{"id":47783,"date":"2020-10-30T11:14:31","date_gmt":"2020-10-30T04:14:31","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=47783"},"modified":"2020-10-29T22:34:50","modified_gmt":"2020-10-29T15:34:50","slug":"tepis-klaim-tgpf-keluarga-tolak-autopsi-pendeta-yeremia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/tepis-klaim-tgpf-keluarga-tolak-autopsi-pendeta-yeremia\/","title":{"rendered":"Tepis Klaim TGPF, Keluarga Tolak Autopsi Pendeta Yeremia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ketua Tim Kemanusiaan Provinsi Papua untuk Kasus Kekerasan Terhadap Tokoh Agama di Kabupaten Intan Jaya, Haris Azhar, menyatakan pihak keluarga mendiang Pendeta Yeremia Zanambani\u00a0di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua menolak mengizinkan autopsi terhadap jasad pemuka agama tersebut yang meninggal ditembak. Hal itu sekaligus menepis klaim dari Ketua Tim Investigasi Lapangan TGPF\u00a0Intan Jaya Benny Mamoto yang menyatakan pihak keluarga bersedia memberi izin autopsi terhadap jasad Yeremia. &quot;Bahwa pihak keluarga korban, juga menyampaikan bahwa mereka menolak dilakukan autopsi,&quot; kata Haris dalam konferensi pers secara daring, Kamis (29\/10). Haris menjelaskan ada dua alasan pihak keluarga menolak proses autopsi Pendeta Yeremia. Pertama, karena sudah banyak bukti dan kesaksian yang diberikan untuk menghukum pelaku penembakan. Kedua, bertentangan dengan nilai adat yang dijunjung di Papua. &quot;Bahwa membuka kembali kuburan bertentangan dengan nilai adat di Papua, bisa berdampak tidak baik bagi keluarga,&quot; kata dia. Diketahui, Benny Mamoto sempat menyatakan bahwa pihak keluarga bersedia memberikan upaya autopsi setelah pihaknya mencoba meyakinkan. Selain itu, Haris menjelaskan sampai saat ini banyak masyarakat Hitadipa yang mengungsi imbas merebaknya peristiwa kekerasan yang dilakukan aparat terjadi belakangan ini. Puncaknya, kata Haris, saat peristiwa pembunuhan pendeta Yeremia. Setelah jasad Yeremia dikubur, masyarakat berbondong-bondong ke luar menuju hutan-hutan hingga ke sejumlah kabupaten lain pada 20 September 2020. &quot;Kondisi hari ini, kampung Hitadipa kosong,&quot; kata Haris. Haris menyatakan banyak masyarakat Hitadipa berharap kembali ke kampung halamannya untuk melanjutkan kehidupan mereka. Demikian pula dengan keluarga pendeta Yeremia. Mereka berharap bisa melakukan ibadah duka atas meninggalnya Pendeta Yeremia. Tak hanya itu, Haris menyatakan masyarakat Hitadipa turut berharap agar pasukan TNI, baik yang organik maupun non-organik untuk ditarik dari wilayahnya. &quot;Agar tidak lagi berada di Hitadipa, selain karena mereka trauma, masyarakat berkeyakinan bahwa Hitadipa adalah tanah suci misa gereja yang tidak boleh untuk praktik kekerasan,&quot; kata dia. Sebelumnya, Haris Azhar menyatakan hasil investigasi yang dilakukan timnya menunjukkan penembakan terhadap Pendeta Yeremia pada Sabtu (19\/9) lalu dilakukan oleh oknum TNI menggunakan senjata api standar militer. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD beberapa waktu lalu turut mengakui ada dugaan keterlibatan oknum aparat dalam penembakan yang menewaskan Pendeta Yeremia tersebut. (rzr\/bac\/CNN)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ketua Tim Kemanusiaan Provinsi Papua untuk Kasus Kekerasan Terhadap Tokoh Agama di Kabupaten Intan Jaya, Haris Azhar, menyatakan pihak keluarga mendiang Pendeta <strong>Yeremia Zanambani<\/strong>\u00a0di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua menolak mengizinkan autopsi terhadap jasad pemuka agama tersebut yang meninggal ditembak.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Hal itu sekaligus menepis klaim dari Ketua Tim Investigasi Lapangan <strong>TGPF<\/strong>\u00a0Intan Jaya Benny Mamoto yang menyatakan pihak keluarga bersedia memberi izin autopsi terhadap jasad Yeremia.<\/p>\n<p>&#8220;Bahwa pihak keluarga korban, juga menyampaikan bahwa mereka menolak dilakukan autopsi,&#8221; kata Haris dalam konferensi pers secara daring, Kamis (29\/10).<\/p>\n<p>Haris menjelaskan ada dua alasan pihak keluarga menolak proses autopsi Pendeta Yeremia. Pertama, karena sudah banyak bukti dan kesaksian yang diberikan untuk menghukum pelaku penembakan. Kedua, bertentangan dengan nilai adat yang dijunjung di Papua.<\/p>\n<p>&#8220;Bahwa membuka kembali kuburan bertentangan dengan nilai adat di Papua, bisa berdampak tidak baik bagi keluarga,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Diketahui, Benny Mamoto sempat menyatakan bahwa pihak keluarga bersedia memberikan upaya autopsi setelah pihaknya mencoba meyakinkan.<\/p>\n<p>Selain itu, Haris menjelaskan sampai saat ini banyak masyarakat Hitadipa yang mengungsi imbas merebaknya peristiwa kekerasan yang dilakukan aparat terjadi belakangan ini.<\/p>\n<p>Puncaknya, kata Haris, saat peristiwa pembunuhan pendeta Yeremia. Setelah jasad Yeremia dikubur, masyarakat berbondong-bondong ke luar menuju hutan-hutan hingga ke sejumlah kabupaten lain pada 20 September 2020.<\/p>\n<p>&#8220;Kondisi hari ini, kampung Hitadipa kosong,&#8221; kata Haris.<\/p>\n<p>Haris menyatakan banyak masyarakat Hitadipa berharap kembali ke kampung halamannya untuk melanjutkan kehidupan mereka. Demikian pula dengan keluarga pendeta Yeremia. Mereka berharap bisa melakukan ibadah duka atas meninggalnya Pendeta Yeremia.<\/p>\n<p>Tak hanya itu, Haris menyatakan masyarakat Hitadipa turut berharap agar pasukan TNI, baik yang organik maupun non-organik untuk ditarik dari wilayahnya.<\/p>\n<p>&#8220;Agar tidak lagi berada di Hitadipa, selain karena mereka trauma, masyarakat berkeyakinan bahwa Hitadipa adalah tanah suci misa gereja yang tidak boleh untuk praktik kekerasan,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Sebelumnya, Haris Azhar menyatakan hasil investigasi yang dilakukan timnya menunjukkan penembakan terhadap Pendeta Yeremia pada Sabtu (19\/9) lalu dilakukan oleh oknum TNI menggunakan senjata api standar militer.<\/p>\n<p>Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD beberapa waktu lalu turut mengakui ada dugaan keterlibatan oknum aparat dalam penembakan yang menewaskan Pendeta Yeremia tersebut.<\/p>\n<p><b>(rzr\/bac\/CNN)<\/b><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ketua Tim Kemanusiaan Provinsi Papua untuk Kasus Kekerasan Terhadap Tokoh Agama di Kabupaten Intan Jaya, Haris Azhar, menyatakan pihak keluarga mendiang Pendeta Yeremia Zanambani\u00a0di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua menolak mengizinkan autopsi terhadap jasad pemuka agama tersebut yang meninggal ditembak. Hal itu sekaligus menepis klaim dari Ketua Tim Investigasi Lapangan TGPF\u00a0Intan Jaya Benny [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47784,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,3],"tags":[195],"class_list":["post-47783","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-umum","tag-papua"],"better_featured_image":{"id":47784,"alt_text":"","caption":"","description":"ca88ed2c497b7e40a0166ba56c594ce5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/tepis-klaim-tgpf-keluarga-tolak-autopsi-pendeta-yeremia_5f9a79e6c81d2.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/tepis-klaim-tgpf-keluarga-tolak-autopsi-pendeta-yeremia_5f9a79e6c81d2.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/tepis-klaim-tgpf-keluarga-tolak-autopsi-pendeta-yeremia_5f9a79e6c81d2.jpeg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/tepis-klaim-tgpf-keluarga-tolak-autopsi-pendeta-yeremia_5f9a79e6c81d2.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1118","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47783"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47783\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47784"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}