{"id":46974,"date":"2020-09-06T07:40:28","date_gmt":"2020-09-06T00:40:28","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46974"},"modified":"2020-09-03T14:51:36","modified_gmt":"2020-09-03T07:51:36","slug":"meraih-kembali-rasa-percaya-diri-yang-hilang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/meraih-kembali-rasa-percaya-diri-yang-hilang\/","title":{"rendered":"Meraih Kembali Rasa Percaya Diri yang Hilang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Sewaktu bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan, saya menerima seorang tamu wanita yang membuat saya terkesan hingga hari ini. Kala pertama bertemu, saya agak terkejut melihat wajahnya yang penuh lubang-lubang bekas jerawat. Namun, di sepanjang percakapan kami, wanita ini bicara dengan luwes dan anggun. Kepalanya terangkat tinggi dan sikap tubuhnya penuh percaya diri. Selepas pertemuan itu, saya pun merenung. Ternyata, rasa percaya diri yang tinggi membuat seseorang kelihatan menarik, apalagi ditambah cara berbicara yang penuh keyakinan. Dari sana saya menarik pelajaran bahwa sikap percaya diri adalah kecantikan dari dalam, yang sanggup menutupi kekurangan yang tampak dari luar. Apakah Anda termasuk orang yang tidak percaya diri? Entah karena faktor keuangan, latar belakang pendidikan, pekerjaan, status sosial, atau masa lalu Anda. Barangkali Anda minder dengan penampilan fisik Anda. Apa pun itu, rasa tidak percaya diri akan menghambat Anda dalam banyak hal. Lantas, bagaimana cara meraih kembali rasa percaya diri sesuai dengan firman Tuhan? Orang yang Paling Bahagia Barangkali, bagi standar dunia, orang yang berbahagia adalah mereka yang punya harta berlimpah dan kesuksesan gemilang. Mereka yang mampu berpergian keluar negeri dan punya pasangan hidup yang cantik atau ganteng. Sementara orang yang hidupnya sederhana, hanya sanggup liburan di dalam kota, tak punya pasangan, juga tidak rupawan, tidak akan bahagia. Benarkah demikian? Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu! \u2013 Mazmur 84:12\u00a0 Penulis Mazmur mengatakan bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang percaya kepada Tuhan. Apa maksudnya? Coba bayangkan situasi ini: Anda orang yang paling bahagia karena segala hal yang diinginkan orang lain dalam hidup telah ada dalam genggaman Anda. Tiba-tiba, suatu hari Anda jatuh miskin. Atau, Anda mendapat kecelakaan parah yang mengakibatkan Anda tidak lagi ganteng atau cantik. Apakah Anda akan tetap bahagia? Bisa jadi, rasa percaya diri Anda selama ini langsung lenyap. Orang-orang yang Anda kasihi mungkin satu persatu mulai meninggalkan Anda. Lama-kelamaan, Anda menjadi rendah diri akibat perubahan hidup Anda. Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda. \u2013 Amsal 11:28 Menaruh rasa percaya diri pada hal-hal duniawi membuat Anda selalu was-was: \u201cBagaimana jika saya kehilangan semua itu?\u201d Anda takut tidak akan dikasihi dan diterima lagi jika kondisi Anda berubah. Dengan kata lain, kepercayaan diri yang demikian bukanlah yang sejati. Lalu, seperti apa seharusnya rasa percaya diri yang benar? Percaya Diri Karena Hal-hal Surgawi Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. \u2013 Yesaya 12:2\u00a0 Ketika orang-orang yang mengandalkan Tuhan mengalami kejatuhan, mereka tidak akan terpuruk. Ini karena mereka tidak meletakkan rasa percaya diri mereka pada hal-hal di dunia atau yang sifatnya sementara. Kalau kepercayaan diri Anda berasal dari Tuhan, Anda tidak lantas hancur ketika kehilangan hal-hal berharga yang Anda miliki. Misalnya, pekerjaan, keluarga, pasangan hidup, kekayaan, atau popularitas. Sekalipun semuanya hilang, Anda tetap bisa percaya, tidak takut, karena Tuhanlah yang menjadi kekuatan dan keselamatan Anda. Tuhanlah sumber percaya diri Anda. Beberapa tokoh Alkitab berikut bisa menjadi inspirasi: Musa Tetapi Musa berkata kepada Allah: \u201cSiapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?\u201d \u2013 Keluaran 3:11\u00a0 Musa, anak angkat putri Firaun yang awalnya penuh percaya diri, membunuh seorang Mesir yang menyiksa saudara-saudaranya. Akibatnya, ia berbalik menjadi orang yang rendah diri karena Firaun hendak memburunya (Keluaran 2:11-15). Pada usia 40 tahun (Kisah Para Rasul 7:22-24), Musa menghabiskan 40 tahun berikutnya di padang gurun Midian sebagai seorang penggembala (Kisah Para Rasul 7:30). Hingga akhirnya, Tuhan menampakkan diri kepada Musa lewat api yang menyala di semak belukar (Keluaran 3:2). Apa yang membuat Musa tidak percaya diri sekalipun Tuhan yang mengutusnya? Pertama, pengalaman pahit dan kegagalan. Ketika bermaksud menolong saudara-saudarinya, sebaliknya ia malah ditolak (Keluaran 2:14). Kedua, karena Musa terlalu fokus melihat kekurangan atau kelemahannya sendiri. Lalu kata Musa kepada TUHAN: \u201cAh, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.\u201d \u2013 Keluaran 4:10\u00a0 Apakah pengalaman pahit, masa lalu, atau kekurangan membuat Anda menjadi tidak percaya diri? Apa keuntungan yang Anda peroleh dengan terus berpegang pada hal-hal tersebut? Seandainya Musa percaya diri sejak awal\u2014bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dengan mencari petunjuk dari Tuhan\u2014tentulah ia tak perlu melewatkan 40 tahun di padang gurun menjaga ternak mertuanya! Mungkin saja, jika Anda percaya diri sejak dulu, Anda akan lebih maju sekarang! Anda akan bekerja lebih efektif dan mampu mengerahkan yang terbaik dari diri Anda! Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. \u2013 2 Timotius 1:7 Petrus dan Yohanes Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. \u2013 Kisah Para Rasul 4:13\u00a0 Petrus dan Yohanes dipanggil menjadi murid Yesus ketika mereka sedang bekerja menebar jala di danau (Matius 4:18-20). Ya, keduanya adalah nelayan! Dalam Kisah Para Rasul 4, mereka tidak lagi bekerja sebagai nelayan. Petrus bahkan berkhotbah pada perayaan Pentakosta, yang kemudian dikenal sebagai \u201ckhotbah Petrus\u201d (Kisah Para Rasul 2:14-40). Ia juga bisa menyembuhkan orang sakit (Kisah Para Rasul 3:1-10). Ketika Petrus dan Yohanes ditangkap dan disidang oleh Mahkamah Agama, orang-orang yang mendengar pembelaan mereka takjub melihat perubahan keduanya. Petrus dan Yohanes berbicara penuh dengan Roh Kudus. Apakah Anda tidak percaya diri karena Anda tidak punya gelar tinggi atau pekerjaan Anda kurang menjanjikan? Anda minder karena fisik tidak mendukung atau punya banyak kekurangan di sana-sini? Hei, jangan takut! Di dalam Tuhan, Anda bisa memperoleh rasa percaya diri, tanpa harus memenuhi standar yang digariskan oleh dunia. Tuhan bisa mengubah kelemahan Anda menjadi kekuatan. Dia dapat memutarbalikkan kemalangan menjadi keberhasilan, tragedi menjadi sukacita, dan kegagalan menjadi keberhasilan! Jadi, belajarlah menaruh kepercayaan diri Anda di dalam Tuhan!(gkdi.org) \u2013\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Sewaktu bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan, saya menerima seorang tamu wanita yang membuat saya terkesan hingga hari ini. Kala pertama bertemu, saya agak terkejut melihat wajahnya yang penuh lubang-lubang bekas jerawat. Namun, di sepanjang percakapan kami, wanita ini bicara dengan luwes dan anggun. Kepalanya terangkat tinggi dan sikap tubuhnya penuh percaya diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selepas pertemuan itu, saya pun merenung. Ternyata, rasa percaya diri yang tinggi membuat seseorang kelihatan menarik, apalagi ditambah cara berbicara yang penuh keyakinan. Dari sana saya menarik pelajaran bahwa sikap percaya diri adalah kecantikan dari dalam, yang sanggup menutupi kekurangan yang tampak dari luar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah Anda termasuk orang yang tidak percaya diri? Entah karena faktor keuangan, latar belakang pendidikan, pekerjaan, status sosial, atau masa lalu Anda. Barangkali Anda minder dengan penampilan fisik Anda. Apa pun itu, rasa tidak percaya diri akan menghambat Anda dalam banyak hal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lantas, bagaimana cara meraih kembali rasa percaya diri sesuai dengan firman Tuhan?<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Orang yang Paling Bahagia<\/strong><\/h2>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8954 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-1-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-1-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-1-FS-min-300x208.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-1-FS-min-768x531.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-1-FS-min-100x70.jpg 100w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-1-FS-min-218x150.jpg 218w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-1-FS-min-696x482.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-1-FS-min-607x420.jpg 607w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Barangkali, bagi standar dunia, orang yang berbahagia adalah mereka yang punya harta berlimpah dan kesuksesan gemilang. Mereka yang mampu berpergian keluar negeri dan punya pasangan hidup yang cantik atau ganteng. Sementara orang yang hidupnya sederhana, hanya sanggup liburan di dalam kota, tak punya pasangan, juga tidak rupawan, tidak akan bahagia. Benarkah demikian?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu! \u2013 Mazmur 84:12\u00a0<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis Mazmur mengatakan bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang percaya kepada Tuhan. Apa maksudnya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Coba bayangkan situasi ini: Anda orang yang paling bahagia karena segala hal yang diinginkan orang lain dalam hidup telah ada dalam genggaman Anda. Tiba-tiba, suatu hari Anda jatuh miskin. Atau, Anda mendapat kecelakaan parah yang mengakibatkan Anda tidak lagi ganteng atau cantik. Apakah Anda akan tetap bahagia?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bisa jadi, rasa percaya diri Anda selama ini langsung lenyap. Orang-orang yang Anda kasihi mungkin satu persatu mulai meninggalkan Anda. Lama-kelamaan, Anda menjadi rendah diri akibat perubahan hidup Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda. \u2013 Amsal 11:28<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menaruh rasa percaya diri pada hal-hal duniawi membuat Anda selalu was-was: \u201cBagaimana jika saya kehilangan semua itu?\u201d Anda takut tidak akan dikasihi dan diterima lagi jika kondisi Anda berubah. Dengan kata lain, kepercayaan diri yang demikian bukanlah yang sejati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu, seperti apa seharusnya rasa percaya diri yang benar?<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Percaya Diri Karena Hal-hal Surgawi<\/strong><\/h2>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8956 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-2-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-2-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-2-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-2-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-2-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-Diri-2-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. \u2013 Yesaya 12:2\u00a0<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika orang-orang yang mengandalkan Tuhan mengalami kejatuhan, mereka tidak akan terpuruk. Ini karena mereka tidak meletakkan rasa percaya diri mereka pada hal-hal di dunia atau yang sifatnya sementara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalau kepercayaan diri Anda berasal dari Tuhan, Anda tidak lantas hancur ketika kehilangan hal-hal berharga yang Anda miliki. Misalnya, pekerjaan, keluarga, pasangan hidup, kekayaan, atau popularitas. Sekalipun semuanya hilang, Anda tetap bisa percaya, tidak takut, karena Tuhanlah yang menjadi kekuatan dan keselamatan Anda. Tuhanlah sumber percaya diri Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa tokoh Alkitab berikut bisa menjadi inspirasi:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Musa<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8960 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-4-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-4-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-4-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-4-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-4-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-4-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tetapi Musa berkata kepada Allah: \u201cSiapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?\u201d \u2013 Keluaran 3:11\u00a0<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Musa, anak angkat putri Firaun yang awalnya penuh percaya diri, membunuh seorang Mesir yang menyiksa saudara-saudaranya. Akibatnya, ia berbalik menjadi orang yang rendah diri karena Firaun hendak memburunya <em>(Keluaran 2:11-15).<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada usia 40 tahun<em> (Kisah Para Rasul 7:22-24), <\/em>Musa menghabiskan 40 tahun berikutnya di padang gurun Midian sebagai seorang penggembala <em>(Kisah Para Rasul 7:30). <\/em>Hingga akhirnya, Tuhan menampakkan diri kepada Musa lewat api yang menyala di semak belukar (Keluaran 3:2).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa yang membuat Musa tidak percaya diri sekalipun Tuhan yang mengutusnya? Pertama, pengalaman pahit dan kegagalan. Ketika bermaksud menolong saudara-saudarinya, sebaliknya ia malah ditolak <em>(Keluaran 2:14). <\/em>Kedua, karena Musa terlalu fokus melihat kekurangan atau kelemahannya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Lalu kata Musa kepada TUHAN: \u201cAh, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.\u201d \u2013 Keluaran 4:10\u00a0<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah pengalaman pahit, masa lalu, atau kekurangan membuat Anda menjadi tidak percaya diri? Apa keuntungan yang Anda peroleh dengan terus berpegang pada hal-hal tersebut? Seandainya Musa percaya diri sejak awal\u2014bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dengan mencari petunjuk dari Tuhan\u2014tentulah ia tak perlu melewatkan 40 tahun di padang gurun menjaga ternak mertuanya!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin saja, jika Anda percaya diri sejak dulu, Anda akan lebih maju sekarang! Anda akan bekerja lebih efektif dan mampu mengerahkan yang terbaik dari diri Anda!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. \u2013 2 Timotius 1:7<\/em><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Petrus dan Yohanes<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8959 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-5-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-5-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-5-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-5-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-5-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Percaya-diri-5-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. \u2013 Kisah Para Rasul 4:13\u00a0<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Petrus dan Yohanes dipanggil menjadi murid Yesus ketika mereka sedang bekerja menebar jala di danau <em>(Matius 4:18-20). <\/em>Ya, keduanya adalah nelayan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam <em>Kisah Para Rasul 4<\/em>, mereka tidak lagi bekerja sebagai nelayan. Petrus bahkan berkhotbah pada perayaan Pentakosta, yang kemudian dikenal sebagai \u201ckhotbah Petrus\u201d (<em>Kisah Para Rasul 2:14-40).<\/em> Ia juga bisa menyembuhkan orang sakit <em>(Kisah Para Rasul 3:1-10).<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Petrus dan Yohanes ditangkap dan disidang oleh Mahkamah Agama, orang-orang yang mendengar pembelaan mereka takjub melihat perubahan keduanya. Petrus dan Yohanes berbicara penuh dengan Roh Kudus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah Anda tidak percaya diri karena Anda tidak punya gelar tinggi atau pekerjaan Anda kurang menjanjikan? Anda minder karena fisik tidak mendukung atau punya banyak kekurangan di sana-sini? Hei, jangan takut! Di dalam Tuhan, Anda bisa memperoleh rasa percaya diri, tanpa harus memenuhi standar yang digariskan oleh dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tuhan bisa mengubah kelemahan Anda menjadi kekuatan. Dia dapat memutarbalikkan kemalangan menjadi keberhasilan, tragedi menjadi sukacita, dan kegagalan menjadi keberhasilan! Jadi, belajarlah menaruh kepercayaan diri Anda di dalam Tuhan!(gkdi.org)<\/p>\n<h6 style=\"text-align: justify;\"><strong>\u2013<\/strong><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Sewaktu bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan, saya menerima seorang tamu wanita yang membuat saya terkesan hingga hari ini. Kala pertama bertemu, saya agak terkejut melihat wajahnya yang penuh lubang-lubang bekas jerawat. Namun, di sepanjang percakapan kami, wanita ini bicara dengan luwes dan anggun. Kepalanya terangkat tinggi dan sikap tubuhnya penuh percaya diri. Selepas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":45481,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-46974","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":45481,"alt_text":"","caption":"","description":"071fbed82480d085615a75c5f97e2cf5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/kikan-namara-antara-lagu-nasionalis-isu-radikalisme-dan-intoleransi_5e8074613e3f8.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/kikan-namara-antara-lagu-nasionalis-isu-radikalisme-dan-intoleransi_5e8074613e3f8.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/kikan-namara-antara-lagu-nasionalis-isu-radikalisme-dan-intoleransi_5e8074613e3f8.jpeg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/kikan-namara-antara-lagu-nasionalis-isu-radikalisme-dan-intoleransi_5e8074613e3f8.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"812","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46974","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46974"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46974\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45481"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46974"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46974"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46974"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}