{"id":46765,"date":"2020-08-05T08:32:41","date_gmt":"2020-08-05T01:32:41","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46765"},"modified":"2020-07-31T15:48:08","modified_gmt":"2020-07-31T08:48:08","slug":"peringatan-kekurangan-air-hidup-dapat-menyebabkan-dehidrasi-rohani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/peringatan-kekurangan-air-hidup-dapat-menyebabkan-dehidrasi-rohani\/","title":{"rendered":"Peringatan: Kekurangan Air Hidup Dapat Menyebabkan Dehidrasi Rohani"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Berapa lama manusia bisa bertahan hidup tanpa air? Pengamatan ilmiah menyatakan kurunnya berkisar antara tiga hingga tujuh hari (jika udara dingin atau tidak terkena sinar matahari). Dalam cuaca panas, orang dewasa dapat kehilangan 1\u20132 liter keringat dalam satu jam. Ketika kita merasa haus, sebenarnya kita sudah mengalami dehidrasi ringan. Gejala dehidrasi dimulai dari letih, pusing, kelelahan, detak jantung cepat, napas dangkal, hingga gagal ginjal dan kematian. Jika air berperan penting dalam menjaga fungsi optimal dan kesehatan tubuh kita, bayangkan betapa krusialnya Air Hidup bagi tubuh rohani kita. Yesus dan Air Hidup Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: \u201cBarangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!\u201d (Yohanes 7:37) Saat haus, logikanya kita akan mencari sumber air terdekat. Pernahkah Anda coba mengganti asupan air dengan teh manis atau jus buah? Toh, keduanya sama-sama mengandung air. Namun, dahaga itu tidak akan terpuaskan sepenuhnya, karena usai minum, akan tertinggal rasa manis di lidah yang perlu \u2018dibilas\u2019 air. Dalam hidup rohani, kita pun perlu peka dalam mendeteksi rasa haus untuk dekat dengan Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita melipur dahaga tersebut dengan datang ke sumber yang tepat, yaitu Yesus sendiri? Ataukah, kita sibuk mencarinya lewat hal-hal lain yang hanya memberi kepuasan jangka pendek? Gejala Dehidrasi Rohani Berikut dua gejala dehidrasi rohani dan cara-cara menanganinya: 1. Kering dan Layu \u00a0 \u201cBarangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.\u201d (Yohanes 7:38) Kalau kita percaya Yesus, maka di dalam hati kita mengalir air hidup. Kita terhubung langsung dengan Sang Sumber Air Hidup sendiri dan punya hubungan pribadi dengan-Nya setiap hari. Ketika koneksi itu terputus, kita akan mengalami kekeringan rohani. Mungkin kita jadi sulit mendengar suara Tuhan. Jika saat teduh atau momen baca Alkitab mulai terasa seperti rutinitas belaka, itu adalah tanda-tanda hati yang kering. Tindak lanjut: Periksalah apakah aktivitas rohani dan pelayanan kita sudah cukup untuk memuaskan kehausan rohani kita. Apakah kita seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air? Mungkinkah kita sedang lelah dan layu, tidak lagi menghasilkan buah-buah Roh? Masihkah kita terhubung dengan Yesus, Sang Sumber Air Hidup? Dengan menjaga hubungan kita dengan Tuhan, tidak hanya hati kita yang segar, kita pun punya energi dan hikmat untuk menjadi berkat bagi orang lain. \u201cIa seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.\u201d (Mazmur 1:3) 2. Menyusut \u00a0 Salah satu efek dehidrasi berat adalah susutnya sel-sel tubuh. Menyusut dalam konteks lebih luas bisa berarti kondisi yang menurun, melemah, atau merosot. Selain kering dan layu hati, putusnya hubungan dengan Yesus akan melemahkan tubuh rohani kita. Mungkin kita tidak lagi menganggap penting firman Tuhan. Kita bahkan akan mulai mendekati dosa. Jenuh dan lelah itu manusiawi, jadi jangan khawatir. Ada beberapa solusi untuk mengembalikan kesegaran tubuh rohani kita. Tindak lanjut: Terapkan variasi tempat atau metode agar saat teduh Anda menjadi pengalaman harian yang bermakna dan unik. Ikuti retreat, atau pendalaman rohani seperti pertemuan diskusi Alkitab. Diskusikan empat mata dengan saudara atau saudari agar mereka dapat membantu mendoakan atau memberi saran. Kawan, jangan anggap remeh tanda-tanda kekeringan hati. Mengetahui gejala-gejala dehidrasi rohani dapat membantu kita mencari pertolongan sedini mungkin dari komunitas kita. Hubungkanlah diri senantiasa dengan Sang Sumber Air Hidup, niscaya kita takkan mengalami dehidrasi rohani. \u201cDiberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.\u201d (Yeremia 17:7-8). (gkdi.org)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Berapa lama manusia bisa bertahan hidup tanpa air? Pengamatan ilmiah menyatakan kurunnya berkisar antara tiga hingga tujuh hari (jika udara dingin atau tidak terkena sinar matahari). Dalam cuaca panas, orang dewasa dapat kehilangan 1\u20132 liter keringat dalam satu jam. Ketika kita merasa haus, sebenarnya kita sudah mengalami dehidrasi ringan. Gejala dehidrasi dimulai dari letih, pusing, kelelahan, detak jantung cepat, napas dangkal, hingga gagal ginjal dan kematian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika air berperan penting dalam menjaga fungsi optimal dan kesehatan tubuh kita, bayangkan betapa krusialnya Air Hidup bagi tubuh rohani kita.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>Yesus dan Air Hidup<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3691 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-1.jpg?resize=642%2C428&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 642px) 100vw, 642px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-1.jpg 800w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-1-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-1-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-1-630x420.jpg 630w\" alt=\"air hidup- gkdi 1\" width=\"642\" height=\"428\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: \u201cBarangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!\u201d (Yohanes 7:37)<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat haus, logikanya kita akan mencari sumber air terdekat. Pernahkah Anda coba mengganti asupan air dengan teh manis atau jus buah? Toh, keduanya sama-sama mengandung air. Namun, dahaga itu tidak akan terpuaskan sepenuhnya, karena usai minum, akan tertinggal rasa manis di lidah yang perlu \u2018dibilas\u2019 air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam hidup rohani, kita pun perlu peka dalam mendeteksi rasa haus untuk dekat dengan Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertanyaannya, apakah kita melipur dahaga tersebut dengan datang ke sumber yang tepat, yaitu Yesus sendiri? Ataukah, kita sibuk mencarinya lewat hal-hal lain yang hanya memberi kepuasan jangka pendek?<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>Gejala Dehidrasi Rohani<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berikut dua gejala dehidrasi rohani dan cara-cara menanganinya:<\/p>\n<div class=\"indent\" style=\"text-align: justify;\">\n<h4><b>1. Kering dan Layu<\/b><\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3694 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-2.jpeg?resize=642%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 642px) 100vw, 642px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-2.jpeg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-2-300x199.jpeg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-2-768x510.jpeg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-2-696x462.jpeg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-2-633x420.jpeg 633w\" alt=\"air hidup - gkdi 2\" width=\"642\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p><i>\u201cBarangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.\u201d (Yohanes 7:38) <\/i><\/p>\n<p>Kalau kita percaya Yesus, maka di dalam hati kita mengalir air hidup. Kita terhubung langsung dengan Sang Sumber Air Hidup sendiri dan punya hubungan pribadi dengan-Nya setiap hari.<\/p>\n<p>Ketika koneksi itu terputus, kita akan mengalami kekeringan rohani. Mungkin kita jadi sulit mendengar suara Tuhan. Jika saat teduh atau momen baca Alkitab mulai terasa seperti rutinitas belaka, itu adalah tanda-tanda hati yang kering.<\/p>\n<p><b>Tindak lanjut:<\/b> Periksalah apakah aktivitas rohani dan pelayanan kita sudah cukup untuk memuaskan kehausan rohani kita. Apakah kita seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air? Mungkinkah kita sedang lelah dan layu, tidak lagi menghasilkan buah-buah Roh? Masihkah kita terhubung dengan Yesus, Sang Sumber Air Hidup?<\/p>\n<p>Dengan menjaga hubungan kita dengan Tuhan, tidak hanya hati kita yang segar, kita pun punya energi dan hikmat untuk menjadi berkat bagi orang lain.<\/p>\n<p><i>\u201cIa seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.\u201d (Mazmur 1:3)<\/i><\/p>\n<h4><b>2. Menyusut<\/b><\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3693 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-3-682x1024.jpg?resize=428%2C642&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 428px) 100vw, 428px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-3-682x1024.jpg 682w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-3-200x300.jpg 200w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-3-768x1154.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-3-696x1046.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-3-280x420.jpg 280w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/air-hidup-gkdi-3.jpg 852w\" alt=\"air hidup - gkdi 3\" width=\"428\" height=\"642\" \/><\/p>\n<p>Salah satu efek dehidrasi berat adalah susutnya sel-sel tubuh. Menyusut dalam konteks lebih luas bisa berarti kondisi yang menurun, melemah, atau merosot.<\/p>\n<p>Selain kering dan layu hati, putusnya hubungan dengan Yesus akan melemahkan tubuh rohani kita. Mungkin kita tidak lagi menganggap penting firman Tuhan. Kita bahkan akan mulai mendekati dosa.<\/p>\n<p>Jenuh dan lelah itu manusiawi, jadi jangan khawatir. Ada beberapa solusi untuk mengembalikan kesegaran tubuh rohani kita.<\/p>\n<p><b>Tindak lanjut:<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Terapkan variasi tempat atau metode agar saat teduh Anda menjadi pengalaman harian yang bermakna dan unik.<\/li>\n<li>Ikuti retreat, atau pendalaman rohani seperti pertemuan diskusi Alkitab.<\/li>\n<li>Diskusikan empat mata dengan saudara atau saudari agar mereka dapat membantu mendoakan atau memberi saran.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kawan, jangan anggap remeh tanda-tanda kekeringan hati. Mengetahui gejala-gejala dehidrasi rohani dapat membantu kita mencari pertolongan sedini mungkin dari komunitas kita. Hubungkanlah diri senantiasa dengan Sang Sumber Air Hidup, niscaya kita takkan mengalami dehidrasi rohani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>\u201cDiberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.\u201d (Yeremia 17:7-8). (gkdi.org)<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Berapa lama manusia bisa bertahan hidup tanpa air? Pengamatan ilmiah menyatakan kurunnya berkisar antara tiga hingga tujuh hari (jika udara dingin atau tidak terkena sinar matahari). Dalam cuaca panas, orang dewasa dapat kehilangan 1\u20132 liter keringat dalam satu jam. Ketika kita merasa haus, sebenarnya kita sudah mengalami dehidrasi ringan. Gejala dehidrasi dimulai dari letih, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46771,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46765","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46771,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/water.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/water.jpg?fit=275%2C183&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/water.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/water.jpg?fit=275%2C183&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1317","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46765","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46765"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46765\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46771"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46765"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46765"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46765"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}