{"id":46962,"date":"2026-01-08T18:15:33","date_gmt":"2026-01-08T11:15:33","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ibu-mertua-simon-terbaring-karena-sakit-demam-mereka-segera-memberitahukan-keadaannya-kepada-yesus-markus-130\/"},"modified":"2026-01-08T18:15:34","modified_gmt":"2026-01-08T11:15:34","slug":"ibu-mertua-simon-terbaring-karena-sakit-demam-mereka-segera-memberitahukan-keadaannya-kepada-yesus-markus-130","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ibu-mertua-simon-terbaring-karena-sakit-demam-mereka-segera-memberitahukan-keadaannya-kepada-yesus-markus-130\/","title":{"rendered":"Kesalahan terhadap segala yang dikuduskan. [Keluaran 28:38]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kata-kata itu menyingkapkan kita dari sebuah selubung, dan merupakan sebuah penyataan yang hebat. Jikalau kita berhenti sejenak dan melihat pemandangan yang menyedihkan ini, kita akan mendapatkan kerendahan hati dan manfaat darinya. Ibadah umum kita penuh kedurjanaan, termasuk munafiknya, formalitasnya, suam-suam kukunya, tidak hormatnya, pikirannya yang melayang-layang dan lupa melulu akan Allah, alangkah banyaknya! Di dalam pekerjaan kita untuk Tuhan, ada pura-pura, egois, ceroboh, malas, tidak percaya, alangkah banyaknya kecemaran! Dalam saat teduh pribadi kita, ada kesantaian, dingin, lalai, ngantuk, dan kekosongan, sungguh merupakan timbunan tanah mati. Bila kita melihat dengan lebih teliti, kita akan menemukan kedurjanaan tersebut jauh lebih besar daripada apa yang pertama kali terlihat. Dr. Payson [1], menulis kepada saudara laki-lakinya, &quot;Parokiku, dan juga hatiku, sangat mirip dengan taman para pemalas; dan lebih parah lagi, aku mendapati bahwa banyak sekali hasrat untuk menjadikan keduanya kelihatan lebih baik, keluar dari kesombongan atau dari kesia-siaan atau dari kemalasan. Aku melihat rumput liar menyebar di tamanku, kemudian aku menghembuskan nafas keinginan yang kuat untuk membasmi mereka. Tapi kenapa? Apa yang mendorong keinginan itu? Mungkin hanya supaya aku berjalan-jalan dan mengatakan pada diriku, &#039;Betapa tertata rapi tamanku ini!&#039; Ini kesombongan. Atau, agar para tetanggaku melihat dari balik tembok dan berujar, &#039;Alangkah tumbuh subur tamanmu!&#039; Ini kesia-siaan. Atau aku mungkin bertekad menghancurkan rumput liar karena aku lelah mencabutinya. Ini kemalasan.&quot; Jadi bahkan keinginan kita akan kekudusan pun bisa dicemari motivasi yang salah. Di bawah lempeng rumput yang paling hijau cacing bersembunyi; kita tak perlu waktu lama menemukannya. Pemikiran ini begitu menghibur: ketika Imam Besar menanggung kesalahan terhadap segala yang dikuduskan, pada dahinya dikenakan kata-kata &quot;Kudus bagi TUHAN&quot; [Keluaran 28:36], apalagi ketika Yesus menanggung dosa kita, di hadapan wajah Bapa-Nya, Dia mempertunjukkan bukan ketidakkudusan kita, melainkan kekudusan-Nya. Oh, mohon anugerah untuk memandang Imam Besar kita yang agung dengan mata iman! RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kata-kata itu menyingkapkan kita dari sebuah selubung, dan merupakan sebuah penyataan yang hebat. Jikalau kita berhenti sejenak dan melihat pemandangan yang menyedihkan ini, kita akan mendapatkan kerendahan hati dan manfaat darinya. Ibadah umum kita penuh kedurjanaan, termasuk munafiknya, formalitasnya, suam-suam kukunya, tidak hormatnya, pikirannya yang melayang-layang dan lupa melulu akan Allah, alangkah banyaknya! Di dalam pekerjaan kita untuk Tuhan, ada pura-pura, egois, ceroboh, malas, tidak percaya, alangkah banyaknya kecemaran! Dalam saat teduh pribadi kita, ada kesantaian, dingin, lalai, ngantuk, dan kekosongan, sungguh merupakan timbunan tanah mati. Bila kita melihat dengan lebih teliti, kita akan menemukan kedurjanaan tersebut jauh lebih besar daripada apa yang pertama kali terlihat. Dr. Payson [1], menulis kepada saudara laki-lakinya, &#8220;Parokiku, dan juga hatiku, sangat mirip dengan taman para pemalas; dan lebih parah lagi, aku mendapati bahwa banyak sekali hasrat untuk menjadikan keduanya kelihatan lebih baik, keluar dari kesombongan atau dari kesia-siaan atau dari kemalasan. Aku melihat rumput liar menyebar di tamanku, kemudian aku menghembuskan nafas keinginan yang kuat untuk membasmi mereka. Tapi kenapa? Apa yang mendorong keinginan itu? Mungkin hanya supaya aku berjalan-jalan dan mengatakan pada diriku, &#8216;Betapa tertata rapi tamanku ini!&#8217; Ini <i>kesombongan<\/i>. Atau, agar para tetanggaku melihat dari balik tembok dan berujar, &#8216;Alangkah tumbuh subur tamanmu!&#8217; Ini <i>kesia-siaan<\/i>. Atau aku mungkin bertekad menghancurkan rumput liar karena aku lelah mencabutinya. Ini kemalasan.&#8221; Jadi bahkan keinginan kita akan kekudusan pun bisa dicemari motivasi yang salah. Di bawah lempeng rumput yang paling hijau cacing bersembunyi; kita tak perlu waktu lama menemukannya. Pemikiran ini begitu menghibur: ketika Imam Besar menanggung kesalahan terhadap segala yang dikuduskan, pada dahinya dikenakan kata-kata &#8220;Kudus bagi TUHAN&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Keluaran%2028:36\">Keluaran 28:36<\/a>], apalagi ketika Yesus menanggung dosa kita, di hadapan wajah Bapa-Nya, Dia mempertunjukkan bukan ketidakkudusan kita, melainkan kekudusan-Nya. Oh, mohon anugerah untuk memandang Imam Besar kita yang agung dengan mata iman!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kata-kata itu menyingkapkan kita dari sebuah selubung, dan merupakan sebuah penyataan yang hebat. Jikalau kita berhenti sejenak dan melihat pemandangan yang menyedihkan ini, kita akan mendapatkan kerendahan hati dan manfaat darinya. Ibadah umum kita penuh kedurjanaan, termasuk munafiknya, formalitasnya, suam-suam kukunya, tidak hormatnya, pikirannya yang melayang-layang dan lupa melulu akan Allah, alangkah banyaknya! [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-46962","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"137","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46962","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46962"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46962\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68676,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46962\/revisions\/68676"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46962"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46962"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46962"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}