{"id":48811,"date":"2026-04-29T18:16:42","date_gmt":"2026-04-29T11:16:42","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/hidupku-yang-kuhidupi-sekarang-di-dalam-daging-adalah-hidup-oleh-iman-dalam-anak-allah-galatia-220\/"},"modified":"2026-04-29T18:16:43","modified_gmt":"2026-04-29T11:16:43","slug":"hidupku-yang-kuhidupi-sekarang-di-dalam-daging-adalah-hidup-oleh-iman-dalam-anak-allah-galatia-220","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/hidupku-yang-kuhidupi-sekarang-di-dalam-daging-adalah-hidup-oleh-iman-dalam-anak-allah-galatia-220\/","title":{"rendered":"Engkaulah perlindunganku pada hari malapetaka. [Yeremia 17:17]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Jalan orang Kristen tidak selalu terang oleh sinar matahari; kadang-kadang dia mengalami saat-saat gelap dan badai. Benar, ini tertulis di dalam Firman Allah, \u201cJalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata;\u201d [Amsal 3:17] dan ini adalah kebenaran yang besar, bahwa agama diperhitungkan sebagai hal yang memberikan manusia kesenangan di bawah dan juga kebahagiaan di atas; tetapi dalam pengalaman kita, jika jalan orang benar \u201cseperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari,\u201d [Amsal 4:18] terkadang cahaya itu terhalangi. Pada saat-saat tertentu awan menutupi matahari orang percaya, dan dia berjalan di dalam kegelapan dan tidak melihat cahaya. Banyak orang yang telah menikmati saat-saat kehadiran Allah dalam suatu musim; mereka telah mandi cahaya pada perjalanan awal sebagai orang Kristen; mereka telah berjalan pada \u201cpadang yang berumput hijau\u201d di sebelah \u201cair yang tenang,\u201d [Mazmur 23:2] tetapi tiba-tiba mereka mendapati langit yang mulia itu berawan; alih-alih Tanah Gosyen mereka harus menjalani gurun pasir; alih-alih air manis, mereka menemukan aliran air yang bergelora, pahit rasanya, dan mereka berkata, \u201cTentunya, jika aku anak Allah, semua ini takkan terjadi.\u201d Oh! janganlah berkata demikian, hai engkau yang berjalan di dalam kegelapan. Yang terbaik dari orang-orang kudus Allah harus minum empedu; anak-anak Allah yang paling dikasihi harus menanggung salib. Tidak ada orang Kristen yang terus-menerus menikmati kemakmuran; tidak ada orang percaya yang selalu bisa menjaga kecapinya dari pohon gandarusa [1]. Mungkin Tuhan pada mulanya memberikan jalan yang lancar dan tidak berawan, karena engkau lemah dan penakut. Tuhan membatasi angin yang menerpa domba yang baru saja dicukur, tetapi sekarang saat engkau sudah lebih kuat dalam kehidupan rohani, engkau harus memasuki pengalaman yang lebih matang dan kasar sebagai anak-anak Allah yang sudah dewasa. Kita membutuhkan angin dan badai untuk melatih iman kita, untuk mematahkan dahan busuk ketergantungan pada diri, dan untuk membuat kita berakar lebih kuat dalam Kristus. Hari malapetaka menunjukkan kita nilai dari pengharapan kita yang mulia. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Jalan orang Kristen tidak selalu terang oleh sinar matahari; kadang-kadang dia mengalami saat-saat gelap dan badai. Benar, ini tertulis di dalam Firman Allah, \u201cJalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata;\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Amsal%203:17\">Amsal 3:17<\/a>] dan ini adalah kebenaran yang besar, bahwa agama diperhitungkan sebagai hal yang memberikan manusia kesenangan di bawah dan juga kebahagiaan di atas; tetapi dalam pengalaman kita, jika jalan orang benar \u201cseperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari,\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Amsal%204:18\">Amsal 4:18<\/a>] terkadang cahaya <i>itu<\/i> terhalangi. Pada saat-saat tertentu awan menutupi matahari orang percaya, dan dia berjalan di dalam kegelapan dan tidak melihat cahaya. Banyak orang yang telah menikmati saat-saat kehadiran Allah dalam suatu musim; mereka telah mandi cahaya pada perjalanan awal sebagai orang Kristen; mereka telah berjalan pada \u201cpadang yang berumput hijau\u201d di sebelah \u201cair yang tenang,\u201d [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Mazmur%2023:2\">Mazmur 23:2<\/a>] tetapi tiba-tiba mereka mendapati langit yang mulia itu berawan; alih-alih Tanah Gosyen mereka harus menjalani gurun pasir; alih-alih air manis, mereka menemukan aliran air yang bergelora, pahit rasanya, dan mereka berkata, \u201cTentunya, jika aku anak Allah, semua ini takkan terjadi.\u201d Oh! janganlah berkata demikian, hai engkau yang berjalan di dalam kegelapan. Yang terbaik dari orang-orang kudus Allah harus minum empedu; anak-anak Allah yang paling dikasihi harus menanggung salib. Tidak ada orang Kristen yang terus-menerus menikmati kemakmuran; tidak ada orang percaya yang selalu bisa menjaga kecapinya dari pohon gandarusa [1]. Mungkin Tuhan pada mulanya memberikan jalan yang lancar dan tidak berawan, karena engkau lemah dan penakut. Tuhan membatasi angin yang menerpa domba yang baru saja dicukur, tetapi sekarang saat engkau sudah lebih kuat dalam kehidupan rohani, engkau harus memasuki pengalaman yang lebih matang dan kasar sebagai anak-anak Allah yang sudah dewasa. Kita membutuhkan angin dan badai untuk melatih iman kita, untuk mematahkan dahan busuk ketergantungan pada diri, dan untuk membuat kita berakar lebih kuat dalam Kristus. Hari malapetaka menunjukkan kita nilai dari pengharapan kita yang mulia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Jalan orang Kristen tidak selalu terang oleh sinar matahari; kadang-kadang dia mengalami saat-saat gelap dan badai. Benar, ini tertulis di dalam Firman Allah, \u201cJalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata;\u201d [Amsal 3:17] dan ini adalah kebenaran yang besar, bahwa agama diperhitungkan sebagai hal yang memberikan manusia kesenangan di bawah dan juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-48811","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"54","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48811"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48811\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68964,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48811\/revisions\/68964"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}