{"id":54215,"date":"2021-03-31T10:30:00","date_gmt":"2021-03-31T03:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=54215"},"modified":"2021-03-29T23:21:21","modified_gmt":"2021-03-29T16:21:21","slug":"antisipasi-aksi-teror-dan-solusinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/antisipasi-aksi-teror-dan-solusinya\/","title":{"rendered":"Antisipasi aksi teror dan Solusinya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan serangan di Makassar &quot;bukan merupakan bagian dari perjuangan agama dan tidak mewakili agama apa pun. Ini adalah betul-betul teror, ini adalah musuh kemanusiaan. Kalau pelakunya mengatasnamakan perjuangan agama tertentu, berarti dia telah bergama secara salah. Semua agama itu pro kemanusiaan dan anti terorisme,&quot; kata Mahfud. Saya setuju pernyataan Pak Mahfud. Yang diteror itu tempat Ibadah. Bukan orang perorang. Tampat Ibadah adalah simbol agama. Tujuannya adalah mengadu domba masyarakat dengan membenturkan Agama. Lantas cukup itu saja dimaknai? Kejadian aksi teror menyerang tempat ibadah bukan sekali ini saja. Tapi sudah berkali kali. Akar masalah sudah diketahui oleh Pak Mahfud, yaitu beragama secara salah. Solusinya juga sederhana. Tidak sulit. Apa itu? Negara harus hadir memastikan agar tidak terjadi orang beragama secara salah. Itu artinya sistem pendidikan agama yang tidak benar. Itulah yang harus diluruskan. Cobalah mulailah dari hal sederhana yaitu adakan kewajiban sertifikasi pendakwah. Berlaku bagi agama apapun. Setiap pendakwah harus lolos test screening BIN dan BIA. Harus pengikuti program pelatihan pendidikan mental kebangsaan. Lewat proses itu tidak sulit untuk mengetahui apakah pendakwah terindikasi radikal. Negarapun punya dasar hukum menangkap kalau ada pendakwah naik panggung tanpa sertifikasi. Di Mesir, Malaysia yang mayoritas islam, sudah melaksanakan ketentuan bagi pendakwah Islam. Mereka bisa. Apa hasilnya ? Setelah aturan itu diadakan. Hampir tidak pernah lagi terdengar kejadian aksi teror. Tadinya saya berharap dengan digantinya Menteri Agama dan menunjuk Menteri agama baru yang juga berasal kader Banser yang terkenal berani menegakkan pluralisme demi NKRI. Tetapi hanya hebat pada awalnya. Setelah itu upaya sertifikasi tenggelam begitu saja. Negara tidak punya design kuat untuk menciptakan kedamaian, terutama bila berkaitan dengan emosi umat islam. Pada tataran politik pemerintah mengakui sumber masalah adalah islam disalah gunakan untuk mencapai tujuan politik. Tetapi karena politik juga pemerintah tidak bisa tegas. Masalahnya rumit. Ini bukan hanya soal sekedar politik yang elite tetap butuh dukungan primodial mendapatkan suara dari umat islam dalam pemilu. Tetapi juga berhubungan dengan sistem yang memungkinkan harus tersedianya anggaran anti teror yang sangat besar. Sangat besar untuk dihilangkan begitu saja. Anggaran kementrian agama yang sangat besar untuk pembinaan umat. Issue besar tentang bahaya teroris perlu terus di update agar anggaran terus ada di pos APBN. Tanpa disadari, politik juga yang membuat islam direndahkan dan terus dipermalukan oleh setiap aksi teror. Penulis: Babo DDB\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan serangan di Makassar &#8220;bukan merupakan bagian dari perjuangan agama dan tidak mewakili agama apa pun. Ini adalah betul-betul teror, ini adalah musuh kemanusiaan. Kalau pelakunya mengatasnamakan perjuangan agama tertentu, berarti dia telah bergama secara salah. Semua agama itu pro kemanusiaan dan anti terorisme,&#8221; kata Mahfud. Saya setuju pernyataan Pak Mahfud. Yang diteror itu tempat Ibadah. Bukan orang perorang. Tampat Ibadah adalah simbol agama. Tujuannya adalah mengadu domba masyarakat dengan membenturkan Agama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lantas cukup itu saja dimaknai? Kejadian aksi teror menyerang tempat ibadah bukan sekali ini saja. Tapi sudah berkali kali. Akar masalah sudah diketahui oleh Pak Mahfud, yaitu beragama secara salah. Solusinya juga sederhana. Tidak sulit. Apa itu? Negara harus hadir memastikan agar tidak terjadi orang beragama secara salah. Itu artinya sistem pendidikan agama yang tidak benar. Itulah yang harus diluruskan.<\/p>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"54363\" data-permalink=\"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/antisipasi-aksi-teror-dan-solusinya\/sahal_as\/\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/sahal_as.jpg?fit=1080%2C1133&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1080,1133\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"sahal_as\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/sahal_as.jpg?fit=976%2C1024&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter size-large wp-image-54363\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/sahal_as.jpg?resize=976%2C1024&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"976\" height=\"1024\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/sahal_as.jpg?resize=976%2C1024&amp;ssl=1 976w, https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/sahal_as.jpg?resize=286%2C300&amp;ssl=1 286w, https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/sahal_as.jpg?resize=768%2C806&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/sahal_as.jpg?resize=600%2C629&amp;ssl=1 600w, https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/sahal_as.jpg?resize=750%2C787&amp;ssl=1 750w, https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/sahal_as.jpg?w=1080&amp;ssl=1 1080w\" sizes=\"(max-width: 976px) 100vw, 976px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cobalah mulailah dari hal sederhana yaitu adakan kewajiban sertifikasi pendakwah. Berlaku bagi agama apapun. Setiap pendakwah harus lolos test screening BIN dan BIA. Harus pengikuti program pelatihan pendidikan mental kebangsaan. Lewat proses itu tidak sulit untuk mengetahui apakah pendakwah terindikasi radikal. Negarapun punya dasar hukum menangkap kalau ada pendakwah naik panggung tanpa sertifikasi. Di Mesir, Malaysia yang mayoritas islam, sudah melaksanakan ketentuan bagi pendakwah Islam. Mereka bisa. Apa hasilnya ? Setelah aturan itu diadakan. Hampir tidak pernah lagi terdengar kejadian aksi teror.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tadinya saya berharap dengan digantinya Menteri Agama dan menunjuk Menteri agama baru yang juga berasal kader Banser yang terkenal berani menegakkan pluralisme demi NKRI. Tetapi hanya hebat pada awalnya. Setelah itu upaya sertifikasi tenggelam begitu saja. Negara tidak punya design kuat untuk menciptakan kedamaian, terutama bila berkaitan dengan emosi umat islam. Pada tataran politik pemerintah mengakui sumber masalah adalah islam disalah gunakan untuk mencapai tujuan politik. Tetapi karena politik juga pemerintah tidak bisa tegas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalahnya rumit. Ini bukan hanya soal sekedar politik yang elite tetap butuh dukungan primodial mendapatkan suara dari umat islam dalam pemilu. Tetapi juga berhubungan dengan sistem yang memungkinkan harus tersedianya anggaran anti teror yang sangat besar. Sangat besar untuk dihilangkan begitu saja. Anggaran kementrian agama yang sangat besar untuk pembinaan umat. Issue besar tentang bahaya teroris perlu terus di update agar anggaran terus ada di pos APBN. Tanpa disadari, politik juga yang membuat islam direndahkan dan terus dipermalukan oleh setiap aksi teror.<\/p>\n<div class=\"\" dir=\"auto\">\n<div id=\"jsc_c_on\" class=\"ecm0bbzt hv4rvrfc ihqw7lf3 dati1w0a\" data-ad-comet-preview=\"message\" data-ad-preview=\"message\">\n<div class=\"j83agx80 cbu4d94t ew0dbk1b irj2b8pg\">\n<div class=\"qzhwtbm6 knvmm38d\">\n<div class=\"o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q\">\n<div dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div dir=\"auto\" style=\"text-align: justify;\">Penulis: Babo DDB<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan serangan di Makassar &#8220;bukan merupakan bagian dari perjuangan agama dan tidak mewakili agama apa pun. Ini adalah betul-betul teror, ini adalah musuh kemanusiaan. Kalau pelakunya mengatasnamakan perjuangan agama tertentu, berarti dia telah bergama secara salah. Semua agama itu pro kemanusiaan dan anti terorisme,&#8221; kata Mahfud. Saya setuju pernyataan Pak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42103,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14,3],"tags":[7],"class_list":["post-54215","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-umum","tag-terorisme"],"better_featured_image":{"id":42103,"alt_text":"","caption":"","description":"d0ce33394d98b1922af3823af550612e","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/opini-radikalisme-agama-seberapa-berbahaya-bagi-kita_5e3e7d3593411.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/opini-radikalisme-agama-seberapa-berbahaya-bagi-kita_5e3e7d3593411.jpeg?fit=600%2C400&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/opini-radikalisme-agama-seberapa-berbahaya-bagi-kita_5e3e7d3593411.jpeg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/opini-radikalisme-agama-seberapa-berbahaya-bagi-kita_5e3e7d3593411.jpeg?fit=600%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1154","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54215","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54215"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54215\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54215"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54215"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54215"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}