{"id":46720,"date":"2025-11-28T18:16:52","date_gmt":"2025-11-28T11:16:52","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/engkaupun-seperti-salah-seorang-dari-mereka-itu-obaja-111\/"},"modified":"2025-11-28T18:16:54","modified_gmt":"2025-11-28T11:16:54","slug":"engkaupun-seperti-salah-seorang-dari-mereka-itu-obaja-111","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/engkaupun-seperti-salah-seorang-dari-mereka-itu-obaja-111\/","title":{"rendered":"Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. [3 Yohanes 1:3]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kebenaran berada dalam Gayus, dan Gayus hidup dalam kebenaran. Jika yang pertama tidak terjadi, yang kedua tidak akan pernah terjadi; dan jika yang kedua tidak dikatakan mengenai Gayus, yang pertama akan menjadi sekedar kepura-puraan. Kebenaran harus masuk ke dalam jiwa, menembus dan memenuhinya, kalau tidak kebenaran menjadi tidak bernilai. Doktrin-doktrin yang dipegang sebagai suatu kredo sama seperti roti yang dipegang tangan, yang tidak memberikan gizi pada kerangka tubuh, akan tetapi doktrin yang diterima hati, adalah seperti makanan yang dicerna, yang, dengan asimilasi, menopang dan membangun tubuh. Dalam diri kita kebenaran harus menjadi daya hidup, energi yang aktif, realitas yang tetap tinggal, menjadi bagian dari benang pakan dan benang lungsin diri kita [1]. Jika kebenaran berada dalam diri kita, maka seterusnya kita tidak dapat berpisah dengannya. Seseorang dapat kehilangan pakaiannya atau lengan dan tungkainya, tetapi organ dalamnya vital sehingga tidak dapat dicabut tanpa sepenuhnya kehilangan nyawa. Seorang Kristen dapat mati, tetapi ia tidak dapat menyangkal kebenaran. Nah, aturan alam menyatakan bahwa bagian dalam mempengaruhi bagian luar, seperti cahaya bersinar dari tengah-tengah lentera keluar melewati kacanya: dengan demikian, ketika kebenaran dinyalakan di dalam, cahayanya segera terpancar ke luar dalam hidup dan percakapan. Konon makanan ulat tertentu mempengaruhi warna sutera yang mereka pintal: begitu jugalah gizi yang darinya kodrat batin manusia hidup memberikan semburat pada setiap kata dan tindakan yang keluar darinya. Hidup dalam kebenaran mendatangkan hidup yang jujur, kudus, setia, dan sederhana\u2014yaitu produk alami dari prinsip-prinsip kebenaran yang injil ajarkan, yang mana Roh Allah sanggupkan untuk kita terima. Kita dapat menilai hal-hal yang tersembunyi dari jiwa berdasarkan perwujudannya dalam percakapan seseorang. O Roh maha murah, kami mohon untuk diatur dan diperintah oleh otoritas ilahi-Mu, agar tidak ada kepalsuan atau dosa yang dapat menguasai hati kami, supaya jangan sampai hidup kami di antara umat manusia dipengaruhi niat jahatnya. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kebenaran berada dalam Gayus, dan Gayus hidup dalam kebenaran. Jika yang pertama tidak terjadi, yang kedua tidak akan pernah terjadi; dan jika yang kedua tidak dikatakan mengenai Gayus, yang pertama akan menjadi sekedar kepura-puraan. Kebenaran harus masuk ke dalam jiwa, menembus dan memenuhinya, kalau tidak kebenaran menjadi tidak bernilai. Doktrin-doktrin yang dipegang sebagai suatu kredo sama seperti roti yang dipegang tangan, yang tidak memberikan gizi pada kerangka tubuh, akan tetapi doktrin yang diterima hati, adalah seperti makanan yang dicerna, yang, dengan asimilasi, menopang dan membangun tubuh. Dalam diri kita kebenaran harus menjadi daya hidup, energi yang aktif, realitas yang tetap tinggal, menjadi bagian dari benang pakan dan benang lungsin diri kita [1]. Jika kebenaran berada <i>dalam diri kita<\/i>, maka seterusnya kita tidak dapat berpisah dengannya. Seseorang dapat kehilangan pakaiannya atau lengan dan tungkainya, tetapi organ dalamnya vital sehingga tidak dapat dicabut tanpa sepenuhnya kehilangan nyawa. Seorang Kristen dapat mati, tetapi ia tidak dapat menyangkal kebenaran. Nah, aturan alam menyatakan bahwa bagian dalam mempengaruhi bagian luar, seperti cahaya bersinar dari tengah-tengah lentera keluar melewati kacanya: dengan demikian, ketika kebenaran dinyalakan di dalam, cahayanya segera terpancar ke luar dalam hidup dan percakapan. Konon makanan ulat tertentu mempengaruhi warna sutera yang mereka pintal: begitu jugalah gizi yang darinya kodrat batin manusia hidup memberikan semburat pada setiap kata dan tindakan yang keluar darinya. Hidup dalam kebenaran mendatangkan hidup yang jujur, kudus, setia, dan sederhana\u2014yaitu produk alami dari prinsip-prinsip kebenaran yang injil ajarkan, yang mana Roh Allah sanggupkan untuk kita terima. Kita dapat menilai hal-hal yang tersembunyi dari jiwa berdasarkan perwujudannya dalam percakapan seseorang. O Roh maha murah, kami mohon untuk diatur dan diperintah oleh otoritas ilahi-Mu, agar tidak ada kepalsuan atau dosa yang dapat menguasai hati kami, supaya jangan sampai hidup kami di antara umat manusia dipengaruhi niat jahatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kebenaran berada dalam Gayus, dan Gayus hidup dalam kebenaran. Jika yang pertama tidak terjadi, yang kedua tidak akan pernah terjadi; dan jika yang kedua tidak dikatakan mengenai Gayus, yang pertama akan menjadi sekedar kepura-puraan. Kebenaran harus masuk ke dalam jiwa, menembus dan memenuhinya, kalau tidak kebenaran menjadi tidak bernilai. Doktrin-doktrin yang dipegang sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-46720","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"131","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46720","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46720"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46720\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68553,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46720\/revisions\/68553"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46720"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46720"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46720"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}