{"id":46787,"date":"2020-08-14T08:03:35","date_gmt":"2020-08-14T01:03:35","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46787"},"modified":"2020-07-31T16:20:14","modified_gmt":"2020-07-31T09:20:14","slug":"melatih-pikiran-agar-selalu-positif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/melatih-pikiran-agar-selalu-positif\/","title":{"rendered":"Melatih Pikiran agar Selalu Positif"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Alkisah ada dua orang mengalami putus cinta. Yang satu berakhir bunuh diri, yang lain berakhir menjadi seorang motivator. Keduanya mengalami masalah yang sama, tetapi masa depan mereka berbeda, karena cara pikir keduanya berbeda. Orang pertama mungkin berpikir seperti lagu ini: \u201cAku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi \u2026 Aku tanpamu butiran debu \u2026\u201d Akhirnya orang itu benar-benar jatuh, tak bisa bangkit lagi, dan menjadi butiran debu. Sedangkan orang kedua berpikir seperti lagu ini: \u201cDunia belum berakhir, bila kau putuskan aku \u2026\u201d Mengapa cara pikir kedua orang tersebut berbeda? Bagaimana agar kita dapat memiliki pola pikir positif seperti si orang kedua? Latih Pola Pikir Positif dengan 3 Hal Ini 1. You Are What You Feed Pernah dengar ungkapan \u201cyou are what you eat\u201d? Anda adalah apa yang Anda makan. Tubuh kita, kesehatan kita, penampilan kita, tergantung pada apa yang kita konsumsi. Jika kita menyantap makanan sehat, kita pun akan sehat. Namun, jika kita makan sembarangan, badan kita menjadi lesu, pucat, kusam, kelebihan \/ kekurangan berat badan, atau bahkan sakit. Sama halnya dengan makanan bagi tubuh, Anda pun perlu menyortir asupan makanan bagi pikiran. You are what you feed. Apa yang Anda masukkan ke pikiran Anda membentuk siapa Anda. Apa yang Anda berikan untuk otak Anda setiap hari? Kata-kata positif atau negatif? Lagu apa yang Anda dengar? Lagu rohani atau lagu tentang bunuh diri \/ broken heart? Film apa yang Anda tonton? Yang menginspirasi? Pornografi? Atau, drama percintaan yang menyita emosi dan perasaan? Apa yang Anda baca? Alkitab? Buku yang membangun? Ataukah buku berisi cerita-cerita tak senonoh? Rasul Paulus memahami betapa pentingnya pola pikir positif. Karena itu, dia memberi nasihat agar kita memikirkan hal-hal yang baik agar apa yang terpancar dari kita juga baik. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. \u2013 Filipi 4:8 Input yang baik akan menghasilkan output yang baik. Input yang buruk akan menghasilkan output yang buruk pula. Hari ini, \u201cmakanan\u201d apa yang Anda suapkan ke otak Anda? Jika Anda menginginkan pola pikir, aura, dan sikap positif keluar dari diri Anda, masukkan dulu hal-hal positif ke dalam pikiran Anda. 2. You Are What You Have Faith In Pepatah mengatakan \u201cYou are what you believe.\u201d Namun, yang lebih tepat lagi adalah \u201cYou are what you have faith in.\u201d Mengapa? Karena believe hanyalah sekadar percaya (tidak melakukan apa-apa), sedangkan have faith (beriman) berarti percaya dan berbuat seturut apa yang kita percayai. Ingat, iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26). Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: \u201cKasihanilah kami, hai Anak Daud.\u201d Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: \u201cPercayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?\u201d Mereka menjawab: \u201cYa Tuhan, kami percaya.\u201d Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: \u201cJadilah kepadamu menurut imanmu.\u201d \u2013 Matius 9:27-29 Dua orang buta itu dapat melihat karena apa yang mereka imani. Bukan hanya percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan, mereka juga mengerjakan bagian mereka: melakukan apa yang sejalan dengan iman tersebut. Tak peduli apa yang kata orang, mereka tetap berseru-seru dan mengikuti Yesus, meminta belas kasihan-Nya. Hasilnya, mereka pun mendapat kesembuhan sesuai iman mereka. Ketika Anda percaya Anda pasti lulus ujian, tapi tidak belajar, itu bukanlah iman, melainkan ilusi. Mimpi di siang bolong. Namun, lain halnya ketika Anda percaya pasti lulus karena Anda belajar dan berdoa kepada Tuhan\u2014itulah yang namanya iman. Dan, \u201cJadilah kepadamu menurut imanmu.\u201d Pertanyaan selanjutnya: dari mana datangnya iman? Iman datang dari pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:17). Jadi, jika Anda ingin jadi orang beriman, rutinlah membaca firman. Untuk dapat memiliki pola pikir positif, renungkanlah, apa yang Anda imani? Apakah Anda beriman bahwa Anda begitu berharga, atau tidak berguna? Apakah Anda beriman bahwa Anda pasti bisa, atau Anda tidak akan sanggup? Hal-hal apa yang sudah Anda lakukan seturut iman Anda? 3. You Are All the People Who Surround You Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. \u2013 1 Korintus 15:33 Mungkin Anda pernah mendengar pernyataan seperti, \u201cHitung total penghasilan lima teman-teman terdekat Anda, lalu bagi lima; itulah penghasilan Anda.\u201d Atau, \u201cAnda adalah rata-rata dari semua orang di sekitar Anda,\u201d dan semacamnya. Yang mana pun ungkapan yang Anda tahu, intinya sama: hidup Anda tidak akan berbeda jauh dengan hidup orang-orang terdekat Anda. Melatih pikiran dimulai dengan memilih komunitas. Alkitab mengatakan, \u201cPergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.\u201d Jika Anda selalu bersama-sama dengan sekumpulan orang yang suka berbohong, minum-minum, bertemperamen buruk, bicara kotor dan kasar, atau haus gosip, itulah Anda. Cepat atau lambat, Anda akan menjadi seperti mereka. Untuk melatih pikiran agar tetap positif, Anda harus berada di komunitas yang positif pula. Jika Anda terus berada di komunitas yang membawa pengaruh negatif, itu namanya mencobai diri sendiri. Karena, \u201cSepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh ke tanah jua\u201d. Dengan terus bertahan di komunitas yang negatif, tinggal tunggu waktu sampai Anda terbawa pengaruhnya. Komunitas Anda untuk menentukan identitas Anda. Kalau saat ini Anda berada di komunitas negatif, segeralah keluar, sebelum Anda terjerumus lebih dalam lagi. Carilah komunitas positif karena di sanalah Anda akan bertemu dengan orang-orang yang positif. Cara pikir mereka akan menjadi asupan bergizi bagi otak Anda (you are what you feed) sehingga dapat menghasilkan pikiran positif juga. Segala sesuatu bisa dilatih, termasuk pola pikir. Agar senantiasa memiliki pikiran positif, perhatikan baik-baik \u201cmakanan\u201d apa yang kita berikan untuk otak kita, \u00a0iman macam apa yang kita miliki, dan siapa orang-orang terdekat kita. Pastikan ketiganya bersifat positif, maka pikiran kita pun akan jadi positif. Dan, semua itu tergantung pada satu hal: maukah Anda sungguh-sungguh melatihnya? *Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota.\u00a0Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact\u00a0Gereja GKDI Official: WhatsApp\u00a00821 2285 8686\u00a0atau\u00a0Facebook\u00a0\/ Instagram GKDI Official Artikel terkait:\u00a0 Yesus Bangkit: Apa Maknanya bagi Kebangkitan Kita? Video inspirasi:\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Alkisah ada dua orang mengalami putus cinta. Yang satu berakhir bunuh diri, yang lain berakhir menjadi seorang motivator.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keduanya mengalami masalah yang sama, tetapi masa depan mereka berbeda, karena cara pikir keduanya berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang pertama mungkin berpikir seperti lagu ini: \u201cAku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi \u2026 Aku tanpamu butiran debu \u2026\u201d Akhirnya orang itu benar-benar jatuh, tak bisa bangkit lagi, dan menjadi butiran debu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedangkan orang kedua berpikir seperti lagu ini: \u201cDunia belum berakhir, bila kau putuskan aku \u2026\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa cara pikir kedua orang tersebut berbeda?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana agar kita dapat memiliki pola pikir positif seperti si orang kedua?<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><b>Latih Pola Pikir Positif dengan 3 Hal Ini<\/b><\/h4>\n<div class=\"indent\" style=\"text-align: justify;\">\n<h4><strong>1.<i> You Are What You Feed<\/i><\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5692 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-1-300x201.jpg?resize=640%2C429&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-1-300x201.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-1.jpg 600w\" alt=\"pikiran - gkdi 1\" width=\"640\" height=\"429\" \/><\/p>\n<p>Pernah dengar ungkapan \u201c<i>you are what you eat\u201d? <\/i>Anda adalah apa yang Anda makan. Tubuh kita, kesehatan kita, penampilan kita, tergantung pada apa yang kita konsumsi. Jika kita menyantap makanan sehat, kita pun akan sehat. Namun, jika kita makan sembarangan, badan kita menjadi lesu, pucat, kusam, kelebihan \/ kekurangan berat badan, atau bahkan sakit.<\/p>\n<p>Sama halnya dengan makanan bagi tubuh, Anda pun perlu menyortir asupan makanan bagi pikiran. <i>You are what you feed. <\/i>Apa yang Anda masukkan ke pikiran Anda membentuk siapa Anda.<\/p>\n<p>Apa yang Anda berikan untuk otak Anda setiap hari? Kata-kata positif atau negatif? Lagu apa yang Anda dengar? Lagu rohani atau lagu tentang bunuh diri \/ <i>broken heart<\/i>? Film apa yang Anda tonton? Yang menginspirasi? Pornografi? Atau, drama percintaan yang menyita emosi dan perasaan? Apa yang Anda baca? Alkitab? Buku yang membangun? Ataukah buku berisi cerita-cerita tak senonoh?<\/p>\n<p>Rasul Paulus memahami betapa pentingnya pola pikir positif. Karena itu, dia memberi nasihat agar kita memikirkan hal-hal yang baik agar apa yang terpancar dari kita juga baik.<\/p>\n<p><i>Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. \u2013 Filipi 4:8<\/i><\/p>\n<p><i>Input<\/i> yang baik akan menghasilkan <i>output<\/i> yang baik. <i>Input<\/i> yang buruk akan menghasilkan <i>output<\/i> yang buruk pula.<\/p>\n<p>Hari ini, \u201cmakanan\u201d apa yang Anda suapkan ke otak Anda? Jika Anda menginginkan pola pikir, aura, dan sikap positif keluar dari diri Anda, masukkan dulu hal-hal positif ke dalam pikiran Anda.<\/p>\n<h4><strong>2.<i> You Are What You Have Faith In<\/i><\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5693 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-2-300x200.jpg?resize=640%2C427&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-2.jpg 600w\" alt=\"pikiran - gkdi 2\" width=\"640\" height=\"427\" \/><\/p>\n<p>Pepatah mengatakan \u201c<i>You are what you believe.\u201d <\/i>Namun, yang lebih tepat lagi adalah <i>\u201cYou are what you have faith in.\u201d <\/i><\/p>\n<p>Mengapa?<\/p>\n<p>Karena <i>believe<\/i> hanyalah sekadar percaya (tidak melakukan apa-apa), sedangkan <i>have<\/i> <i>faith<\/i> (beriman) berarti percaya <i>dan<\/i> berbuat seturut apa yang kita percayai. Ingat, iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26).<\/p>\n<p><i>Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: \u201cKasihanilah kami, hai Anak Daud.\u201d Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: \u201cPercayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?\u201d Mereka menjawab: \u201cYa Tuhan, kami percaya.\u201d Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: \u201cJadilah kepadamu menurut imanmu.\u201d \u2013 Matius 9:27-29<\/i><\/p>\n<p>Dua orang buta itu dapat melihat karena apa yang mereka <i>imani<\/i>. Bukan hanya percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan, mereka juga mengerjakan bagian mereka: melakukan apa yang sejalan dengan iman tersebut. Tak peduli apa yang kata orang, mereka tetap berseru-seru dan mengikuti Yesus, meminta belas kasihan-Nya. Hasilnya, mereka pun mendapat kesembuhan sesuai iman mereka.<\/p>\n<p>Ketika Anda percaya Anda pasti lulus ujian, tapi tidak belajar, itu bukanlah iman, melainkan ilusi. Mimpi di siang bolong.<\/p>\n<p>Namun, lain halnya ketika Anda percaya pasti lulus karena Anda belajar <i>dan<\/i> berdoa kepada Tuhan\u2014itulah yang namanya iman. Dan, \u201cJadilah kepadamu menurut imanmu.\u201d<\/p>\n<p>Pertanyaan selanjutnya: dari mana datangnya iman?<\/p>\n<p>Iman datang dari pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:17). Jadi, jika Anda ingin jadi orang beriman, rutinlah membaca firman.<\/p>\n<p>Untuk dapat memiliki pola pikir positif, renungkanlah, apa yang Anda imani? Apakah Anda beriman bahwa Anda begitu berharga, atau tidak berguna? Apakah Anda beriman bahwa Anda pasti bisa, atau Anda tidak akan sanggup? Hal-hal apa yang sudah Anda lakukan seturut iman Anda?<\/p>\n<h4><strong>3.<i> You Are All the People Who Surround You<\/i><\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5694 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-3-300x221.jpg?resize=640%2C472&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-3-300x221.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-3-80x60.jpg 80w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-3-570x420.jpg 570w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/pikiran-gkdi-3.jpg 600w\" alt=\"pikiran - gkdi 3\" width=\"640\" height=\"472\" \/><\/p>\n<p><i>Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. \u2013 1 Korintus 15:33<\/i><\/p>\n<p>Mungkin Anda pernah mendengar pernyataan seperti, \u201cHitung total penghasilan lima teman-teman terdekat Anda, lalu bagi lima; itulah penghasilan Anda.\u201d Atau, \u201cAnda adalah rata-rata dari semua orang di sekitar Anda,\u201d dan semacamnya.<\/p>\n<h4>Yang mana pun ungkapan yang Anda tahu, intinya sama: hidup Anda tidak akan berbeda jauh dengan hidup orang-orang terdekat Anda.<\/h4>\n<p>Melatih pikiran dimulai dengan memilih komunitas. Alkitab mengatakan, \u201cPergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.\u201d Jika Anda selalu bersama-sama dengan sekumpulan orang yang suka berbohong, minum-minum, bertemperamen buruk, bicara kotor dan kasar, atau haus gosip, itulah Anda. Cepat atau lambat, Anda akan menjadi seperti mereka.<\/p>\n<p>Untuk melatih pikiran agar tetap positif, Anda harus berada di komunitas yang positif pula. Jika Anda terus berada di komunitas yang membawa pengaruh negatif, itu namanya mencobai diri sendiri. Karena, \u201cSepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh ke tanah jua\u201d. Dengan terus bertahan di komunitas yang negatif, tinggal tunggu waktu sampai Anda terbawa pengaruhnya.<\/p>\n<p>Komunitas Anda untuk menentukan identitas Anda. Kalau saat ini Anda berada di komunitas negatif, segeralah keluar, sebelum Anda terjerumus lebih dalam lagi. Carilah komunitas positif karena di sanalah Anda akan bertemu dengan orang-orang yang positif. Cara pikir mereka akan menjadi asupan bergizi bagi otak Anda (<i>you are what you feed<\/i>) sehingga dapat menghasilkan pikiran positif juga.<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Segala sesuatu bisa dilatih, termasuk pola pikir. Agar senantiasa memiliki pikiran positif, perhatikan baik-baik \u201c<b>makanan\u201d apa yang kita berikan untuk otak kita, \u00a0iman macam apa yang kita miliki,<\/b> dan <b>siapa orang-orang terdekat kita<\/b>. Pastikan ketiganya bersifat positif, maka pikiran kita pun akan jadi positif. Dan, semua itu tergantung pada satu hal: maukah Anda sungguh-sungguh melatihnya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>*Gereja<\/strong><\/em> GKDI saat ini terdapat di <strong>35 kota<\/strong>.\u00a0Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact\u00a0<em><strong>Gereja<\/strong><\/em> GKDI Official:<br \/>\nWhatsApp\u00a0<strong>0821 2285 8686<\/strong>\u00a0atau\u00a0<strong>Facebook<\/strong>\u00a0\/ <strong>Instagram<\/strong> GKDI Official<\/p>\n<p class=\"entry-title td-module-title\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Artikel terkait:\u00a0 Yesus Bangkit: Apa Maknanya bagi Kebangkitan Kita?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Video inspirasi:<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Alkisah ada dua orang mengalami putus cinta. Yang satu berakhir bunuh diri, yang lain berakhir menjadi seorang motivator. Keduanya mengalami masalah yang sama, tetapi masa depan mereka berbeda, karena cara pikir keduanya berbeda. Orang pertama mungkin berpikir seperti lagu ini: \u201cAku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi \u2026 Aku tanpamu butiran debu \u2026\u201d Akhirnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46374,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46787","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46374,"alt_text":"","caption":"Three caucasian women in their thirties have a friendly chat in a neighborhood outdoors.","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg?fit=640%2C360&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/memahami.jpg?fit=640%2C360&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"975","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46787","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46787"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46787\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46787"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46787"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46787"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}