{"id":48413,"date":"2020-12-02T17:04:53","date_gmt":"2020-12-02T10:04:53","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=48413"},"modified":"2020-12-02T17:04:56","modified_gmt":"2020-12-02T10:04:56","slug":"jejak-teror-taufik-bulaga-hingga-persembunyiannya-di-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/jejak-teror-taufik-bulaga-hingga-persembunyiannya-di-lampung\/","title":{"rendered":"Jejak Teror Taufik Bulaga hingga Persembunyiannya di Lampung"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Tersangka kasus terorisme, Taufik Bulaga\u00a0alias Upik Lawanga diketahui berada di Kampung Sribawono, Kecamatan Seputih Banyak,\u00a0Lampung Tengah selama delapan tahun belakangan. Selama dalam masa persembunyian di Lampung, buronan kasus terorisme ini menggunakan nama samaran. Kepala Kampung Sribawono, Eko Widodo saat ditemui membenarkan penangkapan salah satu warganya bernama Syafrudin oleh tim Densus 88 Antiteror Polri. Ia menuturkan, Syafrudin alias Taufik Bulaga tinggal di Kampung Sribawono sejak delapan tahun silam. &quot;Ya benar, saya dapat kabarnya itu langsung dari anggota tim Densus 88 Antiteror tapi dia [Syafrudin] sudah ditangkap. Dia [Syafrudin] ini tinggal bersama istri dan kelima anaknya,&quot; ungkap Eko Widodo kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26\/11) pekan lalu. Sepengetahuan Eko, keseharian Syafrudin alias Taufik Bulaga diisi dengan beternak bebek untuk dijual lagi. Secara kepribadian, Syafrudin dikenal berhubungan baik dengan tetangga maupun warga lain di kampung dan tak pernah ada masalah. &quot;Kalau gelagat mencurigakan atau ada kegiatan-kegiatan di rumahnya, selama ini sepertinya tidak ada. Namun dia [Syafrudin] ini, orangnya memang tertutup,&quot; sambung dia. Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap buronan kasus terorisme, Taufik Bulaga\u00a0pada Senin (23\/11) lalu. Penangkapan ini juga menyita Penangkapan juga menyita 8 bilah senjata tajam, senjata api rakitan, senjata angin, crossbow, 1 bilah panah, 13 peluru dan 1 bunker dengan kedalaman 2 meter. Upik merupakan seorang teroris kelas kakap yang tergabung dalam Jemaah Islamiyah (JI). Setidaknya, dia telah buron dari kejaran polisi selama 14 tahun. Ia disebut-sebut polisi sebagai aset paling berharga JI yang juga berperan sebagai perakit bom ulung. &quot;UL merupakan penerus dari Dr. Azhari sehingga yang bersangkutan disembunyikan oleh kelompok JI,&quot; kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono kepada wartawan di Mabes Polri, Senin (30\/11). Berdasarkan catatan kepolisian, Taufik Bulaga merupakan sosok buronan yang pertama kali melarikan diri dari Poso, Sulawesi Tengah pada 2007 melalui Makassar, Surabaya, kemudian Solo, hingga akhirnya menetap di Lampung. Infografis Kasus Terorisme Sepanjang 2019. (CNNIndonesia\/Basith Subastian) Penerus Dokter Azhari Taufik Bulaga masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus terorisme sejak2006silam. Ia disebut-sebut sebagai ahli perakit bom di lingkaran JI sampai-sampai dijuluki sebagai profesor bom. Tak hanya itu, Taufik Bulaga disebut sebagai anak kesayangan dokter Azhari--teroris asal Malaysia yang ditembak mati pada 2005 silam. Jauh sebelum memiliki kemampuan merakit bom, Upik Lawanga mulai terpapar paham\u00a0ekstremisme pasca-konflik Poso pada 2001 lalu. Dia bersama kelompok JI, secara langsung turun ke Pos untuk melakukan pelatihan militer. Ia kemudian diutus ke wilayah Jawa untuk mempelajari ilmu pembuatan bom dengan kekuatan ledakan yang besar dari kelompok Dr. Azhari. Diketahui, Dr Azhari merupakan otak dari insiden Bom Bali 2002 dan 2005, serta sejumlah serangan lain oleh jaringan JI. Setelah fasih merakit bom, dia ditarik kembali ke Sulawesi Tengah untuk melakukan aksi amaliyah. Setidaknya, ada 11 kasus terorisme yang diduga berkaitan dengan Upik Lawanga. &quot;Tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh UL selama berada di Poso telah mengakibatkan 27 orang saudara-saudara kita meninggal dunia, dan 92 orang mengalami luka-luka,&quot; ucap Awi menerangkan. Pertama, pada 2004, Upik terlibat dalam pembunuhan seorang istri anggota TNI AD di Sulteng, kemudian penembakan dan pengeboman gereja Anugerah pada 12 Desember 2004, bom di\u00a0GOR Poso pada 17 Juli 2004, dan terakhir bom di Pasar Sentral pada 13 November 2004. Kemudian, pada 2005, dia terlibat dalam insiden bom di\u00a0Pasar Tentena pada 28 Mei. Berlanjut ke aksi\u00a0pengeboman\u00a0di Pura Landangan pada 12 Maret dan terakhir, bom di Pasar Maesa pada 31 Desember 2005. Selain itu, dia juga diduga melakukan sejumlah serangan teror pada 2006 hingga akhirnya membuat sebuah bunker atau tempat pelatihan militer pada 2020. &quot;Kemudian pada Tahun 2007 ketika UL telah berstatus DPO, JI menugaskan UL untuk mempersiapkan dan membuat persenjataan dan Bom, serta membuat Bunker sebagai tempat penyimpanannya,&quot; terang Awi. Ilustrasi. Polisi bersenjata melakukan penjagaan dalam penangkapan terduga teroris oleh Densus 88 Antiteror. (Foto: ANTARA FOTO\/Idhad Zakaria) Usai ditangkap, polisi berkesimpulan bahwa Upik Lawanga masih dapat\u00a0menyiapkan serangkaian aksi teror. Pihak kepolisian mengingatkan\u00a0bahwa dukungan dari JI sebagai organisasi teror masih terendus aparat. Menurut Awi, pendanaan kelompok teror itu salah satunya dilakukan melalui penyalahgunaan kotak amal di minimarket. Kelompok JI disebut menggunakan dana\u00a0ini untuk memberangkatkan para teroris ke Suriah guna mengikuti pelatihan militer dan taktik teror. Selain itu, dana tersebut juga digunakan untuk membayar gaji rutin para pimpinan Markaziyah JI serta pembelian persenjataan dan bahan peledak yang akan digunakan untuk amaliyah atau jihad. &quot;Dari temuan kami di Lampung, dapat dilihat bahwa JI sampai saat ini masih tetap hidup dan memiliki kekuatan secara militer,&quot; jelas Awi lagi. JI merupakan jaringan terorisme yang bertanggung jawab atas pelbagai kasus teror di Indonesia. Beberapa di antaranya seperti Bom Bali 1 dan 2, kemudian ledakan di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 2009. (zai\/mjo\/nma\/CNN)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Tersangka kasus<strong> terorisme<\/strong>, <strong>Taufik Bulaga<\/strong>\u00a0alias Upik Lawanga diketahui berada di Kampung Sribawono, Kecamatan Seputih Banyak,\u00a0<strong>Lampung Tengah<\/strong> selama delapan tahun belakangan.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Selama dalam masa persembunyian di Lampung, buronan kasus terorisme ini menggunakan nama samaran. Kepala Kampung Sribawono, Eko Widodo saat ditemui membenarkan penangkapan salah satu warganya bernama Syafrudin oleh tim Densus 88 Antiteror Polri.<\/p>\n<p>Ia menuturkan, Syafrudin alias Taufik Bulaga tinggal di Kampung Sribawono sejak delapan tahun silam.<\/p>\n<p>&#8220;Ya benar, saya dapat kabarnya itu langsung dari anggota tim Densus 88 Antiteror tapi dia [Syafrudin] sudah ditangkap. Dia [Syafrudin] ini tinggal bersama istri dan kelima anaknya,&#8221; ungkap Eko Widodo kepada <em>CNNIndonesia.com<\/em>, Kamis (26\/11) pekan lalu.<\/p>\n<p>Sepengetahuan Eko, keseharian Syafrudin alias Taufik Bulaga diisi dengan beternak bebek untuk dijual lagi. Secara kepribadian, Syafrudin dikenal berhubungan baik dengan tetangga maupun warga lain di kampung dan tak pernah ada masalah.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau gelagat mencurigakan atau ada kegiatan-kegiatan di rumahnya, selama ini sepertinya tidak ada. Namun dia [Syafrudin] ini, orangnya memang tertutup,&#8221; sambung dia.<\/p>\n<p>Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap buronan kasus terorisme, Taufik Bulaga\u00a0pada Senin (23\/11) lalu. Penangkapan ini juga menyita<\/p>\n<p>Penangkapan juga menyita 8 bilah senjata tajam, senjata api rakitan, senjata angin, crossbow, 1 bilah panah, 13 peluru dan 1 bunker dengan kedalaman 2 meter.<\/p>\n<p>Upik merupakan seorang teroris kelas kakap yang tergabung dalam Jemaah Islamiyah (JI). Setidaknya, dia telah buron dari kejaran polisi selama 14 tahun.<\/p>\n<p>Ia disebut-sebut polisi sebagai aset paling berharga JI yang juga berperan sebagai perakit bom ulung.<\/p>\n<p>&#8220;UL merupakan penerus dari Dr. Azhari sehingga yang bersangkutan disembunyikan oleh kelompok JI,&#8221; kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono kepada wartawan di Mabes Polri, Senin (30\/11).<\/p>\n<p>Berdasarkan catatan kepolisian, Taufik Bulaga merupakan sosok buronan yang pertama kali melarikan diri dari Poso, Sulawesi Tengah pada 2007 melalui Makassar, Surabaya, kemudian Solo, hingga akhirnya menetap di Lampung.<\/p>\n<table class=\"pic_artikel_sisip_table\" align=\"center\">\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<div class=\"pic_artikel_sisip\" align=\"center\">\n<div class=\"pic\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"Infografis Kasus Terorisme Sepanjang 2019\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/akcdn.detik.net.id\/community\/media\/visual\/2019\/12\/24\/0f93cdac-eb6d-4d10-9ba8-4edc8d6f5bed.jpeg?ssl=1\" alt=\"Infografis Kasus Terorisme Sepanjang 2019\" \/>Infografis Kasus Terorisme Sepanjang 2019. (CNNIndonesia\/Basith Subastian)<\/div>\n<\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h3>Penerus Dokter Azhari<\/h3>\n<p>Taufik Bulaga masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus terorisme sejak2006silam. Ia disebut-sebut sebagai ahli perakit bom di lingkaran JI sampai-sampai dijuluki sebagai profesor bom.<\/p>\n<p>Tak hanya itu, Taufik Bulaga disebut sebagai anak kesayangan dokter Azhari&#8211;teroris asal Malaysia yang ditembak mati pada 2005 silam.<\/p>\n<p>Jauh sebelum memiliki kemampuan merakit bom, Upik Lawanga mulai terpapar paham\u00a0ekstremisme pasca-konflik Poso pada 2001 lalu. Dia bersama kelompok JI, secara langsung turun ke Pos untuk melakukan pelatihan militer.<\/p>\n<p>Ia kemudian diutus ke wilayah Jawa untuk mempelajari ilmu pembuatan bom dengan kekuatan ledakan yang besar dari kelompok Dr. Azhari. Diketahui, Dr Azhari merupakan otak dari insiden Bom Bali 2002 dan 2005, serta sejumlah serangan lain oleh jaringan JI.<\/p>\n<p>Setelah fasih merakit bom, dia ditarik kembali ke Sulawesi Tengah untuk melakukan aksi amaliyah. Setidaknya, ada 11 kasus terorisme yang diduga berkaitan dengan Upik Lawanga.<\/p>\n<p>&#8220;Tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh UL selama berada di Poso telah mengakibatkan 27 orang saudara-saudara kita meninggal dunia, dan 92 orang mengalami luka-luka,&#8221; ucap Awi menerangkan.<\/p>\n<p>Pertama, pada 2004, Upik terlibat dalam pembunuhan seorang istri anggota TNI AD di Sulteng, kemudian penembakan dan pengeboman gereja Anugerah pada 12 Desember 2004, bom di\u00a0GOR Poso pada 17 Juli 2004, dan terakhir bom di Pasar Sentral pada 13 November 2004.<\/p>\n<p>Kemudian, pada 2005, dia terlibat dalam insiden bom di\u00a0Pasar Tentena pada 28 Mei. Berlanjut ke aksi\u00a0pengeboman\u00a0di Pura Landangan pada 12 Maret dan terakhir, bom di Pasar Maesa pada 31 Desember 2005.<\/p>\n<p>Selain itu, dia juga diduga melakukan sejumlah serangan teror pada 2006 hingga akhirnya membuat sebuah bunker atau tempat pelatihan militer pada 2020.<\/p>\n<p>&#8220;Kemudian pada Tahun 2007 ketika UL telah berstatus DPO, JI menugaskan UL untuk mempersiapkan dan membuat persenjataan dan Bom, serta membuat Bunker sebagai tempat penyimpanannya,&#8221; terang Awi.<\/p>\n<table class=\"pic_artikel_sisip_table\" align=\"center\">\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<div class=\"pic_artikel_sisip\" align=\"center\">\n<div class=\"pic\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"PENGGELEDAHAN RUMAH TERDUGA TERORIS BANYUMAS\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/akcdn.detik.net.id\/community\/media\/visual\/2018\/02\/01\/057aa7e4-2eb0-43ee-885d-e9d33e7565ee_169.jpeg?ssl=1\" alt=\"Polisi bersenjata melakukan penjagaan di jalan masuk rumah Sidik (33), terduga teroris yang ditangkap oleh Densus 88 Antiteror, di Desa Pasir Wetan, Karanglewas, Banyumas, Jateng, Kamis (1\/2). Densus 88 Antiteror menangkap Sidik dan Slamet di Purwokerto, Banyumas, yang diduga memfasilitasi dan mendanai kelompok teroris Ageng Nugroho berangkat ke Filipina Selatan. ANTARA FOTO\/Idhad Zakaria\/aww\/18.\" \/>Ilustrasi. Polisi bersenjata melakukan penjagaan dalam penangkapan terduga teroris oleh Densus 88 Antiteror. (Foto: ANTARA FOTO\/Idhad Zakaria)<\/div>\n<\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Usai ditangkap, polisi berkesimpulan bahwa Upik Lawanga masih dapat\u00a0menyiapkan serangkaian aksi teror. Pihak kepolisian mengingatkan\u00a0bahwa dukungan dari JI sebagai organisasi teror masih terendus aparat.<\/p>\n<p>Menurut Awi, pendanaan kelompok teror itu salah satunya dilakukan melalui penyalahgunaan kotak amal di minimarket. Kelompok JI disebut menggunakan dana\u00a0ini untuk memberangkatkan para teroris ke Suriah guna mengikuti pelatihan militer dan taktik teror.<\/p>\n<p>Selain itu, dana tersebut juga digunakan untuk membayar gaji rutin para pimpinan Markaziyah JI serta pembelian persenjataan dan bahan peledak yang akan digunakan untuk amaliyah atau jihad.<\/p>\n<p>&#8220;Dari temuan kami di Lampung, dapat dilihat bahwa JI sampai saat ini masih tetap hidup dan memiliki kekuatan secara militer,&#8221; jelas Awi lagi.<\/p>\n<p>JI merupakan jaringan terorisme yang bertanggung jawab atas pelbagai kasus teror di Indonesia. Beberapa di antaranya seperti Bom Bali 1 dan 2, kemudian ledakan di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 2009.<\/p>\n<p><b>(zai\/mjo\/nma\/CNN)<\/b><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Tersangka kasus terorisme, Taufik Bulaga\u00a0alias Upik Lawanga diketahui berada di Kampung Sribawono, Kecamatan Seputih Banyak,\u00a0Lampung Tengah selama delapan tahun belakangan. Selama dalam masa persembunyian di Lampung, buronan kasus terorisme ini menggunakan nama samaran. Kepala Kampung Sribawono, Eko Widodo saat ditemui membenarkan penangkapan salah satu warganya bernama Syafrudin oleh tim Densus 88 Antiteror Polri. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48414,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,3],"tags":[324,325,321,320,7],"class_list":["post-48413","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-umum","tag-anarkisme","tag-gereja-bala-keselamatan","tag-mujahidin-indonesia-timur","tag-sigi","tag-terorisme"],"better_featured_image":{"id":48414,"alt_text":"","caption":"","description":"2c21aa1247dc7f55228a8197fcae4aab","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/jejak-teror-taufik-bulaga-hingga-persembunyiannya-di-lampung_5fc74cca53428.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/jejak-teror-taufik-bulaga-hingga-persembunyiannya-di-lampung_5fc74cca53428.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/jejak-teror-taufik-bulaga-hingga-persembunyiannya-di-lampung_5fc74cca53428.jpeg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/jejak-teror-taufik-bulaga-hingga-persembunyiannya-di-lampung_5fc74cca53428.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1340","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48413","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48413"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48413\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48414"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48413"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48413"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48413"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}