{"id":47839,"date":"2020-11-01T23:15:26","date_gmt":"2020-11-01T16:15:26","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=47839"},"modified":"2020-10-31T18:21:07","modified_gmt":"2020-10-31T11:21:07","slug":"riwayat-penyerang-prancis-putus-sekolah-pecandu-lalu-hijrah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/riwayat-penyerang-prancis-putus-sekolah-pecandu-lalu-hijrah\/","title":{"rendered":"Riwayat Penyerang Prancis, Putus Sekolah, Pecandu Lalu Hijrah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Nama Brahim Aouissaoui\u00a0menjadi pembicaraan dunia usai melakukan penyerangan di Gereja Notre Dame Basilica, Nice Prancis. Penyerangan itu mengakibatkan tiga warga Prancis meninggal dunia, dan satu di antaranya dipenggal. Brahim adalah warga Tunisia yang masih berusia 21 tahun. Mengutip AFP, Brahim tinggal bersama keluarga yang sederhana di daerah Sfax. Dia sempat berubah sikap, mengisolasi diri dari pergaulan seraya mendalami ilmu agama selama dua tahun sebelum menuju Eropa. Hal itu diungkapkan oleh kerabat Brahim. Ibu dari Brahim menceritakan bahwa anaknya, sebelum pergi ke Eropa, selalu bersikap baik. Brahim rajin beribadah dan hanya keluar rumah untuk bekerja. Brahim sendiri putus sekolah. &quot;Dia selalu beribadah. Setiap hari dia bekerja lalu kembali pulang ke rumah,&quot; kata sang Ibu mengutip AFP, Jumat (30\/10). Sebelum menjadi pribadi yang baik, Ibu dari Brahim mengatakan bahwa anaknya suka mabuk-mabukan dan menggunakan narkoba. Sang ibu pun kerap menegur putranya. &quot;Kita miskin dan kamu membuang-buang uang?&quot; kata sang Ibu kepada putranya di masa lalu. &quot;Dia akan menjawab, &#039;jika Tuhan menghendaki, maka saya akan dibimbing-Nya ke jalan yang benar. Itu semua urusan saya&#039;,&quot; tutur Ibu dari Brahim menirukan jawaban putranya. Setelah itu, Brahim mengubah dirinya dan rajin beribadah. Brahim juga berjualan bensin untuk membantu kebutuhan keluarga. Dia membuka kios kecil hasil tabungannya selama bekerja sebagai montir sepeda motor. &quot;Saya menyuruhnya untuk menyewa toko kecil dengan biaya 1.100-1.200 dinar agar bisa bekerja,&quot; kata sang Ibu. Brahim sempat berangkat ke Eropa untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun, kala itu dia gagal dan tidak pernah memberi tahu keluarganya ketika kembali berangkat ke Eropa pada September lalu. Singkat cerita, Brahim tiba di Pulau Lampedusa pada September. Pria berusia 21 tahun ini sempat dikarantina oleh otoritas setempat sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Usai dikarantina, Brahim diperintahkan untuk keluar dari wilayah Italia. Dia lalu tiba di Prancis pada awal Oktober hingga kemudian penyerangan terjadi. Saudara kandungnya mengatakan bahwa Brahim ingin ke Prancis karena ada kesempatan bekerja memanen buah zaitun. &quot;Brahim mengaku ingin pergi ke Prancis karena terlalu banyak orang di Italia, sehingga lebih baik bekerja di Prancis,&quot; kata saudara kandung Brahim. Pihak keluarga mengatakan Brahim sempat menghubungi pada 28 Oktober. Dia memberitahukan bahwa dirinya sudah tiba di Prancis. Hingga kemudian terjadi penyerangan di Nice sehari setelahnya atau pada Kamis, 29 Oktober. Tiga orang meregang nyawa. Satu di antaranya dipenggal oleh Brahim\u00a0yang membawa pisau saat melakukan aksi penyerangan. (AFP\/CNN\/bmw)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Nama <strong>Brahim Aouissaoui\u00a0<\/strong>menjadi pembicaraan dunia usai melakukan penyerangan di Gereja Notre Dame Basilica, Nice <strong>Prancis<\/strong>. Penyerangan itu mengakibatkan tiga warga Prancis meninggal dunia, dan satu di antaranya dipenggal.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Brahim adalah warga Tunisia yang masih berusia 21 tahun. Mengutip AFP, Brahim tinggal bersama keluarga yang sederhana di daerah Sfax.<\/p>\n<p>Dia sempat berubah sikap, mengisolasi diri dari pergaulan seraya mendalami ilmu agama selama dua tahun sebelum menuju Eropa. Hal itu diungkapkan oleh kerabat Brahim.<\/p>\n<p>Ibu dari Brahim menceritakan bahwa anaknya, sebelum pergi ke Eropa, selalu bersikap baik. Brahim rajin beribadah dan hanya keluar rumah untuk bekerja. Brahim sendiri putus sekolah.<\/p>\n<p>&#8220;Dia selalu beribadah. Setiap hari dia bekerja lalu kembali pulang ke rumah,&#8221; kata sang Ibu mengutip AFP, Jumat (30\/10).<\/p>\n<p>Sebelum menjadi pribadi yang baik, Ibu dari Brahim mengatakan bahwa anaknya suka mabuk-mabukan dan menggunakan narkoba. Sang ibu pun kerap menegur putranya.<\/p>\n<p>&#8220;Kita miskin dan kamu membuang-buang uang?&#8221; kata sang Ibu kepada putranya di masa lalu.<\/p>\n<p>&#8220;Dia akan menjawab, &#8216;jika Tuhan menghendaki, maka saya akan dibimbing-Nya ke jalan yang benar. Itu semua urusan saya&#8217;,&#8221; tutur Ibu dari Brahim menirukan jawaban putranya.<\/p>\n<p>Setelah itu, Brahim mengubah dirinya dan rajin beribadah. Brahim juga berjualan bensin untuk membantu kebutuhan keluarga.<\/p>\n<p>Dia membuka kios kecil hasil tabungannya selama bekerja sebagai montir sepeda motor.<\/p>\n<p>&#8220;Saya menyuruhnya untuk menyewa toko kecil dengan biaya 1.100-1.200 dinar agar bisa bekerja,&#8221; kata sang Ibu.<\/p>\n<p>Brahim sempat berangkat ke Eropa untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun, kala itu dia gagal dan tidak pernah memberi tahu keluarganya ketika kembali berangkat ke Eropa pada September lalu.<\/p>\n<p>Singkat cerita, Brahim tiba di Pulau Lampedusa pada September. Pria berusia 21 tahun ini sempat dikarantina oleh otoritas setempat sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19.<\/p>\n<p>Usai dikarantina, Brahim diperintahkan untuk keluar dari wilayah Italia. Dia lalu tiba di Prancis pada awal Oktober hingga kemudian penyerangan terjadi.<\/p>\n<p>Saudara kandungnya mengatakan bahwa Brahim ingin ke Prancis karena ada kesempatan bekerja memanen buah zaitun.<\/p>\n<p>&#8220;Brahim mengaku ingin pergi ke Prancis karena terlalu banyak orang di Italia, sehingga lebih baik bekerja di Prancis,&#8221; kata saudara kandung Brahim.<\/p>\n<p>Pihak keluarga mengatakan Brahim sempat menghubungi pada 28 Oktober. Dia memberitahukan bahwa dirinya sudah tiba di Prancis.<\/p>\n<p>Hingga kemudian terjadi penyerangan di Nice sehari setelahnya atau pada Kamis, 29 Oktober. Tiga orang meregang nyawa. Satu di antaranya dipenggal oleh Brahim\u00a0yang membawa pisau saat melakukan aksi penyerangan.<\/p>\n<p><b>(AFP\/CNN\/bmw)<\/b><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Nama Brahim Aouissaoui\u00a0menjadi pembicaraan dunia usai melakukan penyerangan di Gereja Notre Dame Basilica, Nice Prancis. Penyerangan itu mengakibatkan tiga warga Prancis meninggal dunia, dan satu di antaranya dipenggal. Brahim adalah warga Tunisia yang masih berusia 21 tahun. Mengutip AFP, Brahim tinggal bersama keluarga yang sederhana di daerah Sfax. Dia sempat berubah sikap, mengisolasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47840,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,22],"tags":[7],"class_list":["post-47839","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-internasional","tag-terorisme"],"better_featured_image":{"id":47840,"alt_text":"","caption":"","description":"c170d8bb9871306aa8ff9dc2e65e9e25","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/riwayat-penyerang-prancis-putus-sekolah-pecandu-lalu-hijrah_5f9d1d1e3cfba.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/riwayat-penyerang-prancis-putus-sekolah-pecandu-lalu-hijrah_5f9d1d1e3cfba.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/riwayat-penyerang-prancis-putus-sekolah-pecandu-lalu-hijrah_5f9d1d1e3cfba.jpeg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/riwayat-penyerang-prancis-putus-sekolah-pecandu-lalu-hijrah_5f9d1d1e3cfba.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1089","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47839","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47839"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47839\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47840"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47839"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47839"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47839"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}