{"id":46950,"date":"2026-01-05T18:16:16","date_gmt":"2026-01-05T11:16:16","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/nantikanlah-tuhan-mazmur-2714\/"},"modified":"2026-01-05T18:16:18","modified_gmt":"2026-01-05T11:16:18","slug":"nantikanlah-tuhan-mazmur-2714","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/nantikanlah-tuhan-mazmur-2714\/","title":{"rendered":"Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. [Kejadian 1:4]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Terang tentu saja baik sebab terang timbul dari deklarasi kebaikan, &quot;Jadilah terang&quot; [Kejadian 1:3]. Kita yang menikmati terang harus lebih bersyukur lagi karenanya, dan melihat Allah lebih banyak dalam terang dan melalui terang. Secara fisik Salomo berkata bahwa terang itu menyenangkan, [Pengkhotbah 11:7] tetapi terang injil lebih berharga tiada taranya, karena hal-hal kekekalan dinyatakan olehnya, dan terang injil merawat kodrat kita yang abadi. Saat Roh Kudus memberi kita terang rohani, dan membuka mata kita untuk melihat kemuliaan Allah dalam wajah Yesus Kristus, kita melihat dosa dalam warna-warna aslinya, dan diri kita dalam posisi yang sebenarnya; kita melihat Allah Maha Kudus sebagaimana Ia mengungkapkan diri-Nya, rencana pengampunan sebagaimana dikemukakan-Nya, dan dunia yang akan datang sebagaimana digambarkan Firman. Terang rohani memiliki banyak sorot cahaya dan warna-warni prismanya, baik pengetahuan, sukacita, kekudusan, maupun kehidupan, dan semuanya itu baik. Jika terang yang kita terima itu baik, apalagi Sang esensi dari terang itu, betapa mulia tentunya tempat di mana Ia mengungkapkan diri-Nya. Oh Tuhan, karena terang sungguh baik adanya, berilah kami lebih banyak terang, dan lebih banyak diri-Mu, Sang terang sejati. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Terang tentu saja baik sebab terang timbul dari deklarasi kebaikan, &#8220;Jadilah terang&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kejadian%201:3\">Kejadian 1:3<\/a>]. Kita yang menikmati terang harus lebih bersyukur lagi karenanya, dan melihat Allah lebih banyak dalam terang dan melalui terang. <i>Secara fisik<\/i> Salomo berkata bahwa terang itu menyenangkan, [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Pengkhotbah%2011:7\">Pengkhotbah 11:7<\/a>] tetapi terang <i>injil<\/i> lebih berharga tiada taranya, karena hal-hal kekekalan dinyatakan olehnya, dan terang injil merawat kodrat kita yang abadi. Saat Roh Kudus memberi kita terang <i>rohani<\/i>, dan membuka mata kita untuk melihat kemuliaan Allah dalam wajah Yesus Kristus, kita melihat dosa dalam warna-warna aslinya, dan diri kita dalam posisi yang sebenarnya; kita melihat Allah Maha Kudus sebagaimana Ia mengungkapkan diri-Nya, rencana pengampunan sebagaimana dikemukakan-Nya, dan dunia yang akan datang sebagaimana digambarkan Firman. Terang rohani memiliki banyak sorot cahaya dan warna-warni prismanya, baik pengetahuan, sukacita, kekudusan, maupun kehidupan, dan semuanya itu baik. Jika terang yang kita terima itu baik, apalagi <i>Sang esensi<\/i> dari terang itu, betapa mulia tentunya tempat di mana Ia mengungkapkan diri-Nya. Oh Tuhan, karena terang sungguh baik adanya, berilah kami lebih banyak terang, dan lebih banyak diri-Mu, Sang terang sejati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Terang tentu saja baik sebab terang timbul dari deklarasi kebaikan, &#8220;Jadilah terang&#8221; [Kejadian 1:3]. Kita yang menikmati terang harus lebih bersyukur lagi karenanya, dan melihat Allah lebih banyak dalam terang dan melalui terang. Secara fisik Salomo berkata bahwa terang itu menyenangkan, [Pengkhotbah 11:7] tetapi terang injil lebih berharga tiada taranya, karena hal-hal kekekalan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-46950","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"132","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46950","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46950"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46950\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68659,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46950\/revisions\/68659"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46950"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46950"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46950"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}