{"id":46776,"date":"2020-10-10T07:03:22","date_gmt":"2020-10-10T00:03:22","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46776"},"modified":"2020-10-08T10:47:58","modified_gmt":"2020-10-08T03:47:58","slug":"saya-takut-mengecewakan-orang-belajar-berkata-tidak-dengan-iman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/saya-takut-mengecewakan-orang-belajar-berkata-tidak-dengan-iman\/","title":{"rendered":"Saya Takut Mengecewakan Orang: Belajar Berkata Tidak dengan Iman"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Ketika keluarga kami pindah melintasi negeri agar suami saya dapat melakukan pelayanan, saya turut melibatkan diri dalam sejumlah komitmen dan kesempatan. Sebagai istri pendeta yang baru, saya merasa bertanggung jawab untuk menghadiri sejumlah Bible studies, rapat, dan pertemuan sosial. Saya berasumsi itulah yang orang lain harapkan dari saya. Bahwa saya harus mengatakan \u201cya\u201d. Namun, dalam semangat saya untuk berbaur, mendapat teman baru, dan menjalankan peran tak tertulis seorang istri pendeta, saya melakukan sebuah kesalahan: Saya mengambil banyak keputusan berdasarkan rasa takut, alih-alih iman. Saya khawatir jika saya tidak menyetujui segala hal, saya akan kehilangan teman, mengecewakan jemaat, dan gagal memenuhi harapan orang lain. Jadi, saya ikut Bible study, menghadiri pesta makan malam, dan membantu di penitipan anak. Rasa takut akan ditinggal mendorong saya mengiyakan terlalu banyak komitmen. Saya jadi mudah marah dan cemas. Kendati setiap hal yang saya iyakan memang baik adanya, saya belajar dengan cepat bahwa tidak semuanya baik untuk saya saat ini. Suami dan anak-anak saya juga merasakan konsekuensi stres saya. Saya merasa tegang setiap saat. Kenapa? Karena saya takut bilang tidak. Ketika Kita Biarkan Ketakutan Memegang Kendali Setiap kali rasa takut menyetir pilihan-pilihan kita, kenalilah itu sebagai siaga merah bahwa kita tidak berjalan selaras dengan Roh Kudus. Dalam Yohanes 14, Yesus mengucapkan kata-kata penuh makna ini kepada murid-murid-Nya: \u201cDamai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu\u201d (Yohanes 14:27). Ketika Yesus menyatakan ini, Dia tahu kelak para murid-Nya akan dihadapkan pada pilihan-pilihan paling sulit dalam hidup. Salib itu menanti, dan mereka harus memilih antara menyelaraskan diri dengan-Nya ketika Dia dituduh dan dibunuh, atau dengan para pemimpin agama dan orang banyak. Kita tahu bagaimana lanjutan kisah ini. Setiap murid meninggalkan Yesus. Mereka menyerah pada ketakutan terhadap kaum Farisi dan massa, dan ketika Yesus ditangkap, mereka kabur. Petrus menyangkal Yesus, bahkan sampai bersumpah tidak mengenal-Nya. Mengapa Kita Menyerah? Mengapa para murid\u2014yang mengenal Yesus dengan dalam\u2014melarikan diri pada tanda-tanda pertama penganiayaan yang nyata? Karena mereka takut. Dan, rasa takut membuat kita mengambil pilihan-pilihan yang tidak ilahi atau baik. Saat ketakutan, kita bertindak berdasarkan insting pertahanan dan perlindungan diri, ketimbang sepenuh hati memercayai Tuhan dan bersuka di dalam-Nya. Kita berfokus menyenangkan orang, alih-alih menyenangkan Allah kita (Yohanes 12:43). Dan, rasul Paulus memperingatkan, \u201cAdakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus\u201d (Galatia 1:10). Yesus memberi ucapan damai sejahtera karena tahu murid-muridnya akan ketakutan\u2014takut pada apa yang dipikirkan atau dilakukan orang lain ketika guru mereka diseret ke pengadilan, disiksa, dan disalib. Namun, Kristus juga tahu bahwa apa yang Dia tawarkan kepada mereka\u2014damai sejahtera-Nya\u2014lebih kuat daripada ketakutan. Dia meminta mereka untuk percaya kepada-Nya, bukan kepada keinginan rapuh dan kosong dari para pemimpin agama dan khalayak ramai. Cara Melepaskan Rasa Takut akan Mengecewakan Orang Yesus meminta para murid-Nya melakukan hal sulit, dan Dia meminta kita melakukan hal yang sama sekarang. Bagaimana agar hati kita terbebas dari ketakutan yang memaksa kita setuju pada hal-hal yang tidak baik atau ilahi (baik sekarang atau kapan pun)? Bagaimana cara melepaskan diri dari sikap people-pleasing? 1. Basuh Pikiran dalam Firman Tuhan Pesan Yesus tentang apa arti mencintai dan mengikuti-Nya itu jelas: \u201cJika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku\u201d (Yohanes 14:23-24) Kita perlu mengenal kata-kata-Nya untuk memahami apa makna ketaatan, untuk mematuhi firman-Nya. Kita harus mulai dengan meresapi isi Alkitab, agar kita mampu membedakan dan menyetujui apa yang baik dan berkenan bagi Allah, bukan bagi kita atau sesama. 2. Fokus pada Pahala Kekal Kendati melakukan, mengatakan, atau terlibat dalam hal-hal yang menyenangkan orang lain tampaknya menguntungkan untuk sementara, pada kenyataannya, tak seorang pun memiliki kuasa atas hidup atau masa depan kita. Mereka tidak dapat menyelamatkan, menyenangkan, atau memberi kita hidup kekal. Hanya Kristus yang dapat melakukannya, dan Dia berjanji memberikan anugerah itu ketika kita mengikuti dan mematuhi-Nya (Matius 25:23, Wahyu 2:7). 3. Minta Bantuan untuk Bilang Tidak Jika perlu, mintalah bantuan orang percaya lain saat harus mengambil keputusan sulit dan kudus untuk bilang \u201ctidak\u201d. Memang, sulit rasanya untuk menolak ketika kita tahu itu akan membuat orang lain kecewa\u2014terutama jika mereka meminta kita melakukan sesuatu yang baik. Namun, kita tidak bisa bilang \u201cya\u201d untuk segala hal, di setiap waktu. Dan, kita tidak boleh bertindak karena takut membuat orang lain kesal, alih-alih untuk menyenangkan Kristus. Ajaklah pasangan, teman, dan pembimbing rohani untuk membantu Anda merespon kesempatan dan permintaan dengan hikmat dan doa\u2014bukan dengan ketakutan akan mengecewakan orang lain. Apa yang Bukan Bagian Kita Rasa damai dan takut tak dapat tinggal dalam hati yang sama, di waktu yang sama. Sebagai ganti rasa takut akan mengecewakan orang, Yesus telah memberikan diri-Nya kepada kita. Dan, ketika kita mencari Kristus dan kerajaan-Nya melalui firman\u2014lewat perspektif kekal dan bersama orang-orang kudus\u2014kita dapat berkata \u201cya\u201d kepada panggilan Tuhan, bukan kepada apa yang bukan menjadi bagian kita. Walaupun kita mungkin mengecewakan orang lain untuk sementara, kita dapat maju dengan penuh percaya diri, karena tahu kita menyenangkan Pencipta dan Penebus jiwa kita. Dia akan memberikan damai-Nya kepada kita, beserta janji kehidupan kekal dan sukacita di dalam Allah, jika kita menaati perintah-Nya.(gkdi.org)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Ketika keluarga kami pindah melintasi negeri agar suami saya dapat melakukan pelayanan, saya turut melibatkan diri dalam sejumlah komitmen dan kesempatan. Sebagai istri pendeta yang baru, saya merasa bertanggung jawab untuk menghadiri sejumlah <i>Bible studies,<\/i> rapat, dan pertemuan sosial. Saya berasumsi itulah yang orang lain harapkan dari saya. Bahwa saya harus mengatakan \u201cya\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, dalam semangat saya untuk berbaur, mendapat teman baru, dan menjalankan peran tak tertulis seorang istri pendeta, saya melakukan sebuah kesalahan: Saya mengambil banyak keputusan berdasarkan rasa takut, alih-alih iman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya khawatir jika saya tidak menyetujui segala hal, saya akan kehilangan teman, mengecewakan jemaat, dan gagal memenuhi harapan orang lain. Jadi, saya ikut Bible study, menghadiri pesta makan malam, dan membantu di penitipan anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasa takut akan ditinggal mendorong saya mengiyakan terlalu banyak komitmen. Saya jadi mudah marah dan cemas. Kendati setiap hal yang saya iyakan memang baik adanya, saya belajar dengan cepat bahwa tidak semuanya baik untuk saya <i>saat ini<\/i>. Suami dan anak-anak saya juga merasakan konsekuensi stres saya. Saya merasa tegang setiap saat. Kenapa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena saya takut bilang tidak.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>Ketika Kita Biarkan Ketakutan Memegang Kendali<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4985 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-1-300x212.jpg?resize=640%2C452&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-1-300x212.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-1-100x70.jpg 100w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-1-596x420.jpg 596w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-1.jpg 600w\" alt=\"mengecewakan - gkdi 1\" width=\"640\" height=\"452\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap kali rasa takut menyetir pilihan-pilihan kita, kenalilah itu sebagai siaga merah bahwa kita tidak berjalan selaras dengan Roh Kudus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam Yohanes 14, Yesus mengucapkan kata-kata penuh makna ini kepada murid-murid-Nya: <i>\u201cDamai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu\u201d (Yohanes 14:27).<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Yesus menyatakan ini, Dia tahu kelak para murid-Nya akan dihadapkan pada pilihan-pilihan paling sulit dalam hidup. Salib itu menanti, dan mereka harus memilih antara menyelaraskan diri dengan-Nya ketika Dia dituduh dan dibunuh, atau dengan para pemimpin agama dan orang banyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita tahu bagaimana lanjutan kisah ini. Setiap murid meninggalkan Yesus. Mereka menyerah pada ketakutan terhadap kaum Farisi dan massa, dan ketika Yesus ditangkap, mereka kabur. Petrus menyangkal Yesus, bahkan sampai bersumpah tidak mengenal-Nya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>Mengapa Kita Menyerah?<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4986 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-2-300x200.jpg?resize=640%2C427&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-2.jpg 600w\" alt=\"mengecewakan - gkdi 2\" width=\"640\" height=\"427\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa para murid\u2014yang mengenal Yesus dengan dalam\u2014melarikan diri pada tanda-tanda pertama penganiayaan yang nyata?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena mereka takut. Dan, rasa takut membuat kita mengambil pilihan-pilihan yang tidak ilahi atau baik. Saat ketakutan, kita bertindak berdasarkan insting pertahanan dan perlindungan diri, ketimbang sepenuh hati memercayai Tuhan dan bersuka di dalam-Nya. Kita berfokus menyenangkan orang, alih-alih menyenangkan Allah kita (Yohanes 12:43).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan, rasul Paulus memperingatkan, <i>\u201cAdakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus\u201d (Galatia 1:10).<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yesus memberi ucapan damai sejahtera karena tahu murid-muridnya akan ketakutan\u2014takut pada apa yang dipikirkan atau dilakukan orang lain ketika guru mereka diseret ke pengadilan, disiksa, dan disalib. Namun, Kristus juga tahu bahwa apa yang Dia tawarkan kepada mereka\u2014damai sejahtera-Nya\u2014lebih kuat daripada ketakutan. Dia meminta mereka untuk percaya kepada-Nya, bukan kepada keinginan rapuh dan kosong dari para pemimpin agama dan khalayak ramai.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>Cara Melepaskan Rasa Takut akan Mengecewakan Orang<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yesus meminta para murid-Nya melakukan hal sulit, dan Dia meminta kita melakukan hal yang sama sekarang. Bagaimana agar hati kita terbebas dari ketakutan yang memaksa kita setuju pada hal-hal yang tidak baik atau ilahi (baik sekarang atau kapan pun)? Bagaimana cara melepaskan diri dari sikap <i>people-pleasing<\/i>?<\/p>\n<div class=\"indent\" style=\"text-align: justify;\">\n<h4><strong>1. Basuh Pikiran dalam Firman Tuhan<\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4987 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-3-300x200.jpg?resize=640%2C427&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-3-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-3.jpg 600w\" alt=\"mengecewakan - gkdi 3\" width=\"640\" height=\"427\" \/><\/p>\n<p>Pesan Yesus tentang apa arti mencintai dan mengikuti-Nya itu jelas: <i>\u201cJika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku\u201d (Yohanes 14:23-24)<\/i><\/p>\n<p>Kita perlu mengenal kata-kata-Nya untuk memahami apa makna ketaatan, untuk mematuhi firman-Nya. Kita harus mulai dengan meresapi isi Alkitab, agar kita mampu membedakan dan menyetujui apa yang baik dan berkenan bagi Allah, bukan bagi kita atau sesama.<\/p>\n<h4><strong>2. Fokus pada Pahala Kekal<\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4988 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-4-300x200.jpg?resize=640%2C427&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-4-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-4.jpg 600w\" alt=\"mengecewakan - gkdi 4\" width=\"640\" height=\"427\" \/><\/p>\n<p>Kendati melakukan, mengatakan, atau terlibat dalam hal-hal yang menyenangkan orang lain tampaknya menguntungkan untuk sementara, pada kenyataannya, tak seorang pun memiliki kuasa atas hidup atau masa depan kita. Mereka tidak dapat menyelamatkan, menyenangkan, atau memberi kita hidup kekal. Hanya Kristus yang dapat melakukannya, dan Dia berjanji memberikan anugerah itu ketika kita mengikuti dan mematuhi-Nya (Matius 25:23, Wahyu 2:7).<\/p>\n<h4><strong>3. Minta Bantuan untuk Bilang Tidak<\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4989 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-5-300x200.jpg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-5-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-5.jpg 600w\" alt=\"mengecewakan - gkdi 5\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Jika perlu, mintalah bantuan orang percaya lain saat harus mengambil keputusan sulit dan kudus untuk bilang \u201ctidak\u201d.<\/p>\n<p>Memang, sulit rasanya untuk menolak ketika kita tahu itu akan membuat orang lain kecewa\u2014terutama jika mereka meminta kita melakukan sesuatu yang baik. Namun, kita tidak bisa bilang \u201cya\u201d untuk segala hal, di setiap waktu. Dan, kita tidak boleh bertindak karena takut membuat orang lain kesal, alih-alih untuk menyenangkan Kristus.<\/p>\n<p>Ajaklah pasangan, teman, dan pembimbing rohani untuk membantu Anda merespon kesempatan dan permintaan dengan hikmat dan doa\u2014bukan dengan ketakutan akan mengecewakan orang lain.<\/p>\n<\/div>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>Apa yang Bukan Bagian Kita<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4990 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-6-300x200.jpg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-6-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/mengecewakan-gkdi-6.jpg 600w\" alt=\"mengecewakan - gkdi 6\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasa damai dan takut tak dapat tinggal dalam hati yang sama, di waktu yang sama. Sebagai ganti rasa takut akan mengecewakan orang, Yesus telah memberikan diri-Nya kepada kita. Dan, ketika kita mencari Kristus dan kerajaan-Nya melalui firman\u2014lewat perspektif kekal dan bersama orang-orang kudus\u2014kita dapat berkata \u201cya\u201d kepada panggilan Tuhan, bukan kepada apa yang bukan menjadi bagian kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun kita mungkin mengecewakan orang lain untuk sementara, kita dapat maju dengan penuh percaya diri, karena tahu kita menyenangkan Pencipta dan Penebus jiwa kita. Dia akan memberikan damai-Nya kepada kita, beserta janji kehidupan kekal dan sukacita di dalam Allah, jika kita menaati perintah-Nya.(gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Ketika keluarga kami pindah melintasi negeri agar suami saya dapat melakukan pelayanan, saya turut melibatkan diri dalam sejumlah komitmen dan kesempatan. Sebagai istri pendeta yang baru, saya merasa bertanggung jawab untuk menghadiri sejumlah Bible studies, rapat, dan pertemuan sosial. Saya berasumsi itulah yang orang lain harapkan dari saya. Bahwa saya harus mengatakan \u201cya\u201d. Namun, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46554,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46776","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46554,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/body-shaming.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/body-shaming.jpg?fit=600%2C400&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/body-shaming.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/body-shaming.jpg?fit=600%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"964","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46776","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46776"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46776\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46554"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46776"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46776"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46776"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}