{"id":47108,"date":"2026-01-26T18:15:49","date_gmt":"2026-01-26T11:15:49","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/aku-akan-bergirang-karena-mereka-untuk-berbuat-baik-kepada-mereka-yeremia-3241\/"},"modified":"2026-01-26T18:15:50","modified_gmt":"2026-01-26T11:15:50","slug":"aku-akan-bergirang-karena-mereka-untuk-berbuat-baik-kepada-mereka-yeremia-3241","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/aku-akan-bergirang-karena-mereka-untuk-berbuat-baik-kepada-mereka-yeremia-3241\/","title":{"rendered":"Bapamu yang di sorga. [Matius 6:26]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Umat Allah adalah sekaligus juga anak-anak-Nya, mereka merupakan keturunan-Nya berdasarkan penciptaan, dan mereka merupakan anak-anak-Nya berdasarkan adopsi dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memiliki hak istimewa untuk memanggil-Nya, &quot;Bapa kami yang di sorga.&quot; [Matius 6:9] Bapa! Oh, alangkah berharganya kata itu. Di sini ada otoritas: &quot;Jika Aku adalah Bapa, mana kehormatan-Ku?&quot; Jika kalian adalah anak-anak-Nya, mana ketaatan kalian? Di sini ada kasih sayang yang bercampur dengan otoritas; otoritas yang tidak memicu pemberontakan; yaitu ketaatan yang dituntut dan ditaati dengan riang\u2014yang tidak akan dilanggar walaupun dapat dilanggar. Ketaatan yang anak-anak Allah persembahkan haruslah ketaatan berdasarkan kasih. Janganlah melayani Allah sebagai budak yang berjerih payah menurut perintah atasannya, tetapi ikutilah perintah-Nya karena itu merupakan jalan Bapamu. Serahkan tubuhmu sebagai alat kebenaran, karena kebenaran merupakan kehendak Bapamu, dan kehendak Dia harus merupakan kehendak anak-Nya. Bapa!\u2014Inilah atribut rajawi yang begitu manis terselubung oleh kasih, yang mana wajah Sang Raja membuat mahkota-Nya tidak lagi kentara, dan tongkat-Nya bukan lagi tongkat besi, tetapi tongkat perak belas kasih\u2014tongkat itu seakan terlupakan di genggaman tangan-Nya yang lemah lembut. Bapa!\u2014Inilah hormat dan kasih. Betapa besar kasih Bapa kepada anak-anak-Nya! Hati dan tangan Bapalah yang harus melakukan bagi anak-anak-Nya hal yang tidak mungkin dilaksanakan sebuah persahabatan belaka ataupun diusahakan sekedar kebaikan hati. Mereka adalah keturunan-Nya, Ia harus memberkati mereka; mereka adalah anak-anak-Nya, Ia harus menyatakan kekuatan-Nya membela mereka. Jika bapa duniawi saja dengan kasih mengawasi anak-anak dan merawat mereka tidak henti-hentinya, apalagi Bapa surgawi kita. Abba, Bapa! Dia yang bisa mengucapkan ini berarti telah menyanyi dengan lebih baik daripada musik terbaik dari kerubim atau serafim. Ada surga pada kedalaman kata ini\u2014Bapa! Inilah seluruh permintaanku; seluruh permohonan akan kebutuhanku; seluruh keinginan dan harapanku. Aku memiliki semua dan segala sesuatu sampai seluruh kekekalan saat aku dapat berkata, &quot;Bapa.&quot; RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Umat Allah adalah sekaligus juga anak-anak-Nya, mereka merupakan keturunan-Nya berdasarkan penciptaan, dan mereka merupakan anak-anak-Nya berdasarkan adopsi dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memiliki hak istimewa untuk memanggil-Nya, &#8220;Bapa kami yang di sorga.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Matius%206:9\">Matius 6:9<\/a>] Bapa! Oh, alangkah berharganya kata itu. Di sini ada <i>otoritas<\/i>: &#8220;Jika Aku adalah Bapa, mana kehormatan-Ku?&#8221; Jika kalian adalah anak-anak-Nya, mana ketaatan kalian? Di sini ada <i>kasih sayang<\/i> yang bercampur dengan otoritas; otoritas yang tidak memicu pemberontakan; yaitu ketaatan yang dituntut dan ditaati dengan riang\u2014yang tidak akan dilanggar walaupun dapat dilanggar. Ketaatan yang anak-anak Allah persembahkan haruslah ketaatan berdasarkan <i>kasih<\/i>. Janganlah melayani Allah sebagai budak yang berjerih payah menurut perintah atasannya, tetapi ikutilah perintah-Nya karena itu merupakan jalan <i>Bapamu<\/i>. Serahkan tubuhmu sebagai alat kebenaran, karena kebenaran merupakan kehendak Bapamu, dan kehendak <i>Dia<\/i> harus merupakan kehendak anak-Nya. <i>Bapa<\/i>!\u2014Inilah atribut rajawi yang begitu manis terselubung oleh kasih, yang mana wajah Sang Raja membuat mahkota-Nya tidak lagi kentara, dan tongkat-Nya bukan lagi tongkat besi, tetapi tongkat perak belas kasih\u2014tongkat itu seakan terlupakan di genggaman tangan-Nya yang lemah lembut. <i>Bapa<\/i>!\u2014Inilah hormat dan kasih. Betapa besar kasih Bapa kepada anak-anak-Nya! Hati dan tangan Bapalah yang harus melakukan bagi anak-anak-Nya hal yang tidak mungkin dilaksanakan sebuah persahabatan belaka ataupun diusahakan sekedar kebaikan hati. Mereka adalah keturunan-Nya, Ia harus memberkati mereka; mereka adalah anak-anak-Nya, Ia harus menyatakan kekuatan-Nya membela mereka. Jika bapa duniawi saja dengan kasih mengawasi anak-anak dan merawat mereka tidak henti-hentinya, apalagi Bapa surgawi kita. Abba, Bapa! Dia yang bisa mengucapkan ini berarti telah menyanyi dengan lebih baik daripada musik terbaik dari kerubim atau serafim. Ada surga pada kedalaman kata ini\u2014Bapa! Inilah seluruh permintaanku; seluruh permohonan akan kebutuhanku; seluruh keinginan dan harapanku. Aku memiliki semua dan segala sesuatu sampai seluruh kekekalan saat aku dapat berkata, &#8220;Bapa.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Umat Allah adalah sekaligus juga anak-anak-Nya, mereka merupakan keturunan-Nya berdasarkan penciptaan, dan mereka merupakan anak-anak-Nya berdasarkan adopsi dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memiliki hak istimewa untuk memanggil-Nya, &#8220;Bapa kami yang di sorga.&#8221; [Matius 6:9] Bapa! Oh, alangkah berharganya kata itu. Di sini ada otoritas: &#8220;Jika Aku adalah Bapa, mana kehormatan-Ku?&#8221; Jika kalian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-47108","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"94","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47108","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47108"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47108\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68715,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47108\/revisions\/68715"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47108"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47108"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}