{"id":47033,"date":"2020-09-18T07:00:12","date_gmt":"2020-09-18T00:00:12","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=47033"},"modified":"2020-09-09T14:46:51","modified_gmt":"2020-09-09T07:46:51","slug":"mudah-baper-atau-takut-baper-3-cara-bijak-sikapi-perasaan-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mudah-baper-atau-takut-baper-3-cara-bijak-sikapi-perasaan-2\/","title":{"rendered":"Mudah Baper atau Takut Baper? 3 Cara Bijak Sikapi Perasaan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Baper atau bawa perasaan berarti melibatkan perasaan secara berlebihan dalam menanggapi suatu hal. Jadi, baper bukanlah ihwal percintaan semata, meskipun sering dikaitkan dengan hal tersebut. Melalui sebuah survei yang saya lakukan terhadap 31 orang, 42% responden menilai mereka bukan orang yang baper. Uniknya, hampir semua responden berpendapat bahwa baper bukanlah hal yang baik. Bahkan, para responden yang menganggap diri mereka baper pun memiliki pendapat serupa. Setiap orang dikaruniai perasaaan dan logika. Perbedaannya terletak pada sisi mana yang lebih dominan. Dan, saya percaya Tuhan menciptakan kedua aspek tersebut untuk hal yang baik. Lantas, apakah baper itu buruk? Dan, bagaimana seharusnya kita menyikapi perasaan secara bijak? Melalui tiga poin berikut, saya mengajak Anda untuk mengenali dan mengendalikan perasaan Anda berdasarkan Alkitab. 1. Terima Perasaan Anda dengan Wajar Ada yang tidak suka menjadi orang baper karena takut dijauhi dalam pergaulan. Ada juga yang terlalu membiarkan perasaannya mengambil alih dirinya, misalnya galau selama satu minggu tanpa keluar kamar. Di sisi lain, ada orang yang risih menghadapi individu baper, tapi ada pula yang menerima. Hal-hal di atas menggambarkan respon yang tak wajar tentang perasaan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Saya termasuk orang yang tidak suka menjadi orang baper. Bagi saya, merepotkan sekali harus mengendalikan perasaan, sementara pikiran saya tahu apa yang semestinya saya lakukan Namun, mari kita belajar dari perkataan Yesus sendiri: Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. \u2013 Yohanes 6:37 TB Memahami cara Tuhan mengasihi kita adalah langkah pertama agar dapat menerima perasaan kita sendiri secara wajar. Tuhan mengasihi dan menerima kita apa adanya dalam kasih karunia-Nya, terlepas dari penerimaan orang lain terhadap diri kita. Tidak masalah Anda orang yang perasa atau orang yang lebih menggunakan logika\u2014yang penting, Anda bisa menerima diri sendiri apa adanya. Saya sendiri harus belajar untuk menerima perasaan saya secara wajar. Artinya, saya tidak menolak atau menyangkal perasaan saya, tetapi tidak juga membiarkan perasaan menguasai saya. \u201cIt\u2019s okay to be sad, but remember that God loves you just the way you are.\u201d Itu yang saya ingat sewaktu harus mengendalikan perasaan saya. Di lain pihak, bagi Anda yang cenderung menggunakan logika, pahamilah: Anda juga punya perasaan. Sewaktu-waktu, Anda pun bisa \u201cbaper,\u201d tapi terimalah perasaan tersebut dengan wajar. Tuhan tidak menciptakan perasaan untuk menghancurkan Anda, tetapi untuk membangun diri Anda. Jadi, jangan lupa untuk selalu berdoa dalam masa-masa buruk yang sedang Anda lalui. Ketahuilah, Tuhan ingin mendengar cerita Anda. 2. Jangan Dipendam, tapi Ceritakan Dalam survei singkat yang saya lakukan, mayoritas responden mengatakan tidak menyukai orang baper. Ada yang berpendapat mereka egois, tidak dewasa, susah diajak berteman, bahkan menghambat hidup. Para responden juga cenderung risih saat berinteraksi dengan orang baper, meskipun ada juga yang tidak keberatan. Sadar atau tidak, respon lingkungan terhadap \u201cbaper\u201d ini membuat kita jadi takut untuk mengungkapkan perasaan. Saya sering bertemu dengan orang yang enggan menceritakan perasaaannya karena khawatir dibilang baperan. Saya pun pernah merasa demikian, apalagi kalau tahu saya satu-satunya yang dominan menggunakan perasaan dalam sebuah grup. Selain menerima perasaan, menceritakan perasaan Anda kepada orang lain juga sama perlunya. Jangan sampai Anda tertekan karena memendam masalah sendirian. Banyak kasus bunuh diri (bahkan menimpa orang yang kita kira hidupnya bahagia!) terjadi karena depresi akibat tekanan batin. Yesus sendiri perlu curhat (curahan hati, menceritakan hal yang bersifat pribadi) kepada murid-murid-Nya ketika tahu diri-Nya akan ditangkap. Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: \u201cHati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.\u201d \u2013 Markus 14:33-34 Dari sini kita tahu, sekalipun Yesus adalah Tuhan, Dia juga punya kebutuhan untuk menceritakan perasaan-Nya kepada orang lain. Menceritakan perasaan bukan berarti Anda menunjukkan kelemahan, tetapi membagikan beban agar Anda tidak menanggungnya sendirian. Teladan Yesus yang bersikap apa adanya mendorong saya untuk belajar membagikan perasaan ketika saya sedang mengalami kesulitan. Entah Anda orang yang dominan logika atau perasaan, Anda dapat membantu dan dibantu orang lain dalam mengendalikan perasaan. Bercerita kepada orang yang dapat mengarahkan hati Anda kepada kasih Tuhan akan melatih Anda untuk punya pola pikir yang sehat. Saya bersyukur telah menemukan komunitas yang mau menerima dan mengarahkan perasaan saya kepada Tuhan, sehingga saya tetap hidup dalam kebenaran. 3. Evaluasi, Lalu Aksi! Orang yang \u201cbaper\u201d cenderung tenggelam dalam perasaannya tanpa menindaklanjuti masalah yang ia hadapi. Dan seringnya, mereka malah semakin sedih karena masalahnya tidak kunjung selesai. Nah, jika Anda termasuk orang yang mudah \u201cbaper,\u201d ingatlah bahwa masalah itu perlu diselesaikan, bukan hanya direnungkan. Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. \u2013 1 Korintus 10:13 Tuhan menyediakan jalan keluar dari setiap permasalahan Anda, tetapi Anda juga perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh atas masalah tersebut. Apa yang kira-kira masih dapat Anda perbaiki, mulailah Anda perbaiki. Jika Anda ingin keluar dari masalah Anda, melangkahlah ke \u201cpintu keluarnya.\u201d Tanpa evaluasi dan aksi, tidak ada solusi. Rasa takut gagal sering kali menghantui orang yang \u201cbaper\u201d saat mesti melangkah. Untuk itu, mulailah dengan mengambil keputusan untuk percaya bahwa Tuhan akan menyertai setiap proses penyelesaian masalah Anda. Bisa jadi, Anda memerlukan bantuan orang lain untuk berdiskusi mengenai solusinya. Ora et labora\u2014berdoalah sembari berusaha, sampai Anda mendapatkan jalan keluar dari masalah Anda. Perasaan dan logika diciptakan Tuhan untuk tujuan yang baik. Jadi, ketimbang membiarkan \u201cbaper\u201d membawa kita kepada hal-hal yang merusak, lebih baik \u201cbawa perasaan\u201d kita kepada Tuhan dan belajar mengendalikannya dengan bijak. Selamat mencoba!(gkdi.org)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Baper atau bawa perasaan berarti melibatkan perasaan secara berlebihan dalam menanggapi suatu hal. Jadi, baper bukanlah ihwal percintaan semata, meskipun sering dikaitkan dengan hal tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui sebuah survei yang saya lakukan terhadap 31 orang, 42% responden menilai mereka bukan orang yang baper. Uniknya, hampir semua responden berpendapat bahwa baper bukanlah hal yang baik. Bahkan, para responden yang menganggap diri mereka baper pun memiliki pendapat serupa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap orang dikaruniai perasaaan dan logika. Perbedaannya terletak pada sisi mana yang lebih dominan. Dan, saya percaya Tuhan menciptakan kedua aspek tersebut untuk hal yang baik. Lantas, apakah baper itu buruk? Dan, bagaimana seharusnya kita menyikapi perasaan secara bijak?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui tiga poin berikut, saya mengajak Anda untuk mengenali dan mengendalikan perasaan Anda berdasarkan Alkitab.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Terima Perasaan Anda dengan Wajar<\/strong><\/h2>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8560 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-1-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-1-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-1-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-1-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-1-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-1-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada yang tidak suka menjadi orang baper karena takut dijauhi dalam pergaulan. Ada juga yang terlalu membiarkan perasaannya mengambil alih dirinya, misalnya galau selama satu minggu tanpa keluar kamar. Di sisi lain, ada orang yang risih menghadapi individu baper, tapi ada pula yang menerima.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal-hal di atas menggambarkan respon yang tak wajar tentang perasaan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Saya termasuk orang yang tidak suka menjadi orang baper. Bagi saya, merepotkan sekali harus mengendalikan perasaan, sementara pikiran saya tahu apa yang semestinya saya lakukan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, mari kita belajar dari perkataan Yesus sendiri:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. \u2013 Yohanes 6:37 TB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memahami cara Tuhan mengasihi kita adalah langkah pertama agar dapat menerima perasaan kita sendiri secara wajar. Tuhan mengasihi dan menerima kita apa adanya dalam kasih karunia-Nya, terlepas dari penerimaan orang lain terhadap diri kita. Tidak masalah Anda orang yang perasa atau orang yang lebih menggunakan logika\u2014yang penting, Anda bisa menerima diri sendiri apa adanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya sendiri harus belajar untuk menerima perasaan saya secara wajar. Artinya, saya tidak menolak atau menyangkal perasaan saya, tetapi tidak juga membiarkan perasaan menguasai saya. <em>\u201cIt\u2019s okay to be sad, but remember that God loves you just the way you are.\u201d<\/em> Itu yang saya ingat sewaktu harus mengendalikan perasaan saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di lain pihak, bagi Anda yang cenderung menggunakan logika, pahamilah: Anda juga punya perasaan. Sewaktu-waktu, Anda pun bisa \u201cbaper,\u201d tapi terimalah perasaan tersebut dengan wajar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tuhan tidak menciptakan perasaan untuk menghancurkan Anda, tetapi untuk membangun diri Anda. Jadi, jangan lupa untuk selalu berdoa dalam masa-masa buruk yang sedang Anda lalui. Ketahuilah, Tuhan ingin mendengar cerita Anda.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Jangan Dipendam, tapi Ceritakan<\/strong><\/h2>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8559 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-2-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-2-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-2-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-2-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-2-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Baper-2-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam survei singkat yang saya lakukan, mayoritas responden mengatakan tidak menyukai orang baper. Ada yang berpendapat mereka egois, tidak dewasa, susah diajak berteman, bahkan menghambat hidup. Para responden juga cenderung risih saat berinteraksi dengan orang baper, meskipun ada juga yang tidak keberatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sadar atau tidak, respon lingkungan terhadap \u201cbaper\u201d ini membuat kita jadi takut untuk mengungkapkan perasaan. Saya sering bertemu dengan orang yang enggan menceritakan perasaaannya karena khawatir dibilang <em>baperan<\/em>. Saya pun pernah merasa demikian, apalagi kalau tahu saya satu-satunya yang dominan menggunakan perasaan dalam sebuah grup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain menerima perasaan, menceritakan perasaan Anda kepada orang lain juga sama perlunya. Jangan sampai Anda tertekan karena memendam masalah sendirian. Banyak kasus bunuh diri (bahkan menimpa orang yang kita kira hidupnya bahagia!) terjadi karena depresi akibat tekanan batin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yesus sendiri perlu curhat (curahan hati, menceritakan hal yang bersifat pribadi) kepada murid-murid-Nya ketika tahu diri-Nya akan ditangkap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: \u201cHati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.\u201d \u2013 Markus 14:33-34<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sini kita tahu, sekalipun Yesus adalah Tuhan, Dia juga punya kebutuhan untuk menceritakan perasaan-Nya kepada orang lain. Menceritakan perasaan bukan berarti Anda menunjukkan kelemahan, tetapi membagikan beban agar Anda tidak menanggungnya sendirian. Teladan Yesus yang bersikap apa adanya mendorong saya untuk belajar membagikan perasaan ketika saya sedang mengalami kesulitan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Entah Anda orang yang dominan logika atau perasaan, Anda dapat membantu dan dibantu orang lain dalam mengendalikan perasaan. Bercerita kepada orang yang dapat mengarahkan hati Anda kepada kasih Tuhan akan melatih Anda untuk punya pola pikir yang sehat. Saya bersyukur telah menemukan komunitas yang mau menerima dan mengarahkan perasaan saya kepada Tuhan, sehingga saya tetap hidup dalam kebenaran.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Evaluasi, Lalu Aksi!<\/strong><\/h2>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-8561 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/baper-3-FS-min.jpg?ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/baper-3-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/baper-3-FS-min-300x197.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/baper-3-FS-min-768x505.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/baper-3-FS-min-696x458.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/baper-3-FS-min-638x420.jpg 638w\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang yang \u201cbaper\u201d cenderung tenggelam dalam perasaannya tanpa menindaklanjuti masalah yang ia hadapi. Dan seringnya, mereka malah semakin sedih karena masalahnya tidak kunjung selesai. Nah, jika Anda termasuk orang yang mudah \u201cbaper,\u201d ingatlah bahwa masalah itu perlu diselesaikan, bukan hanya direnungkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. \u2013 1 Korintus 10:13<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tuhan menyediakan jalan keluar dari setiap permasalahan Anda, tetapi Anda juga perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh atas masalah tersebut. Apa yang kira-kira masih dapat Anda perbaiki, mulailah Anda perbaiki. Jika Anda ingin keluar dari masalah Anda, melangkahlah ke \u201cpintu keluarnya.\u201d Tanpa evaluasi dan aksi, tidak ada solusi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasa takut gagal sering kali menghantui orang yang \u201cbaper\u201d saat mesti melangkah. Untuk itu, mulailah dengan mengambil keputusan untuk percaya bahwa Tuhan akan menyertai setiap proses penyelesaian masalah Anda. Bisa jadi, Anda memerlukan bantuan orang lain untuk berdiskusi mengenai solusinya. <em>Ora et labora\u2014<\/em>berdoalah sembari berusaha, sampai Anda mendapatkan jalan keluar dari masalah Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perasaan dan logika diciptakan Tuhan untuk tujuan yang baik. Jadi, ketimbang membiarkan \u201cbaper\u201d membawa kita kepada hal-hal yang merusak, lebih baik \u201cbawa perasaan\u201d kita kepada Tuhan dan belajar mengendalikannya dengan bijak. Selamat mencoba!(gkdi.org)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Baper atau bawa perasaan berarti melibatkan perasaan secara berlebihan dalam menanggapi suatu hal. Jadi, baper bukanlah ihwal percintaan semata, meskipun sering dikaitkan dengan hal tersebut. Melalui sebuah survei yang saya lakukan terhadap 31 orang, 42% responden menilai mereka bukan orang yang baper. Uniknya, hampir semua responden berpendapat bahwa baper bukanlah hal yang baik. Bahkan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46554,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-47033","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab"],"better_featured_image":{"id":46554,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/body-shaming.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/body-shaming.jpg?fit=600%2C400&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/body-shaming.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/body-shaming.jpg?fit=600%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"758","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47033","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47033"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47033\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46554"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47033"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47033"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47033"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}