{"id":47610,"date":"2026-02-17T18:15:30","date_gmt":"2026-02-17T11:15:30","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/siapakah-yang-dapat-tahan-akan-hari-kedatangan-nya-maleakhi-32\/"},"modified":"2026-02-17T18:15:32","modified_gmt":"2026-02-17T11:15:32","slug":"siapakah-yang-dapat-tahan-akan-hari-kedatangan-nya-maleakhi-32","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/siapakah-yang-dapat-tahan-akan-hari-kedatangan-nya-maleakhi-32\/","title":{"rendered":"Ishak diam dekat sumur Lahai-Roi. [Kejadian 25:11]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Di sana Hagar menemukan keselamatan, dan Ismael minum dari air yang dengan penuh anugerah disingkapkan oleh Allah yang hidup dan menjaga anak-anak manusia; namun di sana ia hanya numpang lewat, sebagaimana manusia duniawi yang datang kepada Allah dalam saat-saat sulit, ketika dengannya mereka diuntungkan. Mereka berseru kepada-Nya dalam kesulitan, tetapi melupakan-Nya dalam kelimpahan. Sedangkan Ishak tinggal di sana, menjadikan sumur Allah yang hidup dan Mahatahu sebagai sumber kebutuhannya yang tetap. Arah lazimnya kehidupan seseorang, yaitu di mana jiwanya tinggal, merupakan penguji keadaan dirinya yang sesungguhnya. Mungkin kunjungan pemeliharaan yang dialami Hagar terbersit dalam pikiran Ishak, dan menuntun Ishak untuk menghormati tempat itu; namanya yang mistis membuat Ishak merasa sayang kepadanya; perenungannya di pinggir sumur saat senja menjelang membuatnya akrab dengan sumur itu; pertemuannya dengan Ribka di sana telah membuat jiwanya merasa di situlah tempat tinggalnya berada; tetapi yang terbaik dari semua, fakta bahwa di sana dia menikmati perjumpaan-Nya dengan Allah yang hidup, membuatnya untuk memilih tempat kudus itu sebagai tempat kediamannya. Marilah kita belajar untuk hidup di hadirat Allah yang hidup; marilah kita berdoa kepada Roh Kudus supaya hari ini, dan setiap hari ke depan, kita boleh merasakan &quot;Engkaulah Allah yang telah melihat aku.&quot; [Kejadian 16:13] [1] Semoga Tuhan Yahweh menjadi seperti sumur bagi kita, menyukakan hati, menghibur, tidak pernah mengecewakan, terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal [Yohanes 4:14]. Botol si ciptaan retak dan mengering, tetapi sumur sang Pencipta tidak pernah mengecewakan; berbahagialah dia yang diam di dekat sumur-Nya, yang dengan demikian mendapatkan persediaan kebutuhannya secara berlimpah dan terus-menerus. Tuhan adalah penolong yang pasti bagi orang lain: Namanya adalah Shaddai, Allah Maha-mencukupi; hati kita sering merasakan hubungan yang paling intim dan menyukakan hati dengan-Nya; melalui Dia jiwa kita telah menemukan Suaminya yang mulia, Tuhan Yesus; dan di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada [Kisah Para Rasul 17:28]; maka marilah kita tinggal dalam persekutuan yang erat dengan-Nya. Tuhan yang mulia, ikatlah kami sehingga kami tidak akan pernah meninggalkan-Mu, melainkan diam dekat sumur Allah yang hidup. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Di sana Hagar menemukan keselamatan, dan Ismael minum dari air yang dengan penuh anugerah disingkapkan oleh Allah yang hidup dan menjaga anak-anak manusia; namun di sana ia hanya numpang lewat, sebagaimana manusia duniawi yang datang kepada Allah dalam saat-saat sulit, ketika dengannya mereka diuntungkan. Mereka berseru kepada-Nya dalam kesulitan, tetapi melupakan-Nya dalam kelimpahan. Sedangkan Ishak <i>tinggal<\/i> di sana, menjadikan sumur Allah yang hidup dan Mahatahu sebagai sumber kebutuhannya yang tetap. Arah lazimnya kehidupan seseorang, yaitu di mana jiwanya <i>tinggal<\/i>, merupakan penguji keadaan dirinya yang sesungguhnya. Mungkin kunjungan pemeliharaan yang dialami Hagar terbersit dalam pikiran Ishak, dan menuntun Ishak untuk menghormati tempat itu; namanya yang mistis membuat Ishak merasa sayang kepadanya; perenungannya di pinggir sumur saat senja menjelang membuatnya akrab dengan sumur itu; pertemuannya dengan Ribka di sana telah membuat jiwanya merasa di situlah tempat tinggalnya berada; tetapi yang terbaik dari semua, fakta bahwa di sana dia menikmati perjumpaan-Nya dengan Allah yang hidup, membuatnya untuk memilih tempat kudus itu sebagai tempat kediamannya. Marilah kita belajar untuk hidup di hadirat Allah yang hidup; marilah kita berdoa kepada Roh Kudus supaya hari ini, dan setiap hari ke depan, kita boleh merasakan &#8220;Engkaulah Allah yang telah melihat aku.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kejadian%2016:13\">Kejadian 16:13<\/a>] [1] Semoga Tuhan Yahweh menjadi seperti sumur bagi kita, menyukakan hati, menghibur, tidak pernah mengecewakan, terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yohanes%204:14\">Yohanes 4:14<\/a>]. Botol si ciptaan retak dan mengering, tetapi sumur sang Pencipta tidak pernah mengecewakan; berbahagialah dia yang diam di dekat sumur-Nya, yang dengan demikian mendapatkan persediaan kebutuhannya secara berlimpah dan terus-menerus. Tuhan adalah penolong yang pasti bagi orang lain: Namanya adalah Shaddai, Allah Maha-mencukupi; hati kita sering merasakan hubungan yang paling intim dan menyukakan hati dengan-Nya; melalui Dia jiwa kita telah menemukan Suaminya yang mulia, Tuhan Yesus; dan di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Kisah%20Para%20Rasul%2017:28\">Kisah Para Rasul 17:28<\/a>]; maka marilah kita tinggal dalam persekutuan yang erat dengan-Nya. Tuhan yang mulia, ikatlah kami sehingga kami tidak akan pernah meninggalkan-Mu, melainkan diam dekat sumur Allah yang hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Di sana Hagar menemukan keselamatan, dan Ismael minum dari air yang dengan penuh anugerah disingkapkan oleh Allah yang hidup dan menjaga anak-anak manusia; namun di sana ia hanya numpang lewat, sebagaimana manusia duniawi yang datang kepada Allah dalam saat-saat sulit, ketika dengannya mereka diuntungkan. Mereka berseru kepada-Nya dalam kesulitan, tetapi melupakan-Nya dalam kelimpahan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-47610","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"74","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47610","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47610"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47610\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68781,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47610\/revisions\/68781"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47610"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47610"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47610"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}