{"id":53064,"date":"2021-03-12T13:01:41","date_gmt":"2021-03-12T06:01:41","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=53064"},"modified":"2021-03-12T13:01:44","modified_gmt":"2021-03-12T06:01:44","slug":"umat-kristen-di-malaysia-kini-diizinkan-pakai-kata-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/umat-kristen-di-malaysia-kini-diizinkan-pakai-kata-allah\/","title":{"rendered":"Umat Kristen di Malaysia Kini Diizinkan Pakai Kata Allah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Pengadilan Tinggi Malaysia pada Rabu (10\/3) memutuskan kata &#039;Allah&#039; bisa digunakan untuk semua pemeluk agama untuk merujuk pada Tuhan, dan tidak terbatas hanya untuk muslim. &quot;Pengadilan sekarang menyatakan kata Allah dapat digunakan semua orang Malaysia. Keputusan itu menegakkan kebebasan dasar hak beragama bagi non-muslim di Malaysia,&quot; kata Annou Xavier selaku pengacara penggugat. Putusan itu mengakhiri larangan pemerintah yang telah berlangsung selama 35 tahun terakhir. Sebelumnya penggunaan Allah dan tiga kata Arab lainnya dalam publikasi Kristen dianggap melanggar konstitusi. Tiga kata lain adalah &#039;Kaabah&#039; atau tempat suci Islam paling suci di Mekah, kemudian &#039;baitullah&#039; atau rumah Tuhan, serta salat atau doa yang juga dilarang dalam arahan pemerintah sejak 1986. Sebelumnya, pemerintah mengatakan kata &#039;Allah&#039; harus digunakan secara eksklusif bagi umat Islam demi menghindari kebingungan yang bisa membuat mereka pindah ke agama lain. Para pemimpin Kristen di Malaysia menilai larangan tersebut tidak masuk akal karena orang Kristen yang berbicara bahasa Melayu sejak lama menggunakan &#039;Allah&#039; -- kata Melayu yang berasal dari bahasa Arab dan telah digunakan dalam Alkitab, doa, dan lagu-lagu sejak lama. Larangan pemerintah itu membuat kebanyakan orang Kristen di Malaysia beribadah dalam bahasa Inggris, Tamil, atau dialek China. Mereka juga menyebut Tuhan dalam bahasa-bahasa tersebut. Namun, beberapa orang berbahasa Melayu di Pulau Kalimantan tak memiliki kata lain untuk Tuhan selain Allah. Dikutip dari AP, dua partai politik etnis Melayu\u00a0menolak\u00a0keputusan Pengadilan Tinggi itu mendesak pemerintah untuk mengambil sikap yang sama. Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) dan Partai Islam konservatif dalam pernyataan bersama\u00a0mendorong pemerintah untuk melanjutkan\u00a0banding. Larangan pemerintah terkait hal ini diperkenalkan di bawah aturan koalisi yang dipimpin UMNO. Tapi koalisi itu digulingkan dalam Pemilu 2018. Penasihat pemerintah Shamsul Bolhassan mengatakan empat kata tersebut dapat digunakan dalam materi Kristen sesuai dengan putusan pengadilan, selama dengan jelas disebutkan itu hanya ditujukan untuk orang Kristen dan simbol salib ditampilkan. Kontroversi penggunaan Allah telah memicu kekerasan di Malaysia. Sebelumnya pengadilan\u00a0di tingkat lebih rendah pada 2009 pernah memutuskan hal serupa, tapi kemudian\u00a0memicu serangkaian serangan pembakaran dan vandalisme di gereja dan tempat ibadah lainnya. Putusan itu kemudian dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Pengadilan Tinggi Malaysia pada Rabu (10\/3) memutuskan kata &#8216;Allah&#8217; bisa digunakan untuk semua pemeluk agama untuk merujuk pada Tuhan, dan tidak terbatas hanya untuk muslim.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>&#8220;Pengadilan sekarang menyatakan kata Allah dapat digunakan semua orang Malaysia. Keputusan itu menegakkan kebebasan dasar hak beragama bagi non-muslim di Malaysia,&#8221; kata Annou Xavier selaku pengacara penggugat.<\/p>\n<p>Putusan itu mengakhiri larangan pemerintah yang telah berlangsung selama 35 tahun terakhir. Sebelumnya penggunaan Allah dan tiga kata Arab lainnya dalam publikasi Kristen dianggap melanggar konstitusi.<\/p>\n<p>Tiga kata lain adalah &#8216;Kaabah&#8217; atau tempat suci Islam paling suci di Mekah, kemudian &#8216;baitullah&#8217; atau rumah Tuhan, serta salat atau doa yang juga dilarang dalam arahan pemerintah sejak 1986.<\/p>\n<p>Sebelumnya, pemerintah mengatakan kata &#8216;Allah&#8217; harus digunakan secara eksklusif bagi umat Islam demi menghindari kebingungan yang bisa membuat mereka pindah ke agama lain.<\/p>\n<p>Para pemimpin Kristen di Malaysia menilai larangan tersebut tidak masuk akal karena orang Kristen yang berbicara bahasa Melayu sejak lama menggunakan &#8216;Allah&#8217; &#8212; kata Melayu yang berasal dari bahasa Arab dan telah digunakan dalam Alkitab, doa, dan lagu-lagu sejak lama.<\/p>\n<p>Larangan pemerintah itu membuat kebanyakan orang Kristen di Malaysia beribadah dalam bahasa Inggris, Tamil, atau dialek China. Mereka juga menyebut Tuhan dalam bahasa-bahasa tersebut.<\/p>\n<p>Namun, beberapa orang berbahasa Melayu di Pulau Kalimantan tak memiliki kata lain untuk Tuhan selain Allah.<\/p>\n<p>Dikutip dari <em>AP<\/em>, dua partai politik etnis Melayu\u00a0menolak\u00a0keputusan Pengadilan Tinggi itu mendesak pemerintah untuk mengambil sikap yang sama.<\/p>\n<p>Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) dan Partai Islam konservatif dalam pernyataan bersama\u00a0mendorong pemerintah untuk melanjutkan\u00a0banding.<\/p>\n<p>Larangan pemerintah terkait hal ini diperkenalkan di bawah aturan koalisi yang dipimpin UMNO. Tapi koalisi itu digulingkan dalam Pemilu 2018.<\/p>\n<p>Penasihat pemerintah Shamsul Bolhassan mengatakan empat kata tersebut dapat digunakan dalam materi Kristen sesuai dengan putusan pengadilan, selama dengan jelas disebutkan itu hanya ditujukan untuk orang Kristen dan simbol salib ditampilkan.<\/p>\n<p>Kontroversi penggunaan Allah telah memicu kekerasan di Malaysia.<\/p>\n<p>Sebelumnya pengadilan\u00a0di tingkat lebih rendah pada 2009 pernah memutuskan hal serupa, tapi kemudian\u00a0memicu serangkaian serangan pembakaran dan vandalisme di gereja dan tempat ibadah lainnya. Putusan itu kemudian dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pengadilan Tinggi Malaysia pada Rabu (10\/3) memutuskan kata &#8216;Allah&#8217; bisa digunakan untuk semua pemeluk agama untuk merujuk pada Tuhan, dan tidak terbatas hanya untuk muslim. &#8220;Pengadilan sekarang menyatakan kata Allah dapat digunakan semua orang Malaysia. Keputusan itu menegakkan kebebasan dasar hak beragama bagi non-muslim di Malaysia,&#8221; kata Annou Xavier selaku pengacara penggugat. Putusan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53065,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,22],"tags":[],"class_list":["post-53064","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-internasional"],"better_featured_image":{"id":53065,"alt_text":"","caption":"","description":"98c6127a254f046b93e094b4bcf4943f","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/umat-kristen-di-malaysia-kini-diizinkan-pakai-kata-allah_604adff23f996.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/umat-kristen-di-malaysia-kini-diizinkan-pakai-kata-allah_604adff23f996.jpeg?fit=650%2C363&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/umat-kristen-di-malaysia-kini-diizinkan-pakai-kata-allah_604adff23f996.jpeg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/umat-kristen-di-malaysia-kini-diizinkan-pakai-kata-allah_604adff23f996.jpeg?fit=650%2C363&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1395","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53064"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53064\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53065"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}