{"id":53201,"date":"2021-03-16T17:21:47","date_gmt":"2021-03-16T10:21:47","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=53201"},"modified":"2021-03-16T17:21:50","modified_gmt":"2021-03-16T10:21:50","slug":"umat-kristen-boleh-ucap-allah-pemerintah-malaysia-tak-terima","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/umat-kristen-boleh-ucap-allah-pemerintah-malaysia-tak-terima\/","title":{"rendered":"Umat Kristen Boleh Ucap Allah, Pemerintah Malaysia Tak Terima"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Pemerintah\u00a0Malaysia mengajukan banding atas putusan pengadilan yang mengizinkan umat\u00a0Kristen menggunakan &quot;Allah&quot; untuk menyebut Tuhan. Pemerintah meminta pengadilan membatalkan keputusan itu. Seperti dikutip dari Straits Times, pengacara Jenderal Abdul Razak Musa membenarkan pengajuan banding tersebut, Senin (15\/3). Banding telah diajukan atas nama Menteri Dalam Negeri dan pemerintah Malaysia. Pemerintah mengajukan gugatan ke pengadilan banding karena &quot;tidak puas&quot; dengan putusan tersebut, menurut dokumen yang dilihat oleh AFP. Kelompok Muslim di Malaysia telah mendesak pemerintah untuk mengajukan banding terhadap putusan pengadilan tersebut. Kata itu telah lama memecah belah di multi-etnis Malaysia. Umat Kristen menyoroti larangan itu akibat berkembangnya pengaruh Islam konservatif. Tetapi beberapa Muslim menuduh umat Kristen telah melewati batas hingga memicu ketegangan agama dan kekerasan selama bertahun-tahun. Pekan lalu, Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur memutuskan bahwa umat Kristen dapat menggunakan &quot;Allah&quot; dalam publikasi, berpihak pada anggota minoritas dan mencabut larangan sejak 1986 itu. Hakim memutuskan larangan itu tidak konstitusional, karena konstitusi Malaysia menjamin kebebasan beragama. Namun pihak berwenang telah lama berargumen bahwa mengizinkan non-Muslim menggunakan kata &quot;Allah&quot; bisa membingungkan, dan membujuk Muslim untuk pindah agama. Kasus ini bermula 13 tahun lalu ketika petugas menyita materi agama dalam bahasa Melayu lokal dari seorang Kristen di bandara Kuala Lumpur yang berisi kata &quot;Allah&quot;. Wanita bernama Jill Ireland Lawrence Bill itu merupakan seorang anggota kelompok masyarakat adat Malaysia. Dia kemudian melancarkan gugatan hukum terhadap pelarangan orang Kristen menggunakan &#039;Allah&#039;. Malaysia berhasil menghindari konflik agama yang terbuka dalam beberapa dekade terakhir, tetapi ketegangan terus meningkat. Pada tahun 2014 sebuah gereja diserang bom molotov, sementara otoritas Islam menyita Alkitab yang mengandung kata &quot;Allah&quot;. Kurang dari 10 persen dari 32 juta penduduk Malaysia diperkirakan beragama Kristen, yang sebagian besar berasal dari latar belakang etnis Tionghoa, India, atau pribumi. Sementara 60 persen beragama Muslim Melayu. (dea)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Pemerintah\u00a0<strong>Malaysia<\/strong> mengajukan banding atas putusan pengadilan yang mengizinkan umat\u00a0<strong>Kristen<\/strong> menggunakan &#8220;<strong>Allah<\/strong>&#8221; untuk menyebut Tuhan.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Pemerintah meminta pengadilan membatalkan keputusan itu.<\/p>\n<p>Seperti dikutip dari <em>Straits Times<\/em>, pengacara Jenderal Abdul Razak Musa membenarkan pengajuan banding tersebut, Senin (15\/3). Banding telah diajukan atas nama Menteri Dalam Negeri dan pemerintah Malaysia.<\/p>\n<p>Pemerintah mengajukan gugatan ke pengadilan banding karena &#8220;tidak puas&#8221; dengan putusan tersebut, menurut dokumen yang dilihat oleh <em>AFP<\/em>.<\/p>\n<p>Kelompok Muslim di Malaysia telah mendesak pemerintah untuk mengajukan banding terhadap putusan pengadilan tersebut.<\/p>\n<p>Kata itu telah lama memecah belah di multi-etnis Malaysia. Umat Kristen menyoroti larangan itu akibat berkembangnya pengaruh Islam konservatif.<\/p>\n<p>Tetapi beberapa Muslim menuduh umat Kristen telah melewati batas hingga memicu ketegangan agama dan kekerasan selama bertahun-tahun.<\/p>\n<p>Pekan lalu, Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur memutuskan bahwa umat Kristen dapat menggunakan &#8220;Allah&#8221; dalam publikasi, berpihak pada anggota minoritas dan mencabut larangan sejak 1986 itu.<\/p>\n<p>Hakim memutuskan larangan itu tidak konstitusional, karena konstitusi Malaysia menjamin kebebasan beragama.<\/p>\n<p>Namun pihak berwenang telah lama berargumen bahwa mengizinkan non-Muslim menggunakan kata &#8220;Allah&#8221; bisa membingungkan, dan membujuk Muslim untuk pindah agama.<\/p>\n<p>Kasus ini bermula 13 tahun lalu ketika petugas menyita materi agama dalam bahasa Melayu lokal dari seorang Kristen di bandara Kuala Lumpur yang berisi kata &#8220;Allah&#8221;.<\/p>\n<p>Wanita bernama Jill Ireland Lawrence Bill itu merupakan seorang anggota kelompok masyarakat adat Malaysia. Dia kemudian melancarkan gugatan hukum terhadap pelarangan orang Kristen menggunakan &#8216;Allah&#8217;.<\/p>\n<p>Malaysia berhasil menghindari konflik agama yang terbuka dalam beberapa dekade terakhir, tetapi ketegangan terus meningkat.<\/p>\n<p>Pada tahun 2014 sebuah gereja diserang bom molotov, sementara otoritas Islam menyita Alkitab yang mengandung kata &#8220;Allah&#8221;.<\/p>\n<p>Kurang dari 10 persen dari 32 juta penduduk Malaysia diperkirakan beragama Kristen, yang sebagian besar berasal dari latar belakang etnis Tionghoa, India, atau pribumi. Sementara 60 persen beragama Muslim Melayu.<\/p>\n<p><b>(dea)<\/b><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pemerintah\u00a0Malaysia mengajukan banding atas putusan pengadilan yang mengizinkan umat\u00a0Kristen menggunakan &#8220;Allah&#8221; untuk menyebut Tuhan. Pemerintah meminta pengadilan membatalkan keputusan itu. Seperti dikutip dari Straits Times, pengacara Jenderal Abdul Razak Musa membenarkan pengajuan banding tersebut, Senin (15\/3). Banding telah diajukan atas nama Menteri Dalam Negeri dan pemerintah Malaysia. Pemerintah mengajukan gugatan ke pengadilan banding [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53202,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,22],"tags":[],"class_list":["post-53201","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-internasional"],"better_featured_image":{"id":53202,"alt_text":"","caption":"","description":"7576d970bacf78078922b502c1ac147b","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/umat-kristen-boleh-ucap-allah-pemerintah-malaysia-tak-terima_6050262cbf07d.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/umat-kristen-boleh-ucap-allah-pemerintah-malaysia-tak-terima_6050262cbf07d.jpeg?fit=650%2C364&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/umat-kristen-boleh-ucap-allah-pemerintah-malaysia-tak-terima_6050262cbf07d.jpeg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/umat-kristen-boleh-ucap-allah-pemerintah-malaysia-tak-terima_6050262cbf07d.jpeg?fit=650%2C364&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1343","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53201","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53201"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53201\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}