{"id":48622,"date":"2026-04-20T18:15:47","date_gmt":"2026-04-20T11:15:47","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/undi-dibuang-di-pangkuan-tetapi-setiap-keputusannya-berasal-dari-pada-tuhan-amsal-1633\/"},"modified":"2026-04-20T18:15:48","modified_gmt":"2026-04-20T11:15:48","slug":"undi-dibuang-di-pangkuan-tetapi-setiap-keputusannya-berasal-dari-pada-tuhan-amsal-1633","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/undi-dibuang-di-pangkuan-tetapi-setiap-keputusannya-berasal-dari-pada-tuhan-amsal-1633\/","title":{"rendered":"Supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yang berkuasa atas maut. [Ibrani 2:14]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Hai anak Allah, maut telah kehilangan sengatnya, karena kuasa Iblis atasnya sudah dihancurkan. Maka jangan lagi takut akan kematian. Mintalah anugerah dari Allah Roh Kudus, sehingga dengan pengetahuan yang intim dan keyakinan yang teguh akan kematian Penebusmu, engkau dapat dikuatkan pada saat yang mengerikan itu. Dengan hidup dekat salib Kalvari, engkau akan memikirkan kematian dengan senang, dan menyambutnya dengan sangat bersukaria ketika kematian datang. Mati di dalam Tuhan merupakan hal yang manis: tidur di dalam Yesus merupakan suatu berkat kovenan. Maut bukan lagi pembuangan, melainkan kepulangan dari pembuangan, yaitu perjalanan pulang menuju banyak rumah besar tempat orang-orang yang terkasih sudah tinggal. Kelihatannya jaraknya jauh antara roh-roh yang dimuliakan di surga dengan orang-orang suci yang bergiat di bumi; tetapi sebenarnya tidak. Kita tidaklah jauh dari rumah\u2014dalam sekejap kita akan dibawa ke sana. Layar sudah terkembang; jiwa melesat ke kedalaman laut. Berapa lamakah pelayarannya akan berlangsung? Berapa banyak angin yang meletihkan harus memukul layar sampai layar itu digulung di pelabuhan yang tenang? Berapa lama jiwa akan dihempas ombak sebelum ia tiba pada lautan yang tak mengenal badai? Dengarkan jawabannya, &quot;Beralih dari tubuh, menetap pada Tuhan.&quot; [2 Korintus 5:8] Kapalmu itu baru saja berangkat, tetapi ia sudah sampai pada pelabuhannya. Baru saja layarnya dikembangkan, dan kapal sudah sampai di sana. Seperti kapal pada zaman dahulu, di atas danau Galilea, angin ribut menghantam, tetapi Yesus berkata, &quot;Diam, tenanglah,&quot; [Markus 4:39] dan dengan segera kapal itu mendarat. Jangan berpikir bahwa di antara saat kematian itu terjadi dan kekalnya kemuliaan terdapat periode yang panjang. Ketika mata tertutup di bumi, mata terbuka di surga. Kuda berapi itu bahkan tidak sebentar pun berada di atas jalan [1]. Maka, wahai anak Allah, apa yang engkau takutkan dari maut, setelah melihat bahwa kutuk dan sengat dari maut telah dihancurkan melalui kematian Tuhanmu? dan sekarang, itu hanyalah tangga Yakub yang dasarnya berada di kuburan gelap, tetapi puncaknya mencapai kemuliaan kekal. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Hai anak Allah, maut telah kehilangan sengatnya, karena kuasa Iblis atasnya sudah dihancurkan. Maka jangan lagi takut akan kematian. Mintalah anugerah dari Allah Roh Kudus, sehingga dengan pengetahuan yang intim dan keyakinan yang teguh akan kematian Penebusmu, engkau dapat dikuatkan pada saat yang mengerikan itu. Dengan hidup dekat salib Kalvari, engkau akan memikirkan kematian dengan senang, dan menyambutnya dengan sangat bersukaria ketika kematian datang. Mati di dalam Tuhan merupakan hal yang manis: tidur di dalam Yesus merupakan suatu berkat kovenan. Maut bukan lagi pembuangan, melainkan kepulangan dari pembuangan, yaitu perjalanan pulang menuju banyak rumah besar tempat orang-orang yang terkasih sudah tinggal. Kelihatannya jaraknya jauh antara roh-roh yang dimuliakan di surga dengan orang-orang suci yang bergiat di bumi; tetapi sebenarnya tidak. Kita tidaklah jauh dari rumah\u2014dalam sekejap kita akan dibawa ke sana. Layar sudah terkembang; jiwa melesat ke kedalaman laut. Berapa lamakah pelayarannya akan berlangsung? Berapa banyak angin yang meletihkan harus memukul layar sampai layar itu digulung di pelabuhan yang tenang? Berapa lama jiwa akan dihempas ombak sebelum ia tiba pada lautan yang tak mengenal badai? Dengarkan jawabannya, &#8220;Beralih dari tubuh, menetap pada Tuhan.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?2%20Korintus%205:8\">2 Korintus 5:8<\/a>] Kapalmu itu baru saja berangkat, tetapi ia sudah sampai pada pelabuhannya. Baru saja layarnya dikembangkan, dan kapal sudah sampai di sana. Seperti kapal pada zaman dahulu, di atas danau Galilea, angin ribut menghantam, tetapi Yesus berkata, &#8220;Diam, tenanglah,&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Markus%204:39\">Markus 4:39<\/a>] dan <i>dengan segera<\/i> kapal itu mendarat. Jangan berpikir bahwa di antara saat kematian itu terjadi dan kekalnya kemuliaan terdapat periode yang panjang. Ketika mata tertutup di bumi, mata terbuka di surga. Kuda berapi itu bahkan tidak sebentar pun berada di atas jalan [1]. Maka, wahai anak Allah, apa yang engkau takutkan dari maut, setelah melihat bahwa kutuk dan sengat dari maut telah dihancurkan melalui kematian Tuhanmu? dan sekarang, itu hanyalah tangga Yakub yang dasarnya berada di kuburan gelap, tetapi puncaknya mencapai kemuliaan kekal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Hai anak Allah, maut telah kehilangan sengatnya, karena kuasa Iblis atasnya sudah dihancurkan. Maka jangan lagi takut akan kematian. Mintalah anugerah dari Allah Roh Kudus, sehingga dengan pengetahuan yang intim dan keyakinan yang teguh akan kematian Penebusmu, engkau dapat dikuatkan pada saat yang mengerikan itu. Dengan hidup dekat salib Kalvari, engkau akan memikirkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-48622","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"45","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48622","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48622"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48622\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68946,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48622\/revisions\/68946"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48622"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48622"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48622"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}