{"id":54340,"date":"2021-03-30T21:46:00","date_gmt":"2021-03-30T14:46:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=54340"},"modified":"2021-03-29T23:01:53","modified_gmt":"2021-03-29T16:01:53","slug":"memelihara-api-dalam-sekam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/memelihara-api-dalam-sekam\/","title":{"rendered":"MEMELIHARA API DALAM SEKAM"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Statement mbak Alissa Wahid Putri Gus Dur Alissa Wahid: Mari Akui Bahwa Teror Bom Kemarin Dikaitkan dengan Islam\u00a0 menurutku lebih cerdas dan obyektif daripada statement Presiden dan Waketum MUI yang menyangkal peran ideologi radikal agama yang ada dibalik berbagai aksi terorisme di negeri ini. Selama aparat dan pemerintah gamang menangani radikalisme di negeri ini dan tetap memberikan kebebasan kepada para penceramah, organisasi, buku-buku dan media-media radikal untuk terus menyebarkan ideologinya maka masalah ini tidak akan pernah bisa tuntas dan akan selalu menimbulkan masalah baru yang mungkin akan semakin membesar di kemudian hari. Kita juga tidak bisa banyak berharap kepada Presiden yang memang dari dulu tampak lemah dalam menghadapi masalah ini. Meskipun FPI dan HTI sudah dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang tapi ideologi mereka tidak mati dan masih terus bergerilya serta berkembang biak meracuni pikiran banyak generasi muda bangsa ini. Jadi apa yang harus dilakukan? Jangan berharap banyak kepada pemerintah. Tetaplah kritis dan gaduh di media sosial selama masih banyak bertebaran para ustadz radikal yang menyebarkan narasi kebencian. Ingat, Suriah yang dulu adalah negeri yang moderat, toleran, sekuler, sejahtera dan aman damai bisa tiba-tiba hancur lebur ketika narasi radikalisme berkembang kuat disana. Salam Waras, Muhammad Zazuli\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Statement mbak Alissa Wahid <a href=\"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/putri-gus-dur-alissa-wahid-mari-akui-bahwa-teror-bom-kemarin-dikaitkan-dengan-islam\/\">Putri Gus Dur Alissa Wahid: Mari Akui Bahwa Teror Bom Kemarin Dikaitkan dengan Islam<\/a>\u00a0 menurutku lebih cerdas dan obyektif daripada statement Presiden dan Waketum MUI yang menyangkal peran ideologi radikal agama yang ada dibalik berbagai aksi terorisme di negeri ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama aparat dan pemerintah gamang menangani radikalisme di negeri ini dan tetap memberikan kebebasan kepada para penceramah, organisasi, buku-buku dan media-media radikal untuk terus menyebarkan ideologinya maka masalah ini tidak akan pernah bisa tuntas dan akan selalu menimbulkan masalah baru yang mungkin akan semakin membesar di kemudian hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita juga tidak bisa banyak berharap kepada Presiden yang memang dari dulu tampak lemah dalam menghadapi masalah ini. Meskipun FPI dan HTI sudah dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang tapi ideologi mereka tidak mati dan masih terus bergerilya serta berkembang biak meracuni pikiran banyak generasi muda bangsa ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi apa yang harus dilakukan? Jangan berharap banyak kepada pemerintah. Tetaplah kritis dan gaduh di media sosial selama masih banyak bertebaran para ustadz radikal yang menyebarkan narasi kebencian. Ingat, Suriah yang dulu adalah negeri yang moderat, toleran, sekuler, sejahtera dan aman damai bisa tiba-tiba hancur lebur ketika narasi radikalisme berkembang kuat disana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salam Waras,<\/p>\n<h4 id=\"jsc_c_l\" class=\"gmql0nx0 l94mrbxd p1ri9a11 lzcic4wl aahdfvyu hzawbc8m\" dir=\"auto\"><a class=\"oajrlxb2 g5ia77u1 qu0x051f esr5mh6w e9989ue4 r7d6kgcz rq0escxv nhd2j8a9 nc684nl6 p7hjln8o kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x jb3vyjys rz4wbd8a qt6c0cv9 a8nywdso i1ao9s8h esuyzwwr f1sip0of lzcic4wl oo9gr5id gpro0wi8 lrazzd5p\" tabindex=\"0\" role=\"link\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/mohammad.zazuli\/posts\/4148186871859668?__cft__[0]=AZVNMpQF1j50yDsH0ifi9qAfjCMhcawiXC4KYEcqljgwOOPwCqTK6bSFUqW1XcnlvwojNHZUjSjZdx_FTra2hFDmponHg9U7lGOMEMNQLgmawCjJr_BjamUstqfDmT8aodEZeMtTJcEwp8kmtkEqz8eg-sWGtc7Dt614H3c3UJLBxw&amp;__tn__=%2CO%2CP-R\"><strong>Muhammad Zazuli<\/strong><\/a><\/h4>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Statement mbak Alissa Wahid Putri Gus Dur Alissa Wahid: Mari Akui Bahwa Teror Bom Kemarin Dikaitkan dengan Islam\u00a0 menurutku lebih cerdas dan obyektif daripada statement Presiden dan Waketum MUI yang menyangkal peran ideologi radikal agama yang ada dibalik berbagai aksi terorisme di negeri ini. Selama aparat dan pemerintah gamang menangani radikalisme di negeri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":54358,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[410,7],"class_list":["post-54340","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-katedral-makassar","tag-terorisme"],"better_featured_image":{"id":54358,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/Alissa_Wahid_GusDur.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/Alissa_Wahid_GusDur.jpeg?fit=550%2C412&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/Alissa_Wahid_GusDur.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/Alissa_Wahid_GusDur.jpeg?fit=550%2C412&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1055","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54340","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54340"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54340\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54358"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}