{"id":48268,"date":"2020-11-22T18:33:27","date_gmt":"2020-11-22T11:33:27","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=48268"},"modified":"2020-11-22T18:33:31","modified_gmt":"2020-11-22T11:33:31","slug":"konflik-ethiopia-berlanjut-kawasan-tigray-kembali-digempur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/konflik-ethiopia-berlanjut-kawasan-tigray-kembali-digempur\/","title":{"rendered":"Konflik Ethiopia Berlanjut, Kawasan Tigray Kembali Digempur"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kawasan Tigray\u00a0di\u00a0Ethiopia yang sedang dilanda konflik dilaporkan kembali digempur oleh serangan udara yang menyebabkan beberapa orang terluka. Pertikaian antara milisi dan pasukan pemerintah di wilayah yang berbatasan dengan Eritrea dan Sudan itu berlangsung sejak awal November. Laporan tentang serangan udara itu disampaikan oleh seorang sumber anonim kepada CNN. Dilansir CNN, Jumat (20\/11), pasukan federal Ethiopia menggempur pemerintah regional Tigray ketika Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, mengumumkan menggelar operasi militer, termasuk serangan udara. Konflik itu meletup akibat keputusan pemerintah Tigray yang memilih untuk otonom, dan bertentangan dengan keinginan Abiy. &quot;Operasi kami bertujuan untuk mengakhiri impunitas yang telah berlangsung terlalu lama dan meminta pertanggungjawaban individu dan kelompok di bawah hukum negara,&quot; ujar Abiy saat itu. Sumber anonim tersebut mengatakan, sejak itu ibu kota Tigray, Mekelle, selalu dibombardir, termasuk di dekat sebuah gereja dan universitas. Sejumlah penduduk sipil tewas dan terluka akibat serangan itu. Pemerintah Ethiopia tidak segera menanggapi permintaan konfirmasi dari CNN, tetapi sebelumnya mereka membantah membombardir kawasan pemukiman sipil. Mereka malah menuduh milisi Tigray menyembunyikan persenjataan di sekolah hingga rumah ibadah. Juru Bicara Satuan Tugas Darurat Negara Bagian Ethiopia, Redwan Hussein, mengatakan kepada CNN pada Rabu lalu kalau pasukan pemerintah federal telah mendekati Mekelle. Partai politik yang berkuasa di Tigray, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), menolak menyerah. Mereka menuduh pasukan federal membunuh warga sipil, meski dibantah oleh pemerintah Ethiopia. Akan tetapi CNN belum bisa memverifikasi klaim dari kedua belah pihak dikarenakan pembatasan jaringan komunikasi. Sumber itu juga menuturkan kepada CNN bahwa puluhan ribu orang telah mengungsi sejak pertempuran meletus. Pada awal November, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lebih dari 30 ribu penduduk Ethiopia mengungsi ke Sudan untuk menghindari konflik di daerah Tigray. Sejumlah lembaga bantuan kemanusiaan yang beroperasi di wilayah itu memperingatkan kondisi di wilayah itu semakin memprihatinkan, dan mendesak kedua belah pihak membuka akses ke zona konflik itu. Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan ada seribu orang yang meminta bantuan bagi keluarga mereka, melalui kantor perwakilan di Mekelle dan Addis Ababa. Konflik itu meletup karena Abiy mencoba mengubah sistem politik federalisme etnis yang selama ini diterapkan di Ethiopia. Sistem itu mengatur pembagian kekuasaan berdasarkan etnis. Hal itu mulanya membuat setiap etnis diberi hak untuk memerintah kawasan tertentu terhadap kelompok etnis individu yang menjadi minoritas sebelumnya. Namun, sistem itu menguntungkan etnis minoritas Tigray di tingkat federal. Abiy ingin menggabungkan partai politik yang berlandaskan etnis dan kawasan, Front Demokratik Revolusioner Rakyat Ethiopia, dengan Partai Kemakmuran. Namun, TPLF merasa kekuasaan mereka terancam dengan rencana Abiy, baik secara politik dan militer. TPLF lantas menolak bergabung dengan Partai Kemakmuran, dan membuat mereka serta pemerintah federal bertikai. Perseteruan semakin tajam akibat hasil pemilihan umum di Tigray pada September lalu yang dipermasalahkan. Sebab pemerintah pusat Ethiopia menunda pemilu dengan alasan pandemi virus corona. Karena kedua belah pihak tetap berkeras, alhasil hal itu memicu pertikaian bersenjata dan kini mengarah kepada situasi perang sipil (ans\/ayp\/CNN)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Kawasan <strong>Tigray<\/strong>\u00a0di\u00a0<strong>Ethiopia<\/strong> yang sedang dilanda konflik dilaporkan kembali digempur oleh serangan udara yang menyebabkan beberapa orang terluka.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Pertikaian antara milisi dan pasukan pemerintah di wilayah yang berbatasan dengan Eritrea dan Sudan itu berlangsung sejak awal November.<\/p>\n<p>Laporan tentang serangan udara itu disampaikan oleh seorang sumber anonim kepada <em>CNN<\/em>.<\/p>\n<p>Dilansir <em>CNN<\/em>, Jumat (20\/11), pasukan federal Ethiopia menggempur pemerintah regional Tigray ketika Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, mengumumkan menggelar operasi militer, termasuk serangan udara.<\/p>\n<p>Konflik itu meletup akibat keputusan pemerintah Tigray yang memilih untuk otonom, dan bertentangan dengan keinginan Abiy.<\/p>\n<p>&#8220;Operasi kami bertujuan untuk mengakhiri impunitas yang telah berlangsung terlalu lama dan meminta pertanggungjawaban individu dan kelompok di bawah hukum negara,&#8221; ujar Abiy saat itu.<\/p>\n<p>Sumber anonim tersebut mengatakan, sejak itu ibu kota Tigray, Mekelle, selalu dibombardir, termasuk di dekat sebuah gereja dan universitas. Sejumlah penduduk sipil tewas dan terluka akibat serangan itu.<\/p>\n<p>Pemerintah Ethiopia tidak segera menanggapi permintaan konfirmasi dari <em>CNN<\/em>, tetapi sebelumnya mereka membantah membombardir kawasan pemukiman sipil. Mereka malah menuduh milisi Tigray menyembunyikan persenjataan di sekolah hingga rumah ibadah.<\/p>\n<p>Juru Bicara Satuan Tugas Darurat Negara Bagian Ethiopia, Redwan Hussein, mengatakan kepada <em>CNN<\/em> pada Rabu lalu kalau pasukan pemerintah federal telah mendekati Mekelle.<\/p>\n<p>Partai politik yang berkuasa di Tigray, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), menolak menyerah. Mereka menuduh pasukan federal membunuh warga sipil, meski dibantah oleh pemerintah Ethiopia.<\/p>\n<p>Akan tetapi <em>CNN<\/em> belum bisa memverifikasi klaim dari kedua belah pihak dikarenakan pembatasan jaringan komunikasi.<\/p>\n<p>Sumber itu juga menuturkan kepada <em>CNN<\/em> bahwa puluhan ribu orang telah mengungsi sejak pertempuran meletus.<\/p>\n<p>Pada awal November, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lebih dari 30 ribu penduduk Ethiopia mengungsi ke Sudan untuk menghindari konflik di daerah Tigray.<\/p>\n<p>Sejumlah lembaga bantuan kemanusiaan yang beroperasi di wilayah itu memperingatkan kondisi di wilayah itu semakin memprihatinkan, dan mendesak kedua belah pihak membuka akses ke zona konflik itu.<\/p>\n<p>Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan ada seribu orang yang meminta bantuan bagi keluarga mereka, melalui kantor perwakilan di Mekelle dan Addis Ababa.<\/p>\n<p>Konflik itu meletup karena Abiy mencoba mengubah sistem politik federalisme etnis yang selama ini diterapkan di Ethiopia.<\/p>\n<p>Sistem itu mengatur pembagian kekuasaan berdasarkan etnis. Hal itu mulanya membuat setiap etnis diberi hak untuk memerintah kawasan tertentu terhadap kelompok etnis individu yang menjadi minoritas sebelumnya. Namun, sistem itu menguntungkan etnis minoritas Tigray di tingkat federal.<\/p>\n<p>Abiy ingin menggabungkan partai politik yang berlandaskan etnis dan kawasan, Front Demokratik Revolusioner Rakyat Ethiopia, dengan Partai Kemakmuran. Namun, TPLF merasa kekuasaan mereka terancam dengan rencana Abiy, baik secara politik dan militer.<\/p>\n<p>TPLF lantas menolak bergabung dengan Partai Kemakmuran, dan membuat mereka serta pemerintah federal bertikai. Perseteruan semakin tajam akibat hasil pemilihan umum di Tigray pada September lalu yang dipermasalahkan.<\/p>\n<p>Sebab pemerintah pusat Ethiopia menunda pemilu dengan alasan pandemi virus corona. Karena kedua belah pihak tetap berkeras, alhasil hal itu memicu pertikaian bersenjata dan kini mengarah kepada situasi perang sipil<br \/>\n<b>(ans\/ayp\/CNN)<\/b><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kawasan Tigray\u00a0di\u00a0Ethiopia yang sedang dilanda konflik dilaporkan kembali digempur oleh serangan udara yang menyebabkan beberapa orang terluka. Pertikaian antara milisi dan pasukan pemerintah di wilayah yang berbatasan dengan Eritrea dan Sudan itu berlangsung sejak awal November. Laporan tentang serangan udara itu disampaikan oleh seorang sumber anonim kepada CNN. Dilansir CNN, Jumat (20\/11), pasukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48269,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-48268","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional"],"better_featured_image":{"id":48269,"alt_text":"","caption":"","description":"537b2a10c06fdbd92b8e107ca6152e82","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/konflik-ethiopia-berlanjut-kawasan-tigray-kembali-digempur_5fb82fb1eea07.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/konflik-ethiopia-berlanjut-kawasan-tigray-kembali-digempur_5fb82fb1eea07.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/konflik-ethiopia-berlanjut-kawasan-tigray-kembali-digempur_5fb82fb1eea07.jpeg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/konflik-ethiopia-berlanjut-kawasan-tigray-kembali-digempur_5fb82fb1eea07.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1123","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48268","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48268"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48268\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48269"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48268"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48268"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48268"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}