{"id":48758,"date":"2026-04-26T18:15:33","date_gmt":"2026-04-26T11:15:33","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sesungguhnya-seorang-perempuan-muda-mengandung-dan-akan-melahirkan-seorang-anak-laki-laki-dan-ia-akan-menamakan-dia-imanuel-yesaya-714\/"},"modified":"2026-04-26T18:15:34","modified_gmt":"2026-04-26T11:15:34","slug":"sesungguhnya-seorang-perempuan-muda-mengandung-dan-akan-melahirkan-seorang-anak-laki-laki-dan-ia-akan-menamakan-dia-imanuel-yesaya-714","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sesungguhnya-seorang-perempuan-muda-mengandung-dan-akan-melahirkan-seorang-anak-laki-laki-dan-ia-akan-menamakan-dia-imanuel-yesaya-714\/","title":{"rendered":"Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. [1 Korintus 11:24]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ternyata orang Kristen tampaknya bisa lupa akan Kristus! Mungkin sebetulnya kita tidak memerlukan anjuran yang penuh kasih ini, kalau saja tidak ada anggapan mengerikan bahwa ingatan kita ternyata dapat mengkhianati kita. Ini juga bukan anggapan kosong: sungguh sayang! sering sekali peristiwa ini kita alami sendiri, bukan lagi hanya sebagai kemungkinan, tetapi sayangnya inilah faktanya. Sepertinya hampir tidak mungkin kita yang telah ditebus oleh darah Sang Anak Domba yang mati, dan dikasihi dengan kasih abadi oleh Anak Allah yang kekal, dapat melupakan Sang Juruselamat yang murah hati itu; tetapi, walaupun mengejutkan di telinga, memang demikian adanya! kita tidak dapat menyangkal tindak kriminal ini karena sudah demikian jelas terlihat mata. Melupakan Dia yang tidak pernah melupakan kita! Melupakan Dia yang telah mencurahkan darah-Nya karena dosa-dosa kita! Melupakan Dia yang mengasihi kita bahkan hingga mati! Memangnya mungkin? Ya, bukan saja mungkin, tetapi hati nurani sendiri mengaku bahwa hal tersebut memang adalah kesalahan kita yang terlalu menyedihkan, yaitu kita memperlakukan Dia seperti seorang pengelana yang hanya menginap semalam. Dia yang seharusnya kita jadikan penghuni tetap dalam ingatan kita ternyata hanya kita anggap seorang tamu. Salib yang orang kira di sana ingatan dapat tinggal, dan tidak mungkin disusupi kelalaian, ternyata dinajiskan oleh kaki-kaki pelupa. Tidakkah hati nuranimu mengakuinya? Tidakkah kaudapati dirimu melupakan Yesus? Ciptaan-ciptaan mencuri hatimu, dan engkau melalaikan Dia yang seharusnya menjadi objek kasih sayangmu. Urusan-urusan bumi memenuhi perhatianmu padahal harusnya engkau mengarahkan pandangan matamu terus-menerus kepada salib. Inilah gejolak dunia yang tak henti-hentinya, daya tarik hal-hal duniawi yang tidak habis-habis merebut jiwa dari Kristus. Jika ingatan terlalu mempertahankan rumput yang beracun, mawar dari Saron menjadi layu karenanya. Baiklah kita bertugas untuk mengikatkan bunga forget-me-not surgawi di sekeliling hati kita demi Yesus Kekasih kita, dan, hal lain yang kita lalaikan, marilah kita berpegang teguh kepada-Nya. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Ternyata orang Kristen tampaknya bisa lupa akan Kristus! Mungkin sebetulnya kita tidak memerlukan anjuran yang penuh kasih ini, kalau saja tidak ada anggapan mengerikan bahwa ingatan kita ternyata dapat mengkhianati kita. Ini juga bukan anggapan kosong: sungguh sayang! sering sekali peristiwa ini kita alami sendiri, bukan lagi hanya sebagai kemungkinan, tetapi sayangnya inilah faktanya. Sepertinya hampir tidak mungkin kita yang telah ditebus oleh darah Sang Anak Domba yang mati, dan dikasihi dengan kasih abadi oleh Anak Allah yang kekal, dapat melupakan Sang Juruselamat yang murah hati itu; tetapi, walaupun mengejutkan di telinga, memang demikian adanya! kita tidak dapat menyangkal tindak kriminal ini karena sudah demikian jelas terlihat mata. Melupakan Dia yang tidak pernah melupakan kita! Melupakan Dia yang telah mencurahkan darah-Nya karena dosa-dosa kita! Melupakan Dia yang mengasihi kita bahkan hingga mati! Memangnya mungkin? Ya, bukan saja mungkin, tetapi hati nurani sendiri mengaku bahwa hal tersebut memang adalah kesalahan kita yang terlalu menyedihkan, yaitu kita memperlakukan Dia seperti seorang pengelana yang hanya menginap semalam. Dia yang seharusnya kita jadikan penghuni tetap dalam ingatan kita ternyata hanya kita anggap seorang tamu. Salib yang orang kira di sana ingatan dapat tinggal, dan tidak mungkin disusupi kelalaian, ternyata dinajiskan oleh kaki-kaki pelupa. Tidakkah hati nuranimu mengakuinya? Tidakkah kaudapati dirimu melupakan Yesus? Ciptaan-ciptaan mencuri hatimu, dan engkau melalaikan Dia yang seharusnya menjadi objek kasih sayangmu. Urusan-urusan bumi memenuhi perhatianmu padahal harusnya engkau mengarahkan pandangan matamu terus-menerus kepada salib. Inilah gejolak dunia yang tak henti-hentinya, daya tarik hal-hal duniawi yang tidak habis-habis merebut jiwa dari Kristus. Jika ingatan terlalu mempertahankan rumput yang beracun, mawar dari Saron menjadi layu karenanya. Baiklah kita bertugas untuk mengikatkan bunga forget-me-not surgawi di sekeliling hati kita demi Yesus Kekasih kita, dan, hal lain yang kita lalaikan, marilah kita berpegang teguh kepada-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ternyata orang Kristen tampaknya bisa lupa akan Kristus! Mungkin sebetulnya kita tidak memerlukan anjuran yang penuh kasih ini, kalau saja tidak ada anggapan mengerikan bahwa ingatan kita ternyata dapat mengkhianati kita. Ini juga bukan anggapan kosong: sungguh sayang! sering sekali peristiwa ini kita alami sendiri, bukan lagi hanya sebagai kemungkinan, tetapi sayangnya inilah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-48758","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"40","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48758","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48758"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48758\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68958,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48758\/revisions\/68958"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48758"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48758"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48758"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}