{"id":53023,"date":"2021-03-19T08:50:36","date_gmt":"2021-03-19T01:50:36","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=53023"},"modified":"2021-03-19T08:50:39","modified_gmt":"2021-03-19T01:50:39","slug":"teror-militer-myanmar-umbar-senjata-hingga-tabrak-demonstran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/teror-militer-myanmar-umbar-senjata-hingga-tabrak-demonstran\/","title":{"rendered":"Teror Militer Myanmar, Umbar Senjata hingga Tabrak Demonstran"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Setidaknya tiga orang tewas dalam aksi protes anti-kudeta di beberapa kota di Myanmar, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Senin (8\/3). Militer Myanmar terus meneror demonstran anti-kudeta dengan kekuatan mematikan di seluruh negeri, menewaskan sedikitnya tiga pengunjuk rasa dan melukai banyak warga sipil lainnya. Di kota Pyapon, wilayah Ayeyarweday seorang bernama Thiha Oo (30) tewas dalam tindakan keras oleh pasukan keamanan. Enam lainnya terluka, dua orang luka parah, selama serangan itu berlangsung, menurut penduduk. Thiha Oo ditembak di dada bagian bawahnya. &quot;Kami tidak tahu apakah itu peluru tajam atau peluru karet,&quot; kata seorang penduduk kepada Myanmar Now. Dia meninggal sebelum tiba di klinik. Sekitar 100 pengunjuk rasa anti-kudeta, termasuk guru sekolah dan remaja, ditangkap selama tindakan keras tersebut. Di kota lain, di Myitkyina, Kachin dua orang ditembak mati oleh pasukan keamanan, kata penduduk dan seorang penyelenggara protes. Kedua korban telah diidentifikasi sebagai Ko Ko Lay (63) yang juga dikenal sebagai Cho Tha, dan Zin Min Htet (23). Mereka berdua ditembak di bagian kepala. Pasukan keamanan juga menggunakan granat kejut dan gas air mata saat menyerang pengunjuk rasa di depan gereja Katolik Saint Francis Xavier. &quot;Mereka tewas di tempat kejadian di depan gereja. Kedua kepala mereka terkena peluru,&quot; kata pimpinan demonstran kepada Myanmar Now. Pemakaman Ko Ko Lay dilaksanakan sesuai dengan tradisi Islam, sementara jenazah Zin Min Htet dibawa ke rumahnya, kata Lamai Gum Ja dari Peace-talk Creation Group, sebuah organisasi relawan lokal. Sedikitnya sepuluh orang ditangkap dan lima lainnya luka parah dalam serangan itu. Di Mandalay, sebuah truk pasukan keamanan menabrak pengunjuk rasa yang melarikan diri dengan sepeda motor di dekat Jalan 57, Mandalay pada Senin pagi, sedikitnya 6 orang terluka. Menurut tim penyelamat relawan, dua dari mereka Mya Thway Chel (22), dan Han Lin Aung (15), berada dalam kondisi kritis. Di kota lain Myanmar, Htilin, Magway, pada Minggu malam satu orang tewas ditembak mati oleh pasukan keamanan. Dia adalah Aung Myat Lin (23). &quot;Mereka menembakkan dua peluru terlebih dahulu dan kemudian melemparkan granat kejut. Dan kemudian mereka mulai menembak. Anak laki-laki itu ditembak. Peluru menembus dadanya. Dia meninggal di dekat kantor polisi,&quot; kata penduduk Htilin. Aung Myat Lin tertembak di dada dan tewas di tempat kejadian. Sekelompok penduduk Htilin, termasuk Aung Myat Lin, berkumpul di depan kantor polisi setempat pada Minggu malam menuntut pembebasan seorang penyelenggara protes sebelum pasukan keamanan menembakkan peluru tajam ke kerumunan. Enam orang lainnya terluka dalam serangan itu. Tiga di antaranya ditembak dengan peluru tajam dan tiga dengan peluru karet. Kematian baru-baru ini menambah jumlah korban yang tewas selama aksi kudeta berlangsung. PBB mencatat lebih dari 50 orang tewas oleh polisi dan tentara sejauh ini, saat melawan rezim militer. Pekan lalu, PBB mengatakan jumlah kematian sebenarnya kemungkinan besar jauh lebih tinggi daripada jumlah korban yang dapat dikonfirmasi. Laporan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik pada hari Minggu mengatakan hampir 1.800 orang telah ditangkap, didakwa atau dijatuhi hukuman setelah kudeta 1 Februari.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Setidaknya tiga orang tewas dalam aksi protes anti-<strong>kudeta<\/strong> di beberapa kota di <strong>Myanmar<\/strong>, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Senin (8\/3).<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Militer Myanmar terus meneror demonstran anti-kudeta dengan kekuatan mematikan di seluruh negeri, menewaskan sedikitnya tiga pengunjuk rasa dan melukai banyak warga sipil lainnya.<\/p>\n<p>Di kota Pyapon, wilayah Ayeyarweday seorang bernama Thiha Oo (30) tewas dalam tindakan keras oleh pasukan keamanan. Enam lainnya terluka, dua orang luka parah, selama serangan itu berlangsung, menurut penduduk.<\/p>\n<p>Thiha Oo ditembak di dada bagian bawahnya. &#8220;Kami tidak tahu apakah itu peluru tajam atau peluru karet,&#8221; kata seorang penduduk kepada <em>Myanmar Now<\/em>.<\/p>\n<p>Dia meninggal sebelum tiba di klinik.<\/p>\n<p>Sekitar 100 pengunjuk rasa anti-kudeta, termasuk guru sekolah dan remaja, ditangkap selama tindakan keras tersebut.<\/p>\n<p>Di kota lain, di Myitkyina, Kachin dua orang ditembak mati oleh pasukan keamanan, kata penduduk dan seorang penyelenggara protes.<\/p>\n<p>Kedua korban telah diidentifikasi sebagai Ko Ko Lay (63) yang juga dikenal sebagai Cho Tha, dan Zin Min Htet (23). Mereka berdua ditembak di bagian kepala.<\/p>\n<p>Pasukan keamanan juga menggunakan granat kejut dan gas air mata saat menyerang pengunjuk rasa di depan gereja Katolik Saint Francis Xavier.<\/p>\n<p>&#8220;Mereka tewas di tempat kejadian di depan gereja. Kedua kepala mereka terkena peluru,&#8221; kata pimpinan demonstran kepada <em>Myanmar Now<\/em>.<\/p>\n<p>Pemakaman Ko Ko Lay dilaksanakan sesuai dengan tradisi Islam, sementara jenazah Zin Min Htet dibawa ke rumahnya, kata Lamai Gum Ja dari Peace-talk Creation Group, sebuah organisasi relawan lokal.<\/p>\n<p>Sedikitnya sepuluh orang ditangkap dan lima lainnya luka parah dalam serangan itu.<\/p>\n<p>Di Mandalay, sebuah truk pasukan keamanan menabrak pengunjuk rasa yang melarikan diri dengan sepeda motor di dekat Jalan 57, Mandalay pada Senin pagi, sedikitnya 6 orang terluka.<\/p>\n<p>Menurut tim penyelamat relawan, dua dari mereka Mya Thway Chel (22), dan Han Lin Aung (15), berada dalam kondisi kritis.<\/p>\n<p>Di kota lain Myanmar, Htilin, Magway, pada Minggu malam satu orang tewas ditembak mati oleh pasukan keamanan. Dia adalah Aung Myat Lin (23).<\/p>\n<p>&#8220;Mereka menembakkan dua peluru terlebih dahulu dan kemudian melemparkan granat kejut. Dan kemudian mereka mulai menembak. Anak laki-laki itu ditembak. Peluru menembus dadanya. Dia meninggal di dekat kantor polisi,&#8221; kata penduduk Htilin.<\/p>\n<p>Aung Myat Lin tertembak di dada dan tewas di tempat kejadian.<\/p>\n<p>Sekelompok penduduk Htilin, termasuk Aung Myat Lin, berkumpul di depan kantor polisi setempat pada Minggu malam menuntut pembebasan seorang penyelenggara protes sebelum pasukan keamanan menembakkan peluru tajam ke kerumunan.<\/p>\n<p>Enam orang lainnya terluka dalam serangan itu. Tiga di antaranya ditembak dengan peluru tajam dan tiga dengan peluru karet.<\/p>\n<p>Kematian baru-baru ini menambah jumlah korban yang tewas selama aksi kudeta berlangsung. PBB mencatat lebih dari 50 orang tewas oleh polisi dan tentara sejauh ini, saat melawan rezim militer.<\/p>\n<p>Pekan lalu, PBB mengatakan jumlah kematian sebenarnya kemungkinan besar jauh lebih tinggi daripada jumlah korban yang dapat dikonfirmasi.<\/p>\n<p>Laporan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik pada hari Minggu mengatakan hampir 1.800 orang telah ditangkap, didakwa atau dijatuhi hukuman setelah kudeta 1 Februari.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Setidaknya tiga orang tewas dalam aksi protes anti-kudeta di beberapa kota di Myanmar, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Senin (8\/3). Militer Myanmar terus meneror demonstran anti-kudeta dengan kekuatan mematikan di seluruh negeri, menewaskan sedikitnya tiga pengunjuk rasa dan melukai banyak warga sipil lainnya. Di kota Pyapon, wilayah Ayeyarweday seorang bernama Thiha Oo (30) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53024,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-53023","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional"],"better_featured_image":{"id":53024,"alt_text":"","caption":"","description":"017596aa9ff883da05ea2b3549382917","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/teror-militer-myanmar-umbar-senjata-hingga-tabrak-demonstran_60483d01a16ea.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/teror-militer-myanmar-umbar-senjata-hingga-tabrak-demonstran_60483d01a16ea.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/teror-militer-myanmar-umbar-senjata-hingga-tabrak-demonstran_60483d01a16ea.jpeg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/teror-militer-myanmar-umbar-senjata-hingga-tabrak-demonstran_60483d01a16ea.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1446","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53023","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53023"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53023\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53024"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53023"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}