{"id":47271,"date":"2020-10-16T07:00:55","date_gmt":"2020-10-16T00:00:55","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=47271"},"modified":"2020-10-08T11:07:37","modified_gmt":"2020-10-08T04:07:37","slug":"adaptasi-kebiasaan-baru-berdamai-dengan-gaya-hidup-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/adaptasi-kebiasaan-baru-berdamai-dengan-gaya-hidup-baru\/","title":{"rendered":"Adaptasi Kebiasaan Baru, Berdamai dengan Gaya Hidup Baru"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Adaptasi kebiasaan baru, atau yang dulu dikenal sebagai new normal, adalah pola hidup baru untuk mencegah risiko penularan COVID-19. Pandemi ini telah mengubah gaya hidup kita secara besar-besaran, mulai dari sistem bekerja dari rumah atau bergilir, sekolah daring, hingga beribadah secara virtual. Mungkin sejumlah kebiasaan baru membuat Anda bingung, risih, bahkan kesal. Tak hanya menghadapi krisis finansial pribadi, Anda juga harus mengingat dan menerapkan sejumlah protokol kesehatan. Di antaranya, rajin mencuci tangan, menjaga jarak dalam interaksi sosial, mengenakan masker, rajin berolahraga, istirahat cukup, dan makan makanan bergizi seimbang. Sebagai umat Kristen, kita diharapkan memberi teladan ketaatan terhadap peraturan pemerintah, serta disiplin menerapkan adaptasi kebiasaan baru. Mengapa? Karena, selain membantu mengurangi penyebaran coronavirus, kita perlu berjuang menjadi serupa dengan karakter Kristus. Karakter yang tidak menyerah dan tetap produktif di masa sulit sekalipun. Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan untuk berdamai dengan pola hidup baru ini? Mulai dari Pola Pikir yang Benar Cara kita melihat dan merespon masalah adalah perwujudan sikap mengasihi Tuhan. Dengan pengertian yang benar, kita dapat melihat masalah bukan sebagai kesulitan, melainkan tantangan. Perubahan pola pikir akan membantu kita menjalankan adaptasi hidup baru dengan respon yang benar sesuai firman Tuhan. Sebagai awalnya, mari lakukan evaluasi diri. Apakah kita memiliki iman yang hidup atau iman yang mengandalkan diri sendiri? Apakah kita percaya kepada Tuhan atau menyalahkan Tuhan? Apakah tantangan menjadikan kita semakin dekat dengan Tuhan atau mengandalkan diri sendiri? Apakah situasi sulit membuat kita lebih peduli kepada sesama atau sebaliknya? Selagi menunggu ditemukannya vaksin COVID-19, kita perlu belajar berdamai dengan keadaan. Dan, kita dapat memulainya dari diri sendiri, yaitu dengan menerapkan kiat berDAMAI: 1. D \u2013 Doa Ala Kebiasaan Baru Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. \u2013 Filipi 4:6 Secara tak langsung, tantangan yang diizinkan Tuhan mengajarkan kita bahwa kekayaan, kekuatan, kekuasaan manusia hanyalah sementara. Kesulitan hidup membantu kita lebih dekat dengan Tuhan. Bagian kita adalah menyampaikan permohonan doa dengan lebih detail, dengan penuh pengharapan serta keyakinan kepada-Nya. Apa pun rencana atau permohonan yang Anda utarakan kepada Tuhan, sampaikanlah dengan pengertian yang benar bahwa Dialah satu-satunya yang sanggup menolong\u00a0 Anda. Ini adalah masa transisi yang tidak mudah. Namun percayalah, Tuhan mampu bekerja melalui doa, kasih, dan dukungan orang-orang di sekitar Anda. 2. A \u2013 Aksi Ala Kebiasaan Baru Tetapi mungkin ada orang berkata: \u201cPadamu ada iman dan padaku ada perbuatan\u201d, aku akan menjawab dia: \u201cTunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.\u201d \u2013 Yakobus 2:18 Selain berdoa, kita juga harus gigih berusaha, dan keduanya perlu dilakukan secara konsisten. Jalankan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah dengan rela hati dan kesadaran bahwa Anda melakukannya demi kebaikan diri sendiri serta orang-orang yang Anda kasihi. Wujudkan rencana atau ide Anda dengan gaya kebiasaan baru yang sudah Anda susun dan doakan. Jika Anda harus bekerja di rumah sembari menjaga bayi atau menemani anak belajar, berdiskusilah dengan pasangan dan keluarga tentang pengaturan jadwal. Jalani kesibukan gaya baru sembari saling mengingatkan dan menguatkan saudara-saudari seiman Anda. Dengan demikian, Anda punya teman berbagi dan tidak merasa sendirian menjalani semua ini. Jangan segan atau malu beralih profesi jika diperlukan di masa transisi. Anda mungkin harus melakukan upskilling (meningkatkan keahlian kerja) dan reskilling (memulai jalur karier baru). Mungkin penghasilan yang menurun atau mendadak tidak ada \u201cmemaksa\u201d Anda menambah penghasilan, seperti berdagang produk kesehatan, mengubah lini bisnis, membuat konten online, dan lain-lain. Apa pun itu, kerjakan dengan kemurnian hati dan motivasi yang benar. Saat merealisasikan rencana, selalu ada kemungkinan munculnya kendala, baik secara eksternal maupun internal. Namun, Tuhan menghendaki dari kita bukan iman yang cepat menyerah atau pasrah. Bukan keyakinan yang tanpa aksi, atau hanya menunggu ditolong. Tuhan ingin kita punya iman yang disertai perbuatan, yang berarti kita melakukan perjuangan untuk mendukung iman tersebut. Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. \u2013 Yakobus 2:17 3. MAI \u2013 Mengandalkan Tuhan dengan Iman Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. \u2013 Amsal 3:5 Kendati kita sudah berencana dan berdoa, hal-hal yang di luar kendali manusia bisa saja terjadi, terutama dalam masa transisi yang serba tak menentu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk berserah sepenuhnya kepada Tuhan, terutama dalam segala sesuatu yang tidak dapat kita prediksi. Apakah Anda sering lebih mengandalkan cara sendiri, tidak peduli pada hal-hal selain kepentingan dan kenyamanan Anda? Jika ya, berarti Anda hanya berfokus pada diri sendiri dan bergantung pada sudut pandang manusia, bukan berserah kepada Tuhan. Berserah tidak sama dengan pasrah. Pasrah artinya kehilangan pengharapan. Respon orang yang pasrah adalah mudah menyerah, tidak berbuat apa-apa, berpikiran negatif, dan pesimis. Berserah artinya Anda menaruh pengharapan di dalam Tuhan, taat mengikuti kehendak-Nya, serta percaya pada rencana dan pimpinan-Nya. Respon orang sedang berserah adalah berpikiran positif, optimis, dan tetap mempunyai semangat hidup yang tinggi. Tuhan mengajak kita untuk menumbuhkan iman yang bukan sekadar \u201cpercaya saja,\u201d melainkan iman yang disertai kemauan untuk bekerja dan berdamai dengan keadaan. Semoga ketiga tips di atas memberikan Anda semangat berDAMAI dengan kebiasaan baru. Jalani hidup dengan bijaksana agar nama Tuhan semakin dimuliakan!(gkdi.org) \u2013 Referensi: promkes.kemkes.go.id\/menuju-adaptasi-kebiasaan-baru\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Adaptasi kebiasaan baru, atau yang dulu dikenal sebagai <em>new normal<\/em>, adalah pola hidup baru untuk mencegah risiko penularan COVID-19. Pandemi ini telah mengubah gaya hidup kita secara besar-besaran, mulai dari sistem bekerja dari rumah atau bergilir, sekolah daring, hingga beribadah secara virtual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin sejumlah kebiasaan baru membuat Anda bingung, risih, bahkan kesal. Tak hanya menghadapi krisis finansial pribadi, Anda juga harus mengingat dan menerapkan sejumlah protokol kesehatan. Di antaranya, rajin mencuci tangan, menjaga jarak dalam interaksi sosial, mengenakan masker, rajin berolahraga, istirahat cukup, dan makan makanan bergizi seimbang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai umat Kristen, kita diharapkan memberi teladan ketaatan terhadap peraturan pemerintah, serta disiplin menerapkan adaptasi kebiasaan baru. Mengapa? Karena, selain membantu mengurangi penyebaran <em>coronavirus<\/em>, kita perlu berjuang menjadi serupa dengan karakter Kristus. Karakter yang tidak menyerah dan tetap produktif di masa sulit sekalipun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan untuk berdamai dengan pola hidup baru ini?<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>Mulai dari Pola Pikir yang Benar<\/strong><\/h2>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9498 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-1-FS-min.jpg?resize=1000%2C667&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-1-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-1-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-1-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-1-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-1-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"667\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cara kita melihat dan merespon masalah adalah perwujudan sikap mengasihi Tuhan. Dengan pengertian yang benar, kita dapat melihat masalah bukan sebagai kesulitan, melainkan tantangan. Perubahan pola pikir akan membantu kita menjalankan adaptasi hidup baru dengan respon yang benar sesuai firman Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai awalnya, mari lakukan evaluasi diri. Apakah kita memiliki iman yang hidup atau iman yang mengandalkan diri sendiri? Apakah kita percaya kepada Tuhan atau menyalahkan Tuhan? Apakah tantangan menjadikan kita semakin dekat dengan Tuhan atau mengandalkan diri sendiri? Apakah situasi sulit membuat kita lebih peduli kepada sesama atau sebaliknya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selagi menunggu ditemukannya vaksin COVID-19, kita perlu belajar berdamai dengan keadaan. Dan, kita dapat memulainya dari diri sendiri, yaitu dengan menerapkan kiat berDAMAI:<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>1. D \u2013 Doa Ala Kebiasaan Baru<\/strong><\/h2>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9499 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-2-FS-min.jpg?resize=1000%2C667&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-2-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-2-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-2-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-2-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-2-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"667\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. \u2013 Filipi 4:6<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara tak langsung, tantangan yang diizinkan Tuhan mengajarkan kita bahwa kekayaan, kekuatan, kekuasaan manusia hanyalah sementara. Kesulitan hidup membantu kita lebih dekat dengan Tuhan. Bagian kita adalah menyampaikan permohonan doa dengan lebih detail, dengan penuh pengharapan serta keyakinan kepada-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa pun rencana atau permohonan yang Anda utarakan kepada Tuhan, sampaikanlah dengan pengertian yang benar bahwa Dialah satu-satunya yang sanggup menolong\u00a0 Anda. Ini adalah masa transisi yang tidak mudah. Namun percayalah, Tuhan mampu bekerja melalui doa, kasih, dan dukungan orang-orang di sekitar Anda.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>2. A \u2013 Aksi Ala Kebiasaan Baru<\/strong><\/h2>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9500 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-3-FS-min.jpg?resize=1000%2C665&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-3-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-3-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-3-FS-min-768x511.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-3-FS-min-696x463.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Kebiasaan-3-FS-min-632x420.jpg 632w\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"665\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tetapi mungkin ada orang berkata: \u201cPadamu ada iman dan padaku ada perbuatan\u201d, aku akan menjawab dia: \u201cTunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.\u201d \u2013 Yakobus 2:18<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain berdoa, kita juga harus gigih berusaha, dan keduanya perlu dilakukan secara konsisten. Jalankan protokol kesehatan <strong>yang dianjurkan pemerintah<\/strong> dengan rela hati dan kesadaran bahwa Anda melakukannya demi kebaikan diri sendiri serta orang-orang yang Anda kasihi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wujudkan rencana atau ide Anda dengan gaya kebiasaan baru yang sudah Anda susun dan doakan. Jika Anda harus bekerja di rumah sembari menjaga bayi atau menemani anak belajar, berdiskusilah dengan pasangan dan keluarga tentang pengaturan jadwal. Jalani kesibukan gaya baru sembari saling mengingatkan dan menguatkan saudara-saudari seiman Anda. Dengan demikian, Anda punya teman berbagi dan tidak merasa sendirian menjalani semua ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jangan segan atau malu beralih profesi jika diperlukan di masa transisi. Anda mungkin harus melakukan <em>upskilling<\/em> (meningkatkan keahlian kerja) dan <em>reskilling<\/em> (memulai jalur karier baru). Mungkin penghasilan yang menurun atau mendadak tidak ada \u201cmemaksa\u201d Anda menambah penghasilan, seperti berdagang produk kesehatan, mengubah lini bisnis, membuat konten <em>online<\/em>, dan lain-lain. Apa pun itu, kerjakan dengan kemurnian hati dan motivasi yang benar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat merealisasikan rencana, selalu ada kemungkinan munculnya kendala, baik secara eksternal maupun internal. Namun, Tuhan menghendaki dari kita bukan iman yang cepat menyerah atau pasrah. Bukan keyakinan yang tanpa aksi, atau hanya menunggu ditolong. Tuhan ingin kita punya iman yang disertai perbuatan, yang berarti kita melakukan perjuangan untuk mendukung iman tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. \u2013 Yakobus 2:17<\/em><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><strong>3. MAI \u2013 Mengandalkan Tuhan dengan Iman<\/strong><\/h2>\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-9497 td-animation-stack-type0-2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/kebiasaan-4-FS-min.jpg?resize=1000%2C667&#038;ssl=1\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" srcset=\"https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/kebiasaan-4-FS-min.jpg 1000w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/kebiasaan-4-FS-min-300x200.jpg 300w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/kebiasaan-4-FS-min-768x512.jpg 768w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/kebiasaan-4-FS-min-696x464.jpg 696w, https:\/\/gkdi.org\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/kebiasaan-4-FS-min-630x420.jpg 630w\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"667\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. \u2013 Amsal 3:5<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kendati kita sudah berencana dan berdoa, hal-hal yang di luar kendali manusia bisa saja terjadi, terutama dalam masa transisi yang serba tak menentu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk berserah sepenuhnya kepada Tuhan, terutama dalam segala sesuatu yang tidak dapat kita prediksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah Anda sering lebih mengandalkan cara sendiri, tidak peduli pada hal-hal selain kepentingan dan kenyamanan Anda? Jika ya, berarti Anda hanya berfokus pada diri sendiri dan bergantung pada sudut pandang manusia, bukan berserah kepada Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berserah tidak sama dengan pasrah. Pasrah artinya kehilangan pengharapan. Respon orang yang pasrah adalah mudah menyerah, tidak berbuat apa-apa, berpikiran negatif, dan pesimis. Berserah artinya Anda menaruh pengharapan di dalam Tuhan, taat mengikuti kehendak-Nya, serta percaya pada rencana dan pimpinan-Nya. Respon orang sedang berserah adalah berpikiran positif, optimis, dan tetap mempunyai semangat hidup yang tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tuhan mengajak kita untuk menumbuhkan iman yang bukan sekadar \u201cpercaya saja,\u201d melainkan iman yang disertai kemauan untuk bekerja dan berdamai dengan keadaan. Semoga ketiga tips di atas memberikan Anda semangat berDAMAI dengan kebiasaan baru. Jalani hidup dengan bijaksana agar nama Tuhan semakin dimuliakan!(gkdi.org)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2013<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Referensi:<br \/>\npromkes.kemkes.go.id\/menuju-adaptasi-kebiasaan-baru<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Adaptasi kebiasaan baru, atau yang dulu dikenal sebagai new normal, adalah pola hidup baru untuk mencegah risiko penularan COVID-19. Pandemi ini telah mengubah gaya hidup kita secara besar-besaran, mulai dari sistem bekerja dari rumah atau bergilir, sekolah daring, hingga beribadah secara virtual. Mungkin sejumlah kebiasaan baru membuat Anda bingung, risih, bahkan kesal. Tak hanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47276,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-47271","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":47276,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/new-normal.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/new-normal.jpg?fit=300%2C168&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/new-normal.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/new-normal.jpg?fit=300%2C168&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1453","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47271","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47271"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47271\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47276"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47271"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47271"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47271"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}