{"id":46685,"date":"2020-07-31T08:02:44","date_gmt":"2020-07-31T01:02:44","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46685"},"modified":"2020-07-31T15:31:30","modified_gmt":"2020-07-31T08:31:30","slug":"perkataan-yang-dibumbui-garam-kuasa-di-dalam-kata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/perkataan-yang-dibumbui-garam-kuasa-di-dalam-kata\/","title":{"rendered":"Perkataan yang Dibumbui Garam: Kuasa di Dalam Kata"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Kita semua tahu bahwa garam berkuasa bikin sebuah hidangan jadi enak atau enek. Garam berperan dalam melezatkan atau merusak rasa masakan. Namun, tahukah, brothers and sisters, bahwa kata-kata kita mirip dengan masakan yang dibubuhi garam? Kurang garam membuat makanan hambar. Sebaliknya, garam yang berlebih bikin haus dan tidak baik untuk kesehatan. Demikian pula, ucapan boros akan membuat orang bosan atau merasa \u2018garing\u2019. Kata-kata kita juga dapat mengecilkan hati, bahkan menyakiti perasaan jika tidak disaring lebih dahulu. Tentunya, kita ingin perkataan kita berkadar garam pas. Tidak hanya nikmat didengar, tetapi juga \u2018mengenyangkan\u2019. Lantas, apa artinya perkataan yang dibumbui garam? Frasa \u2018jangan hambar\u2019 dalam bahasa Inggris adalah seasoned with salt, yang berarti dibumbui garam. \u201cHendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.\u201d \u2013 Kolose 4:6\u00a0 Sebagai murid Yesus, kita perlu menjaga ucapan. Jangan sampai kata-kata kita terucap sembarangan, bahkan memaki, menghina, dan merendahkan sesama. Perkataan kita hendaknya hangat dan penuh kasih, agar mereka yang menerimanya seperti mencicipi sajian yang lezat. Ujaran yang tidak asal bunyi, tetapi penuh kebaikan dan berisi, akan membangun dan menumbuhkan mereka yang mendengarnya. Bagaimana supaya perkataan saya bisa menjadi garam bagi orang lain? Tekanan emosi, situasi, dan kondisi kerap melemahkan filter omongan kita. Barangkali juga, kita menganggap bahwa berbicara banyak akan menunjukkan kepintaran, kekuatan, atau bahkan kekuasaan terhadap pihak lain. Namun, kunci perkataan bergaram terletak pada kualitasnya, bukan kuantitas. Bukan tentang jumlah kata, melainkan seberapa besar kontribusi mereka dalam membangun dan menumbuhkan orang lain. Di atas semua itu, kita perlu belajar dari keteladanan dari pembicara terbaik, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Dalam kisah-kisah Injil, kita melihat bagaimana tutur kata Yesus senantiasa dijiwai hikmat, kesederhanaan, kejelasan, ketegasan, dan terlebih, efektif dalam pengungkapannya. Ingatlah tiga hal ini sebelum mengucapkan sesuatu: 1. Kata-kata itu berkuasa. Barangkali kita pernah dengar pembelaan diri atas ucapan yang tidak membuat orang lain bertumbuh. Misalnya, \u201cTapi, saya berniat baik!\u201d atau, \u201cIni demi kebaikannya.\u201d Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang dewasa yang menjadi approval seeker. Mereka dibesarkan dengan prinsip reverse psychology dalam lingkungan keluarga dan sekolah. Mereka dihujani kritik, tetapi tidak mendapat dukungan, pujian, atau penghargaan. Kawan, kata-kata kita berkuasa menumbuhkan atau meruntuhkan. Apapun motivasinya, ucapan kita memiliki dampak bagi sesama. Motivasi baik yang tidak disampaikan dengan baik malah akan menghambarkan hati orang. 2. Sebelum berucap, pikirkan: Bagaimana jika saya yang menerima perkataan ini? Baik terhadap sesama orang percaya, maupun kepada mereka yang sedang kita jangkau, kita perlu kembangkan rasa empati saat bertutur kata. Latihlah kebiasaan menilik keadaan orang lain sebelum mengutarakan sesuatu. Apakah dia sedang marah? Sedang sedih? Kecewa? Lelah? Dengan memahami perasaan orang lain, niscaya kata-kata kita dapat lebih efektif membangun mereka. 3. Jika marah, tundalah berkata-kata. Ibarat gunung berapi meletus, perkataan kita saat sedang marah berpotensi melemparkan apa yang buruk dan kejam. Seringnya pula, kita menyesalinya setelah amarah itu reda. Kawan, marah itu manusiawi. Tuhan Yesus menunjukkan kemarahanNya ketika Dia menjungkirbalikkan meja para pedagang di Bait Allah. Namun, ada pemisah yang sangat tipis antara marah dan berdosa. Butuh hikmat dan kedewasaan untuk tidak menembus batasnya. Tak ada ruginya menunda kata-kata saat sedang marah. Jangan biarkan lidah menguasai tubuh. Menunda berucap lebih baik, agar kata-kata kita nantinya membangun ketimbang meruntuhkan. Doa: Bapa, firmanMu adalah satu-satunya perkataan yang penuh kuasa. Dengan firman, Engkau menjadikan segala yang ada dari yang tidak ada. FirmanMu menyelamatkan, menegur, dan membangun. Kiranya kata-kata kami juga mendapat cipratan kuasaMu agar dapat membawa jiwa-jiwa ke dalam KerajaanMu. Amin. Disunting dari artikel \u201cPerkataan Yang Dibumbui Garam\u201c\u00a0oleh Pdt. Togar Sianturi.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Kita semua tahu bahwa garam berkuasa bikin sebuah hidangan jadi enak atau enek. Garam berperan dalam melezatkan atau merusak rasa masakan. <b>Namun, tahukah, <\/b><b><i>brothers and sisters<\/i><\/b><b>, bahwa kata-kata kita mirip dengan masakan yang dibubuhi garam? <\/b><\/p>\n<div class=\"td-container\">\n<div class=\"td-pb-row\">\n<div class=\"td-pb-span12 td-main-content\" role=\"main\">\n<div class=\"td-ss-main-content\">\n<div class=\"td-post-content\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Kurang garam membuat makanan hambar. Sebaliknya, garam yang berlebih bikin haus dan tidak baik untuk kesehatan. Demikian pula, ucapan boros akan membuat orang bosan atau merasa \u2018garing\u2019. Kata-kata kita juga dapat mengecilkan hati, bahkan menyakiti perasaan jika tidak disaring lebih dahulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentunya, kita ingin perkataan kita berkadar garam pas. Tidak hanya nikmat didengar, tetapi juga \u2018mengenyangkan\u2019.<\/p>\n<h1 style=\"text-align: justify;\"><b>Lantas, apa artinya perkataan yang dibumbui garam?<\/b><\/h1>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2878 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/perkataan.jpeg?resize=416%2C624&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 416px) 100vw, 416px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/perkataan.jpeg 1280w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/perkataan-200x300.jpeg 200w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/perkataan-768x1152.jpeg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/perkataan-683x1024.jpeg 683w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/perkataan-696x1044.jpeg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/perkataan-1068x1602.jpeg 1068w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/perkataan-280x420.jpeg 280w\" alt=\"perkataan\" width=\"416\" height=\"624\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Frasa \u2018jangan hambar\u2019 dalam bahasa Inggris adalah <i>seasoned with salt<\/i>, yang berarti dibumbui garam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>\u201cHendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.\u201d<\/i><i><br \/>\n<\/i><i>\u2013 Kolose 4:6\u00a0<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai murid Yesus, kita perlu menjaga ucapan. Jangan sampai kata-kata kita terucap sembarangan, bahkan memaki, menghina, dan merendahkan sesama. Perkataan kita hendaknya hangat dan penuh kasih, agar mereka yang menerimanya seperti mencicipi sajian yang lezat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Ujaran yang tidak asal bunyi, tetapi penuh kebaikan dan berisi, akan membangun dan menumbuhkan mereka yang mendengarnya.<\/b><\/p>\n<h1 style=\"text-align: justify;\"><b>Bagaimana supaya perkataan saya bisa menjadi garam bagi orang lain?<\/b><\/h1>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tekanan emosi, situasi, dan kondisi kerap melemahkan filter omongan kita. Barangkali juga, kita menganggap bahwa berbicara banyak akan menunjukkan kepintaran, kekuatan, atau bahkan kekuasaan terhadap pihak lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, kunci perkataan bergaram terletak pada <b>kualitasnya<\/b>, bukan kuantitas. Bukan tentang jumlah kata, melainkan seberapa besar kontribusi mereka dalam membangun dan menumbuhkan orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Di atas semua itu, kita perlu belajar dari keteladanan dari pembicara terbaik, yaitu Tuhan Yesus sendiri<\/b>. Dalam kisah-kisah Injil, kita melihat bagaimana tutur kata Yesus senantiasa dijiwai hikmat, kesederhanaan, kejelasan, ketegasan, dan terlebih, efektif dalam pengungkapannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ingatlah tiga hal ini sebelum mengucapkan sesuatu:<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>1. Kata-kata itu berkuasa.<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Barangkali kita pernah dengar pembelaan diri atas ucapan yang tidak membuat orang lain bertumbuh. Misalnya, \u201cTapi, saya berniat baik!\u201d atau, \u201cIni demi kebaikannya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang dewasa yang menjadi <i>approval seeker<\/i>. Mereka dibesarkan dengan prinsip <i>reverse psychology<\/i> dalam lingkungan keluarga dan sekolah. Mereka dihujani kritik, tetapi tidak mendapat dukungan, pujian, atau penghargaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kawan, kata-kata kita berkuasa menumbuhkan atau meruntuhkan. Apapun motivasinya, ucapan kita memiliki dampak bagi sesama. <b>Motivasi baik yang tidak disampaikan dengan baik malah akan menghambarkan hati orang.<\/b><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>2. Sebelum berucap, pikirkan: Bagaimana jika saya yang menerima perkataan ini?<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baik terhadap sesama orang percaya, maupun kepada mereka yang sedang kita jangkau, kita perlu kembangkan rasa empati saat bertutur kata. Latihlah kebiasaan menilik keadaan orang lain sebelum mengutarakan sesuatu. Apakah dia sedang marah? Sedang sedih? Kecewa? Lelah?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan memahami perasaan orang lain, niscaya kata-kata kita dapat lebih efektif membangun mereka.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>3. Jika marah, tundalah berkata-kata.<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ibarat gunung berapi meletus, perkataan kita saat sedang marah berpotensi melemparkan apa yang buruk dan kejam. Seringnya pula, kita menyesalinya setelah amarah itu reda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kawan, marah itu manusiawi. Tuhan Yesus menunjukkan kemarahanNya ketika Dia menjungkirbalikkan meja para pedagang di Bait Allah. Namun, ada pemisah yang sangat tipis antara marah dan berdosa. Butuh hikmat dan kedewasaan untuk tidak menembus batasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak ada ruginya menunda kata-kata saat sedang marah. Jangan biarkan lidah menguasai tubuh. Menunda berucap lebih baik, agar kata-kata kita nantinya membangun ketimbang meruntuhkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i><strong>Doa:<\/strong> Bapa, firmanMu adalah satu-satunya perkataan yang penuh kuasa. Dengan firman, Engkau menjadikan segala yang ada dari yang tidak ada. FirmanMu menyelamatkan, menegur, dan membangun. Kiranya kata-kata kami juga mendapat cipratan kuasaMu agar dapat membawa jiwa-jiwa ke dalam KerajaanMu. Amin.<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Disunting dari artikel \u201cPerkataan Yang Dibumbui Garam<em>\u201c<\/em>\u00a0oleh Pdt. Togar Sianturi.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Kita semua tahu bahwa garam berkuasa bikin sebuah hidangan jadi enak atau enek. Garam berperan dalam melezatkan atau merusak rasa masakan. Namun, tahukah, brothers and sisters, bahwa kata-kata kita mirip dengan masakan yang dibubuhi garam? Kurang garam membuat makanan hambar. Sebaliknya, garam yang berlebih bikin haus dan tidak baik untuk kesehatan. Demikian pula, ucapan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46761,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46685","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46761,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/salt.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/salt.jpg?fit=275%2C184&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/salt.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/salt.jpg?fit=275%2C184&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":2,"views":"1341","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46685","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46685"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46685\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46761"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46685"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46685"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46685"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}