{"id":53086,"date":"2021-03-14T10:25:00","date_gmt":"2021-03-14T03:25:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=53086"},"modified":"2021-03-13T18:32:17","modified_gmt":"2021-03-13T11:32:17","slug":"uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu\/","title":{"rendered":"Uji Toleransi Agama, Kafirfobia, dan Empat Pertanyaan itu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Saya suka memakai \u201cmetode\u201d ini: mengajukan empat pertanyaan kepada orang beragama, khususnya kepada mereka yang beragama Abrahamitis, khususnya lagi kepada mereka yang beragama Islam (kebanyakan teman saya yang masih sungguh beragama kebetulan orang Islam). Keempat pertanyaan itu berbunyi sebagai berikut: 1. Apakah orang Nasrani dan orang Yahudi boleh masuk surga? 2. Apakah orang beragama Hindu, Buddha atau Khonghucu juga boleh masuk surga? 3. Apakah orang ateis boleh masuk surga? 4. Siapa yang lebih disukai Tuhan: Orang beragama yang jahat (misalnya pembunuh keji) atau orang ateis yang selalu berbuat baik? Jawaban yang paling sering saya dengar kira-kira seperti ini: 1) \u201cBoleh, karena Nasrani dan Yahudi percaya kepada Tuhan yang sama; 2) \u201cRasanya, tidak boleh\u201d;\u00a0 3) \u201cTidak boleh\u201d; dan 4) \u201cHmm, sulit sekali pertanyaannya, tapi yang pasti ateis tidak dicintai Allah\u201d. Dapat dibayangkan bahwa jawaban atas pertanyaan itu bisa lebih \u201ckeras\u201d, bisa lebih bersifat eksklusif, tetapi menurut saya, jawaban seperti yang di atas pun membuktikan bahwa tingkat toleransi penjawab masih jauh dari optimal. Paling sedikit secara tidak langsung, penjawab tidak menerima kepercayaan yang berbeda, baik kepercayaan mereka yang tidak beragama Abrahamitis dan tidak merupakan Ahlul Kitab alias \\\"Pemilik Kitab Suci\\\" maupun \u2013dan apalagi\u2013\u00a0 keyakinan mereka yang ateis. Kedua kelompok itu \u2018dikafirkan\u2018, peluang mereka untuk masuk surga dinafikan. Dan sebenarnya juga dijadikan manusia kelas rendah, manusia yang terkutuk masuk neraka, manusia yang tidak dicintai Tuhan. Belum lama ini \u201cmetode uji toleransi\u201d berbentuk empat pertanyaan itu saya terapkan pada seorang tamu lembaga saya, Jurusan Studi Asia Tenggara Universitas Bonn. Tamu yang kami undang untuk berceramah itu adalah seorang ulama Indonesia \u201cmoderat\u201d dan simpatis yang banyak memuji toleransi beragama di Indonesia dan juga sempat mengeluhkan \u201cislamofobia\u201d atau diskriminasi agama\u00a0Islam di negara-negara Barat. Reaksinya menarik: Sepertinya ia menyadari \u201cbahaya\u201d dan kepelikan teologis pertanyaan itu, dan memilih menjawab secara\u00a0 tidak langsung, yaitu: \u201cSebaiknya semua itu kita serahkan saja kepada Tuhan.\u201d Saya kecewa, juga sedikit kesal atas jawaban piawai itu. Menyadari bahwa dalam rangka forum tidak mungkin untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut, saya \u2013bukan tanpa ironi\u2013 memuji jawaban canggih itu dan mengatakan: \u201cTerima kasih atas\u00a0 jawaban bagus itu. Ini\u00a0 berarti bahwa kita semua tak perlu berfobia. Kafirfobia pun tidak perlu.\u201d Lalu, karena duduk dekat dengan tamu ulama itu, saya berdiri dan mengulurkan tangan. Tentu ia terima, dan kami berjabat tangan. Tak ada ironi di situ. Menyerahkan masalah surga kepada Tuhan, menyerahkan juga perihal kekafiran dan dampaknya kepada Tuhan tentu sikap yang cukup bijaksana. Namun, pertanyaan yang timbul adalah, bagaimana bayangan kita tentang Tuhan, bagaimana citra kita tentang Tuhan. Bagi orang yang yakin bahwa Tuhan lebih mencintai pembunuh yang beragama dibandingkan ateis yang baik budi, Tuhan itu adalah \u201cpribadi\u201d yang mengutamakan kepentingan sendiri, yaitu bahwa manusia percaya kepadaNya. Tuhan demikian cenderung bertindak di Seberang yang Baik dan yang Jahat (meminjam judul karya filosofis Friedrich Nietzsche). Begitu juga suatu tuhan yang menutup pintu surga bagi mereka yang tidak beragama atau tidak percaya kepadanya. Betapa tak rahim tuhan seperti itu. Dan, dari mereka yang meyakini tuhan seperti itu, toleransi agama tidak dapat terlalu diharapkan. Sebaliknya, manusia yang meyakini Tuhan yang Maha Pemaaf, Tuhan penuh rahmat, Tuhan yang tidak pernah murka, Tuhan yang tidak menghakimi, dll. bisa diduga memiliki toleransi tinggi terhadap mereka yang beragama atau berkeyakinan berbeda. Saya sendiri mengharapkan Tuhan demikian, tidak sanggup percaya kepada suatu tuhan yang tidak bersedia mencintai mereka yang tidak percaya kepadanya. Tuhan yang saya harapkan atau percaya itu sangatlah toleran, juga adil, dan sama sekali tidak merasakan kafirfobia. Tidak jarang Tuhan yang saya percaya itu dilecehkan. Dilecehkan sebagai pemurka, pembalas dendam, dll. Para peleceh itu justru orang beragama, dan lecehan mereka bagi saya lebih pahit dibandingkan ketidakpercayaan kaum ateis yang memang tidak sanggup percaya. Bahkan kitab kudus (Bibel, Perjanjian Lama) mengandung kalimat yang melecehkan citra saya tentang Tuhan. Paling sedikit saya cukup bingung membaca kalimat yang berbunyi sebagai berikut: Tuhan murka atas segala bangsa, dan hatiNya panas atas segenap tentara mereka. Ia telah mengkhususkan mereka untuk ditumpas\u00a0 dan menyerahkan mereka untuk dibantai. (Jesaya 34,2) Atau: Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapak\u00a0 kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. (Keluaran 20, 5). Tetapi, ya, saya patut toleran terhadap para peleceh ataupun lecehan. Siapa tahu bayangan saya tentang Tuhan salah, hanya berdasarkan citra yang subjektif. Saya juga patut toleran terhadap intoleransi, selama intoleransi itu sekadar perasaan atau keyakinan yang tidak bermuara ke tindakan jahat. Saya juga patut memaafkan mereka yang saya anggap peleceh, karena Tuhan saya adalah Maha Pemaaf. Penulis: Berthold Damsh\u00e4user adalah Indonesianis dari Universitas Bonn\/Jerman. Sejak 1986 mengajar di Jurusan Studi Asia Tenggara, Institut f\u00fcr Orient und Asienwissenschaften (Lembaga Kajian Asia). Pemimpin redaksi Orientierungen, sebuah jurnal tentang kebudayaan-kebudayaan Asia; anggota redaksi Jurnal Sajak. Publikasinya banyak di bidang sastra dan budaya. Editor buku \u201cWege nach \u2013 und mit \u2013 Indonesien\u201c, penulis buku \u201eIni dan Itu Indonesia \u2013 Pandangan Seorang Jerman\u201d.\u00a0\u00a0 *Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis. *Tulis komentar Anda di\u00a0 kolom di bawah ini. Negara-negara Tak Bertuhan #1. Cina Tradisi Cina tidak mengenal istilah agama dalam prinsipnya yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan, melainkan ajaran nenek moyang yang terwujud dalam bentuk Taoisme atau Khonghucu. Sebab itu tidak heran jika dalam jajak pendapat lembaga penelitian Gallup, sekitar 61% penduduk Cina mengaku tidak bertuhan. Sementara 29% mengaku tidak taat beragama. Negara-negara Tak Bertuhan #2. Hong Kong Sebagian besar penduduk Hongkong menganut kepercayaan tradisional Tionghoa. Sementara lainnya memeluk agama Kristen, Protestan, Taoisme atau Buddha. Namun menurut jajak pendapat Gallup, sekitar 34% penduduk bekas jajahan Inggris itu mengaku tidak percaya kepada Tuhan. Negara-negara Tak Bertuhan #3. Jepang Serupa Cina, sebagian besar penduduk Jepang menganut kepercayaan etnis Shinto alias agama para dewa. Dalam hakekatnya Shintoisme tidak mengenal prinsip ketuhanan seperti agama samawi. Sebab itu pula banyak penganut Shinto yang mengaku tidak bertuhan. Gallup menemukan sekitar 31% penduduk Jepang mengklaim dirinya sebagai Atheis. Negara-negara Tak Bertuhan #4. Republik Ceko Sekitar 30% penduduk Republik Ceko mengaku tidak bertuhan. Sementara jumlah terbesar memilih tidak menjawab perihal agama yang dianut. Faktanya, agama sulit berjejak di negeri di jantung Eropa tersebut. Penganut Katholik dan Protestan misalnya cuma berkisar 12 persen dari total populasi. Negara-negara Tak Bertuhan #5. Spanyol Katholik mewakili porsi terbesar dari penduduk Spanyol yang beragama. Sementara sisanya tersebar antara Protestan atau Islam. Uniknya kendati beragama, sebagian besar penduduk Spanyol mengaku tidak taat menjalani ritual keagamaan. Sementara 20% mengaku atheis atau agnostik. Penulis: rzn\/yf (gallup, eurobarometer, dll)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Saya suka memakai \u201cmetode\u201d ini: mengajukan empat pertanyaan kepada orang beragama, khususnya kepada mereka yang beragama Abrahamitis, khususnya lagi kepada mereka yang beragama Islam (kebanyakan teman saya yang masih sungguh beragama kebetulan orang Islam).<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keempat pertanyaan itu berbunyi sebagai berikut:<br \/>\n1. Apakah orang Nasrani dan orang Yahudi boleh masuk surga?<br \/>\n2. Apakah orang beragama Hindu, Buddha atau Khonghucu juga boleh masuk surga?<br \/>\n3. Apakah orang ateis boleh masuk surga?<br \/>\n4. Siapa yang lebih disukai Tuhan: Orang beragama yang jahat (misalnya pembunuh<br \/>\nkeji) atau orang ateis yang selalu berbuat baik?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawaban yang paling sering saya dengar kira-kira seperti ini: 1) \u201cBoleh, karena Nasrani dan Yahudi percaya kepada Tuhan yang sama; 2) \u201cRasanya, tidak boleh\u201d;\u00a0 3) \u201cTidak boleh\u201d; dan 4) \u201cHmm, sulit sekali pertanyaannya, tapi yang pasti ateis tidak dicintai Allah\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dapat dibayangkan bahwa jawaban atas pertanyaan itu bisa lebih \u201ckeras\u201d, bisa lebih bersifat eksklusif, tetapi menurut saya, jawaban seperti yang di atas pun membuktikan bahwa tingkat toleransi penjawab masih jauh dari optimal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paling sedikit secara tidak langsung, penjawab tidak menerima kepercayaan yang berbeda, baik kepercayaan mereka yang tidak beragama Abrahamitis dan tidak merupakan Ahlul Kitab alias &#8220;Pemilik Kitab Suci&#8221; maupun \u2013dan apalagi\u2013\u00a0 keyakinan mereka yang ateis. Kedua kelompok itu \u2018dikafirkan\u2018, peluang mereka untuk masuk surga dinafikan. Dan sebenarnya juga dijadikan manusia kelas rendah, manusia yang terkutuk masuk neraka, manusia yang tidak dicintai Tuhan.<\/p>\n<div class=\"picBox medium\n\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"alignleft\" title=\"Berthold Damsh\u00e4user adalah Indonesianis dari Universitas Bonn\/Jerman. Sejak 1986\u00a0 \u00a0\nmengajar di Jurusan Studi Asia Tenggara, Institut f\u00fcr Orient und Asienwissenschaften (Lembaga Kajian Asia). Pemimpin redaksi Orientierungen, sebuah jurnal tentang kebudayaan-kebudayaan Asia; anggota redaksi Jurnal Sajak. Publikasinya banyak di bidang sastra dan budaya. Editor buku \u201cWege nach \u2013 und mit \u2013 Indonesien\u201c, penulis buku \u201eIni dan Itu Indonesia \u2013 Pandangan Seorang Jerman\u201d.\u00a0\u00a0\n\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca13124b38.jpeg?ssl=1\" alt=\"Berthold Damsh\u00e4user adalah Indonesianis dari Universitas Bonn\/Jerman. Sejak 1986\u00a0 \u00a0\nmengajar di Jurusan Studi Asia Tenggara, Institut f\u00fcr Orient und Asienwissenschaften (Lembaga Kajian Asia). Pemimpin redaksi Orientierungen, sebuah jurnal tentang kebudayaan-kebudayaan Asia; anggota redaksi Jurnal Sajak. Publikasinya banyak di bidang sastra dan budaya. Editor buku \u201cWege nach \u2013 und mit \u2013 Indonesien\u201c, penulis buku \u201eIni dan Itu Indonesia \u2013 Pandangan Seorang Jerman\u201d.\u00a0\u00a0\n\" \/><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belum lama ini \u201cmetode uji toleransi\u201d berbentuk empat pertanyaan itu saya terapkan pada seorang tamu lembaga saya, Jurusan Studi Asia Tenggara Universitas Bonn. Tamu yang kami undang untuk berceramah itu adalah seorang ulama Indonesia \u201cmoderat\u201d dan simpatis yang banyak memuji toleransi beragama di Indonesia dan juga sempat mengeluhkan \u201cislamofobia\u201d atau diskriminasi agama\u00a0Islam di negara-negara Barat. Reaksinya menarik: Sepertinya ia menyadari \u201cbahaya\u201d dan kepelikan teologis pertanyaan itu, dan memilih menjawab secara\u00a0 tidak langsung, yaitu: \u201cSebaiknya semua itu kita serahkan saja kepada Tuhan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya kecewa, juga sedikit kesal atas jawaban piawai itu. Menyadari bahwa dalam rangka forum tidak mungkin untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut, saya \u2013bukan tanpa ironi\u2013 memuji jawaban canggih itu dan mengatakan: \u201cTerima kasih atas\u00a0 jawaban bagus itu. Ini\u00a0 berarti bahwa kita semua tak perlu berfobia. Kafirfobia pun tidak perlu.\u201d Lalu, karena duduk dekat dengan tamu ulama itu, saya berdiri dan mengulurkan tangan. Tentu ia terima, dan kami berjabat tangan. Tak ada ironi di situ.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menyerahkan masalah surga kepada Tuhan, menyerahkan juga perihal kekafiran dan dampaknya kepada Tuhan tentu sikap yang cukup bijaksana. Namun, pertanyaan yang timbul adalah, bagaimana bayangan kita tentang Tuhan, bagaimana citra kita tentang Tuhan. Bagi orang yang yakin bahwa Tuhan lebih mencintai pembunuh yang beragama dibandingkan ateis yang baik budi, Tuhan itu adalah \u201cpribadi\u201d yang mengutamakan kepentingan sendiri, yaitu bahwa manusia percaya kepadaNya. Tuhan demikian cenderung bertindak di Seberang yang Baik dan yang Jahat (meminjam judul karya filosofis Friedrich Nietzsche).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitu juga suatu tuhan yang menutup pintu surga bagi mereka yang tidak beragama atau tidak percaya kepadanya. Betapa tak rahim tuhan seperti itu. Dan, dari mereka yang meyakini tuhan seperti itu, toleransi agama tidak dapat terlalu diharapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebaliknya, manusia yang meyakini Tuhan yang Maha Pemaaf, Tuhan penuh rahmat, Tuhan yang tidak pernah murka, Tuhan yang tidak menghakimi, dll. bisa diduga memiliki toleransi tinggi terhadap mereka yang beragama atau berkeyakinan berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya sendiri mengharapkan Tuhan demikian, tidak sanggup percaya kepada suatu tuhan yang tidak bersedia mencintai mereka yang tidak percaya kepadanya. Tuhan yang saya harapkan atau percaya itu sangatlah toleran, juga adil, dan sama sekali tidak merasakan kafirfobia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak jarang Tuhan yang saya percaya itu dilecehkan. Dilecehkan sebagai pemurka, pembalas dendam, dll. Para peleceh itu justru orang beragama, dan lecehan mereka bagi saya lebih pahit dibandingkan ketidakpercayaan kaum ateis yang memang tidak sanggup percaya. Bahkan kitab kudus (Bibel, Perjanjian Lama) mengandung kalimat yang melecehkan citra saya tentang Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paling sedikit saya cukup bingung membaca kalimat yang berbunyi sebagai berikut: Tuhan murka atas segala bangsa, dan hatiNya panas atas segenap tentara mereka. Ia telah mengkhususkan mereka untuk ditumpas\u00a0 dan menyerahkan mereka untuk dibantai. (Jesaya 34,2) Atau: Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapak\u00a0 kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. (Keluaran 20, 5).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tetapi, ya, saya patut toleran terhadap para peleceh ataupun lecehan. Siapa tahu bayangan saya tentang Tuhan salah, hanya berdasarkan citra yang subjektif. Saya juga patut toleran terhadap intoleransi, selama intoleransi itu sekadar perasaan atau keyakinan yang tidak bermuara ke tindakan jahat. Saya juga patut memaafkan mereka yang saya anggap peleceh, karena Tuhan saya adalah Maha Pemaaf.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Penulis:<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Berthold Damsh\u00e4user adalah Indonesianis dari Universitas Bonn\/Jerman. Sejak 1986<br \/>\nmengajar di Jurusan Studi Asia Tenggara, Institut f\u00fcr Orient und Asienwissenschaften (Lembaga Kajian Asia). Pemimpin redaksi Orientierungen, sebuah jurnal tentang kebudayaan-kebudayaan Asia; anggota redaksi Jurnal Sajak. Publikasinya banyak di bidang sastra dan budaya. Editor buku \u201cWege nach \u2013 und mit \u2013 Indonesien\u201c, penulis buku \u201eIni dan Itu Indonesia \u2013 Pandangan Seorang Jerman\u201d.\u00a0\u00a0<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.<br \/>\n*Tulis komentar Anda di\u00a0 kolom di bawah ini.<\/p>\n<div class=\"longText\">\n<div class=\"gallery col3\">\n<div class=\"imgTeaserL slideshow noDim\" data-id=\"19002954\" data-title=\"Negara-negara Tak Bertuhan\" data-date=\"20160126\" data-firstcategory=\"19990010\" data-secondcategory=\"19990006\">\n<ul class=\"slides\">\n<li class=\"first\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"teaserImg\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"zur Meldung - China auf Wachstumskurs\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca132ccea5.jpeg?ssl=1\" alt=\"zur Meldung - China auf Wachstumskurs\" \/><\/div>\n<div class=\"teaserContentWrap\">\n<h4>Negara-negara Tak Bertuhan<\/h4>\n<h2>#1. Cina<\/h2>\n<p>Tradisi Cina tidak mengenal istilah agama dalam prinsipnya yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan, melainkan ajaran nenek moyang yang terwujud dalam bentuk Taoisme atau Khonghucu. Sebab itu tidak heran jika dalam jajak pendapat lembaga penelitian Gallup, sekitar 61% penduduk Cina mengaku tidak bertuhan. Sementara 29% mengaku tidak taat beragama.<\/p>\n<\/div>\n<\/li>\n<li class=\"hideBeforeLoad\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"teaserImg\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"Hongkong Tram Stra\u00dfenbahn\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca13445a8b.jpeg?ssl=1\" alt=\"Hongkong Tram Stra\u00dfenbahn\" \/><\/div>\n<div class=\"teaserContentWrap\">\n<h4>Negara-negara Tak Bertuhan<\/h4>\n<h2>#2. Hong Kong<\/h2>\n<p>Sebagian besar penduduk Hongkong menganut kepercayaan tradisional Tionghoa. Sementara lainnya memeluk agama Kristen, Protestan, Taoisme atau Buddha. Namun menurut jajak pendapat Gallup, sekitar 34% penduduk bekas jajahan Inggris itu mengaku tidak percaya kepada Tuhan.<\/p>\n<\/div>\n<\/li>\n<li class=\"hideBeforeLoad\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"teaserImg\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"China Identifikationszone zur Luftverteitigung Milit\u00e4r Protest in Japan 2012\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca135d360d.jpeg?ssl=1\" alt=\"China Identifikationszone zur Luftverteitigung Milit\u00e4r Protest in Japan 2012\" \/><\/div>\n<div class=\"teaserContentWrap\">\n<h4>Negara-negara Tak Bertuhan<\/h4>\n<h2>#3. Jepang<\/h2>\n<p>Serupa Cina, sebagian besar penduduk Jepang menganut kepercayaan etnis Shinto alias agama para dewa. Dalam hakekatnya Shintoisme tidak mengenal prinsip ketuhanan seperti agama samawi. Sebab itu pula banyak penganut Shinto yang mengaku tidak bertuhan. Gallup menemukan sekitar 31% penduduk Jepang mengklaim dirinya sebagai Atheis.<\/p>\n<\/div>\n<\/li>\n<li class=\"hideBeforeLoad\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"teaserImg\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"Club Felix Berlin\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca137ddf48.jpeg?ssl=1\" alt=\"Club Felix Berlin\" \/><\/div>\n<div class=\"teaserContentWrap\">\n<h4>Negara-negara Tak Bertuhan<\/h4>\n<h2>#4. Republik Ceko<\/h2>\n<p>Sekitar 30% penduduk Republik Ceko mengaku tidak bertuhan. Sementara jumlah terbesar memilih tidak menjawab perihal agama yang dianut. Faktanya, agama sulit berjejak di negeri di jantung Eropa tersebut. Penganut Katholik dan Protestan misalnya cuma berkisar 12 persen dari total populasi.<\/p>\n<\/div>\n<\/li>\n<li class=\"hideBeforeLoad\">\n<div class=\"teaserImg\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"Bildergalerie Tomatina in Spanien\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca13991ed5.jpeg?ssl=1\" alt=\"Bildergalerie Tomatina in Spanien\" \/><\/div>\n<div class=\"teaserContentWrap\">\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Negara-negara Tak Bertuhan<\/h4>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">#5. Spanyol<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Katholik mewakili porsi terbesar dari penduduk Spanyol yang beragama. Sementara sisanya tersebar antara Protestan atau Islam. Uniknya kendati beragama, sebagian besar penduduk Spanyol mengaku tidak taat menjalani ritual keagamaan. Sementara 20% mengaku atheis atau agnostik.<\/p>\n<p class=\"author\" style=\"text-align: justify;\">Penulis: rzn\/yf (gallup, eurobarometer, dll)<\/p>\n<\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Saya suka memakai \u201cmetode\u201d ini: mengajukan empat pertanyaan kepada orang beragama, khususnya kepada mereka yang beragama Abrahamitis, khususnya lagi kepada mereka yang beragama Islam (kebanyakan teman saya yang masih sungguh beragama kebetulan orang Islam). Keempat pertanyaan itu berbunyi sebagai berikut: 1. Apakah orang Nasrani dan orang Yahudi boleh masuk surga? 2. Apakah orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53087,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"dw.com","source_url":"https:\/\/www.dw.com\/id\/uji-toleransi-agama-dan-kafirfobia\/a-53498191","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[14,3],"tags":[],"class_list":["post-53086","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-umum"],"better_featured_image":{"id":53087,"alt_text":"","caption":"","description":"afd938d92a8cdaa60425bc770ab92bd9","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca12de468b.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca12de468b.jpeg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca12de468b.jpeg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/uji-toleransi-agama-kafirfobia-dan-empat-pertanyaan-itu_604ca12de468b.jpeg?fit=940%2C529&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1431","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53086","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53086"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53086\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53087"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53086"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53086"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53086"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}