{"id":47272,"date":"2020-10-14T07:00:56","date_gmt":"2020-10-14T00:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=47272"},"modified":"2020-10-08T11:07:22","modified_gmt":"2020-10-08T04:07:22","slug":"3-tips-menghilangkan-rasa-takut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/3-tips-menghilangkan-rasa-takut\/","title":{"rendered":"3 Tips Menghilangkan Rasa Takut"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: \u201cTuhan, tolonglah, kita binasa.\u201d\u00a0 26\u00a0 Ia berkata kepada mereka: \u201cMengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?\u201d Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. \u00a0Matius 8:25-26 ITB Kebanyakan dari mereka yang berada dalam perahu ini adalah nelayan. Mereka tentu saja sudah begitu terbiasa dengan situasi laut dan badai yang bisa datang kapan pun. Tetapi angin ribut kali itu pasti sangat ekstrim\u00a0sehingga mereka menjadi sangat ketakutan dan berpikir bahwa mereka akan binasa. Hebatnya, Yesus dapat tidur di tengah-tengah angin ribut yang mengerikan seperti itu.\u00a0Inilah\u00a0yang seharusnya\u00a0terjadi pada kita yang telah menjadi\u00a0murid Yesus. Meskipun persoalan besar\u00a0datang menderu kita akan tenang dan tidak menjadi panik. Setiap manusia memiliki ketakutan, bahkan Tuhan Yesus juga\u00a0mengalami rasa takut\u00a0ketika ia berdoa di Taman Getsemani. Jika kita melihat ada seseorang yang sepertinya tidak takut apa-apa mungkin\u00a0orang itu bukannya tidak takut, tetapi dia sudah berhasil mengatasi rasa takutnya. Satu hal yang\u00a0menarik, orang dewasa\u00a0sekalipun bisa menjadi takut, panik atau bahkan menjadi marah oleh karena hal-hal kecil. Namun, hal itu\u00a0bila dilihat dari sudut pandang orang lain sama sekali tidak menakutkan. Ini menunjukan bahwa ketakutan itu adalah hal yang sungguh-sungguh subjektif, tergantung kepada pribadi lepas pribadi dan bukan bergantung kepada\u00a0objeknya. Dari kisah Tuhan Yesus tidur pulas di atas perahu yang sedang digoncang\u00a0gelombang badai ini kita dapat\u00a0menarik 3 hal tentang bagaimana cara mengatasi rasa takut kita: 1. Alihkan\u00a0Pandangan\u00a0dari Masalah kepada Tuhan Apa yang dilakukan oleh murid-murid ketika badai menghadang sudah benar, mereka datang kepada Tuhan Yesus. Walaupun mereka datang dengan kepanikan dan bukannya dengan keyakinan bahwa Yesus\u00a0akan menolong dan melepaskan mereka. Mereka sudah terlebih dahulu\u00a0ngeri dan berpikir bahwa hidup mereka akan segera berakhir. Mengalihkan pandangan dari masalah kemudian melihat Tuhan akan membuat kita dapat mengatasi rasa takut kita. What You See Is What You Get (WYSIWYG) adalah prinsip yang dapat kita terapkan dalam hidup. Jika yang kita lihat adalah masalah maka kita pasti mendapat masalah.\u00a0Tetapi jika yang kita lihat adalah Tuhan maka kita akan dikuatkan dan mendapat semangat rohani yang luar biasa, yang dapat mengatasi segala sesuatu. Setiap kali persoalan datang hendak menelan kita, pastikanlah pandangan kita kepada Tuhan tidak tertutup atau terdistorsi. Apapun masalahnya, selama kita masih dapat melihat Tuhan dengan jelas maka pasti kita akan mampu menghadapinya dengan benar. \u00a0TETAPI JIKA YANG KITA LIHAT ADALAH TUHAN MAKA KITA AKAN DIKUATKAN DAN MENDAPAT SEMANGAT ROHANI YANG LUAR BIASA, YANG DAPAT MENGATASI SEGALA SESUATU. 2. Percayalah Kepada Tuhan Suatu pernyataan\u00a0yang sepertinya terlalu normatif atau teoritis bagi beberapa orang adalah\u00a0\u201ckita tidak bisa membayar tagihan dengan iman tapi harus dengan uang\u201d.\u00a0Inilah argumentasi orang-orang yang tidak atau\u00a0kurang percaya, sama seperti murid-murid di kapal. Mereka tidak datang dengan\u00a0meneguhkan kepercayaan kepada Tuhan, tetapi untuk \u2018menyidangkan\u2019 Tuhan, berargumen bahwa Dia tidak perduli dan mereka sudah pasti akan binasa. Sebutan Tuhan Yesus kepada mereka adalah \u2018kurang percaya\u2019, dan jelas sekali ditegaskan Tuhan Yesus bahwa ketidakpercayaan mereka lah yang membuat mereka menjadi takut. Jika kita percaya, ketakutan tidak akan mendapat tempat dalam diri kita. Kepercayaan kepada Tuhan sungguh nyata kekuatannya. Jika kita tidak berpikir demikian maka kita perlu belajar dari hal yang paling mendasar akan\u00a0kepercayaan kita kepada Tuhan. Kita bisa membayar hutang kita dengan terlebih dahulu beriman, kita bisa melewati berbagai krisis dengan percaya akan Tuhan, dan menghadapi semua persoalan jika kita menjadi percaya dan tidak\u00a0takut. Orang yang percaya memiliki segalanya namun\u00a0orang yang takut tidak memiliki apa-apa. Orang yang percaya akan dapat berfikir dengan kreatif dan\u00a0logis, tetapi orang yang takut akan\u00a0menjadi panik dan melemahkan dirinya sendiri. Maka dari itu, percayalah! 3. Harus Dihadapi! Prinsip ini\u00a0sangatlah penting!\u00a0Jika rasa takut itu\u00a0tidak kita hadapi maka ketakutan itu masih dalam posisi menang atas kita. Tidak ada yang dapat berlari dari ketakutan\u00a0sebab kita sendirilah yang membawa ketakutan itu. Kita tidak terpisahkan darinya. Kitapun tak dapat bersembunyi dari ketakutan kita, sebab asal dari ketakutan dari dalam dan\u00a0kemanapun kita pergi dia pasti juga ada disana. Karena itu\u00a0kita harus menguatkan dan meneguhkan hati kita untuk menghadapinya. Berdoalah dan mintalah kekuatan dari Tuhan. Dengan hati yang benar, mengalahkan rasa takut itu\u00a0tidak serumit yang kita pikir. Percayalah dan hadapilah! Diambil dari artikel blog Pendeta Togar Sianturi\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;<strong><em>Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: \u201cTuhan, tolonglah, kita binasa.\u201d\u00a0 26\u00a0 Ia berkata kepada mereka: \u201cMengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?\u201d Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. \u00a0Matius 8:25-26 ITB<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebanyakan dari mereka yang berada dalam perahu ini adalah nelayan. Mereka tentu saja sudah begitu terbiasa dengan situasi laut dan badai yang bisa datang kapan pun. Tetapi angin ribut kali itu pasti sangat ekstrim\u00a0sehingga mereka menjadi sangat ketakutan dan berpikir bahwa mereka akan binasa. Hebatnya, Yesus dapat tidur di tengah-tengah angin ribut yang mengerikan seperti itu.\u00a0Inilah\u00a0yang seharusnya\u00a0terjadi pada kita yang telah menjadi\u00a0murid Yesus. Meskipun persoalan besar\u00a0datang menderu kita akan tenang dan tidak menjadi panik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap manusia memiliki ketakutan, bahkan Tuhan Yesus juga\u00a0mengalami rasa takut\u00a0ketika ia berdoa di Taman Getsemani. Jika kita melihat ada seseorang yang sepertinya tidak takut apa-apa mungkin\u00a0orang itu bukannya tidak takut, tetapi dia sudah berhasil mengatasi rasa takutnya. Satu hal yang\u00a0menarik, orang dewasa\u00a0sekalipun bisa menjadi takut, panik atau bahkan menjadi marah oleh karena hal-hal kecil. Namun, hal itu\u00a0bila dilihat dari sudut pandang orang lain sama sekali tidak menakutkan. Ini menunjukan bahwa ketakutan itu adalah hal yang sungguh-sungguh subjektif, tergantung kepada pribadi lepas pribadi dan bukan bergantung kepada\u00a0objeknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari kisah Tuhan Yesus tidur pulas di atas perahu yang sedang digoncang\u00a0gelombang badai ini kita dapat\u00a0menarik 3 hal tentang bagaimana cara mengatasi rasa takut kita:<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Alihkan\u00a0Pandangan\u00a0dari Masalah kepada Tuhan<\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa yang dilakukan oleh murid-murid ketika badai menghadang sudah benar, mereka datang kepada Tuhan Yesus. Walaupun mereka datang dengan kepanikan dan bukannya dengan keyakinan bahwa Yesus\u00a0akan menolong dan melepaskan mereka. Mereka sudah terlebih dahulu\u00a0<em>ngeri<\/em> dan berpikir bahwa hidup mereka akan segera berakhir. Mengalihkan pandangan dari masalah kemudian melihat Tuhan akan membuat kita dapat mengatasi rasa takut kita. <em>What You See Is What You Get<\/em> (WYSIWYG) adalah prinsip yang dapat kita terapkan dalam hidup. Jika yang kita lihat adalah masalah maka kita pasti mendapat masalah.\u00a0Tetapi jika yang kita lihat adalah Tuhan maka kita akan dikuatkan dan mendapat semangat rohani yang luar biasa, yang dapat mengatasi segala sesuatu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap kali persoalan datang hendak menelan kita, pastikanlah pandangan kita kepada Tuhan tidak tertutup atau terdistorsi. Apapun masalahnya, selama kita masih dapat melihat Tuhan dengan jelas maka pasti kita akan mampu menghadapinya dengan benar.<\/p>\n<blockquote><p>\u00a0TETAPI JIKA YANG KITA LIHAT ADALAH TUHAN MAKA KITA AKAN DIKUATKAN DAN MENDAPAT SEMANGAT ROHANI YANG LUAR BIASA, YANG DAPAT MENGATASI SEGALA SESUATU.<\/p><\/blockquote>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Percayalah Kepada Tuhan<\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suatu pernyataan\u00a0yang sepertinya terlalu normatif atau teoritis bagi beberapa orang adalah\u00a0<em>\u201ckita tidak bisa membayar tagihan dengan iman tapi harus dengan uang\u201d.\u00a0<\/em>Inilah argumentasi orang-orang yang tidak atau\u00a0kurang percaya, sama seperti murid-murid di kapal. Mereka tidak datang dengan\u00a0meneguhkan kepercayaan kepada Tuhan, tetapi untuk \u2018menyidangkan\u2019 Tuhan, berargumen bahwa Dia tidak perduli dan mereka sudah pasti akan binasa. Sebutan Tuhan Yesus kepada mereka adalah \u2018kurang percaya\u2019, dan jelas sekali ditegaskan Tuhan Yesus bahwa ketidakpercayaan mereka lah yang membuat mereka menjadi takut. Jika kita percaya, ketakutan tidak akan mendapat tempat dalam diri kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepercayaan kepada Tuhan sungguh nyata kekuatannya. Jika kita tidak berpikir demikian maka kita perlu belajar dari hal yang paling mendasar akan\u00a0kepercayaan kita kepada Tuhan. Kita bisa membayar hutang kita dengan terlebih dahulu beriman, kita bisa melewati berbagai krisis dengan percaya akan Tuhan, dan menghadapi semua persoalan jika kita menjadi percaya dan tidak\u00a0takut. Orang yang percaya memiliki segalanya namun\u00a0orang yang takut tidak memiliki apa-apa. Orang yang percaya akan dapat berfikir dengan kreatif dan\u00a0logis, tetapi orang yang takut akan\u00a0menjadi panik dan melemahkan dirinya sendiri. Maka dari itu, percayalah!<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Harus Dihadapi!<\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prinsip ini\u00a0sangatlah penting!\u00a0Jika rasa takut itu\u00a0tidak kita hadapi maka ketakutan itu masih dalam posisi menang atas kita. Tidak ada yang dapat berlari dari ketakutan\u00a0sebab kita sendirilah yang membawa ketakutan itu. Kita tidak terpisahkan darinya. Kitapun tak dapat bersembunyi dari ketakutan kita, sebab asal dari ketakutan dari dalam dan\u00a0kemanapun kita pergi dia pasti juga ada disana. Karena itu\u00a0kita harus menguatkan dan meneguhkan hati kita untuk menghadapinya. Berdoalah dan mintalah kekuatan dari Tuhan. Dengan hati yang benar, mengalahkan rasa takut itu\u00a0tidak serumit yang kita pikir. Percayalah dan hadapilah!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diambil dari artikel blog Pendeta Togar Sianturi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: \u201cTuhan, tolonglah, kita binasa.\u201d\u00a0 26\u00a0 Ia berkata kepada mereka: \u201cMengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?\u201d Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. \u00a0Matius 8:25-26 ITB Kebanyakan dari mereka yang berada dalam perahu ini adalah nelayan. Mereka tentu saja sudah begitu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46169,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,3],"tags":[],"class_list":["post-47272","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46169,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mimpi.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mimpi.jpg?fit=276%2C183&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mimpi.jpg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mimpi.jpg?fit=276%2C183&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1021","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47272","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47272"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47272\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47272"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47272"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47272"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}