{"id":54049,"date":"2021-03-25T09:30:00","date_gmt":"2021-03-25T02:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=54049"},"modified":"2021-03-25T08:58:24","modified_gmt":"2021-03-25T01:58:24","slug":"semua-aksi-radikal-berawal-dari-intoleransi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/semua-aksi-radikal-berawal-dari-intoleransi\/","title":{"rendered":"Semua Aksi Radikal Berawal dari Intoleransi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Orang Prancis memiliki pepatah \u201cDe gustibus non est disputandum\u201d, artinya kurang lebih begini \u201cDalam selera yang sama, tidak akan ada perselisihan\u201d. Sesuai dengan situasi saat ini, dimana ideologi sekular dan agama telah ditafsirkan oleh masyarakat Prancis secara subjektif dan sepenuhnya terjebak dalam masalah selera. Terjadilah kemudian berbagai benturan. Selera itu menjadi alat serang. \u201cLaicite\u201d, kebebasan sekularisme, digerakkan seperti entitas agama: mencari dominasi populasi sebanyak-banyaknya. Lalu sekularisme bukan lagi menghargai kebebasan beragama, tapi menyerang agama-agama. Charlie Hebdo bukan hanya menyerang Islam, ia menyerang agama apa saja yang dianggap tidak sesuai seleranya. Laicite sejak awal tidak dibuat untuk menyerang agama, ia dibuat untuk menghargai kebebasan beragama \u2013 tidak men-toleransi intoleransi. Tapi seperti yang ditulis oleh filsuf Martha Nussbaum: cemas dan rasa curiga yang diselingi oleh ketakutan narsistik, membuat manusia terjebak dalam aksi intoleransi atas nama toleransi. Kebebasan di Prancis berubah arah, melangsir jalur kereta ke arah destinasi yang salah. Ketersinggungan para pemeluk agama di Prancis menjadi liar akibat pedang kebebasan dihunjamkan ke titik jantungnya sendiri. Pembunuhan dan pemenggalan yang dilakukan kelompok radikal itu, adalah tindakan brutal yang semakin memperdalam tusukan pedang. Mereka menyerang jemaat gereja yang sebenarnya bukan \u201cMusuhnya\u201d, keduanya adalah korban dari ambiguitas kebebasan yang sudah terjebak dalam subyektifitas selera. Sekularisme dan liberalisme, atau apapun namanya, memang tak akan pernah ada \u2013 ia hanya pepesan kosong ideologi kebebasan yang kehilangan kebebasannya. Bebas bagi dirinya, tapi kebebasan orang lain diikat sekuat mungkin. Simpul penting dari semuanya adalah toleransi, bukan kebebasan. Jika rasa toleran yang dipegang, maka kebebasan akan dipertanggungjawabkan dalam batas-batas empati kemanusiaan. Aksi intoleran hanya melahirkan radikalisme \u2013 bukan hanya bagi pemeluk agama, bahkan kepada yang memusuhi agama sekalipun. Charlie Hebdo dan para pembunuh itu, adalah kaum intoleran radikal, yang hanya mengukur apapun sesuai selera narsistiknya. (ARN) Penulis:\u00a0Islah Bahrawi\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Orang Prancis memiliki pepatah \u201cDe gustibus non est disputandum\u201d, artinya kurang lebih begini \u201cDalam selera yang sama, tidak akan ada perselisihan\u201d. Sesuai dengan situasi saat ini, dimana ideologi sekular dan agama telah ditafsirkan oleh masyarakat Prancis secara subjektif dan sepenuhnya terjebak dalam masalah selera. Terjadilah kemudian berbagai benturan. Selera itu menjadi alat serang. \u201cLaicite\u201d, kebebasan sekularisme, digerakkan seperti entitas agama: mencari dominasi populasi sebanyak-banyaknya. Lalu sekularisme bukan lagi menghargai kebebasan beragama, tapi menyerang agama-agama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Charlie Hebdo bukan hanya menyerang Islam, ia menyerang agama apa saja yang dianggap tidak sesuai seleranya. Laicite sejak awal tidak dibuat untuk menyerang agama, ia dibuat untuk menghargai kebebasan beragama \u2013 tidak men-toleransi intoleransi. Tapi seperti yang ditulis oleh filsuf Martha Nussbaum: cemas dan rasa curiga yang diselingi oleh ketakutan narsistik, membuat manusia terjebak dalam aksi intoleransi atas nama toleransi. Kebebasan di Prancis berubah arah, melangsir jalur kereta ke arah destinasi yang salah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketersinggungan para pemeluk agama di Prancis menjadi liar akibat pedang kebebasan dihunjamkan ke titik jantungnya sendiri. Pembunuhan dan pemenggalan yang dilakukan kelompok radikal itu, adalah tindakan brutal yang semakin memperdalam tusukan pedang. Mereka menyerang jemaat gereja yang sebenarnya bukan \u201cMusuhnya\u201d, keduanya adalah korban dari ambiguitas kebebasan yang sudah terjebak dalam subyektifitas selera. Sekularisme dan liberalisme, atau apapun namanya, memang tak akan pernah ada \u2013 ia hanya pepesan kosong ideologi kebebasan yang kehilangan kebebasannya. Bebas bagi dirinya, tapi kebebasan orang lain diikat sekuat mungkin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Simpul penting dari semuanya adalah toleransi, bukan kebebasan. Jika rasa toleran yang dipegang, maka kebebasan akan dipertanggungjawabkan dalam batas-batas empati kemanusiaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aksi intoleran hanya melahirkan radikalisme \u2013 bukan hanya bagi pemeluk agama, bahkan kepada yang memusuhi agama sekalipun. Charlie Hebdo dan para pembunuh itu, adalah kaum intoleran radikal, yang hanya mengukur apapun sesuai selera narsistiknya. (ARN)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis:\u00a0<strong><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/islah_bahrawi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Islah Bahrawi<\/a><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Orang Prancis memiliki pepatah \u201cDe gustibus non est disputandum\u201d, artinya kurang lebih begini \u201cDalam selera yang sama, tidak akan ada perselisihan\u201d. Sesuai dengan situasi saat ini, dimana ideologi sekular dan agama telah ditafsirkan oleh masyarakat Prancis secara subjektif dan sepenuhnya terjebak dalam masalah selera. Terjadilah kemudian berbagai benturan. Selera itu menjadi alat serang. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47631,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"single_blog_custom":"","parallax":"0","fullscreen":"0","sidebar":"","second_sidebar":"","sticky_sidebar":"0","share_position":"","share_float_style":"","show_share_counter":"0","show_view_counter":"0","show_featured":"0","show_post_meta":"0","show_post_author":"0","show_post_author_image":"0","show_post_date":"0","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"0","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post":"0","trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14,3],"tags":[216,178,209],"class_list":["post-54049","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-umum","tag-charlie-hebdo","tag-intoleransi","tag-radikalisme"],"better_featured_image":{"id":47631,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/intoleransi.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/intoleransi.png?fit=768%2C480&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/intoleransi.png"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/intoleransi.png?fit=800%2C500&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1572","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54049","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54049"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54049\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47631"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54049"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54049"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54049"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}