{"id":46692,"date":"2022-09-26T08:46:07","date_gmt":"2022-09-26T01:46:07","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tuhan-allah-kita-telah-memperlihatkan-kepada-kita-kemuliaan-dan-kebesaran-nya-ulangan-524\/"},"modified":"2022-09-26T08:46:10","modified_gmt":"2022-09-26T01:46:10","slug":"tuhan-allah-kita-telah-memperlihatkan-kepada-kita-kemuliaan-dan-kebesaran-nya-ulangan-524","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tuhan-allah-kita-telah-memperlihatkan-kepada-kita-kemuliaan-dan-kebesaran-nya-ulangan-524\/","title":{"rendered":"Pohon-pohon murad yang di dalam jurang. [Zakharia 1:8]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Penglihatan dalam pasal ini menggambarkan kondisi Israel pada zaman Zakharia; namun ketika aspek-aspeknya ditafsirkan terhadap kita, penglihatan ini menggambarkan gereja Allah pada masa sekarang. Gereja dibandingkan dengan pohon-pohon murad yang makmur bertumbuh dalam lembah. Tersembunyi, terbengkalai, terpisahkan; tidak mengundang baik penghormatan maupun pandangan dari pengamat yang tidak peduli. Seperti Kepalanya, gereja memiliki kemuliaan, namun terselubungi dari mata daging, karena belum saatnya untuk gereja hadir mencuat dalam segenap kemuliaannya. Terkesan suatu gagasan akan keamanan yang tentram: pohon-pohon murad di jurang tenang dan teduh selagi badai menyapu puncak-puncak gunung. Badai mengamuk pada puncak berkarang pegunungan Alpen, tetapi di bawah sana, di mana mengalir sungai yang menggirangkan kota Allah kita, pohon-pohon murad makmur bertumbuh di samping air yang tenang, tidak satupun tergoyahkan angin ribut. Betapa hebatnya ketentraman batin gereja Allah! Bahkan ketika ditentang dan dianiaya, gereja-Nya tetap memiliki damai yang bukan dari dunia, makanya dunia tidak dapat merenggutnya: damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran umat Tuhan [Filipi 4:7]. Bukankah kiasan ini dengan tegas menggambarkan kedamaian, pertumbuhan tanpa henti orang-orang suci? Pohon-pohon murad tidak menggugurkan daunnya, ia selalu hijau; dan gereja di waktu terburuknya tetap subur; bahkan kadang-kadang gereja justru paling hijau di dalam musim dingin yang paling menggigit. Gereja bertumbuh makmur ketika kesulitan teramat berat. Karena itu ayat ini menyiratkan kemenangan. Pohon murad adalah lambang damai, dan bukti kemenangan yang penting. Dahi para penakluk dibelit oleh daun murad dan salam; dan bukankah gereja selalu menang? Bukankah setiap orang Kristen lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang mengasihi-Nya? [Roma 8:37] Dalam hidup yang damai, tidakkah orang-orang kudus tertidur dalam pelukan kemenangan? RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Penglihatan dalam pasal ini menggambarkan kondisi Israel pada zaman Zakharia; namun ketika aspek-aspeknya ditafsirkan terhadap kita, penglihatan ini menggambarkan gereja Allah pada masa sekarang. Gereja dibandingkan dengan pohon-pohon murad yang makmur bertumbuh dalam lembah. <i>Tersembunyi<\/i>, terbengkalai, terpisahkan; tidak mengundang baik penghormatan maupun pandangan dari pengamat yang tidak peduli. Seperti Kepalanya, gereja memiliki kemuliaan, namun terselubungi dari mata daging, karena belum saatnya untuk gereja hadir mencuat dalam segenap kemuliaannya. Terkesan suatu gagasan akan <i>keamanan yang tentram<\/i>: pohon-pohon murad di jurang tenang dan teduh selagi badai menyapu puncak-puncak gunung. Badai mengamuk pada puncak berkarang pegunungan Alpen, tetapi di bawah sana, di mana mengalir sungai yang menggirangkan kota Allah kita, pohon-pohon murad makmur bertumbuh di samping air yang tenang, tidak satupun tergoyahkan angin ribut. Betapa hebatnya ketentraman batin gereja Allah! Bahkan ketika ditentang dan dianiaya, gereja-Nya tetap memiliki damai yang bukan dari dunia, makanya dunia tidak dapat merenggutnya: damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran umat Tuhan [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Filipi%204:7\">Filipi 4:7<\/a>]. Bukankah kiasan ini dengan tegas menggambarkan kedamaian, <i>pertumbuhan tanpa henti<\/i> orang-orang suci? Pohon-pohon murad tidak menggugurkan daunnya, ia selalu hijau; dan gereja di waktu terburuknya tetap subur; bahkan kadang-kadang gereja justru <i>paling<\/i> hijau di dalam musim dingin yang paling menggigit. Gereja bertumbuh makmur ketika kesulitan teramat berat. Karena itu ayat ini <i>menyiratkan kemenangan<\/i>. Pohon murad adalah lambang damai, dan bukti <i>kemenangan<\/i> yang penting. Dahi para penakluk dibelit oleh daun murad dan salam; dan bukankah gereja selalu menang? Bukankah setiap orang Kristen lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang mengasihi-Nya? [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Roma%208:37\">Roma 8:37<\/a>] Dalam hidup yang damai, tidakkah orang-orang kudus tertidur dalam pelukan kemenangan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Penglihatan dalam pasal ini menggambarkan kondisi Israel pada zaman Zakharia; namun ketika aspek-aspeknya ditafsirkan terhadap kita, penglihatan ini menggambarkan gereja Allah pada masa sekarang. Gereja dibandingkan dengan pohon-pohon murad yang makmur bertumbuh dalam lembah. Tersembunyi, terbengkalai, terpisahkan; tidak mengundang baik penghormatan maupun pandangan dari pengamat yang tidak peduli. Seperti Kepalanya, gereja memiliki kemuliaan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-46692","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":null,"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"542","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46692","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46692"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46692\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46692"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46692"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46692"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}