{"id":47583,"date":"2026-02-16T18:15:46","date_gmt":"2026-02-16T11:15:46","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/dukacita-menurut-kehendak-allah-menghasilkan-pertobatan-2-korintus-710\/"},"modified":"2026-02-16T18:15:48","modified_gmt":"2026-02-16T11:15:48","slug":"dukacita-menurut-kehendak-allah-menghasilkan-pertobatan-2-korintus-710","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/dukacita-menurut-kehendak-allah-menghasilkan-pertobatan-2-korintus-710\/","title":{"rendered":"Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. [Filipi 4:11]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Perkataan ini menunjukkan kepada kita bahwa rasa cukup bukanlah kecenderungan alami manusia. \u201cRumput liar tumbuhnya cepat.\u201d Iri hati, ketidakpuasan, dan bersungut-sungut merupakan hal yang alamiah bagi manusia sama seperti semak duri yang berada dalam tanah. Kita tidak perlu menanam rumput duri dan lalang; mereka tumbuh dengan sendirinya, karena mereka aslinya dari tanah: demikian pula, kita tidak perlu mengajari manusia mengomel; mereka mengomel cukup tangkas tanpa diajari. Tetapi hal-hal yang berharga di bumi harus dicocoktanamkan. Jika kita ingin gandum, kita harus menabur dan membajak; jika kita ingin bunga, harus ada kebun, dan segala pemeliharaannya oleh tukang kebun. Nah, rasa cukup merupakan salah satu bunga surga, dan jika kita menginginkannya, kita harus menanamnya; ia tidak akan tumbuh di dalam diri kita secara alami; hanya natur baru kita yang bisa menghasilkannya, dan itu pun haruslah dengan hati-hati dan waspada kita merawat dan menumbuhkan anugerah yang sudah Allah taburkan dalam kita. Paulus berkata \u201cAku telah belajar mencukupkan diri;\u201d berarti ia mengatakan bahwa ia pernah tidak tahu bagaimana. Dia harus melalui beberapa penderitaan untuk mencapai misteri kebenaran yang agung ini. Pasti kadang-kadang ia merasa sudah mempelajarinya, tapi ternyata belum. Dan ketika pada akhirnya ia mencapainya, dan dapat berkata, \u201cAku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan,\u201d dia sudah tua, dengan kepalanya yang beruban, berada di tepi kubur\u2014seorang narapidana yang terkurung dalam penjara bawah tanah Nero di Roma. Mungkin saja kita bersedia menanggung sakitnya Paulus [Galatia 4:13] dan berada dalam penjara bawah tanah seperti dia, jika kita rela dengan cara apapun mencapai tingkat yang baik seperti dia. Jangan menyerahkan diri pada gagasan bahwa engkau bisa merasa cukup tanpa belajar, atau bisa belajar tanpa disiplin. Ini bukan kekuatan yang bisa dilatih secara alami, tetapi suatu ilmu yang diraih sedikit demi sedikit. Kita tahu akan hal ini dari pengalaman. Saudara, hentikan sungut itu, walau selumrah apapun, dan teruslah menjadi murid yang rajin dalam Perguruan Cukup. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Perkataan ini menunjukkan kepada kita bahwa rasa cukup bukanlah kecenderungan alami manusia. \u201cRumput liar tumbuhnya cepat.\u201d Iri hati, ketidakpuasan, dan bersungut-sungut merupakan hal yang alamiah bagi manusia sama seperti semak duri yang berada dalam tanah. Kita tidak perlu menanam rumput duri dan lalang; mereka tumbuh dengan sendirinya, karena mereka aslinya dari tanah: demikian pula, kita tidak perlu mengajari manusia mengomel; mereka mengomel cukup tangkas tanpa diajari. Tetapi hal-hal yang berharga di bumi harus dicocoktanamkan. Jika kita ingin gandum, kita harus menabur dan membajak; jika kita ingin bunga, harus ada kebun, dan segala pemeliharaannya oleh tukang kebun. Nah, rasa cukup merupakan salah satu bunga surga, dan jika kita menginginkannya, kita harus menanamnya; ia tidak akan tumbuh di dalam diri kita secara alami; hanya natur baru kita yang bisa menghasilkannya, dan itu pun haruslah dengan hati-hati dan waspada kita merawat dan menumbuhkan anugerah yang sudah Allah taburkan dalam kita. Paulus berkata \u201cAku telah <i>belajar<\/i> mencukupkan diri;\u201d berarti ia mengatakan bahwa ia pernah tidak tahu bagaimana. Dia harus melalui beberapa penderitaan untuk mencapai misteri kebenaran yang agung ini. Pasti kadang-kadang ia merasa sudah mempelajarinya, tapi ternyata belum. Dan ketika pada akhirnya ia mencapainya, dan dapat berkata, \u201cAku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan,\u201d dia sudah tua, dengan kepalanya yang beruban, berada di tepi kubur\u2014seorang narapidana yang terkurung dalam penjara bawah tanah Nero di Roma. Mungkin saja kita bersedia menanggung sakitnya Paulus [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Galatia%204:13\">Galatia 4:13<\/a>] dan berada dalam penjara bawah tanah seperti dia, jika kita rela dengan cara apapun mencapai tingkat yang baik seperti dia. Jangan menyerahkan diri pada gagasan bahwa engkau bisa merasa cukup tanpa <i>belajar<\/i>, atau bisa belajar tanpa disiplin. Ini bukan kekuatan yang bisa dilatih secara alami, tetapi suatu ilmu yang diraih sedikit demi sedikit. Kita tahu akan hal ini dari pengalaman. Saudara, hentikan sungut itu, walau selumrah apapun, dan teruslah menjadi murid yang rajin dalam Perguruan Cukup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Perkataan ini menunjukkan kepada kita bahwa rasa cukup bukanlah kecenderungan alami manusia. \u201cRumput liar tumbuhnya cepat.\u201d Iri hati, ketidakpuasan, dan bersungut-sungut merupakan hal yang alamiah bagi manusia sama seperti semak duri yang berada dalam tanah. Kita tidak perlu menanam rumput duri dan lalang; mereka tumbuh dengan sendirinya, karena mereka aslinya dari tanah: demikian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-47583","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"95","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47583"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47583\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68779,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47583\/revisions\/68779"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}