{"id":46783,"date":"2020-08-13T08:02:04","date_gmt":"2020-08-13T01:02:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46783"},"modified":"2020-07-31T16:16:21","modified_gmt":"2020-07-31T09:16:21","slug":"3-nasihat-bijak-dari-zaman-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/3-nasihat-bijak-dari-zaman-sekolah\/","title":{"rendered":"3 Nasihat Bijak dari Zaman Sekolah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Kita semua pasti pernah menerima nasihat, baik yang diberikan tanpa diminta atau yang kita minta dari orang lain. Mulai dari yang sederhana, seperti petunjuk jalan atau kiat membeli barang, hingga nasihat tentang kehidupan. Saya pribadi masih ingat beberapa nasihat yang diberikan oleh guru dan dosen saya bertahun-tahun lalu. Mengapa? Karena, nasihat mereka tak lekang waktu, bermakna dalam, dan masih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari hingga saya dewasa. Inilah tiga nasihat bijak mereka yang dapat Anda terapkan: 1. Jangan Gadaikan Lapakmu di Surga Setiap kali, sebelum saya dan teman-teman mengerjakan ulangan, guru matematika SMA kami akan mengucapkan nasihat di atas. Lho, apa hubungannya ulangan dengan gadai lapak? Menurut beliau, menyontek berarti berkompromi dengan dosa. Dan, berkompromi dengan dosa (betapa pun kecil atau kepepetnya itu) sama dengan menggadaikan tempat yang Tuhan siapkan bagi kita di surga. Ingat kisah Esau yang menjual hak kesulungannya kepada Yakub hanya dengan imbalan semangkuk sup kacang merah (Kejadian 25:29-34)? Kenapa Esau mau melakukan itu? Sepulang berburu, Esau pasti lelah dan lapar. Bisa dibayangkan, aroma sup kacang merah masakan Yakub pastilah begitu menggoda. Karenanya, Esau langsung setuju ketika Yakub menuntut imbalan hak kesulungan sebagai ganti semangkuk sup. Esau memandang rendah hak kesulungan dan rela mengorbankan hal yang begitu berharga hanya demi makanan. Ia memilih memuaskan hawa nafsunya ketimbang mempertahankan privilesenya sebagai anak sulung. Memang, pada akhirnya Esau menyesali keputusan gegabahnya. Tapi, apa yang bisa ia perbuat? Tidak ada. Esau harus menerima resiko bahwa ia takkan pernah mendapatkan berkat terbaik, yang sudah ia jual kepada Yakub. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata. \u2013 Ibrani 12:16-17 Apakah saat ini Anda sedang menggadaikan lapak Anda di surga? Dosa apa yang Anda kompromikan? Hargailah tempat Anda di surga. Itu bukanlah sesuatu yang Anda usahakan sendiri, melainkan kasih karunia Tuhan. Ada nyawa yang harus dikorbankan supaya kita punya lapak di sana, yaitu nyawa Yesus Kristus. Jangan gadaikan lapak Anda di surga untuk dosa atau hal kecil. Terlalu mahal harga yang harus Anda bayar! Di kemudian hari, ketika Anda menyesal, Anda takkan dapat melakukan apa-apa lagi karena nasi sudah menjadi bubur. 2. Jangan Genapi Nubuat Sendiri Sadarkah Anda bahwa Anda sering bernubuat? Dan, bahwa Anda sendirilah yang menggenapi nubuat tersebut? Maksudnya bagaimana? Guru matematika saya yang lain berkata, \u201cKalau kalian bilang, \u2018matematika adalah pelajaran yang paling sulit buatku,\u2019 berarti siapa yang merancang nubuat ini? Kalian sendiri, bukan? \u201cDan, ketika nilai ulangan kalian jelek, kalian berkata, \u2018Tuh, kan, apa kubilang? Aku memang paling enggak bisa pelajaran matematika.\u2019 Bukankah itu artinya kalian menggenapi nubuat kalian sendiri?\u201d Seperti halnya anak-anak yang mengeluh soal pelajaran, kita pun mungkin sering berkata, \u201cSaya tidak cocok bekerja di bidang ini. Saya tidak bisa bicara di depan umum. Saya tidak bisa apa-apa, tidak berharga. Juga bukan orang berbakat. Dan tidak bisa memimpin,\u201d dan seterusnya. Begitu banyak nubuat negatif yang kita buat untuk diri sendiri setiap hari. Bukan Tuhan, melainkan kitalah yang menetapkan semua itu. Dan, sayangnya, kita pulalah yang menggenapinya, karena secara tak langsung, apa yang kita percaya akan membuahkan hasil sesuai keyakinan tersebut. Sebab katanya: \u201cAsal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.\u201d Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. \u2013 Markus 5:28-29 Keyakinan Anda akan sesuatu akan memengaruhi hasil yang Anda terima. Ucapan adalah doa. Jika Anda selalu bersikap negatif, hal-hal negatif pulalah yang akan Anda tuai. Namun, jika Anda meyakini dan mengungkapkan apa yang positif, hal positiflah yang akan terjadi dalam hidup Anda. Jadi, jangan genapi nubuat yang Anda buat sendiri\u2014jika itu adalah hal yang negatif. Anda boleh ubah kalimatnya menjadi: \u201cGenapilah nubuat Anda sendiri, jika itu adalah hal yang positif.\u201d 3. Jangan Ulangi \u201cTema Skripsi\u201d Orang Lain Nasihat ini diberikan oleh seorang dosen sebelum saya mengerjakan tugas akhir. Lalu, kenapa tidak boleh mengulangi tema skripsi yang sudah dikerjakan orang lain? \u201cKarena Anda tak perlu lagi membuktikan hal-hal yang sudah dibuktikan oleh orang lain,\u201d tegas beliau. Misalnya, sudah ada eksperimen ekstrak bunga A, B, dan C yang dijadikan teh berkonsentrasi 50% untuk menurunkan kadar diabetes pada tikus. Hasil menunjukkan ekstrak bunga C-lah yang paling efektif. \u201cAnda boleh saja menggunakan eksperimen serupa, tetapi dengan menggunakan tipe bunga berbeda, misalnya C, D, dan E. Bisa jadi, ada ekstrak bunga lain yang lebih efektif menurunkan diabetes,\u201d jelasnya. \u201cAtau, Anda tetap menggunakan bunga A, B, dan C untuk menguji apakah bunga C juga efektif menurunkan kolesterol pada tikus.\u201d Intinya, ada banyak variasi metode yang bisa diterapkan dalam sebuah eksperimen. Mengulangi jalan yang sudah dibuktikan orang lain hanya akan membuang-buang waktu dan energi. Demikian pula dalam hidup, ada banyak hal yang sudah dibuktikan oleh orang lain. Misalnya, sudah terbukti bahwa merokok memicu banyak penyakit. Atau, bahwa kemalasan merugikan diri dan masa depan seseorang. Lalu, mengapa kita masih melakukan hal-hal tersebut? Apakah kita harus membuktikan sendiri dampaknya supaya bisa percaya? Hidup ini terlalu singkat hanya untuk mengulangi eksperimen atas hal-hal yang sudah terbukti. Belajarlah\u2014bukan hanya dari kesalahan sendiri, melainkan juga dari kesalahan orang lain. Dengan demikian, Anda bisa menghemat banyak waktu, uang, dan tenaga tanpa harus \u2018terjatuh di lubang yang sama.\u2019 Lalu kata Yesus: \u201cAkupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.\u201d \u2013 Yohanes 8:11b Manusia bisa jatuh ke dalam dosa, tetapi Tuhan tidak ingin kita melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Dengan belajar dari kesalahan masa lalu dan orang lain, kita dapat membangun hidup yang semakin baik dan benar. Semoga nasihat-nasihat bijak para guru saya bisa menjadi bahan renungan dan pengingat yang ampuh agar hidup Anda semakin selaras dengan kehendak Allah. Have a nice day! (gkdi.org)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Kita semua pasti pernah menerima nasihat, baik yang diberikan tanpa diminta atau yang kita minta dari orang lain. Mulai dari yang sederhana, seperti petunjuk jalan atau kiat membeli barang, hingga nasihat tentang kehidupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya pribadi masih ingat beberapa nasihat yang diberikan oleh guru dan dosen saya bertahun-tahun lalu. Mengapa? Karena, nasihat mereka tak lekang waktu, bermakna dalam, dan masih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari hingga saya dewasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah tiga nasihat bijak mereka yang dapat Anda terapkan:<\/p>\n<div class=\"indent\" style=\"text-align: justify;\">\n<h4><b>1. Jangan Gadaikan Lapakmu di Surga<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5724 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/nasihat-gkdi-1-300x200.jpg?resize=637%2C424&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 637px) 100vw, 637px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/nasihat-gkdi-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/nasihat-gkdi-1.jpg 600w\" alt=\"nasihat - gkdi 1\" width=\"637\" height=\"424\" \/><\/p>\n<p>Setiap kali, sebelum saya dan teman-teman mengerjakan ulangan, guru matematika SMA kami akan mengucapkan nasihat di atas.<\/p>\n<p><i>Lho<\/i>, apa hubungannya ulangan dengan gadai lapak?<\/p>\n<p>Menurut beliau, menyontek berarti berkompromi dengan dosa. Dan, berkompromi dengan dosa (betapa pun kecil atau kepepetnya itu) sama dengan menggadaikan tempat yang Tuhan siapkan bagi kita di surga.<\/p>\n<p>Ingat kisah Esau yang menjual hak kesulungannya kepada Yakub hanya dengan imbalan semangkuk sup kacang merah <i>(<\/i><i>Kejadian 25:29-34<\/i><i>)<\/i>? Kenapa Esau mau melakukan itu?<\/p>\n<p>Sepulang berburu, Esau pasti lelah dan lapar. Bisa dibayangkan, aroma sup kacang merah masakan Yakub pastilah begitu menggoda. Karenanya, Esau langsung setuju ketika Yakub menuntut imbalan hak kesulungan sebagai ganti semangkuk sup.<\/p>\n<p>Esau memandang rendah hak kesulungan dan rela mengorbankan hal yang begitu berharga hanya demi makanan. Ia memilih memuaskan hawa nafsunya ketimbang mempertahankan privilesenya sebagai anak sulung.<\/p>\n<p>Memang, pada akhirnya Esau menyesali keputusan gegabahnya. Tapi, apa yang bisa ia perbuat? Tidak ada. Esau harus menerima resiko bahwa ia takkan pernah mendapatkan berkat terbaik, yang sudah ia jual kepada Yakub.<\/p>\n<p><i>Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata. \u2013 Ibrani 12:16-17<\/i><\/p>\n<p>Apakah saat ini Anda sedang menggadaikan lapak Anda di surga? Dosa apa yang Anda kompromikan?<\/p>\n<p>Hargailah tempat Anda di surga. Itu bukanlah sesuatu yang Anda usahakan sendiri, melainkan kasih karunia Tuhan. Ada nyawa yang harus dikorbankan supaya kita punya lapak di sana, yaitu nyawa Yesus Kristus.<\/p>\n<p>Jangan gadaikan lapak Anda di surga untuk dosa atau hal kecil. Terlalu mahal harga yang harus Anda bayar! Di kemudian hari, ketika Anda menyesal, Anda takkan dapat melakukan apa-apa lagi karena nasi sudah menjadi bubur.<\/p>\n<h4><b>2. Jangan Genapi Nubuat Sendiri<\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5730 size-full td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/priscilla-du-preez-1417039-unsplash.jpg?resize=800%2C533&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/priscilla-du-preez-1417039-unsplash.jpg 800w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/priscilla-du-preez-1417039-unsplash-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/priscilla-du-preez-1417039-unsplash-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/priscilla-du-preez-1417039-unsplash-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/priscilla-du-preez-1417039-unsplash-630x420.jpg 630w\" alt=\"nasihat - Gkdi\" width=\"800\" height=\"533\" \/><\/p>\n<p>Sadarkah Anda bahwa Anda sering bernubuat? Dan, bahwa Anda sendirilah yang menggenapi nubuat tersebut?<\/p>\n<p>Maksudnya bagaimana?<\/p>\n<p>Guru matematika saya yang lain berkata, \u201cKalau kalian bilang, \u2018matematika adalah pelajaran yang paling sulit buatku,\u2019 berarti siapa yang merancang nubuat ini? Kalian sendiri, bukan?<\/p>\n<p>\u201cDan, ketika nilai ulangan kalian jelek, kalian berkata, \u2018Tuh, kan, apa kubilang? Aku memang paling enggak bisa pelajaran matematika.\u2019 Bukankah itu artinya kalian menggenapi nubuat kalian sendiri?\u201d<\/p>\n<p>Seperti halnya anak-anak yang mengeluh soal pelajaran, kita pun mungkin sering berkata, \u201cSaya tidak cocok bekerja di bidang ini. Saya tidak bisa bicara di depan umum. Saya tidak bisa apa-apa, tidak berharga. Juga bukan orang berbakat. Dan tidak bisa memimpin,\u201d dan seterusnya.<\/p>\n<p>Begitu banyak nubuat negatif yang kita buat untuk diri sendiri setiap hari. Bukan Tuhan, melainkan kitalah yang menetapkan semua itu. Dan, sayangnya, kita pulalah yang menggenapinya, karena secara tak langsung, apa yang kita percaya akan membuahkan hasil sesuai keyakinan tersebut.<\/p>\n<p><i>Sebab katanya: \u201cAsal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.\u201d Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. \u2013 Markus 5:28-29<\/i><\/p>\n<p>Keyakinan Anda akan sesuatu akan memengaruhi hasil yang Anda terima. Ucapan adalah doa. Jika Anda selalu bersikap negatif, hal-hal negatif pulalah yang akan Anda tuai. Namun, jika Anda meyakini dan mengungkapkan apa yang positif, hal positiflah yang akan terjadi dalam hidup Anda.<\/p>\n<p>Jadi, jangan genapi nubuat yang Anda buat sendiri\u2014jika itu adalah hal yang negatif. Anda boleh ubah kalimatnya menjadi: \u201cGenapilah nubuat Anda sendiri, jika itu adalah hal yang positif.\u201d<\/p>\n<h4><b>3. Jangan Ulangi \u201cTema Skripsi\u201d Orang Lain <\/b><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5726 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/nasihat-gkdi-3-300x200.jpg?resize=640%2C427&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/nasihat-gkdi-3-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/nasihat-gkdi-3.jpg 600w\" alt=\"nasihat - gkdi 3\" width=\"640\" height=\"427\" \/><\/p>\n<p>Nasihat ini diberikan oleh seorang dosen sebelum saya mengerjakan tugas akhir. Lalu, kenapa tidak boleh mengulangi tema skripsi yang sudah dikerjakan orang lain?<\/p>\n<p>\u201cKarena Anda tak perlu lagi membuktikan hal-hal yang sudah dibuktikan oleh orang lain,\u201d tegas beliau.<\/p>\n<p>Misalnya, sudah ada eksperimen ekstrak bunga A, B, dan C yang dijadikan teh berkonsentrasi 50% untuk menurunkan kadar diabetes pada tikus. Hasil menunjukkan ekstrak bunga C-lah yang paling efektif.<\/p>\n<p>\u201cAnda boleh saja menggunakan eksperimen serupa, tetapi dengan menggunakan tipe bunga berbeda, misalnya C, D, dan E. Bisa jadi, ada ekstrak bunga lain yang lebih efektif menurunkan diabetes,\u201d jelasnya. \u201cAtau, Anda tetap menggunakan bunga A, B, dan C untuk menguji apakah bunga C juga efektif menurunkan kolesterol pada tikus.\u201d<\/p>\n<h6>Intinya, ada banyak variasi metode yang bisa diterapkan dalam sebuah eksperimen. Mengulangi jalan yang sudah dibuktikan orang lain hanya akan membuang-buang waktu dan energi.<\/h6>\n<p>Demikian pula dalam hidup, ada banyak hal yang sudah dibuktikan oleh orang lain. Misalnya, sudah terbukti bahwa merokok memicu banyak penyakit. Atau, bahwa kemalasan merugikan diri dan masa depan seseorang.<\/p>\n<p>Lalu, mengapa kita masih melakukan hal-hal tersebut?<\/p>\n<p>Apakah kita harus membuktikan sendiri dampaknya supaya bisa percaya?<\/p>\n<p>Hidup ini terlalu singkat hanya untuk mengulangi eksperimen atas hal-hal yang sudah terbukti. Belajarlah\u2014bukan hanya dari kesalahan sendiri, melainkan juga dari kesalahan orang lain. Dengan demikian, Anda bisa menghemat banyak waktu, uang, dan tenaga tanpa harus \u2018terjatuh di lubang yang sama.\u2019<\/p>\n<p><i>Lalu kata Yesus: \u201cAkupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.\u201d \u2013 Yohanes 8:11b <\/i><\/p>\n<p>Manusia bisa jatuh ke dalam dosa, tetapi Tuhan tidak ingin kita melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Dengan belajar dari kesalahan masa lalu dan orang lain, kita dapat membangun hidup yang semakin baik dan benar.<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semoga nasihat-nasihat bijak para guru saya bisa menjadi bahan renungan dan pengingat yang ampuh agar hidup Anda semakin selaras dengan kehendak Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Have a nice day! (gkdi.org)<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Kita semua pasti pernah menerima nasihat, baik yang diberikan tanpa diminta atau yang kita minta dari orang lain. Mulai dari yang sederhana, seperti petunjuk jalan atau kiat membeli barang, hingga nasihat tentang kehidupan. Saya pribadi masih ingat beberapa nasihat yang diberikan oleh guru dan dosen saya bertahun-tahun lalu. Mengapa? Karena, nasihat mereka tak lekang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46789,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46783","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46789,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/school.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/school.jpg?fit=275%2C183&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/school.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/school.jpg?fit=275%2C183&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1274","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46783"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46783\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46789"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}