{"id":47341,"date":"2020-10-17T20:38:49","date_gmt":"2020-10-17T13:38:49","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=47341"},"modified":"2020-10-17T20:38:52","modified_gmt":"2020-10-17T13:38:52","slug":"fkub-jateng-kota-solo-zona-merah-intoleran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/fkub-jateng-kota-solo-zona-merah-intoleran\/","title":{"rendered":"FKUB Jateng : Kota Solo Zona Merah Intoleran"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -\u00a0 Aksi laskar intoleran yang meresahkan warga dan berakhir penyerangan terhadap Habib Assegaf saat melakukan syukuran pernikahan keluarganya membuat sebagian orang menyebut Kota Solo zona merah intoleran. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, Taslim Syahlan mengatakan, Kota Solo memang bisa dibilang zona merah kasus intoleran. Jika dibanding dengan kota-kota lain, Kota Solo paling banyak kasusnya. &quot;Ya bisa dibilang zona merah ya karena kasusnya paling banyak di Jateng,&quot; jelasnya di Kantor Kesbangpol Jateng, Rabu (12\/8\/2020). Menurutnya, di Jateng terdapat dua daerah yang menunjukan daerah paling tinggi angka kasus intolerannya yaitu di Kota Solo dan Karanganyar. Dua daerah tersebut akan menjadi perhatian secara khusus oleh FKUB. &quot;Kalau di Jateng ada dua daerah yaitu Kota Solo dan Karanganyar daerah yang paling rawan,&quot; ujarnya. Jika Taslim lihat, angka intoleransi di dua Kota tersebut sering naik eskalasinya ketika menjelang dan sedang Pilkada atau Pemilu. Menurutnya, hal itu sudah menjadi rahasia umum. &quot;Kita tidak bisa memungkiri jika setiap kali menjelang Pilkada eskalasi isu-isu rasis dan intoleran cenderung naik. Kita tidak bisa menepis hal tersebut,&quot; jelasnya. Untuk itu, pihaknya melakukan upaya pembinaan atau pembelajaran antar umat beragama sebelum kontestasi Pilkada itu dilakukan. Menurutnya, hal itu penting untuk mencegah isu-isu rasisme yang kerap terjadi menjelang Pilkada. &quot;Sebenarnya kita sudah melakukan pembinaan agar warga Jateng bisa moderat,&quot; ujarnya. Bahkan, lanjutnya, sebelum terjadinya kasus pembubaran pernikahan secara paksa di Kota Solo pihaknya sudah melakukan monitor dan berkunjung ke majelis agama dan juga penghayat kepercayaan. Ia mengakui, setiap menjelang Pilkada pihaknya harus bekerja dengan keras. Setelah mendengar kabar terdapat kasus\u00a0intoleran\u00a0di Kota Solo, pihaknya langsung mengintruksikan FKUB tingkat kabupaten dan kota agar siap siaga, termasuk Kota Solo. &quot;Mendengar ada kasus intoleran kita langsung adakan rapat melalui vidio call dan kesimpulannya anggota FKUB harus siaga khususnya di Kota Solo,&quot; katanya. Sementara itu, tokoh Syiah Jawa Tengah, Miqdad Turkan menyebut, Syiah sudah biasa menjadi sasaran tembak ketika kontestasi Pilkada. Menurutnya, isu Syiah sengaja dimunculkan ketika masa Pilkada. Ia menyebut, secara pribadi tak jarang diteror dan disebut &#039;kafir, halal darahnya&#039;. Sebenarnta, Miqdad tak terlalu mempermasalahkan ketika disebut kafir atau bukan Islam. Namun, ketika sudah ada kontak fisik penganiayaan kepada kelompok Syiah, perbuatan tersebut tak bisa dibenarkan. Sampai saat ini, perselisihan baik secara langsung maupun melalui media sosial sering terjadi. &quot;Kalau disebut yang jelek-jelek di media sosial maupun lewat SMS ya sudah sering,&quot; jelasnya. Meski sering mengalami kejadian tidak mengenakan baik secara langsung maupun tidak, ia berharap semua permasalahan bisa diselesaikan dengan cara yang baik melalui komunikasi dan dialog. &quot;Saya sebenarnya berharap ada semacam komunikasi agar tidak salah paham,&quot; ujarnya. &quot;Sebenarnya kita sudah melakukan pembinaan agar warga Jateng bisa moderat,&quot; ujarnya. Bahkan, lanjutnya, sebelum terjadinya kasus pembubaran pernikahan secara paksa di Kota Solo pihaknya sudah melakukan monitor dan berkunjung ke majelis agama dan juga penghayat kepercayaan. Ia mengakui, setiap menjelang Pilkada pihaknya harus bekerja dengan keras. Setelah mendengar kabar terdapat kasus\u00a0intoleran\u00a0di Kota Solo, pihaknya langsung mengintruksikan FKUB tingkat kabupaten dan kota agar siap siaga, termasuk Kota Solo. &quot;Mendengar ada kasus intoleran kita langsung adakan rapat melalui vidio call dan kesimpulannya anggota FKUB harus siaga khususnya di Kota Solo,&quot; katanya. Sementara itu, tokoh Syiah Jawa Tengah, Miqdad Turkan menyebut, Syiah sudah biasa menjadi sasaran tembak ketika kontestasi Pilkada. Menurutnya, isu Syiah sengaja dimunculkan ketika masa Pilkada. Ia menyebut, secara pribadi tak jarang diteror dan disebut &#039;kafir, halal darahnya&#039;. Sebenarnta, Miqdad tak terlalu mempermasalahkan ketika disebut kafir atau bukan Islam. Namun, ketika sudah ada kontak fisik penganiayaan kepada kelompok Syiah, perbuatan tersebut tak bisa dibenarkan. Sampai saat ini, perselisihan baik secara langsung maupun melalui media sosial sering terjadi. &quot;Kalau disebut yang jelek-jelek di media sosial maupun lewat SMS ya sudah sering,&quot; jelasnya. Meski sering mengalami kejadian tidak mengenakan baik secara langsung maupun tidak, ia berharap semua permasalahan bisa diselesaikan dengan cara yang baik melalui komunikasi dan dialog. &quot;Saya sebenarnya berharap ada semacam komunikasi agar tidak salah paham,&quot; ujarnya.\u00a0 (suara)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;\u00a0 Aksi laskar intoleran yang meresahkan warga dan berakhir penyerangan terhadap Habib Assegaf saat melakukan syukuran pernikahan keluarganya membuat sebagian orang menyebut Kota Solo zona merah intoleran.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, Taslim Syahlan mengatakan, Kota Solo memang bisa dibilang zona merah kasus intoleran.<\/p>\n<p>Jika dibanding dengan kota-kota lain, Kota Solo paling banyak kasusnya.<\/p>\n<p>&#8220;Ya bisa dibilang zona merah ya karena kasusnya paling banyak di Jateng,&#8221; jelasnya di Kantor Kesbangpol Jateng, Rabu (12\/8\/2020).<\/p>\n<p>Menurutnya, di Jateng terdapat dua daerah yang menunjukan daerah paling tinggi angka kasus intolerannya yaitu di Kota Solo dan Karanganyar.<\/p>\n<p>Dua daerah tersebut akan menjadi perhatian secara khusus oleh FKUB.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau di Jateng ada dua daerah yaitu Kota Solo dan Karanganyar daerah yang paling rawan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Jika Taslim lihat, angka intoleransi di dua Kota tersebut sering naik eskalasinya ketika menjelang dan sedang Pilkada atau Pemilu. Menurutnya, hal itu sudah menjadi rahasia umum.<\/p>\n<p>&#8220;Kita tidak bisa memungkiri jika setiap kali menjelang Pilkada eskalasi isu-isu rasis dan intoleran cenderung naik. Kita tidak bisa menepis hal tersebut,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Untuk itu, pihaknya melakukan upaya pembinaan atau pembelajaran antar umat beragama sebelum kontestasi Pilkada itu dilakukan. Menurutnya, hal itu penting untuk mencegah isu-isu rasisme yang kerap terjadi menjelang Pilkada.<\/p>\n<p>&#8220;Sebenarnya kita sudah melakukan pembinaan agar warga Jateng bisa moderat,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Bahkan, lanjutnya, sebelum terjadinya kasus pembubaran pernikahan secara paksa di Kota Solo pihaknya sudah melakukan monitor dan berkunjung ke majelis agama dan juga penghayat kepercayaan.<\/p>\n<p>Ia mengakui, setiap menjelang Pilkada pihaknya harus bekerja dengan keras. Setelah mendengar kabar terdapat kasus\u00a0<a href=\"https:\/\/www.suara.com\/tag\/intoleran\">intoleran<\/a>\u00a0di Kota Solo, pihaknya langsung mengintruksikan FKUB tingkat kabupaten dan kota agar siap siaga, termasuk Kota Solo.<\/p>\n<p>&#8220;Mendengar ada kasus intoleran kita langsung adakan rapat melalui vidio call dan kesimpulannya anggota FKUB harus siaga khususnya di Kota Solo,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu, tokoh Syiah Jawa Tengah, Miqdad Turkan menyebut, Syiah sudah biasa menjadi sasaran tembak ketika kontestasi Pilkada. Menurutnya, isu Syiah sengaja dimunculkan ketika masa Pilkada.<\/p>\n<p>Ia menyebut, secara pribadi tak jarang diteror dan disebut &#8216;kafir, halal darahnya&#8217;. Sebenarnta, Miqdad tak terlalu mempermasalahkan ketika disebut kafir atau bukan Islam.<\/p>\n<p>Namun, ketika sudah ada kontak fisik penganiayaan kepada kelompok Syiah, perbuatan tersebut tak bisa dibenarkan. Sampai saat ini, perselisihan baik secara langsung maupun melalui media sosial sering terjadi.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau disebut yang jelek-jelek di media sosial maupun lewat SMS ya sudah sering,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Meski sering mengalami kejadian tidak mengenakan baik secara langsung maupun tidak, ia berharap semua permasalahan bisa diselesaikan dengan cara yang baik melalui komunikasi dan dialog.<\/p>\n<div id=\"dailymotion-widget\" class=\"dailymotion-widget\"><\/div>\n<p>&#8220;Saya sebenarnya berharap ada semacam komunikasi agar tidak salah paham,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sebenarnya kita sudah melakukan pembinaan agar warga Jateng bisa moderat,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan, lanjutnya, sebelum terjadinya kasus pembubaran pernikahan secara paksa di Kota Solo pihaknya sudah melakukan monitor dan berkunjung ke majelis agama dan juga penghayat kepercayaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengakui, setiap menjelang Pilkada pihaknya harus bekerja dengan keras. Setelah mendengar kabar terdapat kasus\u00a0<a href=\"https:\/\/www.suara.com\/tag\/intoleran\">intoleran<\/a>\u00a0di Kota Solo, pihaknya langsung mengintruksikan FKUB tingkat kabupaten dan kota agar siap siaga, termasuk Kota Solo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mendengar ada kasus intoleran kita langsung adakan rapat melalui vidio call dan kesimpulannya anggota FKUB harus siaga khususnya di Kota Solo,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, tokoh Syiah Jawa Tengah, Miqdad Turkan menyebut, Syiah sudah biasa menjadi sasaran tembak ketika kontestasi Pilkada. Menurutnya, isu Syiah sengaja dimunculkan ketika masa Pilkada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menyebut, secara pribadi tak jarang diteror dan disebut &#8216;kafir, halal darahnya&#8217;. Sebenarnta, Miqdad tak terlalu mempermasalahkan ketika disebut kafir atau bukan Islam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, ketika sudah ada kontak fisik penganiayaan kepada kelompok Syiah, perbuatan tersebut tak bisa dibenarkan. Sampai saat ini, perselisihan baik secara langsung maupun melalui media sosial sering terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kalau disebut yang jelek-jelek di media sosial maupun lewat SMS ya sudah sering,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski sering mengalami kejadian tidak mengenakan baik secara langsung maupun tidak, ia berharap semua permasalahan bisa diselesaikan dengan cara yang baik melalui komunikasi dan dialog.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya sebenarnya berharap ada semacam komunikasi agar tidak salah paham,&#8221; ujarnya.\u00a0 (suara)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 Aksi laskar intoleran yang meresahkan warga dan berakhir penyerangan terhadap Habib Assegaf saat melakukan syukuran pernikahan keluarganya membuat sebagian orang menyebut Kota Solo zona merah intoleran. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, Taslim Syahlan mengatakan, Kota Solo memang bisa dibilang zona merah kasus intoleran. Jika dibanding dengan kota-kota lain, Kota Solo [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47631,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14,3],"tags":[178],"class_list":["post-47341","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-umum","tag-intoleransi"],"better_featured_image":{"id":47631,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/intoleransi.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/intoleransi.png?fit=768%2C480&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/intoleransi.png"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/intoleransi.png?fit=800%2C500&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1076","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47341"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47341\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47631"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}