{"id":48695,"date":"2026-04-24T18:16:01","date_gmt":"2026-04-24T11:16:01","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sahabat-silakan-duduk-di-depan-lukas-1410\/"},"modified":"2026-04-24T18:16:02","modified_gmt":"2026-04-24T11:16:02","slug":"sahabat-silakan-duduk-di-depan-lukas-1410","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sahabat-silakan-duduk-di-depan-lukas-1410\/","title":{"rendered":"Berdasarkan semuanya ini kami mengikat perjanjian yang teguh. [Nehemia 9:38]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Dalam pengalaman kita, kita berkali-kali memperbarui janji kita dengan Allah, secara benar, dan bermanfaat. Setelah dipulihkan dari sakit, seperti Hizkia, ketika kita memperoleh tahun-tahun yang baru yang ditambahkan kepada hidup kita, kita memang pantas melakukannya. Setelah dibebaskan dari masalah apapun, ketika sukacita bertunas kembali, marilah kita kunjungi kembali kaki salib, dan perbarui pengudusan diri kita. Lebih utama lagi, marilah kita melakukannya setelah berbuat dosa apapun yang mendukakan Roh Kudus, atau mempermalukan nama Allah; ketika itu marilah kita melihat darah yang menjadikan kita lebih putih dari salju [Yesaya 1:18], dan persembahkan diri kita kembali kepada Tuhan. Hendaklah tidak hanya masalah-masalah kita yang meneguhkan pengabdian kita kepada Allah, tetapi kemakmuran kita pun seharusnya demikian. Saat kita mengalami suatu kejadian yang layak disebut &quot;mahkota rahmat,&quot; [1] maka tentu saja, jika Ia telah memahkotai kita, kita pun seharusnya memahkotai Allah kita; mari kita keluarkan lagi semua perhiasan sebagai tanda kerajaan ilahi yang tersimpan dalam lemari perhiasan di dalam hati kita, dan persilakan Allah duduk di atas takhta cinta kasih kita, berhiaskan pakaian kerajaan. Kalau saja kita mau belajar mendapat sesuatu yang berguna di dalam kemakmuran kita, kita seharusnya tidak memerlukan penderitaan terlalu banyak. Kalau saja kita mau mengumpulkan segala yang baik yang bisa kita dapatkan dari sebuah ciuman, kita tidak usah sering-sering terluka oleh karena rotan. Apakah belakangan ini kita sempat menerima berkat yang tidak begitu terduga? Apakah Tuhan menegakkan kaki kita di tempat yang lapang [Mazmur 31:8]? Dapatkah kita bernyanyi atas rahmat yang berlipat ganda? Maka, inilah hari untuk meletakkan tangan kita pada tanduk-tanduk mezbah, dan mengatakan, &quot;Ikatlah diriku di sini, ya Allahku; ikatlah diriku di sini dengan tali, bahkan untuk selama-lamanya.&#039;&#039; [Mazmur 118:27] Sebanyak kita membutuhkan pemenuhan janji-janji baru dari Allah, marilah kita persembahkan doa-doa baru agar nazar-nazar lamamu tidak gagal ditepati. Marilah kita pagi hari ini bersama-Nya mengikat perjanjian yang teguh, oleh sebab penderitaan Yesus yang bulan lalu telah kita renungkan dengan rasa syukur. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Dalam pengalaman kita, kita berkali-kali memperbarui janji kita dengan Allah, secara benar, dan bermanfaat. Setelah <i>dipulihkan dari sakit<\/i>, seperti Hizkia, ketika kita memperoleh tahun-tahun yang baru yang ditambahkan kepada hidup kita, kita memang pantas melakukannya. Setelah <i>dibebaskan dari masalah<\/i> apapun, ketika sukacita bertunas kembali, marilah kita kunjungi kembali kaki salib, dan perbarui pengudusan diri kita. Lebih utama lagi, marilah kita melakukannya setelah berbuat <i>dosa apapun yang mendukakan Roh Kudus<\/i>, atau mempermalukan nama Allah; ketika itu marilah kita melihat darah yang menjadikan kita lebih putih dari salju [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Yesaya%201:18\">Yesaya 1:18<\/a>], dan persembahkan diri kita kembali kepada Tuhan. Hendaklah tidak hanya masalah-masalah kita yang meneguhkan pengabdian kita kepada Allah, tetapi <i>kemakmuran kita<\/i> pun seharusnya demikian. Saat kita mengalami suatu kejadian yang layak disebut &#8220;mahkota rahmat,&#8221; [1] maka tentu saja, jika Ia telah memahkotai kita, kita pun seharusnya memahkotai Allah kita; mari kita keluarkan lagi semua perhiasan sebagai tanda kerajaan ilahi yang tersimpan dalam lemari perhiasan di dalam hati kita, dan persilakan Allah duduk di atas takhta cinta kasih kita, berhiaskan pakaian kerajaan. Kalau saja kita mau belajar mendapat sesuatu yang berguna di dalam kemakmuran kita, kita seharusnya tidak memerlukan penderitaan terlalu banyak. Kalau saja kita mau mengumpulkan segala yang baik yang bisa kita dapatkan dari sebuah ciuman, kita tidak usah sering-sering terluka oleh karena rotan. Apakah belakangan ini kita sempat menerima berkat yang tidak begitu terduga? Apakah Tuhan menegakkan kaki kita di tempat yang lapang [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Mazmur%2031:8\">Mazmur 31:8<\/a>]? Dapatkah kita bernyanyi atas rahmat yang berlipat ganda? Maka, inilah hari untuk meletakkan tangan kita pada tanduk-tanduk mezbah, dan mengatakan, &#8220;Ikatlah diriku di sini, ya Allahku; ikatlah diriku di sini dengan tali, bahkan untuk selama-lamanya.&#8221; [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Mazmur%20118:27\">Mazmur 118:27<\/a>] Sebanyak kita membutuhkan pemenuhan janji-janji baru dari Allah, marilah kita persembahkan doa-doa baru agar nazar-nazar lamamu tidak gagal ditepati. Marilah kita pagi hari ini bersama-Nya mengikat perjanjian yang teguh, oleh sebab penderitaan Yesus yang bulan lalu telah kita renungkan dengan rasa syukur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Dalam pengalaman kita, kita berkali-kali memperbarui janji kita dengan Allah, secara benar, dan bermanfaat. Setelah dipulihkan dari sakit, seperti Hizkia, ketika kita memperoleh tahun-tahun yang baru yang ditambahkan kepada hidup kita, kita memang pantas melakukannya. Setelah dibebaskan dari masalah apapun, ketika sukacita bertunas kembali, marilah kita kunjungi kembali kaki salib, dan perbarui pengudusan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-48695","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"45","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48695","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48695"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48695\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68954,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48695\/revisions\/68954"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48695"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48695"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48695"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}