{"id":48553,"date":"2020-12-16T13:30:36","date_gmt":"2020-12-16T06:30:36","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=48553"},"modified":"2020-12-16T13:30:36","modified_gmt":"2020-12-16T06:30:36","slug":"kisah-ananda-soebandono-putuskan-pindah-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kisah-ananda-soebandono-putuskan-pindah-agama\/","title":{"rendered":"Kisah Ananda Soebandono Putuskan Pindah Agama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Lahir dan besar di keluarga muslim, kakak Alyssa Soebandono, Ananda Soebandono memutuskan untuk memeluk agama kristen. Dia mengungkapnya lewat chanel YouTube Diaspora TV beberapa waktu yang lalu. Dia juga mengungkapkan alasan berpindah keyakinan. Nanda, sapaan akrabnya, memulai cerita dengan awal perkenalannya dengan Kristen. Ia mengatakan kalau sejak kecil sang ibu yang berasal dari Manado, sering mengajaknya berkumpul dengan keluarga dari Manado. Setiap perayaan Hari Besar, termasuk Natal, Nanda selalu diajak. Di sanalah kebimbangan akan jatidirinya sebagai seorang Muslim mulai muncul. Hingga di banku SMA dia mulai berpacaran dengan perempuan yang memeluk Kristen. Saat itu, ia sempat diajak ke gereja. &quot;Gue mulai ada getaran cuman enggak gue gubris sampai suatu saat ajak ke gereja gue deg-degan,&quot; lanjut cerita Ananda. Sejak saat itu, Ananda merasakan ada kehampaan. Sampai suatu ketika di usia 20-an, seorang teman mengajaknya ke gereja di hari Minggu. Di sana dia mendengar khotbah yang menjadi awal perjalanan spiritualnya. Khotbah itu berisi tentang jatidiri. Usai mendengarnya, ia mengaku mendapat penglihatan. Apa yang dilihat oleh Ananda hingga mantap memeluk Kristen? Simak terus artikel selengkapnya berikut. Usai mendegar khotbah, Ananda merasa deg-degan dan akhirnya memanjatkan doa. &quot;Gue cuman berdoa \u2018Ya Allah aku ingin tahu siapa jatidiri aku sebenernya dan aku ingin tahu siapa sih aku yang ngerasain kehampaan selama ini\u2019. Berkali-berkali. Sampai akhirnya gue dapat vision-nya itu seperti gambar pintu gereja tua masih jauh ketutup,&quot; jelas Ananda. Ananda Soebandono menceritakan pengalamannya itu kepada temannya, bahwa ia merasa deg-degan usai berdoa meminta petunjuk jatidiri. Temannya memintanya untuk kembali berdoa agar hatinya mantap. Di minggu berikutnya, Ananda kembali ke gereja dan mendapatkan pengalaman serupa. Dia kembali memanjatkan doa yang sama. &quot;Gue cuman berdoa &#039;Tuhan aku ingin tahu siapa jati diri aku, siapa yang tinggal dalam hatiku&#039; sampai akhirnya dapat penglihatan pintu gereja tua. Kali ini pintunya lebih deket lebih jelas, makin deg-degan,&quot; lanjutnya. Singkat cerita, Ananda dibawa kembali ke gereja bersama temannya dan mendengarkan khotbah. &quot;Saat itu khotbahnya &#039;You are the winner in your life karena Tuhan ada di hati kamu dan tangan Dia merencanakan segalanya untuk kamu&#039;,&quot; tutur Ananda Soebandono. Mendengar itu, perasaan Ananda Soebandono pun bergetar. Dia kembali berdoa meminta petunjuk. Lalu, dia mengaku kembali mendapat penglihatan yang pada akhirnya memantapkannya untuk berpindah keyakinan. &quot;Gue dapet vision di mana pintu gereja lebih deket tapi kebuka, ada cahaya pas liat itu gue cuman nangis karena gue tau harus jawab apa, gue cuman bilang thank you Tuhan Yesus. Terima kasih pada Tuhan akhirnya gue tahu siapa Tuhan gue,&quot; ucap Ananda Sobenadono yang memutuskan berpindah keyakinan pada Februari 2016.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Lahir dan besar di keluarga muslim, kakak Alyssa Soebandono, Ananda Soebandono memutuskan untuk memeluk agama kristen. Dia mengungkapnya lewat chanel YouTube Diaspora TV beberapa waktu yang lalu. Dia juga mengungkapkan alasan berpindah keyakinan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nanda, sapaan akrabnya, memulai cerita dengan awal perkenalannya dengan Kristen. Ia mengatakan kalau sejak kecil sang ibu yang berasal dari Manado, sering mengajaknya berkumpul dengan keluarga dari Manado. Setiap perayaan Hari Besar, termasuk Natal, Nanda selalu diajak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sanalah kebimbangan akan jatidirinya sebagai seorang Muslim mulai muncul. Hingga di banku SMA dia mulai berpacaran dengan perempuan yang memeluk Kristen. Saat itu, ia sempat diajak ke gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Gue mulai ada getaran cuman enggak gue gubris sampai suatu saat ajak ke gereja gue deg-degan,&#8221; lanjut cerita Ananda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak saat itu, Ananda merasakan ada kehampaan. Sampai suatu ketika di usia 20-an, seorang teman mengajaknya ke gereja di hari Minggu. Di sana dia mendengar khotbah yang menjadi awal perjalanan spiritualnya. Khotbah itu berisi tentang jatidiri. Usai mendengarnya, ia mengaku mendapat penglihatan. Apa yang dilihat oleh Ananda hingga mantap memeluk Kristen? Simak terus artikel selengkapnya berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Usai mendegar khotbah, Ananda merasa deg-degan dan akhirnya memanjatkan doa. &#8220;Gue cuman berdoa \u2018Ya Allah aku ingin tahu siapa jatidiri aku sebenernya dan aku ingin tahu siapa sih aku yang ngerasain kehampaan selama ini\u2019. Berkali-berkali. Sampai akhirnya gue dapat vision-nya itu seperti gambar pintu gereja tua masih jauh ketutup,&#8221; jelas Ananda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ananda Soebandono menceritakan pengalamannya itu kepada temannya, bahwa ia merasa deg-degan usai berdoa meminta petunjuk jatidiri. Temannya memintanya untuk kembali berdoa agar hatinya mantap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di minggu berikutnya, Ananda kembali ke gereja dan mendapatkan pengalaman serupa. Dia kembali memanjatkan doa yang sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Gue cuman berdoa &#8216;Tuhan aku ingin tahu siapa jati diri aku, siapa yang tinggal dalam hatiku&#8217; sampai akhirnya dapat penglihatan pintu gereja tua. Kali ini pintunya lebih deket lebih jelas, makin deg-degan,&#8221; lanjutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Singkat cerita, Ananda dibawa kembali ke gereja bersama temannya dan mendengarkan khotbah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saat itu khotbahnya &#8216;You are the winner in your life karena Tuhan ada di hati kamu dan tangan Dia merencanakan segalanya untuk kamu&#8217;,&#8221; tutur Ananda Soebandono.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mendengar itu, perasaan Ananda Soebandono pun bergetar. Dia kembali berdoa meminta petunjuk. Lalu, dia mengaku kembali mendapat penglihatan yang pada akhirnya memantapkannya untuk berpindah keyakinan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Gue dapet vision di mana pintu gereja lebih deket tapi kebuka, ada cahaya pas liat itu gue cuman nangis karena gue tau harus jawab apa, gue cuman bilang thank you Tuhan Yesus. Terima kasih pada Tuhan akhirnya gue tahu siapa Tuhan gue,&#8221; ucap Ananda Sobenadono yang memutuskan berpindah keyakinan pada Februari 2016.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Lahir dan besar di keluarga muslim, kakak Alyssa Soebandono, Ananda Soebandono memutuskan untuk memeluk agama kristen. Dia mengungkapnya lewat chanel YouTube Diaspora TV beberapa waktu yang lalu. Dia juga mengungkapkan alasan berpindah keyakinan. Nanda, sapaan akrabnya, memulai cerita dengan awal perkenalannya dengan Kristen. Ia mengatakan kalau sejak kecil sang ibu yang berasal dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":48554,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"69"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[69],"tags":[],"class_list":["post-48553","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-inspirasi"],"better_featured_image":{"id":48554,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/ananda-soebandono.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/ananda-soebandono.jpg?fit=768%2C463&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/ananda-soebandono.jpg"},"categories_detail":[{"id":69,"name":"Inspirasi","description":"","slug":"inspirasi","count":10,"parent":0}],"author_name":"sunardo","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ed7f70b2638935ff34c92f61464b1da646634ada4dc1ad44d5ef196bb129bf1?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/ananda-soebandono.jpg?fit=780%2C470&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1576","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48553","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48553"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48553\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48554"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48553"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48553"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48553"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}