperti budidaya buah. Untuk menghasilkan panenan baik, kita harus memiliki <b>kualitas pohon yang baik<\/b> pula. Tuhan Yesus adalah pohon yang baik itu (Yohanes 15:1-8). Jadi, pastikan Anda sedang bertumbuh di pohon yang tepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>\u201cTetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.\u201d (Roma 8:9)<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pohon berkualitas berasal dari <b>bibit yang baik<\/b>. Dan, bibit terbaik untuk ditanam dalam hati Anda adalah firman Tuhan. Ketika Anda menumbuhkan bibit kebenaran Allah, Roh-Nya akan memampukan Anda mengekspresikan hal-hal yang baik dan benar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, waspadailah buah-buah busuk dan bau yang berisiko tumbuh di pohon rohani Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>\u201cPerbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.\u201d (Galatia 5:19-21a) \u00a0\u00a0<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekilas, panenan di atas tampak menggoda dan diburu banyak orang, karena buahnya yang nikmat secara kedagingan. Namun, bukan itu buah-buah yang Tuhan sukai.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>Lalu, apa saja buah-buah favorit Tuhan?<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Galatia 5:22-23 menyatakan, <i>\u201cTetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.\u201d<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alangkah indahnya hidup orang yang menghasilkan buah-buah Roh. Kenapa? Karena dari jauh pun, Tuhan bisa mengenali Anda dari harum karakter Anda.<\/p>\n<div class=\"indent\" style=\"text-align: justify;\">\n<h4><b>1. Buah Kasih<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3636 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-2.jpeg?resize=638%2C399&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 638px) 100vw, 638px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-2.jpeg 640w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-2-300x188.jpeg 300w\" alt=\"buah - gkdi 2\" width=\"638\" height=\"399\" \/><\/p>\n<p>Berdasarkan 1 Korintus 13:4-8, kita tahu bahwa kasih tidak memandang suku, ras, agama, status, dan latar belakang. Kasih itu tidak bersyarat, yang berarti rela memberi (materi, waktu, perasaan, pikiran, dan lain-lain). Bukti nyata kasih adalah Yesus Kristus sendiri, yang mengasihi orang berdosa seperti kita (Roma 5:8).<\/p>\n<h4><b>2. Buah Sukacita<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-large wp-image-3637 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-3-1024x634.jpeg?resize=640%2C396&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-3-1024x634.jpeg 1024w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-3-300x186.jpeg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-3-768x475.jpeg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-3-356x220.jpeg 356w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-3-696x431.jpeg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-3-1068x661.jpeg 1068w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-3-679x420.jpeg 679w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-3.jpeg 1280w\" alt=\"buah - gkdi 3\" width=\"640\" height=\"396\" \/><\/p>\n<p>Sukacita berbeda dengan senang. Perasaan senang timbul saat keadaan sedang baik saja, sementara sukacita tidak tergantung situasi dan kondisi. Sukacita merupakan ekspresi Roh Kudus yang bekerja sempurna, sekalipun dalam waktu kesusahan.\u00a0Miliki buah ini agar kita mampu bersukacita dalam segala keadaan (2 Korintus 6:10).<\/p>\n<h4><b>3. Buah Damai Sejahtera<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3638 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-4.jpg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-4.jpg 640w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-4-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-4-631x420.jpg 631w\" alt=\"buah - gkdi 4\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Buah ini adalah pemberian istimewa Tuhan bagi setiap pengikut-Nya. Dunia bisa memberikan banyak kenikmatan sesaat, tetapi damai sejahtera sejati hanya ada di dalam Tuhan. Dan, inilah rahasianya: Damai sejahtera bukanlah apa yang tampak dari luar, melainkan dari dalam (Yohanes 14:7).<\/p>\n<h4><b>4. Buah Kesabaran<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3645 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-5.jpeg?resize=640%2C425&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-5.jpeg 640w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-5-300x199.jpeg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-5-632x420.jpeg 632w\" alt=\"buah - gkdi 5\" width=\"640\" height=\"425\" \/><\/p>\n<p>Buah kesabaran terlihat dari orang yang mau menanggung dan tahan saat menghadapi penderitaan. Sabar menunggu janji Tuhan yang akan indah pada waktu-Nya. Sabar membantu hidup orang lain untuk berubah. Tuhan sabar menghadapi pelanggaran-pelanggaran kita, jadi kita pun harus sabar kepada sesama (1 Korintus 13:4).<\/p>\n<h4><b>5. Buah Kemurahan<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3639 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-6.jpeg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-6.jpeg 640w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-6-300x200.jpeg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-6-631x420.jpeg 631w\" alt=\"buah - gkdi 6\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Kemurahan hati identik dengan Yesus. Karena kemurahan hati-Nya kita diselamatkan dan dipanggil (Efesus 2:8-9). Karena itulah, kita harus bermurah hati kepada sesama dan memberi hidup kita sepenuhnya sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1).<\/p>\n<h4><b>6. Buah Kebaikan<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3640 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-7.jpeg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-7.jpeg 640w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-7-300x200.jpeg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-7-631x420.jpeg 631w\" alt=\"buah - gkdi 7\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Kebaikan terpancar dari perbuatan kita. Apa yang baik bagi manusia belum tentu baik dan berkenan di mata Tuhan. Namun, apa yang baik di mata Tuhan pasti layak di mata manusia (Matius 5:16).<\/p>\n<h4><b>7. Buah Kesetiaan<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-large wp-image-3641 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-8-1024x682.jpeg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-8-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-8-300x200.jpeg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-8-768x512.jpeg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-8-696x464.jpeg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-8-1068x712.jpeg 1068w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-8-630x420.jpeg 630w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-8.jpeg 1280w\" alt=\"buah - gkdi 8\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Sosok yang setia punya tekad untuk tidak menyimpang dari komitmen atau janji yang ia buat. Setia berarti mendedikasikan diri pada sesuatu atau seseorang (hubungan). Standar kesetiaan kita memengaruhi cara pandang kita dalam menghadapi setiap perkara yang datang. Dan, Tuhan melihat kesetiaan kita (Lukas 19:17). Marilah terus setia agar kita dapat mengakhiri pertandingan iman dengan baik di dalam Kristus (2 Timotius 4:7).<\/p>\n<h4><b>8. Buah Kelemahlembutan<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-large wp-image-3642 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-9-1024x683.jpeg?resize=640%2C427&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-9-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-9-300x200.jpeg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-9-768x512.jpeg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-9-696x464.jpeg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-9-1068x712.jpeg 1068w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-9-630x420.jpeg 630w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-9.jpeg 1920w\" alt=\"buah - gkdi 9\" width=\"640\" height=\"427\" \/><\/p>\n<p>Orang yang lemah lembut mudah mengampuni kesalahan, tetapi bukan berarti lemah. Ia tidak mudah keliru menilai sesuatu, serta mampu mengendalikan emosi, pikiran, perilaku, dan kekuatan di dalam dirinya. Pribadi lemah lembut biasanya juga rendah hati, mau diarahkan dan dibentuk sesuai ajaran Tuhan (Matius 11:29).<\/p>\n<h4><b>9. Buah Penguasaan Diri<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3643 td-animation-stack-type0-1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-10.jpeg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-10.jpeg 640w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-10-300x200.jpeg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/buah-gkdi-10-631x420.jpeg 631w\" alt=\"buah - gkdi 10\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Dengan memiliki buah ini, kita dapat menguasai diri saat menghadapi godaan. Dunia menawarkan banyak hal yang dapat mengecewakan hati Tuhan, dan kita perlu pengetahuan yang benar agar mampu menguasai diri (2 Petrus 1:5-7).<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang, tidak ada manusia yang sempurna. Namun, Allah ingin kita berjuang untuk menjadi serupa Kristus, yaitu dengan memanen buah-buah Roh yang keharumannya menyenangkan hati-Nya. Amin.(gkdi.org)<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Siapa di antara kita yang tidak suka mencium aroma buah harum? Saat melewati lapak atau toko buah, hidung kita akan menangkap harum aneka buah-buahan matang yang siap disantap. Apalagi saat mengunjungi kebun stroberi, jambu air, mangga \u2026 wah, tangan ini mesti dijaga baik-baik agar tidak asal petik. Keharuman adalah pertanda buah itu ranum, segar, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46689,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46684","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46689,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/buah-roh.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/buah-roh.jpg?fit=270%2C187&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/buah-roh.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/buah-roh.jpg?fit=270%2C187&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"3484","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46684","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46684"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46684\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46689"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46684"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46684"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46684"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}