{"id":47030,"date":"2020-09-16T07:04:39","date_gmt":"2020-09-16T00:04:39","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=47030"},"modified":"2020-09-09T14:40:18","modified_gmt":"2020-09-09T07:40:18","slug":"tekun-membaca-firman-tuhan-cukupkah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tekun-membaca-firman-tuhan-cukupkah\/","title":{"rendered":"Tekun Membaca Firman Tuhan, Cukupkah?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Ketika beribadah, bersaat teduh, belajar, atau mengajar firman Tuhan, bisa dipastikan kita akan membuka Alkitab dan menelusuri isinya. Lalu, pernahkah kita bertanya kenapa kita harus melakukannya? Apakah karena kita haus akan kebenaran? Apakah sebagai bukti bahwa kita menguasai materi-materi rohani atau mampu menghafal banyak ayat? Sebenarnya untuk apa, sih, kita bertekun membaca firman Tuhan? Tujuan Membaca Firman Tuhan Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. \u2013 Mazmur 119:105 Ayat-ayat firman Tuhan tidak hanya untuk dibaca dan dihafalkan. Firman berisi suara Tuhan sendiri. Firman adalah panduan yang Tuhan berikan kepada kita agar dapat menjalani hidup dan menyelesaikan setiap masalah melalui cara Tuhan. Jadi, tujuan bertekun membaca firman Tuhan adalah agar kita: 1. Dapat Menjadi Terang Dunia Alkitab terdiri dari dua bagian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama memuat janji-janji Allah tentang kedatangan Yesus, sang Penebus. Perjanjian Baru berisi penggenapan janji tersebut, karya keselamatan yang Yesus lakukan bagi manusia. Di atas semua itu, firman Tuhan mengandung kebenaran Allah, yang bisa kita pelajari lewat pengalaman tokoh-tokoh Alkitab. Ada tokoh yang lurus dan taat (misal, Yusuf dan Daniel), ada yang licik dan tekun (contohnya, Yakub), ada pula yang tidak taat (Yunus), atau mengalami pertobatan besar (Paulus). Allah tidak membuat para tokoh ini hanya dikenal karena hal baik-baiknya saja. Dia membiarkan segala yang baik maupun buruk tercantum di dalam firman supaya kita tahu kebenaran Allah. Dengan membaca firman Tuhan, kita tahu mana yang benar dan tidak benar menurut standar Allah. Firman ibarat pelita yang menerangi kehidupan kita. Kalau kita hidup seturut firman-Nya, hidup kita akan menjadi berkat bagi orang lain. Kita menjadi terang di dalam keluarga, di tempat kerja, di lingkungan perumahan, bahkan bukan mustahil, di lingkup-lingkup yang lebih besar lagi. \u201cDemikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.\u201d \u2013 Matius 5:16 2.\u00a0 Semakin Mirip Yesus Sebagai murid Yesus, setiap hari kita tentu konsisten saat teduh. Ada yang rutin melakukannya selama bertahun-tahun, beberapa bulan terakhir, atau mungkin baru belakangan ini. Entah sudah lama atau masih baru, cobalah Anda renungkan: Sudahkah saya mempraktikkan firman Tuhan yang saya baca? \u201cApakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?\u201d \u2013 Yakobus 2:14 Firman Tuhan bukanlah sekadar bacaan rutin, melainkan makanan rohani yang menjadikan karakter dan perbuatan kita semakin mirip Yesus. Dengan membaca firman tanpa mempraktikkan isinya, kita sama saja dengan kaum Farisi dan ahli Taurat yang munafik. Namun, melaksanakan firman Tuhan menjadi tanda bahwa kita adalah murid Yesus yang sejati. \u201cKamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna \u2026 bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.\u201d \u2013 Yakobus 2:22-24 Karakter-karakter Kristus apa saja yang sudah Anda miliki saat ini? Perbuatan-perbuatan Kristus apa yang Anda lakukan setiap hari? Kalau dari tahun ke tahun hidup rohani kita tidak bertumbuh, padahal setiap hari saat teduh, kita perlu mengecek hati kita: jangan-jangan kita belum menjadi pelaku firman. Mereka yang belum mengenal Allah akan melihat kita seperti tong kosong yang nyaring bunyinya karena tidak menghidupi firman yang kita pelajari. 3. Membawa Orang Lain kepada Keselamatan Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. \u2013 Matius 4:23 Dahulu Yesus memberitakan Injil dengan berjalan kaki ke tempat-tempat jauh. Kondisi jalan saat itu belum sebaik sekarang, belum ada telepon, apalagi mobil atau motor. Sekarang kita hidup di zaman yang jauh lebih nyaman; ada kendaraan, media sosial, dan internet. Jadi, gunakanlah semua sarana itu untuk memberitakan Injil\u2014kepada orang-orang terdekat yang belum mengenal Allah, kepada yang berbeban berat, yang sakit, yang putus asa\u2014agar mereka diselamatkan saat percaya dan berkomitmen mengikuti Yesus. \u201cLalu Ia berkata kepada mereka: \u201cPergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.\u201d \u2013 Markus 16:15 Siap atau tidak siap, diterima atau ditolak, dikasihi atau dibenci, kita harus memberitakan Injil kalau kita serius mengasihi Tuhan. Janganlah kita egois. Kita sudah merasakan berbagai perubahan positif melalui firman; ajaklah orang lain untuk mengenal Kristus agar hidup mereka juga diubahkan. Firman Tuhan menyentuh hidup berbagai macam orang secara luar biasa, dari generasi ke generasi. Banyak orang sudah membuktikan, termasuk Anda dan saya, bagaimana hidup kita berubah lebih baik ketika kita mau tunduk dan melakukan firman Tuhan. Jika saat ini Anda masih enggan membaca Alkitab atau bersaat teduh, cobalah terapkan hal-hal berikut atau renungkan ini. Marilah kita menjadi murid Yesus yang hidupnya menjadi terang dunia, dengan selalu merenungkan dan mempraktikkan firman Tuhan, serta giat memberitakannya kepada sebanyak mungkin orang. Amin.(msn)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Ketika beribadah, bersaat teduh, belajar, atau mengajar firman Tuhan, bisa dipastikan kita akan membuka Alkitab dan menelusuri isinya. Lalu, pernahkah kita bertanya kenapa kita harus melakukannya? Apakah karena kita haus akan kebenaran? Apakah sebagai bukti bahwa kita menguasai materi-materi rohani atau mampu menghafal banyak ayat?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebenarnya untuk apa, sih, kita bertekun membaca firman Tuhan?<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><b>Tujuan Membaca Firman Tuhan<\/b><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. \u2013 Mazmur 119:105<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ayat-ayat firman Tuhan tidak hanya untuk dibaca dan dihafalkan. Firman berisi suara Tuhan sendiri. Firman adalah panduan yang Tuhan berikan kepada kita agar dapat menjalani hidup dan menyelesaikan setiap masalah melalui cara Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi, tujuan bertekun membaca firman Tuhan adalah agar kita:<\/p>\n<div class=\"indent\" style=\"text-align: justify;\">\n<h4 style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Dapat Menjadi Terang Dunia<\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5405 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/firman-Tuhan-gkdi-1-300x200.jpg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/firman-Tuhan-gkdi-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/firman-Tuhan-gkdi-1.jpg 600w\" alt=\"firman Tuhan - gkdi 1\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Alkitab terdiri dari dua bagian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama memuat janji-janji Allah tentang kedatangan Yesus, sang Penebus. Perjanjian Baru berisi penggenapan janji tersebut, karya keselamatan yang Yesus lakukan bagi manusia.<\/p>\n<p>Di atas semua itu, firman Tuhan mengandung kebenaran Allah, yang bisa kita pelajari lewat pengalaman tokoh-tokoh Alkitab. Ada tokoh yang lurus dan taat (misal, Yusuf dan Daniel), ada yang licik dan tekun (contohnya, Yakub), ada pula yang tidak taat (Yunus), atau mengalami pertobatan besar (Paulus).<\/p>\n<p>Allah tidak membuat para tokoh ini hanya dikenal karena hal baik-baiknya saja. Dia membiarkan segala yang baik maupun buruk tercantum di dalam firman supaya kita tahu kebenaran Allah.<\/p>\n<p>Dengan membaca firman Tuhan, kita tahu mana yang benar dan tidak benar menurut standar Allah. Firman ibarat pelita yang menerangi kehidupan kita. Kalau kita hidup seturut firman-Nya, hidup kita akan menjadi berkat bagi orang lain. Kita menjadi terang di dalam keluarga, di tempat kerja, di lingkungan perumahan, bahkan bukan mustahil, di lingkup-lingkup yang lebih besar lagi.<\/p>\n<p><i>\u201cDemikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.\u201d \u2013 Matius 5:16<\/i><\/p>\n<h4><strong>2.\u00a0 Semakin Mirip Yesus<\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5407 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/firman-Tuhan-gkdi-2-300x200.jpg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/firman-Tuhan-gkdi-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/firman-Tuhan-gkdi-2.jpg 600w\" alt=\"firman Tuhan - gkdi 2\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p>Sebagai murid Yesus, setiap hari kita tentu konsisten saat teduh. Ada yang rutin melakukannya selama bertahun-tahun, beberapa bulan terakhir, atau mungkin baru belakangan ini. Entah sudah lama atau masih baru, cobalah Anda renungkan: <i>Sudahkah saya mempraktikkan firman Tuhan yang saya baca? <\/i><\/p>\n<p><i>\u201cApakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?\u201d \u2013 Yakobus 2:14<\/i><\/p>\n<p>Firman Tuhan bukanlah sekadar bacaan rutin, melainkan makanan rohani yang menjadikan karakter dan perbuatan kita semakin mirip Yesus. Dengan membaca firman tanpa mempraktikkan isinya, kita sama saja dengan kaum Farisi dan ahli Taurat yang munafik. Namun, melaksanakan firman Tuhan menjadi tanda bahwa kita adalah murid Yesus yang sejati.<\/p>\n<p><i>\u201cKamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna \u2026 bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.\u201d \u2013 Yakobus 2:22-24<\/i><\/p>\n<p>Karakter-karakter Kristus apa saja yang sudah Anda miliki saat ini? Perbuatan-perbuatan Kristus apa yang Anda lakukan setiap hari?<\/p>\n<p>Kalau dari tahun ke tahun hidup rohani kita tidak bertumbuh, padahal setiap hari saat teduh, kita perlu mengecek hati kita: jangan-jangan kita belum menjadi pelaku firman. Mereka yang belum mengenal Allah akan melihat kita seperti tong kosong yang nyaring bunyinya karena tidak menghidupi firman yang kita pelajari.<\/p>\n<h4><strong>3. Membawa Orang Lain kepada Keselamatan<\/strong><\/h4>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5408 aligncenter td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/firman-Tuhan-gkdi-3-300x200.jpg?resize=640%2C426&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/firman-Tuhan-gkdi-3-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/firman-Tuhan-gkdi-3.jpg 600w\" alt=\"firman Tuhan - gkdi 3\" width=\"640\" height=\"426\" \/><\/p>\n<p><i>Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. \u2013 Matius 4:23<\/i><\/p>\n<p>Dahulu Yesus memberitakan Injil dengan berjalan kaki ke tempat-tempat jauh. Kondisi jalan saat itu belum sebaik sekarang, belum ada telepon, apalagi mobil atau motor.<\/p>\n<p>Sekarang kita hidup di zaman yang jauh lebih nyaman; ada kendaraan, media sosial, dan internet. Jadi, gunakanlah semua sarana itu untuk memberitakan Injil\u2014kepada orang-orang terdekat yang belum mengenal Allah, kepada yang berbeban berat, yang sakit, yang putus asa\u2014agar mereka diselamatkan saat percaya dan berkomitmen mengikuti Yesus.<\/p>\n<p><i>\u201cLalu Ia berkata kepada mereka: \u201cPergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.\u201d \u2013 Markus 16:15<\/i><\/p>\n<p>Siap atau tidak siap, diterima atau ditolak, dikasihi atau dibenci, kita harus memberitakan Injil kalau kita serius mengasihi Tuhan. Janganlah kita egois. Kita sudah merasakan berbagai perubahan positif melalui firman; ajaklah orang lain untuk mengenal Kristus agar hidup mereka juga diubahkan.<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Firman Tuhan menyentuh hidup berbagai macam orang secara luar biasa, dari generasi ke generasi. Banyak orang sudah membuktikan, termasuk Anda dan saya, bagaimana hidup kita berubah lebih baik ketika kita mau tunduk dan melakukan firman Tuhan. Jika saat ini Anda masih enggan membaca Alkitab atau bersaat teduh, cobalah terapkan hal-hal berikut atau renungkan ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Marilah kita menjadi murid Yesus yang hidupnya menjadi terang dunia, dengan selalu merenungkan dan mempraktikkan firman Tuhan, serta giat memberitakannya kepada sebanyak mungkin orang. Amin.(msn)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Ketika beribadah, bersaat teduh, belajar, atau mengajar firman Tuhan, bisa dipastikan kita akan membuka Alkitab dan menelusuri isinya. Lalu, pernahkah kita bertanya kenapa kita harus melakukannya? Apakah karena kita haus akan kebenaran? Apakah sebagai bukti bahwa kita menguasai materi-materi rohani atau mampu menghafal banyak ayat? Sebenarnya untuk apa, sih, kita bertekun membaca firman Tuhan? [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46474,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-47030","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab"],"better_featured_image":{"id":46474,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/baca-alkitab.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/awan.jpg?fit=768%2C512&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/awan.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/baca-alkitab.jpg?fit=592%2C420&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1522","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47030","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47030"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47030\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46474"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47030"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47030"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47030"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}