{"id":47065,"date":"2026-01-20T18:16:04","date_gmt":"2026-01-20T11:16:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/perahu-perahu-lain-juga-menyertai-dia-markus-436\/"},"modified":"2026-01-20T18:16:06","modified_gmt":"2026-01-20T11:16:06","slug":"perahu-perahu-lain-juga-menyertai-dia-markus-436","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/perahu-perahu-lain-juga-menyertai-dia-markus-436\/","title":{"rendered":"Habel menjadi gembala kambing domba.  [Kejadian 4:2]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Sebagai seorang gembala Habel menyucikan pekerjaannya untuk kemuliaan Tuhan, dan mempersembahkan korban darah di mezbahnya, dan Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu.[Kejadian 4:4] Tuhan kita ini pada masa permulaan dunia sangat jelas dan khusus. Seperti kilatan pertama cahaya yang sedikit menerangi bagian timur saat matahari terbit, ia tidak mengungkapkan segalanya, tetapi ia jelas menyatakan suatu kenyataan besar bahwa matahari akan datang. Sebagaimana kita melihat Habel, seorang gembala namun juga seorang imam, mempersembahkan korban harum kepada Allah, kita memahami Tuhan kita, yang membawa kepada Bapa-Nya sebuah persembahan di mana TUHAN selamanya berkenan. Habel dibenci oleh kakaknya\u2014dibenci tanpa sebab; dan sama juga Sang Juruselamat: manusia duniawi dan kedagingan membenci manusia yang diterima yang di dalam-Nya terdapat Roh Anugerah, dan tidak beristirahat sampai darah-Nya tumpah. Habel jatuh, dan memercik mezbahnya dan memberi persembahan dengan darahnya sendiri, dan seperti itu ditetapkan Tuhan Yesus dibunuh oleh permusuhan manusia sambil juga melayani sebagai Imam di hadapan Tuhan. \u201cGembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.\u201d [Yoh 10:11] Mari kita menangisi-Nya sebagaimana kita melihat Dia dibunuh oleh kebencian umat manusia, menodai tanduk mezbah-Nya dengan darah-Nya sendiri. Darah Habel berkata.\u201dTuhan berkata kepada Kain,\u2019Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.\u2019\u201d[Kej 4:10] Darah Yesus memiliki lidah yang kuat, dan akibat dari tangisan yang kuat itu bukanlah balas dendam tetapi belas kasihan. Adalah berharga lebih dari segala yang berharga untuk berdiri di depan mezbah Gembala kita yang baik! Melihat-Nya mencucurkan darah di sana sebagai Imam yang dibunuh, kemudian mendengar darah-Nya menyuarakan perdamaian bagi semua domba-Nya, perdamaian dalam hati nurani kita, perdamaian di antara orang Yahudi dan orang Kafir, perdamaian di antara manusia dan Penciptanya yang perasaan-Nya tersakiti, perdamaian seluruh zaman kekekalan untuk manusia yang dicuci oleh darah. Habel adalah gembala yang pertama dalam urutan waktu, tetapi hati kita selamanya menepatkan Yesus pertama dalam urutan kesempurnaan. Engkau Penjaga domba yang agung, kami orang-orang di padang rumput-Mu memuji Engkau dengan segenap hati kami ketika kami melihat Engkau disembelih bagi kami. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Sebagai seorang gembala Habel <i>menyucikan pekerjaannya untuk kemuliaan Tuhan, dan mempersembahkan korban darah di mezbahnya, dan Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu.<\/i>[<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kejadian%204:4\">Kejadian 4:4<\/a>] Tuhan kita ini pada masa permulaan dunia sangat jelas dan khusus. Seperti kilatan pertama cahaya yang sedikit menerangi bagian timur saat matahari terbit, ia tidak mengungkapkan segalanya, tetapi ia jelas menyatakan suatu kenyataan besar bahwa matahari akan datang. Sebagaimana kita melihat Habel, seorang gembala namun juga seorang imam, mempersembahkan korban harum kepada Allah, kita memahami Tuhan kita, yang membawa kepada Bapa-Nya sebuah persembahan di mana TUHAN selamanya berkenan. Habel dibenci oleh kakaknya\u2014dibenci tanpa sebab; dan sama juga Sang Juruselamat: manusia duniawi dan kedagingan membenci manusia yang diterima yang di dalam-Nya terdapat Roh Anugerah, dan tidak beristirahat sampai darah-Nya tumpah. Habel jatuh, dan memercik mezbahnya dan memberi persembahan dengan darahnya sendiri, dan seperti itu ditetapkan Tuhan Yesus dibunuh oleh permusuhan manusia sambil juga melayani sebagai Imam di hadapan Tuhan. \u201cGembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yoh%2010:11\">Yoh 10:11<\/a>] Mari kita menangisi-Nya sebagaimana kita melihat Dia dibunuh oleh kebencian umat manusia, menodai tanduk mezbah-Nya dengan darah-Nya sendiri. <i>Darah Habel berkata.<\/i>\u201dTuhan berkata kepada Kain,\u2019Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.\u2019\u201d[<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kej%204:10\">Kej 4:10<\/a>] Darah Yesus memiliki lidah yang kuat, dan akibat dari tangisan yang kuat itu bukanlah balas dendam tetapi belas kasihan. Adalah berharga lebih dari segala yang berharga untuk berdiri di depan mezbah Gembala kita yang baik! Melihat-Nya mencucurkan darah di sana sebagai Imam yang dibunuh, kemudian mendengar darah-Nya menyuarakan perdamaian bagi semua domba-Nya, perdamaian dalam hati nurani kita, perdamaian di antara orang Yahudi dan orang Kafir, perdamaian di antara manusia dan Penciptanya yang perasaan-Nya tersakiti, perdamaian seluruh zaman kekekalan untuk manusia yang dicuci oleh darah. Habel adalah gembala yang pertama dalam urutan waktu, tetapi hati kita selamanya menepatkan Yesus pertama dalam urutan kesempurnaan. Engkau Penjaga domba yang agung, kami orang-orang di padang rumput-Mu memuji Engkau dengan segenap hati kami ketika kami melihat Engkau disembelih bagi kami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Sebagai seorang gembala Habel menyucikan pekerjaannya untuk kemuliaan Tuhan, dan mempersembahkan korban darah di mezbahnya, dan Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu.[Kejadian 4:4] Tuhan kita ini pada masa permulaan dunia sangat jelas dan khusus. Seperti kilatan pertama cahaya yang sedikit menerangi bagian timur saat matahari terbit, ia tidak mengungkapkan segalanya, tetapi ia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-47065","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"69","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47065","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47065"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47065\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68702,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47065\/revisions\/68702"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47065"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47065"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47065"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}