{"id":46958,"date":"2026-01-07T18:16:03","date_gmt":"2026-01-07T11:16:03","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/dengan-nasihat-mu-engkau-menuntun-aku-dan-kemudian-engkau-mengangkat-aku-ke-dalam-kemuliaan-mazmur-7324\/"},"modified":"2026-01-07T18:16:05","modified_gmt":"2026-01-07T11:16:05","slug":"dengan-nasihat-mu-engkau-menuntun-aku-dan-kemudian-engkau-mengangkat-aku-ke-dalam-kemuliaan-mazmur-7324","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/dengan-nasihat-mu-engkau-menuntun-aku-dan-kemudian-engkau-mengangkat-aku-ke-dalam-kemuliaan-mazmur-7324\/","title":{"rendered":"Karena bagiku hidup adalah Kristus. [Filipi 1:21]"},"content":{"rendered":"<button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Orang percaya tidak selalu hidup untuk Kristus. Ia mulai melakukannya ketika Allah Roh Kudus membuatnya sadar akan dosa, dan ketika melalui anugerah ia dimungkinkan untuk melihat kematian Juruselamat yang menjadi jalan pendamaian bagi kesalahannya. Sejak saat lahir baru surgawi itulah manusia mulai hidup untuk Kristus. Yesus bagi orang-orang percaya adalah mutiara yang sangat berharga sehingga kita merelakan seluruh milik kita demi mutiara itu [Matius 13:46]. Dia telah memenangkan cinta kita sepenuhnya, sehingga hanya untuk-Nya cinta kita berdetak; untuk kemuliaan-Nya kita hidup, dan untuk membela injil-Nya kita rela mati; Dia adalah teladan kehidupan kita, dan kita mengukir karakter kita berdasarkan contoh-Nya. Kata-kata Paulus itu bermakna lebih dari yang kebanyakan orang pikirkan; mereka kira maksud Paulus adalah sasaran dan tujuan hidupnya adalah Kristus\u2014padahal: hidupnya adalah Yesus. Seperti kata-kata orang suci purbakala, Paulus makan, dan minum, dan tidur akan hidup yang kekal. Baginya, Yesuslah nafas sesungguhnya, jiwa dari jiwanya, hati dari hatinya, hidup dari hidupnya. Dapatkah engkau mengatakan, sebagai seorang yang mengaku Kristen, bahwa hidupmu memenuhi gagasan ini? Dapatkah engkau dengan jujur mengatakan bahwa bagimu hidup adalah Kristus? Bisnismu\u2014apakah engkau lakukan untuk Kristus? Apakah engkau tidak mengerjakannya demi membesarkan diri dan menguntungkan keluargamu? Engkau bertanya, \\\"Memangnya alasan itu keji?\\\" Bagi seorang Kristen, ya, itu alasan yang keji. Orang Kristen mengaku bahwa hidupnya untuk Kristus; bagaimana mungkin dia hidup demi tujuan lain tanpa berarti dia berzinah secara rohani? Banyak orang melaksanakan sebagian dari prinsip ini; tetapi siapa yang berani mengatakan bahwa dia telah hidup seluruhnya untuk Kristus seperti yang rasul Paulus lakukan? Namun demikian, hanya ini satu-satunya hidup sejati seorang Kristen\u2014sumber hidupnya, keberlangsungan hidupnya, cara hidupnya, akhir hidupnya, semuanya terkumpul dalam satu kata\u2014Yesus Kristus. Tuhan, terimalah aku; di sini aku mempersembahkan diriku, memohon untuk hidup hanya dalam-Mu dan untuk-Mu. Biarkan aku seperti lembu jantan yang berdiri di antara bajak dan altar, untuk bekerja atau untuk dikorbankan; dan jadilah ini mottoku, \u201dSiap untuk keduanya.\u201d RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    \n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Orang percaya tidak selalu hidup untuk Kristus. Ia mulai melakukannya ketika Allah Roh Kudus membuatnya sadar akan dosa, dan ketika melalui anugerah ia dimungkinkan untuk melihat kematian Juruselamat yang menjadi jalan pendamaian bagi kesalahannya. Sejak saat lahir baru surgawi itulah manusia mulai hidup untuk Kristus. Yesus bagi orang-orang percaya adalah mutiara yang sangat berharga sehingga kita merelakan seluruh milik kita demi mutiara itu [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Matius%2013:46\">Matius 13:46<\/a>]. Dia telah memenangkan cinta kita sepenuhnya, sehingga hanya untuk-Nya cinta kita berdetak; untuk kemuliaan-Nya kita hidup, dan untuk membela injil-Nya kita rela mati; Dia adalah teladan kehidupan kita, dan kita mengukir karakter kita berdasarkan contoh-Nya. Kata-kata Paulus itu bermakna lebih dari yang kebanyakan orang pikirkan; mereka kira maksud Paulus adalah <i>sasaran dan tujuan hidupnya<\/i> adalah Kristus\u2014padahal: hidupnya adalah Yesus. Seperti kata-kata orang suci purbakala, Paulus makan, dan minum, dan tidur akan hidup yang kekal. Baginya, Yesuslah nafas sesungguhnya, jiwa dari jiwanya, hati dari hatinya, hidup dari hidupnya. Dapatkah engkau mengatakan, sebagai seorang yang mengaku Kristen, bahwa hidupmu memenuhi gagasan ini? Dapatkah engkau dengan jujur mengatakan bahwa bagimu hidup adalah Kristus? Bisnismu\u2014apakah engkau lakukan <i>untuk Kristus<\/i>? Apakah engkau tidak mengerjakannya demi membesarkan diri dan menguntungkan keluargamu? Engkau bertanya, &#8220;Memangnya alasan itu keji?&#8221; Bagi <i>seorang Kristen<\/i>, ya, itu alasan yang keji. Orang Kristen mengaku bahwa hidupnya untuk Kristus; bagaimana mungkin dia hidup demi tujuan lain tanpa berarti dia berzinah secara rohani? Banyak orang melaksanakan sebagian dari prinsip ini; tetapi siapa yang berani mengatakan bahwa dia telah hidup seluruhnya untuk Kristus seperti yang rasul Paulus lakukan? Namun demikian, hanya ini satu-satunya hidup sejati seorang Kristen\u2014sumber hidupnya, keberlangsungan hidupnya, cara hidupnya, akhir hidupnya, semuanya terkumpul dalam satu kata\u2014Yesus Kristus. Tuhan, terimalah aku; di sini aku mempersembahkan diriku, memohon untuk hidup hanya dalam-Mu dan untuk-Mu. Biarkan aku seperti lembu jantan yang berdiri di antara bajak dan altar, untuk bekerja atau untuk dikorbankan; dan jadilah ini mottoku, \u201dSiap untuk keduanya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Orang percaya tidak selalu hidup untuk Kristus. Ia mulai melakukannya ketika Allah Roh Kudus membuatnya sadar akan dosa, dan ketika melalui anugerah ia dimungkinkan untuk melihat kematian Juruselamat yang menjadi jalan pendamaian bagi kesalahannya. Sejak saat lahir baru surgawi itulah manusia mulai hidup untuk Kristus. Yesus bagi orang-orang percaya adalah mutiara yang sangat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-46958","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"62","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46958"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46958\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68664,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46958\/revisions\/68664"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}