{"id":52740,"date":"2021-02-24T10:28:32","date_gmt":"2021-02-24T03:28:32","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=52740"},"modified":"2021-02-24T10:28:32","modified_gmt":"2021-02-24T03:28:32","slug":"ini-pengakuan-nakes-rsud-siantar-yang-dijerat-pasal-penistaan-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ini-pengakuan-nakes-rsud-siantar-yang-dijerat-pasal-penistaan-agama\/","title":{"rendered":"Ini Pengakuan Nakes RSUD Siantar yang Dijerat Pasal Penistaan Agama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Empat tenaga kesehatan (nakes) di RSUD dr Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, dijerat pasal penistaan agama karena memandikan jenazah Zakiah, 50 tahun, pasien suspek corona. Dua di antaranya perawat dan dua lainnya petugas forensik RSUD dr Djasamen Saragih. Kejadian berlangsung di ruang forensik RSUD setempat pada 20 September 2020. Ke empat tersangka, yakni DAAY, ESPS, RS, dan REP. Mereka dijerat Pasal 156 Huruf a Juncto Pasal 55 Ayat 1 tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Sebelumnya, suami Zakiah bernama Fauzi Munthe, warga Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, Sumut, melaporkan kasus ini ke Polres Pematangsiantar. Mereka kemudian ditetapkan sebagai tersangka pada 25 November 2020 lalu. Kapolres Pematangsiantar AKBP Boy Siregar pada Senin, 22 Februari 2021 mengatakan, pihaknya telah menyerahkan kasus tersebut kepada Kejaksaan Negeri dan berkas perkara dinyatakan lengkap. Salah seorang nakes yang dijerat tersangka penistaan agama tersebut, RS kepada Tagarlewat pesan WhatsApp, Senin, 22 Februari 2021 mengatakan mereka sekarang menjadi tahanan kejaksaan. &quot;Kami sekarang sudah jadi tahanan kejaksaan dan wajib lapor,&quot; katanya. Karena semua jenazah yang masuk ke ruangan instalasi forensik wajib dibersihkan dari kotoran Di tengah kasus yang mereka hadapi, pengakuan RS mereka tetap bekerja seperti biasa. Karena memang terhadap mereka tidak dilakukan penahanan atau hanya tahanan kota. &quot;Dan ketepatan tadi malam masuk pasien dari Perdagangan Mr X. Jadi mau mengerjakan pasien itulah kami saat ini,&quot; kata RS. Atas kasus yang menimpa dirinya dan tiga rekannya, RS mohon dukungan. Menurut dia, mereka saat itu tidak bermaksud lain kecuali menjalankan tugas. \u00a0 &quot;Mohon dukungan buat kami. Karena kami hanya menjalankan tugas yang sudah di-SK-kan dari rumah sakit,&quot; ungkapnya. RS kemudian menyebut saat kejadian mereka bukan memandikan pasien bernama Zakiah tersebut. &quot;Sebenarnya kami tidak memandikan. Hanya membersihkan jenazah karena ada najis (kotoran) pada pempers yang melekat pada bagian tubuh jenazah. Dan setelah bersih lalu kami semprot seluruh tubuh jenazah dengan cairan desinfektan,&quot; tutur dia. &quot;Intinya kami membersihkan jenazah,&quot; tukasnya. Terkait tuduhan melakukan penistaan agama, RS mengaku mereka merasa tidak nyaman. &quot;Sebenarnya perasaan kami kurang nyaman, kami yang bertugas pada Pemulasaran Jenazah Covid-19 disebut dengan penistaan agama. Karena kami bekerja pada saat itu, yah memang dengan bersungguh-sungguh. Karena kami sudah di-SK-kan dari rumah sakit,&quot; tukasnya. Dia menegaskan saat itu tidak niat apapun selain menjalankan tugas. &quot;Karena yang kami tahu kami hanya melayani. Tidak membeda-bedakan agama, ras atau golongan. Karena itu sumpah perawat yang kami harus jalankan,&quot; tandasnya. Keterangan RS diperkuat Wakil Direktur RSUD dr Djasamen Saragih, dr Harlen Saragih. Lewat pesan WhatsApp dia menegaskan bahwa sebenarnya jenazah almarhumah bukan dimandikan tapi dibersihkan. &quot;Karena semua jenazah yang masuk ke ruangan instalasi forensik wajib dibersihkan dari kotoran,&quot; kata dia.(tagar)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Empat tenaga kesehatan (nakes) di RSUD dr Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, dijerat pasal penistaan agama karena memandikan jenazah Zakiah, 50 tahun, pasien suspek corona.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dua di antaranya perawat dan dua lainnya petugas forensik RSUD dr Djasamen Saragih. Kejadian berlangsung di ruang forensik RSUD setempat pada 20 September 2020.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ke empat tersangka, yakni DAAY, ESPS, RS, dan REP. Mereka dijerat Pasal 156 Huruf a Juncto Pasal 55 Ayat 1 tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya, suami Zakiah bernama Fauzi Munthe, warga Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, Sumut, melaporkan kasus ini ke Polres Pematangsiantar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka kemudian ditetapkan sebagai tersangka pada 25 November 2020 lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kapolres Pematangsiantar AKBP Boy Siregar pada Senin, 22 Februari 2021 mengatakan, pihaknya telah menyerahkan kasus tersebut kepada Kejaksaan Negeri dan berkas perkara dinyatakan lengkap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah seorang nakes yang dijerat tersangka penistaan agama tersebut, RS kepada <em>Tagar<\/em>lewat pesan <em>WhatsApp<\/em>, Senin, 22 Februari 2021 mengatakan mereka sekarang menjadi tahanan kejaksaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami sekarang sudah jadi tahanan kejaksaan dan wajib lapor,&#8221; katanya.<\/p>\n<blockquote><p>Karena semua jenazah yang masuk ke ruangan instalasi forensik wajib dibersihkan dari kotoran<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah kasus yang mereka hadapi, pengakuan RS mereka tetap bekerja seperti biasa. Karena memang terhadap mereka tidak dilakukan penahanan atau hanya tahanan kota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dan ketepatan tadi malam masuk pasien dari Perdagangan Mr X. Jadi mau mengerjakan pasien itulah kami saat ini,&#8221; kata RS.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Atas kasus yang menimpa dirinya dan tiga rekannya, RS mohon dukungan. Menurut dia, mereka saat itu tidak bermaksud lain kecuali menjalankan tugas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mohon dukungan buat kami. Karena kami hanya menjalankan tugas yang sudah di-SK-kan dari rumah sakit,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">RS kemudian menyebut saat kejadian mereka bukan memandikan pasien bernama Zakiah tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sebenarnya kami tidak memandikan. Hanya membersihkan jenazah karena ada najis (kotoran) pada pempers yang melekat pada bagian tubuh jenazah. Dan setelah bersih lalu kami semprot seluruh tubuh jenazah dengan cairan desinfektan,&#8221; tutur dia. &#8220;Intinya kami membersihkan jenazah,&#8221; tukasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terkait tuduhan melakukan penistaan agama, RS mengaku mereka merasa tidak nyaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sebenarnya perasaan kami kurang nyaman, kami yang bertugas pada Pemulasaran Jenazah Covid-19 disebut dengan penistaan agama. Karena kami bekerja pada saat itu, yah memang dengan bersungguh-sungguh. Karena kami sudah di-SK-kan dari rumah sakit,&#8221; tukasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia menegaskan saat itu tidak niat apapun selain menjalankan tugas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Karena yang kami tahu kami hanya melayani. Tidak membeda-bedakan agama, ras atau golongan. Karena itu sumpah perawat yang kami harus jalankan,&#8221; tandasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keterangan RS diperkuat Wakil Direktur RSUD dr Djasamen Saragih, dr Harlen Saragih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lewat pesan <em>WhatsApp<\/em> dia menegaskan bahwa sebenarnya jenazah almarhumah bukan dimandikan tapi dibersihkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Karena semua jenazah yang masuk ke ruangan instalasi forensik wajib dibersihkan dari kotoran,&#8221; kata dia.(tagar)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Empat tenaga kesehatan (nakes) di RSUD dr Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, dijerat pasal penistaan agama karena memandikan jenazah Zakiah, 50 tahun, pasien suspek corona. Dua di antaranya perawat dan dua lainnya petugas forensik RSUD dr Djasamen Saragih. Kejadian berlangsung di ruang forensik RSUD setempat pada 20 September 2020. Ke empat tersangka, yakni [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":52741,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-52740","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":52741,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/ptg-siantar.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/ptg-siantar.png?fit=564%2C264&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/ptg-siantar.png"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/ptg-siantar.png?fit=564%2C264&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"935","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52740","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52740"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52740\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52741"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52740"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52740"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52740"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}